Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #10
Terlihat wajah tenang serta tatapan dingin yang tajam dari Zidan menatap ke arah Clara, laki-laki itu seolah tidak punya sedikitpun masalah ketika akan menikahi Clara yang notabene adalah murid nya di sekolah.
Meksipun dengan seribu macam pertanyaan bersarang di pikiran nya namun Clara akhirnya tetap berjalan meskipun butuh waktu beberapa menit untuk ia menuangkan diri karena menyadari calon suaminya adalah Zidan.
"Apakah sudah bisa kita mulai?" tanya pendeta yang akan menikahkan mereka kepada kedua belah pihak yang bersangkutan.
Zidan menatap wajah Clara yang ada di hadapannya saat ini, begitu juga sebaliknya Clara pun menatap Zidan seolah tak percaya kalau Zidan sang guru yang akan menikahi dirinya.
"Sudah pak," kata Adnan menjawab.
"Baik lah saya akan memulai nya sekarang," kata sang pendeta yang kemudian mulai melantunkan segala macam lantunan untuk membuka Zidan dan Clara segera menjadi sepasang suami istri.
Tak terasa air mata Reina menetes ketika melihat anak tunggal nya itu dengan terpaksa mengatakan iya di hadapan sang pendeta.
"Sabar istri ku," kata Ferguson berusaha menenangkan hati Reina.
Selang sepuluh menit kemudian, upacara pernikahan pun akhirnya selesai, Zidan dan Clara kini benar-benar telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah secara hukum dan agama.
Clara tak menyangka jika sekarang dia bukan lah seorang gadis lagi, melainkan seorang wanita berusia delapan belas tahun yang sudah punya suami.
Usia mereka terpaut cukup jauh, Zidan berusia dua puluh tujuh tahun menjelang dua puluh delapan tahun.
Dia adalah laki-laki yang bertubuh tinggi kekar dan juga sangat tampan menjadi idola banyak wanita di sekolah.
Sementara itu Clara adalah gadis yang baru berusia delapan belas tahun dan masih menduduki bangku kelas sebelas SMA.
"Selamat sekarang anda berdua telah sah menjadi sepasang suami istri," kata pendeta menampilkan senyum nya kepada kedua mempelai.
Tidak ada sesi ciuman, tidak ada sesi pelukan atau tatapan mesra.
Kecuali sesi pertukaran cincin, itupun Clara melakukan nya dengan sangat cepat dan juga tangan yang gemetar.
Sementara Zidan terlihat tetap tenang dan juga tidak bergeming sedikitpun.
"Terima kasih banyak pak pendeta, sudah membantu saya," kata Ferguson kepada pendeta tersebut.
"Tidak masalah tuan Ferguson," kata sang pendeta lagi.
Clara segera kembali menghampiri mama nya dan meningalkan Zidan sendirian tampa banyak basa-basi.
"Ma, ikut Clara bentar," kata Clara menarik tangan sang mama menjauh dari aula.
"Sayang kenapa? Itu suami kamu kenapa di tingal," kata Reina lagi, ia hendak menghindari tatapan tajam sang anak.
"Ma kenapa orang itu adalah pak Zidan? Kenapa bisa dia? Clara gak mau tau ma sekarang jelasin semuanya sama Clara kenapa harus pak Zidan? Clara gak mau ma dia itu terlalu ..." ucap Clara terhenti ketika melihat sang papa yang menghampiri mereka.
"Clara sudah, biar papa yang menjelaskan, Clara Zidan itu adalah keponakan nya pak Adanan dan dia yang bisa papa percaya untuk mendidik kamu," kata sang papa menjelaskan secara singkat dan padat.
"Apa? Tapi pa ..." Clara lagi-lagi hendak menjawab ucapan sang papa namun melihat tatapan papa nya yang semakin dalam membuat nya jadi bungkam.
"Ayo kembali ke aula," kata sang papa yang kemudian menarik Clara kembali ke aula.
Meskipun kacau Clara mau tidak mau harus menuruti sang papa, lagipula semua sudah terjadi, sekarang dia tau kenapa mama dan papa nya tidak ingin memperkenalkan mereka berdua sebelum pernikahan.
Beberapa jam pun berlalu, selama acara berlangsung Clara tidak bicara sedikit pun dia hanya diam sambil memainkan ponselnya.
"Sampai jumpa dan terima kasih banyak ya pak Adnan," kata papa Ferguson kepada pak Adnan yang saat ini sudah hendak pulang karena emang acara nya sudah selesai.
"Saya lah yang seharusnya berterima kasih," kata Andan lagi.
"Ma kita gak pulang juga? Acara nya udah selesai kan? Clara capek ma mau istirahat," kata Clara tampa mempedulikan Zidan yang ada di sebelah nya.
"Sayang, yang pulang ke rumah ya mama sama papa, kamu tetap di sini karena mulai sekarang kamu akan tinggal di sini bersama suamimu," kata Reina lagi.
"Nyonya ini koper nya nona muda," kata sopir pribadi kelaurga Ferguson membawa sebuah koper besar.
"Apa?! Ma! Mama ngusir Clara?!" ucap Clara lagi-lagi dirinya tak habis fikir.
"Bawa masuk ke dalam," kata papa Ferguson kepada supir nya.
"Siap tuan," jawab sang sopir dan kemudian membawa koper Clara masuk ke dalam villa.
"Ma, pa, ini gak lucu ya! Clara gak mau pokok nya Clara mau pulang!" Kata Clara hendak menuju mobil.
Namun tangan nya di tahan oleh Zidan membuat dirinya tak bisa bergerak.
"Lepasin!" ucap nya kepada Zidan namun laki-laki itu sedikit pun tidak bergeming.
"Reina kau masuk ke dalam mobil," kata Ferguson kepada mama Reina karena khawatir sang istri tidak akan tega dengan anak mereka.
"Sayang mama tingal ya," Ucap mama Reina berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Ma jangan tinggalin Clara dong ma! Ma! Clara mau pulang, gak mau di sini ma!" teriak Clara sambil berusaha melepaskan tangan Zidan yang ada di lengan nya.
"Nak Zidan, tolong jaga Clara, dan Clara menurut lah, jangan jadi pembangkang kau harus tinggal di sini karena villa ini papa hadiahkan untuk kalian berdua, jika kau tetap tinggal di rumah sama saja papa mengijinkan mu untuk tetap bebas," kata papa Ferguson yang kemudian berlalu pergi masuk ke dalam mobil.
"Pa! Ma! Gak gini juga caranya!" Triak Clara.
Namun sudah tidak ada gunanya lagi, mobil papa dan mama nya kian menjauh dari villa meningalkan dirinya dan Zidan berdua di villa sekarang.
"Mama! Papa!" Clara bergegas lari mengejar mobil mama dan papa nya setelah Zidan melepaskan tangan nya.
Namun sayangnya ia tidak bisa, ia malah jatuh karena gaun pengantin dan juga high heels yang dia gunakan.
Sementara itu mama Reina melihat dari kaca mobil dan menagis sejadi-jadinya di pelukan papa Ferguson.
"Mas anak kita," lirih nya di sela-sela isakan tangis.
"Sudah, kita harus berani kejam untuk dirinya sendiri," kata Ferguson memeluk mama Reina.
Sementara itu Zidan yang melihat Clara jatuh dan menangis hanya tersenyum tipis.
"Hey kalian, bawa dia masuk," kata Zidan kepada dua orang maid yang sedari tadi menunggu perintah.
"Baik tuan muda," kata mereka yang kemudian menghampiri Clara.
"Anak manja," kata Zidan sambil berjalan masuk ke dalam villa dan menuju kamar nya.
Ia merasa lelah dan ingin langsung istirahat di kamar saja.
"Nona ayo masuk nona," kata dua pelayan berusaha membantu Nova untuk berdiri dan membawa nya pergi kembali ke villa.
Nova yang lelah merasa tidak bisa berjalan dia hanya pasrah saat ini dengan air mata yang mengalir deras.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di lantai dua villa, di sana hanya ada dua kamar yang letaknya tak terlalu jauh.
"Ayo masuk nona, ini kamar nona dan sebelah sana kamar tuan muda," kata dua maid yang melayaninya.
Setidaknya hal ini masih membuat Clara lega karena mereka pisah kamar.
Para pelayan mulai membantu mengurus Clara, satunya membuka gaun dan satunya menyiapkan air madi untuk Clara.
"Nona, kaki dan lutut anda berdarah," kata salah satu maid yang sedari melepaskan gaun Clara.
Clara hanya melihat dan tidak mempedulikan nya sedikit pun.
Mereka pun kemudian mengobati Clara setelah Clara selesai mandi, sebagai maid mereka tau apa yang terjadi dan sangat memahami keadaan Clara.
Bersambung ....