Aeleasha Alister gadis remaja, dipaksa menikah oleh keluarga hanya semata kerena uang. Aeleasha yang saat itu baru berumur 17 tahun mau tidak mau menyanggupi permintaan orang tuanya.
Aeleasha dinikahkan dengan putra sulung dari keluarga Carnier, Aciel Aarava Carnier, yang sering dikenal dengan tuan muda dingin. Aeleasha yang berpikir jika dia menikah dengan Acial akan mendapatkan kebahagian tetapi itu malah berkebalikan dari yang dia pikirkan. Aciel terus menyiksa Aeleasha dengan alasan yang tidak jelas, walaupun itu bukan perbuatan Aeleasha.
Aeleasha mulai muak dengan semua siksaan Aciel, dia tidak mau peduli lagi apa kata orang tentang dirinya, Aeleasha mengajukan surat cerai pada Aciel. Aciel tidak menolah bahkan dia sangat menerima perceraian ini karena Aciel menggangap Aeleasha hanya memanfaatkan dirinya dan nama keluarganya.
Selesai bercerai dengan Aciel, Aeleasha pergi keInggris melanjutkan belajarnya. Aeleasha kembali lagi ke Indonesia setelah 7 tahun lamanya di Inggris. Anehnya takdir malah mempertemukan mereka lagi dalam status yang berbeda dan penampilan yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
"Dokter Gyan apa saya bisa pulang sekarang?" Tanya Aeleasha dengan mata memelas, Dokter Gyan membetulkan kacamatanya.
"Aku akan mengizinkanmu pulang besok karena keadaanmu mungkin akan mulai stabil besok." Jawab Dokter Gyan, dia tersenyum lalu keluar dari ruangan Aeleasha.
Aeleasha membaringkan tubuhnya, kini pikirannya kalut memikirkan penyakit yang melekat pada tubuhnya, cairan bening mengalir kelopak matanya. Dia tidak tau sudah berapa lama penyakit itu mengikutinya.
Besok Paginya
Aeleasha keluar dari rumah sakit, dengan obat-obatan yang berada didalam kantong plastik. Dia mengangkat tinggi-tinggi kantong itu, lalu membuang tatapannya kearah lain.
Aeleasha membuka pintu apartement, dia mendapat sugahan yang seharusnya yang tidak dia lihat. Ada seorang wanita tengah bertelanjang dada dan Aciel berdiri didepannya masih dengan pakaian lengkapnya.
Aeleasha menutup pintu apartemen, dia bersandar pada pintu. Muka Aeleasha memerah, dia tidak tau apa yang dilakukan kedua orang itu didalam sana.
Ceklek
Pintu apartement dibuka, Aeleasha yang tadi menutup wajahnya, kini menatap wanita tadi berlari keluar dari dalam sana sambil menangis. Aeleasha menatap wanita itu bingung karena wanita tadi meliriknya tajam.
Aeleasha membuka pintu lagi, dia sekarang mendapati Aciel tengah duduk disofa dengan membaca dokumen, dan secangkir teh yang terletak dimeja. Dia masuk kedalam, melepaskan sepatunya.
"Masih tau diri untuk pulang setelah seminggu lebih keluar dari sini." Sindir Aciel matanya masih fokus pada dokumennya.
"Maaf Kak, aku tau diri kok." Jawab Aeleasha tersenyum dengan paksa lalu kembali bermuka biasa.
Aciel kesal dengan jawaban yang diberikan Aeleasha padanya, dia bangkit dari duduknya ingin memberi Aeleasha pelajaran. Aeleasha tidak mundur dia malah berjalan mendekati Aciel.
"Tampar." Kata Aeleasha memberikan pipinya, dia tidak mau memohon lagi toh kalau dipukul nanti juga sakit lalu pingsan.
Aciel mengertakkan giginya, rahangnya mengeras menahan amarahnya. Dia berbalik dan duduk kembali ditempatnya. Aeleasha bernafas lega, dia hanya terbawa emosi sesaat. Aeleasha masuk kedalam kamarnya, dia mau mengurung dirinya didalam kamarnya seharian disana.
Malam
Aeleasha keluar dari kamar, ingin mengambil segelas air dan meminum obatnya agar kepalanya tidak sakit lagi. Aciel dan Aeleasha berpapasan, Aciel berjalan melalui Aeleasha begitu saja.
Sudah seminggu setelah kejadi Aeleasha menawarkan pipinya ditampar dan saat itu jugalah Aciel jarang ada di apartement miliknya. Aeleasha malah sangat senang kalau Aciel tidak ada, maka pekerjaan rumahnya tidak perlu sering dia kerjakan, Aeleasha bisa istirahat dan memulihkan dirinya.
Tapi hari ini Aciel pulang ke apartement miliknya, saat Aciel sampai keapartementnya, dia malah melampiaskan amarahnya pada Aeleasha yang tidak tau apa kesalahannya.
"Apa sih salahku." Gumam Aeleasha dalam hatinya menghapus darah yang keluar dari hidungnya, Aciel yang tadi baru saja masuk kedalam rumah entah kenapa langsung menampar Aeleasha dan menjambak rambutnya.
Aeleasha merasakan sakit kepalanya mulai lagi, dia berjalan tertatih-tatih kekamarnya. Aeleasha meminum obatnya, lalu Aeleasha mencoba menutup matanya agar dia bisa istirahat.
"Aeleasha." Teriak Aciel, Aeleasha yang baru mau tidur keluar dari kamarnya menghampiri Aciel.
"Apa kamu tidak membersihkan kamarku." Bentak Aciel, dia menunjuk kamarnya yang berantakan seperti kapal pecah.
Aeleasha tidak menjawab, dia bukannya tidak membersihkannya tapi dia sudah membersihkannya tadi pagi. Dia juga tidak tau apa penyebab kamar itu berantakan.
Aciel mengangkat tangannya ingin memukul Aeleasha lagi, Aeleasha segera menutup matanya rapat-rapat mencoba menahan rasa sakitnya. Aeleasha membuka matanya karena dari tadi dia tidak merasakan apapun.
Aeeasha melihat tangan Aciel masih berada diudara tapi wajah Aciel tidak seperti biasanya. Aeleasha menyentuh hidungnya karena dia merasa hidungnya mengalir sesuatu yang basah.
Tangan Aeleasha bergetar, ada noda darah dijarinya. Aeleasha melototkan matanya tidak percaya, bukannya dia baru saja meminum obat apa dia salah minum obat. Aeleasha mengucek matanya, dia merasa tubuhnya mulai melemah.
"Sepertinya aku meminum dua pil obat tidur." Gumamnya, Aeleasha melewati Aciel yang masih setia berdiri disana. Aeleasha masuk kedalam kamarnya, tidak lupa dia juga mengunci kamar itu.
Tangan Aciel terjatuh perlahan-lahan, matanya menatap pintu gudang yang sekarang menjadi kamar Aeleasha. Dia berdecak kesal, lalu masuk kedalam kamarnya.
***
Aciel terbangun dari tidurnya, kamarnya masih sama seperti semalam, dia malas membersihkannya. Aciel keluar dari kamarnya, matanya tidak melihat Aeleasha dimana-mana.
Aeleasha baru saja masuk kedalam rumah, tatapan matanya dan Aciel bertemu. Aeleasha mengalihkan tatapannya, dia tetap malangkah masuk dan mulai sibuk didapur.
Aciel mengepalkan tangannya, dia ingin sekali bertanya tapi ego dan gengsinya sangat tinggi, hingga dia memutuskan pergi dari sana.
Dan kejadian itu terus terulang selama seminggu, dengan Aeleasha yang baru kembali dari luar, tapi tetap dengan mukanya yang pucat. Dan jika tatapan mata mereka bertemu Aeleasha langsung mengalihkan tatapannya dari mata Aciel.
Pagi Harinya
"Kak, aku mau bicara." Kata Aeleasha setelah seminggu lebih dia menghindari tatapan mata Aciel dan kini dia berdiri didepan Aciel.
sumpah jahat banget si acil itu, pengen aku gantung di pohon cabe😡