"Nya, aku masih di sini. Menunggumu pulang dan membagi lelah selama perjalanan. Sebab jika bukan kamu, aku tak punya tempat melabuhkan segala penat." - Putra -
"Pulang bukan perkara mudah. Jika rumah yang kutuju tak lagi sama seperti dulu." - Kanya -
***
Kanya Gayatri tak lagi menganggap rumah sebagai tempat ia memulangkan lelah saat Sukma - ibunya - memutuskan menikah lagi ketika Adam - sang ayah - meninggal dunia. Seandainya saja lelaki yang dinikahi Sukma bukanlah Eka, mungkin Kanya bisa menerima lelaki itu sebagai ayahnya. Tapi menerima Eka sebagai ayahnya bukanlah perkara mudah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhatan Tengah Malam
Renjana Kanya
Aldo yang menyambutku pertama kali ketika sampai rumah Almira. Aku membiarkan lelaki itu menyelimuti tubuhku yang basah kuyup akibat kehujanan dengan handuk kering. Aku juga tak menolak ketika lelaki itu merangkul pundakku dan membimbingku ke dalam rumah. Tak lagi kupedulikan Putra yang masih berdiri di teras rumah. Menatapku dengan pandangan entah.
"Mentang-mentang setahun nggak sakit, bukan berarti kamu bisa main ujan-ujanan kayak gini, Nya. Kalau kamu tumbang duluan siapa yang bakal ngantar aku liputan coba," ceramah Aldo sambil mengeratkan rangkulannya di bahuku.
"Kok tahu kalau aku nggak sampai sakit setahun lalu?" tanyaku sedikit tak nyaman. Untuk ukuran orang yang baru kenal dua hari, terkadang Aldo lebih banyak tahu tentang diriku. Sikapnya yang demikian membuatku jengah.
"Kan sudah kubilang, aku sering memperhatikanmu kalau ke kantor Hanung," ucap Aldo sambil mengulas senyum manis. "Kamu aja yang terlalu cuek kalau kuperhatikan."
Aku sedang tidak ingin bercanda apa lagi membalas pernyataan Aldo. Pikiranku masih penuh dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Sementara Putra belum juga pergi dari teras rumah Almira. Apa yang dia harapkan.
"Eh itu driver online-nya udah kamu bayar belum sih? Kok dia masih nungguin di sana. Apa perlu aku bayar?" tanya Aldo sambil berniat mengambil dompet dari saku celananya.
Jika tidak dalam keadaan seperti ini aku pasti tertawa karena Aldo menganggap Putra sebagai driver ojek online, tapi pertanyaan Aldo menjadi tak lagi lucu sebab rasa sakit yang menancap dalam hatiku semakin kuat. Dan aku sama sekali tak berniat untuk tertawa.
"Nggak usah Mas, nanti dia juga pergi."
Untuk terakhir kalinya aku menoleh ke arah Putra yang masih berdiri di tempatnya. Wajah lelaki itu sama terlukanya seperti aku, tapi aku tak mau peduli. Aku tak mau tahu jika dia juga menyimpan rasa sakit itu dalam hatinya.
"Almira tadi datang dari reuni sambil nangis. Aku nggak tahu masalahnya apa. Tadi aku langsung duduk di ruang tamu begitu Almira datang. Trus Damar suruh aku nungguin kamu sambil nyiapkan handuk. Kalau lihat keadaanmu begini, kalian pasti habis berantem ya?" jelas Aldo tanpa kuminta. Aku hanya tersenyum lemah sebagai jawaban. "Nggak apa-apa kalau nggak mau cerita. Kita masih punya banyak waktu untuk berbagi keluh."
"Makasih, Mas."
Pandanganku bertemu dengan Damar yang sedang duduk di sofa ruang keluarga saat aku masuk. Dia menghibur Almira yang sepertinya sedang menangis. Mata lelaki itu menatapku tajam. Seakan tidak terima istrinya kuperlakukan dengan tidak adil. Dulu kami memang sering bertengkar dan Damar selalu menjadi penengah yang netral. Dia tidak segan membela siapa yang benar. Saat Almira berbuat salah dia juga tidak sungkan untuk menegurnya sekali pun mereka pacaran. Melihat reaksinya saat ini, aku yakin sudah berbuat kesalahan.
Seketika perasaan bersalah menyebar cepat dalam hatiku. Seharusnya aku tak bertindak berlebihan pada perempuan itu ketika Nada Sumbang juga hadir di acara reuni sekolah Almira. Apa lagi Almira sedang hamil. Aku bahkan tak berpikir bagaimana jika terjadi sesuatu dengan janinnya. Bukankah ibu hamil harus selalu merasa bahagia dan tidak boleh stres.
Aku semakin merasa bersalah saat Almira berlari memelukku ketika aku masuk ruang keluarga. Ia terisak memeluk tubuhku yang basah.
"Jangan marah sama aku, Nya. Aku beneran nggak tahu kalau Nada Sumbang juga ngisi acara. Cindy bilang sama aku mereka nggak bakal datang karena ada tour keluar kota. Aku beneran nggak tahu kalau mereka akhirnya memutuskan datang."
"Cindy? Kamu bilang sama dia kalau aku mau ikut kamu hari ini?"
Almira mengangguk dalam pelukanku. Aku menghela napas panjang.
Cindy, nama itu sangat akrab denganku. Sebab sejak awal dialah yang sering menganggu hubunganku dengan Putra. Dia pula orang yang paling gencar mendekati Putra saat kami putus dua tahun lalu. Heh? Ironis sekali. Rasanya sangat lucu menyebut istilah hubunganku dengan Putra. Pada kenyataannya kini semua bukanlah apa-apa. Percuma juga menuduh Cindy terlibat dalam peristiwa malam ini atau tidak. Apa pun motif Cindy tidak berarti apa-apa padaku saat ini.
"Ya udahlah Mir, nggak usah dipikirkan soal tadi. Aku juga minta maaf udah salah paham sama kamu," kataku mencoba tersenyum meski hatiku masih nyeri. "Aku ganti baju dulu ya. Bajuku basah semua."
Almira melepas pelukanku dan mendorong tubuhku pelan ke arah kamar tidur tamu di lantai satu. Senyum sudah merekah di wajahnya yang masih memerah. Baju bagian depan perempuan itu juga basah akibat memelukku.
"Stay strong, Nya. I will stay here for you," bisik Almira sambil menepuk pundakku. Aku balas dengan tersenyum sebelum meninggalkan ruang keluarga.
"Thanks, Mir."
Aku menyingkir dari ruang keluarga dan membiarkan air mata kembali tumpah tanpa bisa kukendalikan. Aku hanya tak ingin terlihat rapuh di depan Almira. Ataupun Damar. Terlebih pada Aldo. Bagaimanapun aku tak mampu berbagi resah jika ia bertanya tentang aku. Tentang masa yang ingin kutinggal di belakang.
***
Ketukan halus dari luar kamar membuatku terjaga. Hampir pukul 12.00 malam saat aku melirik jam di layar gawai. Suara Damar terdengar tak lama kemudian.
Sedikit malas aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Raut tegas Damar masih terpahat di wajahnya. Ia memintaku untuk mengikuti langkahnya ke arah teras samping rumah. Suasana sudah sepi. Mungkin Almira sudah tertidur di kamarnya, begitu juga dengan Aldo.
Damar menghela napas panjang. Ia menyugar rambutnya yang dibiarkan berantakan. Aku tahu, gestur gelisah yang diperlihatkan lelaki itu pasti karena sedang memikirkan sesuatu, namun ia belum tahu bagaimana caranya menyampaikan apa yang dirasakan.
Kami membisu. Tak ada lema yang terucap dari bibir kami. Sedang aku memilih duduk di tepi kolam sambil memperhatikan ikan-ikan koi yang berenang hilir-mudik. Sesekali kucelupkan tanganku ke dalam air hingga membuat hewan-hewan berwarna putih oranye itu memencar. Menghindari tanganku yang membuat pusaran air.
"Nya, lo inget nggak, dulu lo pernah nonjok gue waktu nggak bisa move on dari Farah?" tanya Damar membuatku mengerutkan kening. Apakah dia memaksaku bangun hanya demi membicarakan masa lalu yang penting?
"Kenapa mendadak banget lo bahas soal itu?"
"Lo inget nggak?" tanya Damar sekali lagi.
Bagaimana aku bisa lupa. Saat itu kami masih kelas satu semester genap. Dua bulan setelah Damar putus dengan pacarnya - Farah, anak kelas X - V yang dia kencani sejak SMP, masih membuat cowok itu memikirkan tentang mantannya. Padahal cewek itu sudah jelas ketahuan berselingkuh dengan Roni anak X - I teman sekelas kami.
Setiap melihat Farah dan Roni jalan ke mana pun berdua, Damar selalu menatapnya dengan pandangan terluka. Diam-diam cowok itu menyesali keputusannya meninggalkan Farah dan bukannya meminta cewek itu yang memutuskan Roni. Hingga suatu hari, ketika usai pelajaran olahraga aku menonjok mukanya hingga berdarah.
Akibat perbuatanku itu pula ayah dan Tante Sari sampai dipanggil menghadap guru BK. Kelak setelah peristiwa itu terjadi, hubunganku dengan Tante Sari dan Damar semakin akrab. Bahkan ibu Damar justru menertawakan anaknya gara-gara kupukul karena tak bisa melupakan mantan pacar. Kata wanita itu, Damar memang perlu teman yang mengingatkan jika tindakannya keliru.
Ujung bibirku tertarik ke atas mengenang masa SMA yang kulalui bersama Damar.
"Waktu itu gue pengen nunjukkin ke elo kalau masih ada banyak cewek yang lebih baik dari Farah."
"Itu juga yang pengen gue lakuin saat pertama kali lihat Almira pulang dalam keadaan menangis dan lo jadi penyebab utamanya. Bukan karena gue pengen ikut campur urusan kalian, tapi gue cuma pengen lo sadar kalau cowok nggak cuma Putra."
Kalimat terakhir Damar telak mengenai sisi pertahananku. Aku hanya tersenyum sinis menanggapi pernyataan lelaki itu.
"Gue sebodoh itu ya Dam, nggak bisa move on dari Putra?"
"Menurut lo?"
Aku hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban. Meski kusangkal bagaimanapun caranya, meski benci menumpuk dalam dada, nyatanya aku memang tak bisa melupakan Putra. Terlalu banyak waktu yang telah kami lewati bersama. Terlalu besar rasa cinta yang kupercayakan padanya. Mimpi-mimpi serta harapan yang kami susun hingga beranjak dewasa, tak ada artinya lagi ketika takdir memisahkan kami dengan caranya yang begitu menyakitkan. Cara yang membuatku tak ingin pulang.
"Gue tanya deh, kurang apa sih laki-laki yang ngedeketin lo selama ini? Roland, Yuda, Rendi, Terry, Atlas, mereka semua juga nggak kalah ganteng kan sama Putra. Mereka juga orang-orang yang udah mapan. Aldo apa lagi. Baru dua hari kenal, gue yakin dia itu nyimpan perasaan buat lo."
"Gimana lo bisa yakin?"
"Kita sama-sama cowok, Anya. Dan itu yang gue lakuin dulu ketika PDKT sama Almira. Plis deh, lo udah dewasa. Udah tahu mana bedanya orang yang naksir sama kamu atau sekadar pengen kenalan."
Kalimat Damar justru mengingatkanku pada peristiwa di kafe kemarin. Lelaki itu dengan gamblangnya menanyakan pertanyaan yang sempat membuatku kehilangan selera makan. Namun hanya kutanggapi tanpa minat. Sebab bagiku semua masih terlalu awal untuk menyimpulkan jika itu perasaan cinta.
"Nya, kalau lo aja nggak mau berdamai dengan rasa sakit itu, gimana bisa nasib baik mau mendekat? Sudah cukup melarikan diri dari semua masalah ini. Lo harus berani menghadapi rasa sakit itu jika ingin semua berakhir."
"Dengan cara? Gue nggak bisa nerima dia sebagai kakak, Dam. Karena dari awal perasaan gue ke Putra bukan sebatas kakak-adik."
Air mata yang telah kering kembali mengalir. Melihat aku menangis, Damar yang semula duduk di kursi rotan berjalan ke arahku dan membawaku dalam pelukannya.
"Pelan-pelan, lo pasti bisa kok. Gue yakin lo pasti bisa."
"Dam, kalau ada dunia paralel dan Putra bukan saudara tiri gue, gue rela menggantikan apa pun demi bisa terus hidup bareng dia."
"Trus gimana gue sama Almira? Lo nggak mikir perasaan kita?"
"Kalian 'kan udah bersama, ngapain harus ada gue?"
"Sumpah deh, Nya. Gue boleh nonjok lo nggak? Lo udah ngapain aja sih sama Putra sampai nggak bisa lupain dia?" tanya Damar tak bisa menahan amarah. Ia mendorong tubuhku dan menatap mataku tajam. "Jangan bilang lo udah ML sama, Putra!"
Mulutku bungkam.
"Serius lo udah ML sama dia? Itu kenapa lo dulu tanya gue gimana caranya biar nggak hamil setelah berhubungan badan? Nya?"
Aku masih membisu. Tak ada hal yang perlu kuceritakan pada Damar antara aku dan Putra.
btw terima kasih udah up thor semangaat sampai tuntas ceritanya 🙏
othor kemana aja siii?
sehat² kan??
novel lainnya dilanjut juga dong kak... bagus² lhoo, sayang kalo pada putus tengah jalan...🙏
lanjutt....
Haiiii....apa kabar Yoru , laaaaaaama tak bersua
terbukti kan kalo Pulang tetep dinanti , nyatanya meskipun lama tenggelam masih aja tetap ada di daftar favorit aku
yuk semangat yuuukkkk....kencengin lagi updatenya 🥰