NovelToon NovelToon
Left After 7 Days Of Marriage

Left After 7 Days Of Marriage

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 5
Nama Author: Anita Rachman

Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08

Di kampung

Siti tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terus membalikkan badannya, mencari posisi yang enak. Melihat suaminya belum tidur, dia langsung duduk.

"Mas, aku kepikiran Giwang," ujarnya. Suaminya menoleh ke arahnya. "Aku tidak tenang Mas," ujarnya lagi.

"Jangan berpikiran aneh-aneh, mungkin sekarang Giwang sudah tidur di rumah yang baru," sahut suaminya.

"Enggak Mas, pikiranku mengatakan kalau Giwang belum bertemu dengan suaminya," ujarnya gelisah.

"Kamu sudah menuliskan nomor telepon kita, kalau terjadi sesuatu dengannya dia akan menghubungi kita," jelas suaminya menenangkan istrinya.

"Tapi dia tidak punya ponsel, bagaimana dia menghubungi kita," Siti tetap berpikiran telah terjadi sesuatu dengan temannya.

"Jangan berpikiran seperti itu, kita doakan semoga Giwang dalam keadaan baik," ujar suaminya dan menyuruh istrinya kembali tidur.

***

Giwang terbangun dari tidurnya, melihat sekeliling taman masih sepi. Dan menatap ke arah gedung masih sepi dari pekerja.

Giwang membuka bekal yang masih ada di dalam tasnya. "Tinggal satu," gumamnya sembari memakan bekalnya.

Beberapa menit kemudian keadaan kantor terlihat ramai, Giwang langsung menyebrang jalan. Kembali melapor ke sekuriti.

"Pak, kantor sudah buka?" tanyanya. Pria berseragam putih biru memperhatikannya dari atas sampai bawah.

"Saya yang kemarin Pak," ujarnya lagi.

"Maaf, Mbak tidak di izinkan masuk," ujar pria itu.

"Kenapa Pak? kemarin saya di izinkan sekarang tidak?" tanyanya bingung.

"Maaf, saya hanya menjalankan tugas," jelas pria itu.

Giwang bingung, di mana dia harus menunggu suaminya, jika dia menunggu di taman pasti tidak akan terlihat jika suaminya datang atau keluar dari gedung itu.

"Pak, boleh saya menunggu di sini?" tanyanya.

"Maaf tidak boleh."

"Pak, saya mohon," Giwang bersikeras untuk menunggu suaminya di depan gerbang.

"Ada apa ini?" datang seorang pria paruh baya. Pria yang tadi menceritakan semuanya kepada pria paruh baya itu. Pria itu memperhatikan Giwang.

"Siapa nama kamu?" tanyanya.

"Giwang," sahutnya.

"Ada keperluan apa ke sini?" tanya pria yang sudah berumur.

"Saya istrinya Agung, datang dari kampung ingin menemuinya di sini," jelas Giwang.

"Ya sudah kamu boleh menunggu di sini," ujar pria yang bekerja sebagai kepala sekuriti di situ.

"Terima kasih Pak," ujar Giwang dan duduk di pinggir sembari terus menatap ke arah gedung. Giwang melihat pria paruh baya itu berbicara dengan anak buahnya. Tapi dia tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan kedua pria itu.

Matahari mulai naik tapi dia tidak melihat suaminya. Teriknya sinar matahari tidak dihiraukannya lagi, dia tetap bertahan menunggu di situ. Duduk sembari menundukkan kepala dengan tangan menjuntai ke bawah. Dan tanpa disadarinya orang-orang yang lewat di depannya meletakan uang di tangannya.

"Apa ini," gumamnya sembari mengangkat kepalanya dan melihat ada uang logam di tangannya.

"Mbak!" teriaknya memanggil wanita yang baru saja meletakkan uang di tangannya. Wanita itu berhenti dan Giwang menghampirinya.

"Ini uangnya," Giwang menyerahkan uang itu kepada pemiliknya.

"Untuk kamu saja, saya memang memberikan uang itu untuk kamu," ujar wanita itu sembari berlalu.

Tentunya membuat Giwang bingung, dia melihat penampilannya dari kaca yang ada di pos sekuriti.

"Wajahku seperti pengemis," gumamnya sembari membersihkan wajahnya yang hitam karena debu dan asap knalpot.

Ada sebuah mobil mewah masuk melalui gerbang dan berhenti tepat di depan lobi, turun dua pria dengan mengenakan setelan jas, yang satunya sangat di kenal Giwang.

"Mas Agung!" teriaknya sembari melambaikan tangannya.

Agung dan pria yang umurnya sudah lanjut menoleh ke arah Giwang.

"Siapa itu?" tanya pria yang bernama Wahyu. Pak Wahyu adalah pemilik dari perusahaan itu.

"Ti tidak kenal Pak," sahutnya gugup. Agung tidak ingin Pak Wahyu tau, kalau dia telah menikah, karena dia sedang melakukan pendekatan dengan anak semata wayang Pak Wahyu yang bernama Marina.

Pria paruh baya itu menatap Agung dengan lekat. "Saya akan bereskan," Agung menghampiri istrinya yang sedang berdiri di dekat pos sekuriti.

Agung mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang seratus ribu dan menyerahkan ke sekuriti.

"Berikan pada pengemis itu dan usir dia dari sini," ujarnya dan itu terdengar Giwang.

Sekuriti menyerahkan uang itu ke Giwang, tapi dia langsung menyobek uang itu di depan Agung dan yang lainnya.

"Aku bukan pengemis!" teriaknya. "Aku datang ke sini meminta pertanggung jawabanmu!" teriaknya sembari menangis.

"Kamu akan menyesal Agung!" teriaknya dan pergi meninggalkan gedung itu. Dengan derai air mata dia menyebrang.

Tin tin tin sebuah mobil hampir menabraknya dan dia di selamatkan oleh kepala sekuriti.

Pria paruh baya itu menuntunnya sampai ke taman. "Hati-hati nak," ujar pria paruh baya itu dan kembali ke tempat kerjanya.

Agung mulai panik, tatapan Pak Wahyu membuatnya ketakutan.

"Jelaskan pada saya di kantor," ujar pria itu sembari masuk ke dalam perusahaannya di ikuti Agung dari belakang.

Pria itu berdiri menatap Agung. "Siapa wanita itu?" tanyanya.

Agung bingung, jika berkata jujur sama saja melepaskan jabatannya yang sekarang dan kembali menjadi montir di kampungnya.

"Sebenarnya itu istri saya," sahutnya dengan menundukkan kepala.

"Apa! istri kamu!" bentak Pak Wahyu. "Kamu telah membohongi anak saya!" teriaknya.

"Maaf Pak, pernikahan saya dan dia karena paksaan tidak ada cinta di dalamnya," ujar Agung berbohong.

Pak Wahyu ingin sekali memecat Agung tapi dia tau potensi Agung untuk perusahaannya. "Baiklah, kamu tidak saya pecat, tapi ceraikan wanita itu dan mengenai hal ini jangan sampai Marina tau," ujarnya.

"Baik, terima kasih Pak." Dia menyalami pria itu, dengan berbangga hati dia keluar dari ruangan pemilik perusahaan. Dia mendapatkan dukungan dari pria kaya raya.

Giwang menangis sejadi-jadinya suaminya tidak menganggapnya ada bahkan menganggapnya sebagai pengemis. Tidak menghiraukan orang di sekitar taman yang memperhatikannya. Giwang terus menangis sembari menatap perutnya.

"Kenapa nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang sekarang duduk di sebelahnya. Dan isak tangisnya kembali pecah.

"Jika menangis dapat membuat semuanya lepas, maka menangis lah," ujar wanita paruh baya itu.

Ketika Giwang cukup tenang wanita paruh baya itu mulai bercerita.

"Ibu selalu datang ke taman ini, taman ini banyak kenangan bagi Ibu," ujarnya. Giwang menoleh ke wanita paruh baya itu. "Sebelum anak dan suami meninggal, kami selalu menyempatkan diri bermain di sini."

Giwang mendengarkan cerita wanita itu. "Sampai anak dan suami meninggal di sana," Ibu itu menunjuk tempat Giwang menyebrang, dia hampir mati tertabrak jika tidak di selamatkan kepala sekuriti.

"Saya turut berduka cita Bu," ujarnya pelan dengan suara yang berat karena habis menangis. "Iya nak, siapa nama kamu?" tanya Ibu itu.

"Giwang."

"Nama yang cantik seperti orangnya, Ibu Ima," sahut wanita paruh baya itu.

"Ibu takut ketika melihat kamu hampir tertabrak."

Giwang diam dan merenung, akal pikirannya bisa hilang dalam sekejap karena suaminya.

"Kenapa kamu di sini?" tanya Ibu Ima.

"Aku datang ke sini karena ingin menyusul suamiku, sudah tiga bulan dia tidak pulang," jelasnya dengan derai air mata.

"Ibu tidak menyangka ternyata kamu sudah menikah, pasti kamu menikah dalam usia muda," tebak Ibu Ima.

Giwang menganggukkan kepalanya. "Pernikahan kami baru tiga bulan, dia meninggalkanku pada saat pernikahan kami baru seminggu, pergi tanpa meninggalkan uang dan tidak memberi nafkah selama di tiga bulan," jelasnya.

"Aku ke sini hanya ingin memberi kabar kepadanya kalau aku sedang mengandung anaknya," ujar Giwang menangis. Ibu Ima langsung memeluk Giwang layaknya anak sendiri.

Bersambung...

Bantu vote ya.

Ig anita_rachman83

🌷🌷

Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!

1
Naimatul Jannati
aku baca ulang ttep z😂😂😂😭😂😂bacanya,.bngek bnget siti😂😂😂
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Semoga menjadi putri dan cucu yg dholihah
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Semoga gana sukses membuat ibu Ana terpedona
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Komplotan kompor dateng
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Coba tanya aja ka Anisa mm mau jujur gak
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Roni spt ya udh punya nomer yayuk
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Luluhkan singa betina didalam😂🫢🫢
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Siapa tahu Dodit bisa berubah dengan adany musibah ini
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Nyesel kan Budhe kalo udh kayak gini, makane jangan terlalu masuk dengan harta
☠⏤͟͟͞R🍎aTin W🦋𝐙⃝🦜🪀
Bener kekurangan gak hrs mencuri
☠⏤͟͟͞R🍎aTin W🦋𝐙⃝🦜🪀
Astaghfi
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Astaghfirullah
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Semoga Yayuk gak. Kabur kaburan
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Tapi kenapa mesti harus bu die seh Pakdhe bundir kan dosa, iya kita tau Pakdhe malu ke adlan dan gigi tapi gak mesti harus bundir
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Reuni para wanita yg suka membukingigi
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Tapi Budhe emang nyinyir dan harus dapet pelajaran
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Yah emang sih mereka tetep sodara
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Astaghfirullah apa gak malu kalo kaya gitu, mana Dodit lariii ketahuan abnget dia kan penakut gak bertanggung jawab
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Nah loh adlan bakalan marah, masukin ke penjara pasti pencuriii
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Astaghfirullah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!