Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kekhawatiran Alvian
"Makan, Sya," titah Alvian ketika Medisya hanya menatap piring tanpa mau menyentuhnya sedikitpun.
"Aku nggak lapar."
Decakan kecil keluar dari mulut Alvian. Membuat Medisya mencengkram erat pinggiran piyamanya.
"Tapi kamu harus makan." Alvian menarik piring Medisya ke hadapannya lalu dengan telaten menyendokan sesuap nasi dengan suwiran ayam dan tumis kangkung. "Setidaknya pikirkan anak kita. Dia juga butuh asupan makanan."
"Benar, Sya." Senja menanggapi setelah menyodorkan segelas susu hamil untuk Medisya. "Sekarang ada nyawa yang harus kamu jaga di perut kamu. Jangan egois."
"Tapi perut aku mual, bunda," adu Medisya.
Alvian menghela nafasnya pelan. "Sedikit saja, ya?"
Akhirnya Medisya menganggukan kepalanya. Ia menerima suapan dari Alvian. Laki-laki itu begitu sabar menanggapinya.
Melihat Alvian peduli pada Medisya dan anaknya membuat Senja tersenyum lega. Ya, Alvian memang tidak seburuk yang Medisya katakan. Alvian sangat bertanggung jawab.
"Bunda, bisa tolong bantu Medisya menyiapkan perlengkapannya?" Tanya Alvian setelah Medisya memakan beberapa suapan lalu memintanya untuk berhenti.
"Bisa. Kamu akan membawa Medisya ke rumah orang tuamu?" Tanya Senja memastikan.
Sejenak Alvian berfikir. Kemudian menggeleng setelah menemukan keputusan yang tepat. "Untuk sementara kami akan tinggal di apartemen. Jaraknya lebih dekat dari sini dibanding dengan rumah orang tua saya. Jadi ayah sama bunda bisa sering menjenguk Medisya."
"Tapi apartemen tidak bagus untuk pertumbuhan anak kalian nanti," ucap Senja pelan. Takut-takut jika perkataannya menyakiti Alvian.
"Setelah anak kami lahir, saya akan membawa Medisya pindah. Rumah yang saya beli sedang direnovasi. Mungkin nanti Medisya juga perlu memberikan ide tentang desain ruangannya agar dia nyaman tinggal di sana."
Alvian menatap Medisya. Tidak ada yang tau bahwa semalam Alvian terus memandangi wajah Medisya yang tertidur pulas. Entahlah. Akhir-akhir ini ia merasa bersalah setiap malamnya. Dan Alvian tidak menyangka bahwa ia telah menikahi Medisya saat ini.
Sebenarnya Medisya tidak jauh dari kriterianya. Hanya saja, pernikahan ini terjadi diluar mimpi Alvian.
"Bersiaplah. Kita akan pergi jam sepuluh nanti," ucap Alvian meninggalkan Medisya dan Senja di ruang makan.
###
Aroma maskulin adalah hal yang pertama kali Medisya nikmati saat masuk ke dalam apartemen mewah milik Alvian. Ia bahkan sampai memejamkan mata karena aroma ini berhasil membuatnya merasa tenang.
Saat ini ia sedang menata pakaiannya ke dalam lemari. Untung saja Senja sudah merapikannya dulu di dalam koper. Jadi Medisya hanya perlu memindahkannya.
Ceklek...
Medisya menoleh terkejut pada Alvian yang berada di ambang pintu. Laki-laki itu sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Panggil saya jika butuh sesuatu. Kamar saya berada di samping kamar ini."
Dengan bekal keberanian Medisya mengangkat wajahnya agar bisa menatap Alvian. Wajah pria itu terlihat sangat mengagumkan. Berbeda dengan malam itu. Saat Alvian menyentuhnya.
Jujur saja bayang-bayang saat Alvian menyentuh paksa tubuhnya masih terus bermunculan. Kadang hal itu mampu membuat Medisya menangis histeris.
"Al-- maksudku, Pak Alvian," panggil Medisya saat Alvian menutup pintu.
"Aku serius dengan ucapanku semalam. Kita bisa berbagi ranjang," lanjutnya.
Medisya mengatakan itu karena Senja menyuruhnya untuk menerima keadaan. Bundanya itu mengatakan bahwa tidak ada gunanya menghindari Alvian. Karena ia akan tinggal dengan laki-laki itu untuk seumur hidupnya.
"Saya menunggu kamu benar-benar siap. Tidak perlu terlalu memikirkan hal yang kamu sendiri masih ragu untuk menjalaninya. Karena semuanya pasti akan terjadi jika memang sudah waktunya."
"Pak Alvian."
"Hm?"
Medisya kembali menunduk. Sebenarnya ia ingin menanyakan sesuatu hal. Tapi keberaniannya menciut sehingga ia memilih untuk menggelengkan kepalanya.
"Mamah saya akan ke sini nanti. Jadi sekarang lebih baik kamu istirahat."
Benar saja. Selang beberapa jam bel apartemen berbunyi. Menandakan ada seseorang yang berkunjung. Medisya yang sudah bersiap segera bangkit menuju ruang tamu. Namun Alvian sudah di sana. Membukakan pintu untuk Melinda.
"Medisya mana?" Cecar wanita itu langsung.
Alvian sudah akan membuka mulut. Tapi ia urungkan ketika Melinda bersorak.
"Medisya!" Panggilnya sembari tersenyum.
Melinda lekas menghampiri Medisya dan menuntun perempuan itu ke mini bar. "Mamah bawa buah buat kamu. Kita buat lutis ya?"
Medisya hanya tersenyum menanggapi. Sekilas ia melirik Alvian yang sedang memantau mereka dari sofa panjang sembari menonton siaran berita di televisi.
"Lily tidak ikut?" Tanya Alvian setelah lama terdiam.
Melinda yang sedang asyik mengupas mangga muda menoleh lalu menggeleng.
"Dia marah?"
"Mungkin. Dia bilang kecewa sama kamu, Vian."
Gerakan Medisya memotong kedondong terhenti. Diam-diam ia menyimak perkataan antara ibu dan anak itu. Dalam hati ia bertanya-tanya. Belum sempat rasa ingin tahunya tentang Clara terjawab, sekarang sudah ada perempuan lain lagi. Siapa Lily? Kenapa perempuan itu kecewa dengan Alvian?
Banyak pemikiran buruk tentang Alvian yang bersarang di kepalanya. Pria itu menodainya karena Clara. Karena seorang perempuan! Itu artinya Alvian memiliki kisah cinta yang sangat kuat. Apakah nanti Alvian akan memintanya untuk bercerai? Apakah Alvian akan mengajukan kontrak pernikahan, seperti di novel yang sering ia baca?
Rata-rata pernikahan seperti ini memang hanya dilakukan untuk sekedar menutupi aib kehamilan. Kemudian pengantin pria akan mengajukan surat kontrak yang berisi kapan berakhirnya pernikahan ini.
Ia takut hal itu terjadi. Karena sangat memungkinkan untuk Alvian melakukan itu.
Mengingat laki-laki itu menikahinya hanya karena rasa bersalah. Apalagi Alvian memiliki segalanya. Ia bisa mewujudkan apapun keinginannya.
"Akhhh,,," rintihnya ketika jarinya tidak sengaja tertusuk pisau.
"Yaampun, Medisya!" Seru Melinda membuat Alvian yang hampir terlelap di sofa.
Ia segera menghampiri Medisya. Netranya memincing tajam melihat darah yang keluar dari jari telunjuk kiri Medisya.
"Ck! Kamu ada-ada saja! Kalau tidak bisa mengupas buah ya tidak usah!" Salak Alvian tanpa sadar.
Bahkan Medisya sampai memejamkan matanya karena takut melihat kemarahan Alvian.
"Sakit," rintihnya ketika Alvian meneteskan antibiotik agar luka di jari Medisya tidak infeksi.
"Pelan-pelan, Vian!" Seru Melinda sembari memukul punggung Alvian. Melihat Alvian menekan kuat jemari Medisya membuatnya geleng-geleng kepala.
Alvian mengingatkan Melinda pada Abraham. Kedua pria itu sama-sama memiliki sifat khawatir yang berlebihan. Namun mereka enggan menunjukannya. Jadi siapapun yang tidak memahami mereka pasti akan mengira bahwa mereka sedang membentaknya.
"Maaf," ucap Medisya.
Alvian menetralkan deru nafasnya. Entahlah, sikapnya tadi benar-benar diluar kesiapannya. Itu hanya gerakan reflek karena khawatir melihat darah yang keluar dari jari Medisya. Satu pikiran yang ada di kepalanya, anaknya ada di dalam perut Medisya. Ia takut apa yang terjadi pada Medisya akan berpengaruh pada anaknya nanti.
"Lain kali hati-hati," ucap Alvian sembari berlalu meninggalkan Melinda dan Medisya.
###