Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Kekuatan Seorang Adiwangsa
Keesokan paginya, aku kembali ke SMA Tunas Bangsa bersama Om Bram dan Fikri.
Lututku masih diperban. Setiap murid yang melihat kami berjalan menuju gedung administrasi berhenti bicara. Om Bram tidak menoleh kepada mereka. Dia berjalan di sisiku dengan langkah tenang, sedangkan Fikri membawa dua map tebal.
Pak Suryo menunggu di ruang kepala sekolah. Bu Ratna duduk di dekat jendela. Begitu melihat Om Bram, keduanya berdiri.
“Pak Bramantyo, silakan.” Pak Suryo tersenyum kaku. “Sebenarnya masalah antarsiswa seperti ini bisa diselesaikan oleh pihak sekolah.”
“Kalau bisa, saya tidak perlu datang.”
Senyum Pak Suryo hilang.
Aku duduk di kursi dekat pintu. Om Bram mengambil tempat di seberang meja, tidak di kursi paling besar yang disediakan untuk tamu penting.
“Kami menerima laporan bahwa Sekar menganiaya Reno sampai harus dirawat,” kata Pak Suryo.
“Sekar mengakui dia memukul Reno,” jawab Om Bram. “Kami tidak datang untuk menghapus akibat perbuatannya.”
Bu Ratna segera menyela, “Kalau begitu, Bapak pasti paham kenapa kami mempertimbangkan mengeluarkannya.”
Fikri membuka map pertama. “Sebelum keputusan dibuat, sekolah perlu melihat rangkaian peristiwanya.”
Dia meletakkan cetakan tangkapan layar WhatsApp dan IG Story di meja. Nama Reno terlihat di setiap unggahan awal. Berikutnya ada transkrip rekaman kantin, tanggal dua laporan lisanku kepada Bu Ratna, serta pernyataan dari tiga murid yang melihat Reno mendorongku lebih dahulu.
Bu Ratna membaca cepat. “Saya tidak pernah menerima laporan resmi.”
“Sekar datang kepada Ibu dua kali,” kata Om Bram.
“Dia hanya mengeluh diejek. Anak-anak saling mengejek setiap hari.”
“Apakah menyebut anak enam belas tahun sebagai pelacur termasuk ejekan biasa di sekolah ini?”
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Suryo berdeham. “Tentu tidak. Tapi kami juga harus memastikan bukti ini utuh.”
“Silakan.” Fikri mendorong sebuah penyimpanan data kecil. “File asli, metadata, dan kontak para saksi ada di dalam. Sekolah boleh memeriksanya bersama tim teknologi informasi.”
Om Bram memberi isyarat agar Fikri membuka map kedua.
Di atas meja kini terletak salinan visum dari RS Pondok Indah, laporan polisi kasus Bang Jagur, dan surat perlindungan sementara dari dinas sosial.
Aku menahan napas melihat foto memarku terselip di antara halaman. Om Bram telah bertanya semalam apakah aku bersedia membukanya kepada sekolah. Aku mengatakan iya, tetapi tetap saja rasanya seperti berdiri tanpa pakaian di depan orang-orang yang pernah meragukanku.
“Ini bukan untuk meminta belas kasihan,” kata Om Bram. “Ini membuktikan tiga hal. Sekar adalah korban kekerasan yang sedang berada dalam perlindungan resmi. Saya membawanya ke rumah setelah dia meminta pertolongan. Dan tuduhan bahwa dia menjadi simpanan saya tidak hanya palsu, tetapi juga membahayakan anak yang sedang memulihkan diri.”
Wajah Bu Ratna memucat.
Pak Suryo membalik halaman laporan. Ketika melihat stempel kepolisian, jari-jarinya berhenti.
“Mengapa sekolah tidak diberi tahu sejak awal?”
“Sekar berhak atas privasi,” jawab Fikri. “Sekolah hanya perlu tahu status penempatan dan wali yang berwenang. Dokumen itu sudah diserahkan saat pendaftaran.”
“Saya tidak pernah melihatnya,” kata Bu Ratna.
“Itu masalah administrasi sekolah, bukan kesalahan Sekar,” kata Om Bram.
Pak Suryo menyandarkan punggung. Di dinding belakangnya tergantung foto gedung baru dengan plakat kecil dari yayasan pendidikan Adiwangsa Group.
Tatapannya sempat bergerak ke sana.
“Kami menghargai kontribusi Adiwangsa Group selama ini,” katanya hati-hati. “Saya yakin kita bisa mencari jalan terbaik tanpa memperbesar masalah.”
Om Bram mengikuti arah matanya. “Lima tahun lalu kami membantu membangun gedung karena sekolah menjanjikan lingkungan aman. Donasi itu bukan alat untuk membeli keputusan hari ini.”
Pak Suryo tampak lega terlalu cepat.
“Saya juga tidak meminta perlakuan khusus,” lanjut Om Bram. “Saya meminta keadilan. Selidiki semuanya, termasuk siapa yang memulai, siapa yang menyebarkan fitnah, siapa yang mengabaikan laporan, dan mengapa korban justru dihukum.”
“Pak Bramantyo, prosedur sekolah...” Bu Ratna mencoba lagi.
“Prosedur apa yang Ibu jalankan?”
Dia terdiam.
Om Bram mengambil surat skors dari map. “Ibu menulis Sekar membawa nama buruk sekolah. Bukti apa yang Ibu periksa sebelum menandatangani ini?”
“Unggahan itu sudah tersebar luas.”
“Unggahan palsu yang dibuat orang lain.”
“Tapi status keluarganya belum selesai di pengadilan.”
“Karena proses hukum membutuhkan waktu, bukan karena hubungan kami dibuat-buat. Polisi, dinas sosial, rumah sakit, dan kuasa hukum mengetahui penempatannya. Ibu tidak menghubungi satu pun dari mereka.”
Bu Ratna meremas ujung roknya.
Pak Suryo menatapku. “Sekar, kami perlu mendengar ceritamu langsung.”
Tenggorokanku mengering. Om Bram tidak menjawab untukku. Dia hanya menggeser segelas air ke arahku.
Aku memegang gelas itu dengan kedua tangan.
“Reno mulai menyebarkan foto pada hari pertama aku masuk,” kataku. “Aku sudah menjelaskan siapa Om Bram. Hari kedua dan ketiga ada yang menulis di mejaku. Aku melapor kepada Bu Ratna dua kali.”
Bu Ratna membuka mulut, tetapi Pak Suryo mengangkat tangan.
“Lanjutkan.”
“Di kantin, Reno menghina orang tuaku dan mendorongku. Aku membalas. Setelah dia jatuh, aku masih memukul. Bagian itu salah.”
Air di gelas bergetar mengikuti tanganku.
“Kenapa kamu lari?” tanya Pak Suryo.
“Aku takut dikembalikan.”
“Dikembalikan ke mana?”
Aku melihat foto luka di map.
“Ke orang yang menjual aku untuk membayar utang.”
Pak Suryo menurunkan pandangan. Bu Ratna tidak lagi menatapku.
Fikri menyalakan rekaman kantin. Suara piring dan murid-murid memenuhi ruangan, lalu suara Reno terdengar jelas mengucapkan hinaan tentang orang tuaku. Rekaman berlanjut sampai bunyi meja terhantam dan seorang guru berteriak menyuruhku berhenti.
“Rekaman ini tidak memperlihatkan seluruh sudut perkelahian,” kata Fikri. “Karena itu kami tidak memakainya untuk menyangkal bahwa Sekar berlebihan. Namun urutan provokasi dan dorongan pertama terdengar jelas.”
Pak Suryo memutar ulang bagian ketika aku berkata tidak ingin bertengkar.
“Siapa yang merekam?”
“Seorang murid menyerahkannya setelah Deni menjamin identitasnya tidak diumumkan,” jawab Fikri. “Ada dua saksi lain yang bersedia bicara kepada tim sekolah, asalkan tidak ditempatkan satu ruangan dengan Reno.”
“Kenapa mereka takut kepada Reno?” tanya Om Bram.
Bu Ratna menjawab lirih, “Ibunya pernah mengancam akan melaporkan beberapa guru.”
Aku menoleh kepadanya. Jadi dia tahu Bu Win membuat orang takut. Dia hanya tidak pernah berpikir ketakutan yang sama mengikutiku setiap hari.
“Itu alasan Ibu mengabaikan laporan Sekar?” tanya Pak Suryo.
“Bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin mencegah konflik keluarga masuk ke sekolah.”
“Dengan menghukum satu pihak tanpa memanggil pihak lain?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Seorang staf mengetuk dan menyerahkan berkas kehadiran. Catatan itu menunjukkan aku masuk kelas tepat waktu selama sepekan, sementara Reno dua kali meninggalkan pelajaran pada jam unggahan dibuat.
Fikri menambahkan bukti tersebut ke daftar. “Kami juga meminta sekolah mengamankan rekaman CCTV koridor sebelum terhapus otomatis. Ada laporan kertas penghinaan ditempel pada meja Sekar hari ketiga.”
“Masih ada?” tanya Pak Suryo.
“Saya buang,” kataku. “Waktu itu aku cuma ingin tidak melihatnya.”
“Tidak apa-apa,” kata Om Bram. “Ketiadaan satu barang tidak menghapus pola yang didukung bukti lain.”
Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, Pak Suryo tidak melihat plakat donasi atau Om Bram. Dia melihatku.
“Kami terlambat mengetahui ini,” katanya. “Saya tidak akan membuat janji sebelum penyelidikan selesai, tetapi saya pastikan kamu didengar.”
Kalimat itu sederhana. Tetap saja, tenggorokanku kembali sesak.
Aku mengangguk, kali ini tanpa menundukkan kepala di hadapan mereka.
Om Bram berbicara setelah aku selesai. “Sekar bersedia mengikuti konseling dan bertanggung jawab atas serangan setelah Reno jatuh. Apakah sekolah juga bersedia bertanggung jawab atas pengabaian sebelum itu?”
Pak Suryo menutup map perlahan. “Kami akan membuka investigasi resmi hari ini. Seluruh sanksi terhadap Sekar ditangguhkan sampai hasilnya keluar. Reno juga akan diperiksa setelah kondisi medisnya memungkinkan.”
“Termasuk surat skors?” tanyaku.
“Ditangguhkan.”
“Bukan dihapus?”
“Belum. Kami harus mengikuti proses.”
Om Bram mengangguk. “Selama proses itu benar-benar berjalan, kami menunggu.”
Pak Suryo memanggil staf untuk menyalin berkas. Fikri memastikan hanya dokumen yang diperlukan yang diserahkan dan foto medis tidak disebarkan di luar tim investigasi.
Ketika kami berdiri, Bu Ratna memanggilku.
“Sekar.”
Aku menoleh.
Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya berkata, “Kamu boleh kembali ke kelas setelah pemeriksaan selesai.”
Bukan permintaan maaf. Namun untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar seperti hakim.
Di lorong, aku menarik napas panjang.
“Om.”
“Ya?”
“Tadi Om bilang aku tetap harus bertanggung jawab.”
“Karena kamu memang harus.”
“Aku kira Om akan bilang aku benar sepenuhnya.”
Dia berhenti berjalan. “Berdiri di pihakmu bukan berarti membenarkan semua yang kamu lakukan. Artinya memastikan kesalahanmu dinilai bersama seluruh kebenaran.”
Mataku panas.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang berbohong demi aku. Aku membutuhkan seseorang yang membuat kebenaran akhirnya punya tempat untuk berdiri.
“Terima kasih, Om.”
Om Bram mengusap puncak kepalaku singkat, seperti seorang ayah menenangkan anaknya. “Pulang dan istirahat. Besok kamu kembali belajar.”
Kami meninggalkan sekolah bersama Fikri.
Dari balik jendela kantor, Pak Suryo berdiri memandangi mobil kami keluar dari gerbang. Begitu kendaraan menghilang, dia mengambil telepon meja.
“Kumpulkan tim yayasan, BK, wali kelas, dan perwakilan siswa sekarang,” katanya. “Saya mau semua bukti diperiksa hari ini. Tidak ada yang pulang sebelum kita tahu siapa yang sebenarnya membuat sekolah ini tercemar.”