Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Salah Orang
Semua karyawan berbaris di lobi menunggu kedatangan pimpinan baru. Mereka masih belum begitu paham siapa pimpinan baru mereka karena sampai detik ini tak jua menunjukkan batang hidungnya.
"Memangnya perusahaan ini pindah tangan ke siapa sih?" tanya Ayuna.
Teman-teman Ayuna mengedikkan bahunya. "Mana tahu, selama pemindahan pak Elio digantikan oleh pimpinan baru tak seorangpun tahu siapa yang menjadi penggantinya. Katanya sih pengusaha besar dari kalangan elit, Pak Erlangga atau siapa gitu."
Ayuna mengerutkan keningnya sembari menggumam. "Erlangga?" Ayuna merasa nama itu cukup familiar didengar, namun ia tak banyak tahu tentang pebisnis, baginya lebih fokus bekerja untuk mengais pundi-pundi rupiah.
"Mudah-mudahan pimpinan kita nggak kejam seperti di novel-novel ya.., aku kok jadi nervous gini. Jujur aku takut banget," cicit Mila.
Ayuna mengibaskan tangannya. "Sudahlah, tujuan kita di sini cari duwit, selama kita nggak buat ulah kita bakalan aman, kecuali ada yang usilin. Aku sih nggak peduli siapa pimpinan baru kita, bagiku bisa mendesign dengan baik pasti bakalan dapat bonus. Iya nggak sih?"
"Hm..., benar juga." Mereka menarik napas membuang pikiran konyol yang menghantui pikirannya.
Sebuah mobil Mercedes Benz C-Class masuk ke halaman kantor berhenti tepat di depan lobi. Dua orang berperawakan tinggi kekar keluar dari dalam mobil tersebut dan membuka pintunya. Tak lama dari itu keluarlah seorang pria muda berperawakan tinggi putih dengan sorot mata dinginnya. Semua karyawan berjajar rapi di dalam lobi menunduk hormat menyambut kedatangannya.
"Beri hormat untuk pimpinan baru kita!"
"Selamat datang pak!" Semua karyawan berseru menyambut kedatangannya.
Dua orang yang tak lain bodyguard pria itu langsung memberikan celah agar bosnya bisa bertatap muka langsung dengan pegawainya.
"Selamat pagi," ucapnya dingin netranya menatap satu persatu orang yang berdiri mengelilinginya.
"Selamat pagi pak," jawab mereka serempak.
Semua orang mendongak, menatapnya dengan jelas.
Deg,,
Ayuna melotot terkejut bukan main. Dia langsung teringat oleh sosok pria yang kini berdiri di depannya.
"D—dia?"
Wajahnya kian memucat. Ketenangannya kini benar-benar terusik oleh perasaan was-was.
"Terimakasih banyak untuk sambutannya yang antusias," cicit pria itu dengan tegas penuh wibawa. "Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Erlangga Kusuma, saya menggantikan posisi Bapak Elio selaku CEO sebelumnya."
Tatapan Erlangga membidik pada satu arah di mana seorang wanita tengah menunduk gelisah, padahal di situ karyawan yang lain terlihat begitu tenang.
"Kamu!"
Semua orang menoleh pada Erlangga dengan mengerutkan keningnya.
"Maksud Bapak saya?" Mila yang berdiri di sebelah Ayuna mengira dirinyalah yang terpanggil oleh CEO.
"Bukan, tapi sebelah kamu."
Mila menoleh pada Ayuna. "Oh..., maaf pak, ini namanya Ayuna." Tukas Mila menyenggol Ayuna. "Yuna! Ngapain nunduk? Tuh, kamu dipanggil pak Erlangga."
"Hah? A—aku?"
Ayuna refleks menoleh pada Erlangga. Dan begitu terkejutnya pria itu ketika mata mereka saling bertemu.
"Ba—bapak memanggil saya?"
Tak menjawab, Erlangga seperti patung bernyawa. 'Luna?' Dia menggumam.
"M—maaf pak? Apa Bapak memanggil saya?" Ayuna mengulanginya lagi.
Erlangga terlihat gelisah. Dia segera menghapus kegundahannya dengan mengatur posisinya.
"Hm..., iya. Dari tadi saya lihat kamu menunduk, seolah-olah kamu nggak menghargai kehadiran saya di sini. Kenapa? Kamu nggak suka saya memimpin di perusahaan ini?"
Ayuna menggeleng. "Oh..., tentu saja itu tidak benar, Pak! Mana mungkin saya tidak menghormati anda. Saya hanya~~
"Setelah ini datanglah ke ruangan saya!"
Ayuna menarik nafas. 'mati aku' belum genap sehari bertemu dengan pimpinan baru sudah terlibat permasalahan kecil dengannya. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu, tapi ia berharap pria itu tidak mengingatnya.
"Saya rasa perkenalan kita cukup sekian. Kalian bisa kembali ke tempat kerja masing-masing!"
"Baik pak," semua serempak menjawab.
Bubarlah mereka menuju tempat kerjanya masing-masing, sedangkan Erlangga langsung bergegas menuju ruangannya yang ada di lantai tiga.
"Ayuna, apa yang kau pikirkan," cicit Mila. "Kau benar-benar membuatnya marah."
Ayuna kembali menarik nafasnya. "Memangnya apa yang tengah kulakukan padanya? Aku tidak merasa membuat masalah dengannya. Aku juga tidak menyinggungnya, dia saja yang kebaperan. Masa iya orang nunduk aja dianggap tak menghargainya!"
Mila berdecak. "Ya iyalah," gerutunya. "Orang dia lagi memperkenalkan diri kamu malah nunduk. Jelas saja dia tersinggung, seolah-olah kamu nggak menghargai kedatangannya."
Ayuna diam dengan mengerjabkan matanya. Ia masih bingung, harus bagaimana menghadapinya.
"Ingat Ayuna, dia itu pimpinan kita. Mungkin karakternya sama pak Elio berbeda. Semoga saja kamu tidak ditegur atau dihukum. Kalau sampai kamu dipecat itu bukan hal yang baik. Cari kerjaan itu susah."
Manager mendekat dengan menatapnya tajam. "Kau benar-benar keterlaluan Ayuna," serunya. "Sudah datang selalu terlambat, nyinggung pak Erlangga lagi! Apa kau sudah bosan kerja di sini?"
Ayuna diam. Menurutnya ini persoalan yang sepele, tapi kenapa harus dibesar-besarkan? Mereka tidak tahu apa yang dialaminya, seolah-olah mereka menganggapnya orang yang paling bersalah.
"Ya sudah, cepat minta maaf kepada pak Erlangga! Jangan membantah atau membuatnya marah."
Ayuna mengangguk. "Baik pak, kalau begitu saya akan menemuinya."
Di dalam ruangannya Erlangga tak bisa duduk dengan tenang. Ia begitu yakin seseorang yang dilihatnya adalah Luna Wijaya, tunangannya yang hilang. Sudah lebih dari sepuluh tahun Luna Wijaya menghilang, bahkan semua orang sudah menganggapnya mati, tapi dengan mata kepalanya sendiri ia melihatnya begitu jelas berdiri di depan matanya. Ia yakin wanita itu benar-benar kekasihnya di masa lalu.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi pak, apa saya boleh masuk?"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinganya. Erlangga langsung duduk di kursi kerjanya dengan memasang wajah dingin tanpa ekspresi.
"Masuklah!"
Kriet,, suara pintu berdecit, wanita itu masuk dengan meremas jemarinya, wajahnya kian menunduk.
"M—maaf pak, tadi Bapak meminta saya buat datang ke sini. Kalau boleh tahu ap~~
"Duduklah."
Ayuna mengangguk dengan wajah menunduk. Dia mengambil tempat duduk tepat di depan meja kerja Erlangga.
"Nona...
"Ayuna, nama saya Ayuna pak?"
Erlangga menautkan alisnya. "Ayuna? Bukankah kamu Luna?"
Ayuna mendongak. "Bu—bukan Pak, nama saya Ayuna, bukan Luna," bantahnya.
'ini tidak mungkin! Dia pasti berbohong! Tapi untuk apa?'
Nafasnya terasa sesak saat wanita itu tidak mengenalinya sebagai tunangan. Bagaimana mungkin seorang Luna Wijaya berubah menjadi Ayuna. Dia sengaja membuat hidupnya kacau balau. Selama ini menghilang dan ternyata untuk menghindarinya.
"Apa maksudnya mengganti namamu, Luna? Kau ingin menghindariku? Kau ingin menghukumku? Memangnya apa salahku?"
Ayuna kebingungan. Rupanya pria itu sudah salah paham terhadapnya. "M—maaf pak, saya tidak mengerti apa maksud bapak! Saya tidak pernah mengganti nama saya. Saya ini Ayuna, bukan Luna. Anda salah orang pak!"
Erlangga bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat padanya. Tangannya mencengkram diatas meja dengan mencondongkan kepalanya nyaris tak berjarak. Ayuna was-was, ia mulai diselimuti oleh rasa ketakutan.
"B—bapak mau apa? Bapak jangan coba-coba mendekati saya atau saya akan berteriak!"