Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGILAN TELEPON
Malam itu, rumah terasa berbeda. Bukan karena perabotan yang berubah atau dekorasi yang baru, melainkan karena ketiadaan suara yang selama lima tahun menjadi soundtrack hidupku: langkah kaki Fadli yang berat, suara televisi yang terlalu keras, dan bisikan-bisikan palsu yang ia gunakan untuk memanipulasiku. Kini, hanya ada keheningan. Dan dalam keheningan itu, aku akhirnya bisa mendengar pikiranku sendiri dengan jelas.
Aku duduk di sofa ruang tamu, laptop terbuka di pangkuan. Layar menampilkan spreadsheet pembagian aset yang telah kusempurnakan bersama tim hukum Arya tadi sore. Angka-angka berbaris rapi, setiap rupiah memiliki identitas, setiap properti memiliki status hukum yang tak terbantahkan. Ini bukan sekadar dokumen keuangan. Ini adalah peta kebebasan.
Ponselku di atas meja kopi bergetar. Nama Nia Tanjung muncul di layar.
Dulu, nama itu membuat jantungku berdegup kencang karena cemas. Dulu, aku akan mengangkatnya dengan tangan gemetar, berharap ia membawa kabar baik, berharap ia masih menganggapku sebagai sahabat. Tapi malam ini? Aku hanya menatap nama itu dengan tatapan dingin, seolah melihat hama yang harus dibasmi.
Aku tidak langsung mengangkatnya melainkan Membiarkannya berdering tiga kali. Empat kali. Lima kali. Biarkan dia menunggu. Biarkan kecemasannya tumbuh. Karena sekarang, giliran dia yang merasakan ketidakpastian yang selama ini kurasakan sendirian.
Akhirnya, pada deringan keenam, aku mengangkat telepon. Tidak menyapa. Hanya menunggu.
"Siren! Kenapa kamu nggak angkat dari tadi?" Suara Nia terdengar panik, nadanya tinggi dan serak.
"Aku dengar kamu sudah notarisan sama Fadli pagi ini! Benarkah? Kamu benar-benar menceraikannya?"
"Kamu dengar dari mana?" tanyaku tenang, suaraku datar tanpa emosi.
"Dari... dari teman kantor Fadli! Dia bilang kamu memaksanya tanda tangan pra-cerai yang isinya gila! Siren, kamu nggak bisa begini! Fadli itu suami kamu! Kalian sudah menikah tiga tahun! Apa kata orang nanti kalau kamu ceraiin dia seenaknya?"
Aku tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.
"Apa kata orang? Nia, sejak kapan kamu peduli pada apa kata orang? Bukannya kamu lebih peduli pada apa kata rekening bankmu?"
Ada keheningan di seberang sana. Napasnya tercekat.
"A-Apa maksudmu? Aku nggak ngerti!"
"Jangan pura-pura bodoh, Nia," potongku, suaraku kini mengandung baja.
"Kamu pikir aku tidak tahu tentang pinjaman lima ratus juta yang kamu ajukan pakai jaminan sertifikat tanah Fadli? Kamu pikir aku tidak tahu bahwa tanah itu sudah dihipotek ganda? Kamu mencoba mencuri sisa-sisa kekayaannya bahkan sebelum perceraian selesai. Dan kamu berani meneleponku malam-malam untuk berpura-pura peduli?"
"Siren... itu... kamu salah paham!" Suara Nia pecah, tangis tiruan mulai terdengar.
"Aku cuma butuh bantuan! Fadli janji akan bantu lunasi pinjamanku! Tapi sekarang dia malah mau tinggalin aku! Kamu tega banget, Ren! Aku hamil anak dia! Kamu nggak punya hati!"
"Hamil?" ulangku, nada suaraku hampir tergelak.
"Nia, mari kita bicara jujur untuk sekali ini. Anak di kandunganmu bukan milik Fadli. Ayah biologisnya adalah bosmu di PT Mitra Sejahtera. Pria yang juga menjadi klien gelap Fadli. Kamu menggunakan kehamilan itu sebagai leverage untuk memerasnya, sekaligus sebagai alat untuk menjauhkanku darinya. Dan sekarang, ketika leverage itu gagal, kamu berpura-pura menjadi korban."
Tangisan di seberang sana berhenti mendadak. Hening total. Selama sepuluh detik, tidak ada suara apa pun. Lalu, suara Nia kembali, tapi kali ini tanpa air mata palsu. Nadanya rendah, tajam, dan penuh kebencian murni.
"Kamu tahu dari mana?" bisiknya, suaranya bergetar bukan karena sedih, tapi karena marah yang tak tertahan.
"Aku tahu karena aku tidak lagi naif, Nia," jawabku tegas.
"Aku tahu karena aku memiliki akses ke informasi yang tidak pernah kamu bayangkan. Dan aku tahu karena aku tidak lagi takut padamu."
"Kamu pikir kamu menang?" desisnya, suaranya kini seperti ular yang siap menyerang.
"Kamu pikir dengan dokumen pra-cerai itu kamu aman? Siren, kamu lupa satu hal. Aku masih punya banyak kartu. Dan jika aku jatuh, aku akan menarik kamu bersamaku. Aku akan bocorkan semua rahasia kotormu ke media. Aku akan pastikan dunia tahu bahwa kamu bukan wanita suci!"
Ancaman itu menggantung di udara. Tajam. Beracun. Penuh niat jahat.
Tapi alih-alih merasa takut, aku justru merasakan kepuasan yang dingin dan tajam. Karena ancamannya membuktikan satu hal: Nia tidak punya kartu apa pun selain bluffing. Wanita yang benar-benar memegang kendali tidak perlu mengancam. Mereka hanya bertindak.
"Nia," ucapku pelan, suaraku hampir berbisik tapi mengandung otoritas mutlak.
"Ancamanmu kosong. Dan kamu tahu itu. Kamu tidak punya bukti apa pun tentang 'rahasia kotorku' karena tidak ada rahasia kotor. Yang kamu miliki hanyalah keputusasaan. Dan keputusasaan bukan senjata. Itu adalah tanda kekalahan."
Aku berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap.
"Malam ini, aku memberi kamu satu peringatan terakhir," lanjutku, nadaku kini seperti hakim yang membacakan vonis. "Besok pagi, semua akses perbankanmu terkait Fadli akan diblokir. Siang hari, divisi compliance di kantormu akan menerima laporan resmi tentang pinjaman fiktifmu. Dan dalam tujuh hari kerja, kamu akan diskors tanpa gaji. Ketika itu terjadi, jangan hubungi aku. Jangan hubungi Fadli. Jangan hubungi siapa pun. Karena tidak ada yang bisa menyelamatkanmu dari konsekuensi pilihanmu sendiri."
"Kamu... kamu brengsek!" teriak Nia, suaranya pecah sepenuhnya. "Kamu menghancurkan hidupku!"
"Tidak, Nia," balasku, suaraku tetap tenang. "Kamu yang menghancurkan hidupmu sendiri saat kamu memilih untuk mengkhianati persahabatan, memanipulasi pria lemah, dan membangun kehidupan di atas kebohongan. Aku hanya memastikan bahwa kehancuran itu terjadi dengan cara yang adil. Dan permanen."
Aku menutup telepon. Tanpa mengucapkan selamat tinggal. Tanpa memberikan ruang untuk balasan. Klik. Hening kembali mengisi ruangan.
Aku meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap layar laptop. Spreadsheet pembagian aset masih terpampang. Tapi kini, ada kepuasan tambahan yang tidak bisa diukur dengan angka. Kepuasan karena telah membungkam mulut pengkhianat dengan kebenaran yang tak terbantah.
Ponsel bergetar lagi. Kali ini, nama Arya Wijaya.
Aku mengangkatnya segera. "Ya, Tuan Arya?"
"Saya dengar Anda baru saja menyelesaikan panggilan telepon," ucapnya, suaranya berat namun hangat. "Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Lebih dari baik-baik saja," jawabku, senyum asli terbentuk di bibirku. "Dia baru saja mengonfirmasi bahwa ancamannya kosong. Dan saya baru saja memberinya ultimatum yang akan membuatnya kehilangan semua leverage tersisa."
"Bagus," ucap Arya, dan aku bisa mendengar senyum di suaranya. "Tim saya sudah mengirimkan surat pemblokiran rekening ke bank lima menit yang lalu. Dan head of compliance di PT Mitra Sejahtera telah menerima email resmi tentang pinjaman fiktif Nia. Semuanya berjalan sesuai rencana."
Aku menghela napas lega. Bukan karena strateginya berhasil. Tapi karena aku tidak sendirian dalam menjalankan strategi itu.
"Terima kasih, Tuan Arya," ucapku, suaraku lebih lembut dari sebelumnya. "Bukan hanya untuk strateginya. Tapi untuk... kehadiranmu. Untuk mengingatkan bahwa aku tidak harus menghadapi ini sendirian."
Ada keheningan di seberang sana. Lalu, suara Arya terdengar lebih dekat, lebih intim.
"Siren," ucapnya pelan, "Anda tidak pernah sendirian. Tidak lagi. Dan saya akan memastikan Anda tidak pernah merasa sendirian lagi. Bukan sebagai mitra bisnis. Tapi sebagai... seseorang yang berarti."
Jantungku berdegup kencang. Bukan karena tegang. Tapi karena harapan. Harapan bahwa setelah semua kehancuran, setelah semua pengkhianatan, mungkin—hanya mungkin—ada ruang untuk sesuatu yang nyata. Sesuatu yang dibangun di atas kejujuran, bukan manipulasi. Sesuatu yang layak diperjuangkan.
"Terima kasih, Arya," bisikku, memanggilnya tanpa gelar untuk pertama kalinya. Dan rasanya... benar. Sangat benar.
Permainan baru saja memasuki babak ketujuh. Dan kali ini, aku tidak hanya bermain untuk balas dendam. Aku bermain untuk masa depan yang akhirnya milikku sendiri. Bersama seseorang yang finally melihatku—bukan sebagai istri, bukan sebagai aset, tapi sebagai wanita yang utuh.