NovelToon NovelToon
SEMUA SALAH BUNDA

SEMUA SALAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Horor / Hantu / Tamat
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
​Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
​Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
​Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
​Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
​Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
​Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YOVANA

Sejak malam ketika Zain mendengar suara Yovana berbisik namanya di tengah keheningan, hidupnya tidak pernah kembali sama seperti dulu.

Ia berusaha sekuat tenaga meyakinkan diri sendiri bahwa semua itu cuma khayalan. Efek kelelahan. Beban rasa bersalah yang terlalu lama dipendam. Atau mungkin pikirannya sendiri yang mulai rusak perlahan setelah kematian Yovana yang begitu tragis.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri: suara itu terdengar terlalu nyata. Terlalu jelas. Dan sejak malam itu, suasana di dalam rumahnya terasa berubah total. Udara di ruangan terasa lebih berat. Bayangan di sudut-sudut dinding seolah bergerak sendiri. Dan sering kali, aroma samar sesuatu yang anyir bercampur wangi bunga kamboja terbawa angin masuk ke dalam rumah — padahal tidak ada satu pun pohon kamboja yang tumbuh di halaman mereka.

Yang paling merasakan perubahan itu adalah Lia.

Putri Zain yang baru berusia enam belas tahun itu mulai sering terbangun dengan napas terengah-engah di tengah malam. Awalnya hanya mimpi buruk biasa. Lia selalu bermimpi dirinya berjalan sendirian di tempat yang gelap gulita. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya suara tangisan perempuan yang terdengar lirih dari kejauhan.

Setiap kali Lia mencoba mencari asal suara itu, tangisan tersebut makin lama makin dekat. Semakin jelas. Lalu sesosok tubuh muncul perlahan dari balik kegelapan — seorang gadis muda dengan wajah pucat, rambut panjang yang terlihat basah kuyup, dan pakaian yang menempel lekat di tubuhnya seolah baru saja keluar dari air. Gadis itu hanya berdiri diam, menatap Lia lekat-lekat tanpa mengucapkan satu kata pun.

Lia selalu terbangun tepat sebelum ia sempat melihat wajah gadis itu dengan jelas.

Malam ketiga, mimpi itu datang lagi. Tapi kali ini berbeda. Gadis itu tidak lagi berdiri jauh. Ia sudah berdiri tepat beberapa langkah di depan Lia.

Lia mundur gemetar ketakutan. “Siapa kamu?” suaranya keluar berbisik nyaris tak terdengar.

Gadis itu tetap diam, tak bergerak sedikit pun. Lia mencoba berlari menjauh, tapi kakinya terasa berat seolah tertanam kuat ke dalam tanah. Suara tangisan tiba-tiba meledak menjadi isak tangis yang memilukan. Lalu perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya yang tertunduk.

Lia menjerit sekuat tenaga. Wajah itu pucat tanpa setitik pun warna darah. Kedua matanya menatap kosong, dan bibirnya yang membiru bergerak pelan mengucapkan satu nama:

“Lia…”

Lia tersentak bangun dari tidurnya. Ia langsung duduk tegak, napasnya memburu cepat.

Kamar tidurnya tampak remang dalam cahaya lampu tidur yang redup. Keringat dingin membasahi seluruh leher dan punggungnya. Tangannya gemetar hebat saat ia meraih saklar lampu utama dan menyalakannya. Cahaya putih langsung menerangi seluruh ruangan — kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Lia menarik napas panjang berusaha menenangkan jantungnya yang seolah mau copot. “Cuma mimpi… cuma mimpi buruk…” gumannya pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri.

Ia mencoba kembali berbaring dan menarik selimut. Tapi saat tangannya menyentuh kain selimut dan matanya beralih ke cermin besar yang berdiri di sudut kamar, Lia langsung membeku.

Di dalam pantulan cermin itu, ada bayangan seseorang. Seorang perempuan, berdiri tegak tepat di belakang punggungnya.

Darah Lia seketika berhenti mengalir. Perlahan, dengan rasa takut yang merayap di setiap urat, ia memutar kepalanya ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya dinding kosong dan lemari pakaiannya yang tertutup rapat.

Tubuhnya kaku saat ia kembali menoleh ke arah cermin. Bayangan perempuan itu masih berdiri di sana — masih di posisi yang sama, menatap lurus ke arah punggung Lia.

“Ayah!!!” jerit Lia sekuat tenaga.

Pintu kamarnya langsung terhempas terbuka. Zain masuk dengan napas terengah dan wajah penuh kecemasan. “Ada apa, Lia? Ada apa?”

Lia menunjuk gemetar ke arah cermin. “Ada orang, Yah! Di sana, ada orang berdiri di belakangku!”

Zain menatap cermin besar itu lekat-lekat. Tidak ada apa-apa. Hanya pantulan Lia yang sedang menangis ketakutan dan dirinya sendiri yang berdiri di samping tempat tidur. “Tidak ada siapa-siapa, Nak. Cuma pantulan bayangan lampu mungkin.”

“Ada, Yah! Aku lihat jelas!” Lia menangis histeris, bahunya berguncang keras. “Dia berdiri tepat di belakangku! Wajahnya pucat sekali!”

Zain memegang kedua bahu putrinya, berusaha menenangkan meski hatinya sendiri mulai dipenuhi rasa was-was yang tak bisa dijelaskan. “Tenang dulu. Tarik napas. Kamu pasti masih terbayang mimpi buruk tadi. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita semua.”

Lia menggeleng kuat-kuat. Matanya basah dan merah menatap ayahnya. “Bukan mimpi, Ayah! Kali ini bukan mimpi!”

Zain terdiam sejenak. Ingatannya tiba-tiba melayang kembali ke malam ketika ia sendiri mendengar suara Yovana berbisik di telinganya. Rasa dingin yang sama. Ketakutan yang sama. Tapi ia segera mengusir pikiran itu jauh-jauh. Ia tidak boleh panik di depan anaknya. “Sudah, jangan dipikirkan lagi. Malam ini kamu tidur di kamar Mama saja, ya? Biar kamu merasa lebih tenang.”

Lia mengangguk cepat. Ia langsung melompat turun dari tempat tidur, bersiap keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Tapi sebelum melangkah melewati pintu, ia tidak sengaja menoleh sekilas lagi ke cermin.

Sekilas itu cukup untuk membuat nyalinya hampir hilang sepenuhnya. Sosok gadis pucat itu kini sudah berdiri lebih dekat ke permukaan cermin, seolah hendak menerobos keluar. Matanya menatap Lia tajam, penuh sesuatu yang Lia belum pernah lihat sebelumnya — kesedihan yang mendalam bercampur amarah yang dingin. Lia cepat-cepat memejamkan mata dan bergegas keluar kamar menempel ketat di sisi ayahnya. Saat ia membuka mata kembali di lorong, sosok itu sudah lenyap.

Namun Lia tahu, perasaan itu tidak hilang. Rasanya masih ada sesuatu yang berdiri di sana, menatap punggungnya, menunggu saat yang tepat.

Hari-hari berikutnya, kejadian-kejadian aneh itu makin sering terjadi dan makin sulit untuk diabaikan.

Lia mulai merasa selalu diawasi, ke mana pun ia melangkah. Saat ia sedang memotong sayuran di dapur, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri dan ia yakin seseorang sedang berdiri menempel di punggungnya — begitu dekat hingga ia bisa merasakan hembusan napas dingin di tengkuknya. Saat mandi di kamar mandi, dari balik tirai kabut uap air, ia mendengar suara tangisan perempuan pelan-pelan terdengar dari luar pintu. Bahkan saat ia sedang duduk belajar di meja kamarnya, kursi kosong di sebelahnya sering kali bergeser sendiri perlahan di atas lantai kayu, mengeluarkan bunyi derit kecil yang nyaring di keheningan malam.

Akhirnya Lia tidak tahan lagi. Semua hal itu ia ceritakan kepada ibunya. Malam itu, saat mereka sedang duduk santai di ruang keluarga, Lia mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Rina.

“Ma… Lia takut…” suaranya pelan dan gemetar.

Rina mengusap lembut rambut panjang putrinya. “Takut kenapa, Sayang? Kamu kelihatan gelisah sekali akhir-akhir ini.”

“Ada perempuan yang selalu muncul di sekitar Lia. Di mimpi, di cermin, di mana-mana…”

Rina berhenti mengusap rambut Lia sejenak, lalu tersenyum tipis berusaha menenangkan. “Mungkin kamu lagi banyak pikiran karena ujian sekolah minggu depan? Sering kelelahan jadi halusinasi, kan?”

“Tapi Lia benar-benar melihatnya, Ma. Lia tidak sedang berkhayal.” Lia menatap ibunya lekat-lekat, berharap Rina percaya.

Rina terdiam, menimbang-nimbang. “Kalau begitu, ceritakan seperti apa orangnya?”

Lia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Dia pucat sekali. Rambutnya panjang dan terlihat basah. Pakaiannya juga basah, menempel di tubuh. Dan tatapannya…” Lia terhenti, tak sanggup melanjutkan.

“Tatapannya bagaimana?” desak Rina pelan, mulai ikut merasakan hawa yang tidak enak merayap naik.

“Seperti orang yang menyimpan dendam sangat dalam. Seperti orang yang kehilangan segalanya dan tidak pernah mendapat keadilan.”

Seketika itu juga, Rina merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri tegak. Ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Tapi ia tetap berusaha menutupi kegelisahannya, tersenyum lagi dan menepuk bahu Lia pelan. “Sudah, jangan terlalu dipikirkan terus ya. Nanti malah makin terasa nyata. Coba banyak berdoa sebelum tidur, biar hati lebih tenang.”

Lia hanya mengangguk pasrah, meski di dalam hatinya ia tahu doa saja sepertinya belum cukup mengusir apa yang sedang mengikutinya.

Malam itu, saat Lia masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil buku yang tertinggal, suasana ruangan itu seolah sudah menunggunya.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar tiba-tiba bergetar keras. Layarnya menyala menandakan ada pesan masuk. Lia berjalan mendekat dan mengambil ponsel itu. Di layar tertulis: Pesan dari nomor tidak dikenal.

Lia membuka pesan tersebut dengan rasa penasaran bercampur was-was. Isinya hanya satu kalimat singkat:

“Ayahmu yang mengambil masa depanku.”

Lia mengerutkan kening, bingung sekaligus ngeri. Ia tidak mengenali nomor itu, dan tidak mengerti maksud kalimat tersebut. Belum sempat ia berpikir panjang, ponselnya kembali bergetar — pesan kedua masuk seketika.

“Sekarang giliranku mengambil masa depanmu.”

Darah Lia langsung turun ke kaki. Jantungnya berdegup kencang seolah mau meledak. Tanpa berpikir dua kali, ia melempar ponsel itu ke atas tempat tidur seolah benda itu baru saja membakar tangannya. Napasnya memburu tak beraturan. Rasa takut yang baru — rasa ancaman nyata — kini mencengkeram hatinya.

Ia langsung berlari keluar kamar, ponselnya dibiarkan tergeletak di sana, dan berteriak memanggil ayahnya sepanjang lorong.

“Ayah! Ayah, cepat ke sini!”

Zain yang sedang duduk membaca koran di ruang tamu segera berdiri tergesa saat melihat Lia berlari dengan wajah pucat pasi. “Ada apa lagi, Lia? Ada kejadian lagi?”

Lia langsung menyodorkan ponselnya yang sudah ia ambil kembali, tangannya gemetar hebat. “Ada orang mengirim pesan ancaman ke Lia, Yah. Lihat sendiri isinya.”

Zain menerima ponsel itu dan membaca kedua pesan tersebut. Hanya dalam hitungan detik, wajahnya seketika berubah menjadi putih pucat. Darah seakan hilang dari wajahnya. Ia mengenali nada kalimat itu. Ia mengenali rasa dendam yang tertulis di sana. Bukan karena pernah membacanya sebelumnya, melainkan karena ia tahu persis siapa satu-satunya orang yang mungkin mengirimkan pesan seperti itu — orang yang seharusnya sudah mati dan terkubur diam di bawah tanah.

“Siapa dia, Yah?” tanya Lia gemetar, bingung melihat reaksi ayahnya yang berubah drastis. “Ayah kenal orang ini?”

Zain tidak menjawab. Lidahnya terasa kaku. Pandangannya kosong menatap layar ponsel yang kini ia genggam erat hingga buku jarinya memutih.

“Ayah kenal pengirimnya, kan? Siapa dia?” Lia terus mendesak, rasa takut bercampur penasaran makin membesar.

Zain mengembalikan ponsel ke tangan Lia dengan gerakan kaku dan jari-jemari yang terasa dingin seperti es. “Blokir saja nomor itu. Jangan pernah balas. Jangan pedulikan.”

“Tapi siapa dia? Kenapa dia mengancam Lia?”

“Tidak penting siapa dia!” potong Zain tajam, suaranya meninggi karena rasa takut yang mulai berubah menjadi kepanikan. “Sudah Ayah bilang, blokir dan lupakan!”

Lia terdiam, terkejut melihat ayahnya yang biasanya lembut kini menatapnya dengan mata berkilat penuh ketakutan dan kemarahan yang tertahan. Ia belum pernah melihat ayahnya setakut dan sebingung itu seumur hidupnya.

Malam itu terasa panjang dan mencekam. Lia tidak berani lagi tidur sendirian di kamarnya. Ia tidur di kamar orang tuanya, di tepi luar tempat tidur, dengan lampu menyala terang sepanjang malam. Matanya sulit sekali terpejam. Setiap suara kecil dari luar pintu membuatnya tersentak kaget.

Sementara itu Zain juga tidak tidur. Ia berbaring membelakangi istrinya, matanya terang menatap langit-langit kamar yang gelap. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Yovana terus berputar berulang-ulang. Ia tahu, pesan itu baru permulaan. Yovana tidak akan berhenti hanya dengan pesan singkat. Ia datang untuk menuntut, dan ia tidak akan pulang sebelum lunas.

1
andhig Rosdiana
terimakasih udah mampir dikarya aku jangan lupa udah rilis karya terbaru aku ya ...tumbal prewangan.😍
andhig Rosdiana
novel aku bab nya nggak banyak ya ringkas jelas padat dan selesai 🥰
andhig Rosdiana
yuk say ...udah mulai rilis LG novel genre misteri horor aku ya ... jangan lupa👍dan komentar ya say ...supaya bisa semngat update nya 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!