Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Pria gila
Nathan menatap Laluna yang berdiri di depannya dengan ekspresi tenang. Mendengar perkataan gadis itu, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia segera melangkah mendekat ke arah gadis itu, hingga jarak yang tersisa di antara mereka menghilang. Tangan besar Nathan menarik dagu Laluna yang membuat gadis itu terdiam membeku.
"Kenapa? Kamu malu saat saya melihat tubuhmu?" tanya Nathan.
Laluna yang mendengar itu benar benar terdiam, ia tidak menyangka pria dingin yang kata rumornya anti wanita bisa berbuat segila ini ke padanya. Ia buru buru melepaskan tangan Nathan dari dagunya, ia mundur beberapa langkah mencoba menjaga jarak di antara mereka.
"Aku tidak malu, hanya saja aku tidak terbiasa berganti bersama orang lain. Apalagi dengan seorang pria," ujarnya, cepat.
Nathan hanya tersenyum tipis, melihat wajah gadis itu yang sudah memerah. Entah kenapa saat bersama gadis yang sekarang menjadi calon istrinya itu, ia sangat ingin menggodanya.
"Kalau begitu cepat lepas pakaianmu itu, bukankah kamu tidak malu?"
Laluna buru buru membelalakkan matanya, ia tidak menyangka pria itu memperlihatkan sisi liarnya kepadanya.
"Kita hanya menjalankan pernikahan kontrak! Jangan gila!"
Nathan tertawa pelan melihat reaksi Laluna. Gadis itu benar-benar berbeda dari yang ia bayangkan. Di depan kamera, Laluna terlihat percaya diri dan sulit digoyahkan, tetapi ketika berhadapan dengannya, gadis itu mudah sekali panik.
"Saya hanya bercanda," ujar Nathan santai.
Nathan segera membalikkan badannya, sebelum benar benaar ia keluar. Pria berbadan besar itu berucap.
"Saya tunggu di mobil, jangan lama lama."
Laluna tidak menjawab ia masih terdiam, entah kenapa semua rumor yang ia dengar tentang pria itu berbeda sekali dari sikapnya itu. Ia benar benar kesal dengan pria yang sekarang menjadi suami kontraknya itu.
"Dasar pria gila," gerutunya.
Setelah memakai pakaian yang semula ia kenakan, ia segera melangkah menuju ke arah parkiran. Tepat dimana suami kontraknya itu berada, melihat seorang pria berbalut jas yang merupakan asisten dari pria itu tengah melambai lambaikan tangannya. Laluna segera bergegas menuju mobil itu.
"Ayo Nyonya, kita harus bergegas kembali ke kediaman Adikara untuk menemui nyonya besar dan tuan besar," jelas Asisten itu sembari membukakan pintu kepada Laluna.
Laluna hanya mengangguk, ia segera melangkah masuk dan benar saja Nathan sudah terduduk rapih disana dengan tab yang ia pangku.
" Sudah?" tanya Nathan tanpa melirik.
Laluna hanya mengangguk. Mobil mulai berjalan meninggalkan gedung studio foto itu. Suasana di dalamnya terasa hening, Laluna sesekali melirik ke arah suami kontraknya itu yang tengah fokus dengan pekerjaannya. Ia tahu pengusaha terkaya di kota pasti akan selalu sibuk.
"Kenapa kamu melihatku? Ada yang mau dibacarakan?"
Laluna yang ketahuan langsung mengalihkan pandangannya. Ia tidak menyangka Nathan ternyata menyadari tatapannya sejak tadi.
"Aku hanya melihat sekilas, " jawabnya singkat.
Nathan akhirnya menurunkan tabletnya dan menoleh ke arah gadis itu. Laluna terdiam beberapa detik. Ia sendiri tidak tahu kenapa terus memperhatikan pria itu.
"Kenapa kamu mau menikah denganku, bukankah kamu tidak suka wanita seperti rumor rumor yang bertebaran?" tanyanya, yang begitu penasaran.
Nathan terdiam mendengar pertanyaan Laluna. Untuk beberapa saat, pria itu hanya menatap wajah gadis di depannya tanpa memberikan jawaban. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tetapi entah kenapa sulit untuk ia jawab.
Laluna yang melihat Nathan hanya diam mulai merasa pertanyaannya mungkin terlalu pribadi.
"Kalau kamu tidak ingin menjawab, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran, " ucapnya pelan.
Namun Nathan malah meletakkan tabletnya di kursi mobil, ia segera menarik pinggang Laluna untuk mendekat ke arahnya. Yang membuat jarak mereka terkikis. Laluna bisa mencium bahu harum dari pria itu. Sedangkan pria itu menatapnya wajahnya dari dekat, hingga suara nafas beratnya berhembus di wajahnya.
"Kata siapa saya tidak suka wanita? Kalau kamu mau merasakannya aku sanggup."
Mendengar itu buru buru Laluna mendorong tubuh pria besar itu, yang membuat pria itu hanya tersenyum tipis.
"Kenapa? Bukankah kamu begitu percaya dengan rumor?"
Laluna menatap pria itu dengan bingung. Ia tidak menyangka Nathan justru membalikkan pertanyaannya kepadanya.
"Aku hanya mendengar banyak hal tentangmu," jawab Laluna pelan. "Tentang bagaimana kamu tidak pernah dekat dengan wanita mana pun, bagaimana kamu selalu menolak semua wanita yang mendekatimu."
Nathan tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, tetapi tatapannya masih tertuju pada Laluna.
"Dan kamu percaya omongan gila itu?"
Laluna terdiam.. Ia tidak bisa menyangkal bahwa selama ini ia memang mempercayai rumor yang beredar. Siapa yang tidak mengenal Nathan Adikara? Pria yang dikenal dingin, sulit didekati, bahkan disebut tidak memiliki ketertarikan pada wanita.
Namun, setelah beberapa disisi pria itu, Laluna merasa ada sesuatu yang berbeda dari pria di depannya.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi melihat sikapmu selama ini, aku merasa rumor itu tidak sepenuhnya benar."
Alis Nathan sedikit terangkat. "Kenapa bisa berpikir begitu?"
"Karena kalau kamu benar-benar seperti yang dikatakan orang-orang, kamu tidak akan membantuku saat skandal itu terjadi. "
Untuk beberapa saat Nathan hanya diam. Laluna tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu justru membuat pria tersebut terdiam. Selama ini banyak orang melihatnya sebagai pria yang kejam, dingin, dan hanya memikirkan keuntungan. Tidak banyak orang yang mencoba melihat alasan di balik tindakannya.
"Kamu terlalu mudah percaya pada orang," ujar Nathan akhirnya.
Laluna mengerutkan kening, bingung akan maksud dari pria itu.
"Kalau kamu percaya rumor seperti yang ada kamu bakal lebih mudah di culik seseorang," jelasnya.
Laluna hanya memutar bola matanya malas, ia kembali menatap ke arah jendela. Membiarkan pria itu yang tengah mengamatinya. Nathan hanya tersenyum tipis melihat gadis itu, sebelum tangannya mengambil tab dan kembali fokus dengan kerjaannya.
Setelah berkendara beberapa jam, sampailah mereka di mansion mewah yang bahkan Laluna saja belum pernah melihat rumah mansion itu, bahkan dari gerbang utama saja ia bisa melihat rumah itu menjulang begitu megahnya. Rumah bergaya Eropa classic itu tampak menawan dengan pelataran yang dipenuhi bunga bunga, dan pohon pohon yang menjulang tingginya.
Sesampainya di depan mansion itu, Nathan segera menoleh ke arah istri kontraknya itu.
"Ayo turun, kita sudah ditunggu oleh keluarga besar," ujar Nathan.
Laluna yang masih terkagum kagum akan keindahan mansion bergaya Eropa class itu, hanya mengangguk. Di pelatarannya saja sudah begitu menawan pasti di dalam rumah itu akan ada begitu banyak kejutan yang akan menyambut dirinya. Laluna segera turun, sedangkan Nathan sudah menunggunya di depan pintu dnegan tangan yang terulur agar Laluna bisa menggenggamnya.
"Ingat kita harus bersikap romantis," tegas Nathan.