NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Rumah Baru

​​Pagi itu, sebuah mobil bak berhenti tepat di depan rumah baru Arkana dan Hanifah. Beberapa kardus, kasur lipat, lemari plastik, kipas angin, serta peralatan dapur sederhana memenuhi bagian belakang mobil.

​"Pelan-pelan turuninnya," ujar Ayah Arkana sambil mengangkat salah satu kardus yang paling besar.

​"Iya, Yah," sahut Arkana sembari menyambut kardus tersebut.

​Tak butuh waktu lama, kedua keluarga mulai bergotong royong menurunkan barang-barang. Meski tidak banyak, semuanya dilakukan dengan penuh semangat. Hanifah ikut membantu dengan membawa dua kantong berisi peralatan makan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Arkana langsung menghampirinya.

​"Sini," pinta Arkana sambil mengulurkan tangan.

​"Enggak usah, Mas. Ini ringan."

​"Ringan juga tetap berat buat kamu." Arkana tanpa basa-basi langsung mengambil kantong itu dari tangan Hanifah.

​Hanifah hanya mengembuskan napas pelan. "Mas ini berlebihan."

​"Biar dibilang berlebihan daripada nanti dimarahi ibu," balas Arkana dengan kekehan pelan.

​Ucapan itu membuat semua orang yang mendengarnya tertawa kecil. Ibu Hanifah yang sedang menyapu halaman ikut menimpali, "Memang harus begitu. Hanifah sekarang tidak boleh terlalu capek."

​Hanifah mengerucutkan bibirnya protes. "Hanifah bukan orang sakit, Bu."

​"Bukan sakit," Ibu Hanifah menghampiri putrinya sambil membelai pelan pipinya, "tapi kamu sedang membawa amanah Allah."

​Hanifah tersenyum malu mendengar ucapan ibunya. "Iya, Bu."

​Sekitar satu jam berlalu. Ruang tamu yang semula kosong mulai terisi beberapa barang. Kasur lipat diletakkan di salah satu kamar, sedangkan kompor dan peralatan masak mulai memenuhi dapur. Ayah Hanifah tampak sibuk memperbaiki engsel pintu yang sedikit longgar.

​"Obengnya mana?" tanyanya.

​"Ini, Pak," jawab Arkana sambil menyerahkan obeng.

​"Bagus. Kalau pintunya sudah kuat begini, lebih aman."

​Arkana mengangguk. "Terima kasih, Pak."

​Ayah Hanifah hanya tersenyum tipis. "Rumah ini memang sederhana. Tapi kalau dirawat, insyaallah akan nyaman."

​Arkana memandang rumah itu sejenak. "Insyaallah, Pak."

​Di sisi lain, ibu Arkana sedang membantu menata dapur bersama Hanifah. "Piringnya taruh di rak atas saja."

​"Iya, Bu." Hanifah meraih sebuah piring. Namun, baru saja hendak meletakkannya, ia mendadak menghentikan gerakannya. Wajahnya berubah pucat.

​"Hanifah?" Ibu Arkana menatapnya heran.

​Hanifah menggeleng pelan. "Entah kenapa... aku tiba-tiba mual." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hanifah buru-buru menutup mulut dengan punggung tangan. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi.

​"Huek..."

​Suara muntah yang cukup keras langsung membuat semua orang menghentikan aktivitasnya. Arkana yang sedang membantu ayahnya segera berlari panik.

​"Hanifah!" panggil Arkana. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah cemas. "Kamu tidak apa-apa?"

​Hanifah mengangguk pelan sambil membilas mulutnya. "Maaf... kayaknya gara-gara kecapekan."

​Arkana membantu menopang tubuh istrinya keluar dari kamar mandi. "Wajahmu pucat. Sudah, duduk dulu."

​Hanifah menurut. Ia duduk di kursi plastik yang berada di ruang tamu. Ibu Hanifah segera datang membawa segelas air hangat. "Minum dulu."

​Hanifah menerimanya. "Terima kasih, Bu." Setelah beberapa teguk air hangat, wajah Hanifah mulai terlihat lebih baik.

​Ibu Hanifah tersenyum lembut. "Ini memang sering terjadi di awal kehamilan. Apalagi kalau terlalu banyak bergerak."

​Arkana menoleh kepada mertuanya. "Berarti normal, Bu?"

​"Insyaallah normal. Tapi tetap harus dijaga."

​Arkana mengangguk mantap. Mulai detik itu, ia tidak mengizinkan Hanifah menyentuh barang-barang yang cukup berat. Saat Hanifah hendak mengambil kardus kecil berisi bumbu dapur, Arkana kembali mencegahnya.

​"Mas... kan kecil," keluh Hanifah.

​"Kecil tetap saja diangkat. Mas yang kerjakan."

​Hanifah menghela napas pelan. "Kalau semuanya Mas yang kerjakan, nanti kapan selesainya?"

​Arkana tersenyum. "Lama tidak apa-apa. Yang penting kamu sama anak kita sehat."

​Kalimat itu membuat Hanifah terdiam. Senyum kecil perlahan menghiasi wajahnya. Ia mengusap perutnya yang masih belum tampak membesar. Dalam hati, ia berdoa agar bayi yang dikandungnya selalu diberi kesehatan.

​Sementara itu, kedua orang tua mereka saling bertukar pandang. Melihat Arkana yang begitu perhatian, hati mereka sedikit lebih tenang. Setidaknya, Hanifah tidak menjalani semua ini seorang diri.

...​✧─────────── ✦ ───────────✧...

​Menjelang sore, seluruh barang akhirnya selesai ditata meski masih banyak kardus yang belum dibuka. Rumah yang semula kosong kini mulai tampak seperti tempat tinggal, walaupun perabotnya masih sangat sederhana.

​Ayah Arkana mengusap keringat di dahinya. "Alhamdulillah. Selesai juga."

​Arkana tersenyum sambil memandang ruang tamu. "Terima kasih sudah membantu, Yah."

​Ayahnya menepuk pelan bahu Arkana. "Mulai hari ini, rumah ini tanggung jawabmu."

​"Iya, Yah."

​Di dapur, ibu Hanifah memastikan semua peralatan memasak sudah berada di tempatnya. "Kalau besok mau masak, bumbunya sudah Ibu susun di rak sebelah kanan."

​Hanifah mengangguk. "Terima kasih, Bu."

Ibu Hanifah lalu meraih tangan putrinya. "Kalau capek, jangan dipaksakan. Kalau mual lagi, langsung istirahat."

​Hanifah tersenyum kecil. "Iya, Bu."

​Tak lama kemudian, kedua keluarga berkumpul di ruang tamu. Karena belum memiliki kursi, mereka duduk lesehan di atas tikar yang baru saja digelar. Suasananya sederhana, tetapi terasa hangat.

​"Ayah senang akhirnya kalian punya rumah sendiri," ujar ayah Hanifah. "Walaupun tidak besar, ini tetap awal yang baik."

​Arkana mengangguk hormat. "Saya akan berusaha menjaga rumah ini, Pak."

​"Bukan cuma rumahnya," Ayah Hanifah menatap menantunya dengan lembut, "tapi juga keluarga yang ada di dalamnya."

​Arkana mengangguk mantap. "Insyaallah."

​Ibu Arkana ikut tersenyum. "Kalian masih muda. Jangan takut memulai dari bawah. Semua keluarga juga pernah ada di titik ini."

​Hanifah menundukkan kepala. Ucapan itu membuatnya merasa jauh lebih tenang.

​Beberapa saat kemudian, kedua keluarga bersiap pulang. Ibu Hanifah kembali memeluk putrinya dengan erat. "Kalau kangen, pulang. Tidak usah dipendam sendiri kalau ada masalah."

​Air mata Hanifah mulai menggenang. "Iya..."

​Ayah Hanifah menghampiri Arkana. Beliau menggenggam tangan menantunya erat. "Arkana, kami titipkan Hanifah kepadamu."

​Arkana membalas genggaman itu penuh takzim. "Insyaallah akan saya jaga, Pak."

​"Kalau kalian bertengkar," Ayah Hanifah tersenyum tipis, "jangan tidur dalam keadaan masih marah."

​Arkana mengangguk. "Saya ingat, Pak."

​Satu per satu mobil keluarga mulai meninggalkan halaman rumah. Hanifah dan Arkana berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan hingga kendaraan itu tidak lagi terlihat. Suasana mendadak berubah sunyi.

​Hanifah memandang ke sekeliling rumah. "Sepi sekali."

​Arkana tertawa kecil. "Tadi ramai, sekarang tinggal kita berdua."

​Mereka masuk kembali ke dalam rumah. Di ruang tamu, hanya ada kipas angin yang berputar pelan dan beberapa kardus yang masih belum dibuka. Arkana menggelar tikar lebih rapi. "Duduk dulu."

​Hanifah langsung merebahkan punggungnya di atas tikar. "Capek?" tanya Arkana.

​"Sedikit."

​Arkana mengambil tas berisi bekal yang diberikan ibu Hanifah. "Untung Ibu sudah menyiapkan makanan." Ia membuka satu per satu kotak makan tersebut. Ada ikan goreng, sayur bening, sambal, dan tempe goreng.

​Hanifah tersenyum. "Ibu memang selalu khawatir kita kelaparan."

​"Kalau begitu, kita habiskan." Mereka makan bersama di atas tikar. Meski tanpa meja makan dan tanpa kursi, keduanya menikmati hidangan itu sambil sesekali bercanda.

​"Mas," panggil Hanifah.

​"Iya?"

​"Kalau nanti gaji Mas sudah naik... aku ingin beli meja makan."

​Arkana tersenyum. "Boleh. Terus?"

​"Sofa."

​"Boleh."

​"Lemari kayu."

​"Boleh."

​Hanifah tertawa kecil. "Kalau semuanya boleh, nanti uangnya dari mana?"

​Arkana ikut tertawa. "Makanya pelan-pelan. Satu per satu."

​Hanifah mengangguk. "Yang penting kita bersama."

​Setelah selesai makan, Hanifah berniat membereskan kotak makan. Namun, baru saja berdiri, langkahnya terhenti. Wajahnya kembali pucat.

​"Hanifah?" tebak Arkana cemas.

​Ia buru-buru menutup mulut. "Mas..." Tanpa menunggu jawaban, Hanifah segera berlari lagi ke kamar mandi.

​"Huek..."

​Arkana langsung menyusul. Ia berdiri di samping istrinya sambil mengusap perlahan punggung Hanifah. "Masih mual?"

​Hanifah mengangguk lemah. "Iya. Maaf."

​"Maaf untuk apa?"

​"Aku jadi tidak bisa bantu beres-beres."

​Arkana menggeleng. "Rumah ini tidak akan ke mana-mana. Kalau belum rapi hari ini, kita lanjut besok."

​Hanifah mengangkat wajahnya yang basah setelah membasuh muka. "Tapi..."

​"Tidak ada tapi," Arkana tersenyum lembut. "Sekarang tugasku bukan cuma menjaga istriku." Ia menatap pelan ke arah perut Hanifah. "Tapi juga menjaga calon anak kita."

​Mata Hanifah langsung berkaca-kaca. Ia tidak menyangka laki-laki yang dulu sama-sama melakukan kesalahan dengannya, kini berusaha menjadi suami dan calon ayah yang bertanggung jawab.

​Arkana membantu Hanifah kembali ke kamar. "Besok kita ke bidan."

​Hanifah menoleh. "Untuk apa?"

​"Aku ingin memastikan kamu dan bayi kita baik-baik saja."

​Hanifah tersenyum hangat. "Baik, Mas."

​Malam itu, untuk pertama kalinya mereka tidur di rumah sederhana yang kini resmi menjadi rumah mereka.

Di luar, angin malam berembus pelan melewati halaman depan. Sementara di dalam rumah, dua hati yang sedang belajar menjadi keluarga kecil memejamkan mata dengan penuh harapan, tanpa mengetahui bahwa perjalanan panjang penuh ujian baru saja dimulai.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!