Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manja Sang Nyonya
Kirana melangkah keluar dari lift khusus yang menuju ke lantai teratas—area paling eksklusif dan tenang di seluruh gedung Devan Corp. Koridor berlantai marmer mengilap itu dipenuhi aura dingin dan intimidaasi. Di depan pintu ganda berukir mewah menuju ruang kerja Direktur Utama, berdiri empat orang pengawal bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece terpasang di telinga mereka.
Siska, yang secara diam-diam mengintip dari sudut lorong dekat lift, menyunggingkan senyum licik. Ia sudah bersiap menyaksikan Kirana dihentikan secara kasar dan diusir oleh para pengawal menyeramkan itu.
Namun, pemandangan berikutnya membuat napas Siska tertahan di tenggorokan.
Begitu Kirana mendekati pintu, para pengawal tegap yang terkenal sangat tegas dan berwajah dingin itu tak sedikit pun menunjukkan gestur menghalangi. Sebaliknya, mereka yang sudah menghafal wajah sang Nyonya Besar dari instruksi privat Devan tadi pagi, langsung menegakkan tubuh dan membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat.
"Selamat siang, Nona," panggil ketua pengawal dengan suara penuh takzim, sengaja menggunakan sebutan netral sesuai instruksi rahasia agar tidak membocorkan identitasnya di depan umum.
Salah satu pengawal bahkan dengan cekatan dan sopan membukakan pintu kayu jati yang berat itu lebar-lebar untuk Kirana, mengizinkannya masuk tanpa perlu memeriksa berkas atau menanyakan surat janji temu.
Kirana tersenyum ramah dan mengangguk pelan. "Terima kasih," bisiknya lembut sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di luar lorong, Siska membelalakkan matanya hingga hampir melompat keluar. Wajahnya seketika pucat pasi. Bagaimana mungkin seorang anak magang biasa disambut dan dihormati seperti seorang ratu oleh para pengawal pribadi Devan yang paling ditakuti?
Di dalam ruangan yang sangat luas dan berdesain ultra-modern itu, Devan sedang duduk di balik meja kerja mewahnya. Sinar matahari sore menembus jendela kaca raksasa di belakangnya, membiaskan siluet tegas dari rahang dan bahunya yang tegap. Tangannya sedang menanda-tangani beberapa dokumen penting ketika mendengar suara langkah kaki berirama halus mendekat.
Devan mendongak. Sorot mata elangnya yang dingin dan mengintimidasi seketika luluh dan melembut saat mendapati Kirana berdiri di depan mejanya seraya memegang sebuah stopmap tebal.
Devan meletakkan penanya, menyandarkan punggungnya di kursi kulit mewah, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan.
"Ada apa, Istriku?" tanya Devan dengan suara bernada rendah yang begitu memikat. "Apakah ada yang mengganggumu lagi di bawah?"
Mendengar aduan dari bibir istrinya, alur napas Devan sempat terhenti sejenak. Tatapan dingin yang biasa ia tampakkan kepada para kolega bisnisnya sirna seketika, berganti dengan sorot mata penuh kehangatan dan rasa gemas yang membuncah.
Devan bangkit dari kursi kerjanya. Langkah tegapnya memangkas jarak di antara mereka, berdiri tepat di hadapan Kirana. Tanpa ragu, Devan menarik pinggang Kirana pelan hingga tubuh mereka merapat, lalu mengambil stopmap tebal itu dari tangan istrinya dan meletakkannya begitu saja di atas meja tanpa melihat isinya sedikit pun.
Kirana menyandarkan kepalanya sebentar di dada bidang Devan, menikmati aroma parfum maskulin suaminya yang menenangkan.
"Aku kesal sekali dengan karyawanmu yang bernama Siska itu, dia selalu semena-mena kepadaku... hmmm," ucap Kirana dengan suara memanja.
"Siska?" Devan mengulang nama itu dengan suara rendah yang mengintimidasi, ibu jarinya mengusap lembut pipi Kirana. "Siapa dia berani membuat istriku kesal di hari pertamanya bekerja?"
Kirana mengerucutkan bibirnya sedikit, menatap suaminya dengan mata jernihnya. "Tadi siang dia menyuruhku membelikan kopi dan cemilan untuk semua orang. Sekarang, dia sengaja menyuruhku minta tanda tanganmu ke sini... dia pikir kau akan membentakku dan memecatku!"
Devan terkekeh pelan—sebuah tawa bernada berat yang bergetar tepat di dada yang sedang disandari Kirana. Jemari Devan menyelipkan helai rambut Kirana ke belakang telinganya.
"Dia memanfaatkan kepolosanmu, hm?" bisik Devan lekat-lekat di telinga Kirana. "Lalu... apa yang ingin kau lakukan padanya, Sayang? Kau mau aku memecatnya sekarang juga? Atau mau membuat perusahaannya hancur sekalian hari ini?"
Kirana mendongak, menatap mata elang Devan yang tampak sangat serius dengan tawaran dinginnya itu. Kirana menyunggingkan senyum tipis—sebuah kilatan kecerdikan terpancar di matanya.
"Jangan dipecat dulu, Devan. Itu terlalu mudah," bisik Kirana dengan nada nakal. "Aku mau membuktikan padanya kalau kemampuanku jauh di atasnya. Biarkan dia panik dulu di luar sana karena mengira aku sedang dimarahi olehmu."
Devan menyunggingkan senyum bangga seraya mengecup dahi Kirana dengan lembut. "Aturanmu adalah perintahku, Nyonya Devan. Tapi ingat... begitu dia melewati batas lagi, aku sendiri yang akan turun tangan."