NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

"Hawa,"

"Hasby,"

      deg...

Keduanya menoleh ke asal suara, begitu melihat siapa yang memanggilnya. Mereka mendekati Hasby dan Hawa dengan tatapan menyelidik dan sama-sama terkejut. Hasby berwajah datar, sedangkan Hawa sudah panas dingin karena ketahuan.

"Kalian ada hubungan apa?" todong Reno dan Ryan bersamaan.

"Hawa apa maksudnya ini? Kalian pacaran?"

"Dia masih saudara , jadi sekalian bareng," Hasby menjawab dengan tenang. Sebelum Hawa membuka mulutnya.

Tatapan mereka tidak langsung percaya. Hanya Tian yang tidak bertanya. Karena dia sudah tahu lebih dulu.

"Apa benar saudara? Tapi selama ini disekolah kalian tidak saling sapa ataupun bareng, aneh," seloroh Reno.

"Iya,, kamu juga nggak pernah bilang kalau kak Hasby ada hubungan saudara Wa!?" ucap Asrina mengernyitkan dahinya.

" Em,, maaf As,,, kan kamu tahu sendiri kalau kak Hasby populer. Nanti dikira aku mengada-ada. Jadi aku diam aja," Hawa mencoba menyambungkan jawaban Hasby supaya sinkron.

"hmmm tapi aneh tahu, tiba-tiba kamu bisa bareng kak Hasby, apa jangan-jangan kalian pacaran?" Asrina terus saja mendesak karena belum merasa yakin dengan jawaban Hawa.

"Iya juga, kalian pacaran?" tanya Ryan memandang Hawa dan Hasby bergantian.

"Nggak," seru keduanya berbarengan.

"Tunggu,,,tunggu,, kenapa cincin yang dijari Hawa sama persis dengan cincin yang buat bandul kalung kamu By?" selidik Reno melihat keduanya sambil memicingkan matanya. Tian menanggapi hanya dengan smirk.

Hasby menghela napas, antara kesal karena ketahuan teman-temannya. Padahal tadi mereka sudah tidak ada dilokasi. Kenapa mereka balik lagi.

"Ke cafe Sunny depan aja, aku akan jelasin," Hasby memutuskan. Karena bagaimanapun mereka sahabatnya. Ia tidak ingin berbohong lebih lama lagi.

"Kak," Hawa melihat Hasby tak pecaya sambil menggelengkan kepalanya.

"Ya udah ayok," mereka menaiki kendaraan masing-masing menuju cafe yang dimaksud. Asrina mengikuti dibelakang mobil Hasby. Hawa tentu saja digeret kedalam mobil untuk bareng Hasby.

Setelah sampai mereka memesan minum dan duduk di dua meja yang dijadikan satu. Mereka duduk melingkar di pojok ruangan yang nyaman untuk bersantai. pengunjung cafe juga tidak terlalu banyak, hanya beberapa saja.

"Jadi?? Gimana ceritanya ?" Ryan mengawali karena sudah sangat penasaran.

"Apa kalian bisa jaga rahasia kalau aku cerita sebenarnya?" Hasby menatap mereka semua.

Mereka saling pandang dan mengangguk.

"Iya kami bisa jaga rahasia," mereka serempak menjawab dengan keyakinan masing-masing, kecuali Tian. Karena Tian sudah tahu duluan.

"Kak,"Hawa melihat Hasby sambil menggelengkan kepalanya. Kode supaya Hasby tidak memberi tahu semuanya.

"Nggak apa-apa, tenang saja," Hasby menghela napas, melihat teman-temannya. "Aku dan Hawa sudah menikah, jadi aku harap kalian menepati janji untuk tetap jaga rahasia," jelas Hasby tenang. Melihat bagaimana reaksi teman-temannya.

"Hah,, kamu jangan ngawur By, pasti ini prank, ya kan?" seru Reno tidak percaya.

"Hawa,, kamu jangan main-main, kamu masih sekolah," Asrina menggoyang-goyangkan bahu Hawa.

"Kalian melakukan kenakalan masa remaja dan berakhir nikah?" sahut Ryan geleng-geleng kepala.

Mereka semua menahan napas, melihat Hasby dan Hawa bergantian.

"Kalian ini makin ngawur," seloroh Hasby.

"Nggak seperti itu kak Ryan," sangkal Hawa sedih.

"Lalu gimana kalian bisa nikah disaat kalian masih sekolah. Apa kalian nggak memikirkan masa depan kalian?" tanya Reno gregetan dengan berita yang baru ia dengar ini.

Tanpa menunggu lama lagi Hasby menceritakan intinya seperti ia cerita pada Tian kemarin. Mereka menaruh perhatian khusus pada cerita Hasby. Setelah mendengar semuanya, mereka masih tidak menyangka kalau ketua Osis sudah menikah dengan adik kelasnya sendiri disaat ia masih aktif sekolah. Tapi mereka semua berjanji akan ikut menjaga rahasia itu.

      Matahari sudah naik setinggi-tingginya dan memancarkan sinarnya kesegala penjuru bumi. Membuat semua nya terang benderang, sinarnya sungguh menyengat. Membuat banyak orang kegerahan dan bercucuran keringat.

Hasby dan Hawa memasuki rumah yang sepi dan langsung naik kelantai atas. Mereka segera mandi dan berganti pakaian. Setelah sholat, Hawa merebahkan badan lelahnya diatas ranjang. Membiarkan kasur dan selimut menenggelamkan badannya. ia tertidur sangat pulas.

Dikamar sebelah Hasby tengah berkutat dengan laptopnya. Kerjaan dari Om Adi belum selesai ia kerjakan.

[Hasby, ingat nanti malam ketemu klien di resto Adem Roso jam 19:30]

Handphonenya menyala putih, segera ia membukanya, ternyata pesan dari Om Adi.

 [Iya om, terimaksih, sampai ketemu disana]

Hasby segera menyiapkan berkas-berkas keperluan meeting nanti malam. Dirasa sudah lengkap, segera ia mengistirahatkan diri. Menghilangkan lelah seharian ini.

Adzan Maghrib berkumandang merdu, Hasby tersentak lalu duduk menegakkan badannya. Mengucek mata sejenak. Memandang kamar yang tadinya terang dengan cahaya matahari sekarang gelap gulita, hanya cahaya samar yang terlihat dibalik tirai. Pancaran lampu taman.

Segera ia bangun dan meraba dinding untuk menghidupkan lampu kamarnya. Setelah menyala ia memicingkan mata karena terkena silau lampu. bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan menunaikan sholat.

Dikamar Hawa sudah selesai sholat, ia merasa lapar lalu ia menuruni tangga. Melihat bibik mengelap meja makan, ia menghampirinya.

"Bik,,, apa boleh Hawa makan malamnya beli nasi soto diluar?"

"Bibik udah masak Neng,,,gimana?" ujar Bibik "em tunggu Aden dulu ya Neng?" imbuhnya, karena melihat wajah murung Hawa. Bibik merasa tidak enak hati sebenarnya.

" Ya bik, tunggu ya bik, aku panggil kak Hasby dulu," Hawa segera melesat dengan cepat menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Hasby.

"Kaaaak,, Kakak tolong keluar bentaran dong!" ucapnya dengan tidak sabaran.

Tak lama pintu terbuka pelan. Menampilkan Hasby dengan kemeja putih panjang lengkap dengan dasi hitam dan jas senada. Rambut yang sudah tersisir rapi, wangi parfum yang menambah ketampanannya membuat Hawa hilang kewarasan.Hawa terpesona sampai lupa ia akan melakukan apa sebenarnya.

"Iya ada apa Wa?" tanya Hasby mengerutkan dahinya, karena respon Hawa lambat. ia mengibaskan tangannya didepan muka istrinya.

"Eeh, iya kam, cuma mau bilang. Aku mau makan malamnya nasi soto beli diluar. Boleh kan kak?"

"Bibik udah masak kan? Kenapa nggak makan itu dulu?!" tanyanya tenang memandang istri kecilnya itu.

"Tapi aku maunya soto yang dibeli di abang pinggir jalan kak," ungkapnya jujur. Bukan tidak mau makan masakan bibik, tapi emang lagi ingin makan nasi soto yang diabang-abang.

"Ya udah, tapi aku nggak bisa nganter Wa, aku ada kerjaan malam ini. Sama Kang Udin dan Bibik aja ya makan diluarnya?!" ucap Hasby lebih lembut.

"Em, boleh nggak aku pergi dan makan sendiri kak, soalnya belum tentu mereka suka sama seleraku," jujurnya.

"Tapi ini udah malam Wa, aku nggak kasih izin," tegasnya datar.

"Tapi kak, tolonglah sekali ini, ya kak, yaa,,, yaaaaa,"

Hasby memandangnya lama , menghela napas cepat. Merasa tidak tega juga, karena ia mampu untuk menurutinya. Tapi ia harus segera pergi karena ada janji dengan Klien.

"Makan sotonya di resto bareng aku gimana?"

"Tadi kakak bilang ada kerjaan, aku nggak mau ganggu,"

"Nanti kalau nggak nyaman kamu di meja lain. Nggak jadi satu meja sama aku, gimana?" Hasby memberikan penawaran untuk Hawa.

"Tapi kak, aku maunya makan di abang-abang pinggir jalan,"

"Ya udah tapi di dekat resto tempat aku ketemu klien aja ya, biar nanti pulangnya juga bareng aku, gimana?" tanya Hasby.

"Ok, aku ganti baju bentar kak, tungu ya,, tungguuu kak," Hawa langsung berlari masuk kamar lalu dengan cekatan berganti baju gamis hitam dan kerudung warna nude, tak lupa tas kecilnya yang berisi dompet dan handphone.

Hasby sudah sangat siap. Ia membawa beberapa map berwarna hijau muda dan kuning. Hasby sudah memberi tahu bibik kalau ia dan istrinya makan diluar sekalian mau ketemu klien.

" Ayoo kak, lets go!" seru Hawa dengan senyum lebarnya.

Mereka berpamitan dengan bibik, segera ia lajukan mobilnya dengan cepat. Karena sudah hampir waktu yang dijanjikan. Beruntung di kanan resto jadi Hawa turun disana sedangkan Hasby memasuki parkiran.

Hasby memasuki resto dengan tenang dan tegap. Kepercayaan dirinya yang tinggi selalu membantunya ketika berada di tempat umum. Membantu bernegosiasi dengan klien salah satunya.

Dipinggir jalan terlihat banyak penjual makanan, matanya langsung berbinar cerah. Ia mengayunkan kakinya memasuki warung tenda yang menjual aneka soto,kari,ayam goreng dan bakar.

"Bang, tolong nasi soto ayam 1 porsi ya, sama minumnya es teh manis. Dimakan sini ya bang, makasih," Hawa menyelesaikan pesanannya dengan cepat. Karen sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya.

Ia duduk di lesehan, sangat nyaman untuk santai menikmati makan malam sambil melihat pemandangan bermacam-macam kendaraan yang lewat.

Tak perlu menunggu lama, semangkuk soto ayam telah tersaji didepannya. Kuah soto yang panas mengepulkan asapnya, aroma soto dengan kuat tercium harum, menggugah selera. Nasi hangat yang di taruh terpisah dengan soto dan tentu saja segelas es teh manis favoritnya.

Makan malam hari ini spesial untuk Hawa, karena sudah lama ia ingin menikmati makan soto dipinggir jalan. Ia mengambil gawainya dan mengambil gambar beberapa dan dibuat status di media sosialnya. Dengan caption (soto ayam maknyus).

Makan malam dilanjut meeting dengan klien berjalan dengan lancar. segera ia menuju parkiran mobil. Ia menghubungi Hawa segera. Terdengar bunyi dering telpon yang belum diangkat.

"Assalamu'alaikum kak," Hawa menjawab lembut.

"Wa'alaikumsalam, kamu dimana?"

"Aku di alun-alun depan resto kak, kakak udahan kerjanya?"

"Udah, ya sudah aku kesitu, tunggu!"

Hasby segera mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran resto. Netranya sambil melihat dimana Hawa menunggu. Setelah menemukannya ia segera menghentikan mobil dan dipinggir jalan yang khusus parkir mobil.

Melihat Hawa yang belum tahu kalau ia sudah dibelakangnya,ia menghentikan langkahnya dan memandang Hawa lekat.

Hawa menikmati pemandangan malam ini, begitu ramai dan sesekali angin bertiup lembut. Menggoyangkan gamis dan kerudung panjangnya.

Hasby mengarahkan kamera gawainya kearah Hawa, mengambil beberapa gambar. Ia memasukkan gawainya kesaku celana. Berjalan mendekati Hawa yang masih belum tahu kalau ia berada didekatnya.

"Ayo pulang sekarang!" katanya tenang.

"eeh,, iya kak, bikin kaget," Hawa menoleh menatap suaminya itu. Kemeja putihnya digulung kesiku, dasi dan jasnya sudah tidak dipakai lagi. Rambut yang sengaja diberantakin, malah menambah ketampanannya. Sorot matanya tajam dan dingin tapi entah kenapa Hawa suka melihatnya.

Mereka jalan beriringan ke mobil, segera Hawa duduk dan Hasby duduk dibalik kemudi.tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil foto mereka. Tersenyum hangat melihatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!