NovelToon NovelToon
Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Pernikahan Kilat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Dua hari telah berlalu, namun Diaz masih belum juga sadarkan diri.

Kamar perawatan intensif itu tetap diselimuti keheningan yang mencekam, hanya menyisakan bunyi ritmis dari alat pemantau detak jantung yang terpasang di tubuh Diaz.

Selama dua hari ini pula, Ganda dan Abah Kiai terpaksa bertahan di rumah sakit sembari memainkan drama mereka dengan sangat rapi.

Melalui sambungan telepon, Ganda sengaja berpura-pura kepada Umi Maryam bahwa dirinya masih berada di luar kota menghadiri acara ulama, agar ibunya dan Laura tidak menaruh curiga sedikit pun.

Mereka harus tetap mengira skenario fitnah yang mereka susun berada di atas angin, sampai saat yang tepat tiba.

Ganda duduk di samping ranjang, menggenggam erat tangan Diaz yang terasa dingin.

Wajahnya tampak lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata karena hampir tidak pernah memejamkan mata selama dua malam demi menjaga istri pertamanya.

Tiba-tiba, Ganda merasakan kejutan kecil di telapak tangannya.

Jemari Diaz yang berada di dalam genggamannya perlahan bergerak, menekuk sedikit demi sedikit.

Kelopak mata wanita itu tampak bergetar hebat, mencoba mengumpulkan kesadaran dari kegelapan trauma yang sempat menenggelamkannya.

Ganda terenyak. Matanya terbelalak lebar menyaksikan keajaiban kecil itu.

"Diaz...?" bisik Ganda dengan suara bergetar, separuh tidak percaya.

Melihat gerakan tangan Diaz yang semakin jelas, Ganda langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan panik yang bercampur rasa syukur yang teramat sangat.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menekan tombol darurat di atas ranjang dan berlari ke arah pintu selasar.

"Dokter! Dokter Fahmi! Istri saya bergerak! Diaz sudah sadar, Dokter!" teriak Ganda lantang, memanggil tim medis dengan jantung yang berdegup kencang menembus batas rasa leganya.

Dokter Fahmi bersama dua orang perawat bergegas masuk ke dalam ruang ICU.

Dengan cekatan, dokter memeriksa denyut nadi, refleks pupil, dan grafik pada monitor yang perlahan mulai stabil.

Diaz membuka matanya perlahan-lahan. Pandangannya yang semula buram berangsur-angsur jernih.

Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah wajah Ganda yang tampak sangat kacau dan lelah, serta sosok Abah Kiai yang berdiri di sisi lain ranjang dengan tatapan teduh namun berkaca-kaca.

Melihat kesadaran Diaz sudah pulih dan napasnya tidak lagi tersengal, perawat perlahan membuka masker oksigen yang melekat di wajah wanita itu, menggantinya dengan selang nasal kanula kecil di hidung agar ia lebih mudah berbicara.

Setelah memastikan kondisi vitalnya aman, Dokter Fahmi menepuk pundak Ganda pelan.

"Kondisinya sudah melewati masa kritis. Kita biarkan Mbak Diaz istirahat dan bicara dulu. Mari, Sus."

Kemudian Dokter dan perawat pun melangkah keluar, memberikan ruang privasi.

Begitu pintu bergeser menutup, Ganda langsung berlutut di samping ranjang.

Air matanya yang ditahan selama dua hari ini runtuh seketika.

"Diaz, maafkan aku. Maafkan aku, Dik. Aku gagal menjagamu... Maafkan aku..." ratap Ganda dengan suara serak, mencoba meraih dan menggenggam erat jemari tangan Diaz.

Namun, begitu kulit mereka bersentuhan, Diaz memejamkan matanya rapat-rapat.

Air mata kepedihan mengalir deras membasahi pelipisnya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Diaz menarik tangannya secara perlahan namun pasti dari genggaman erat Ganda.

Penolakan fisik yang kentara itu membuat hati Ganda bagai dihantam gada besi.

Diaz mengabaikan Ganda, ia menggeser pandangannya yang layu ke arah Abah Kiai.

"Abah..." panggil Diaz, suaranya teramat lirih, parau, dan bergetar menahan sesak.

"Iya, nduk. Abah di sini. Ada apa, Nak?" sahut Abah Kiai lembut, melangkah mendekat dan menatap menantunya dengan rasa bersalah yang teramat dalam atas perbuatan istrinya.

Diaz menarik napas pendek yang terasa menyiksa dadanya.

"Tolong... tolong urus perceraian saya dengan lelaki yang duduk di sebelah saya ini, Abah..."

Deg!

Ganda mendongak, wajahnya seketika pias, pucat tanpa darah.

"Saya... saya t-tidak bisa melanjutkannya lagi, Abah..." isak Diaz, dadanya naik turun, tersendat oleh rasa sakit yang teramat menghimpit.

"Luka ini... terlalu sakit. Tidak ada yang menerima saya di pernikahan ini. Sejak awal, saya hanya dianggap pengotor dan perusak... Saya tidak kuat jika harus terus disiksa seperti ini..."

"Dek, jangan bicara seperti itu, aku mohon..." potong Ganda panik, suaranya bergetar hebat penuh keputusasaan.

Ia mencoba meraih kembali tangan Diaz, namun Diaz menyembunyikan tangannya di balik selimut rumah sakit.

"Aku mencintaimu, Diaz! Demi Allah, aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, termasuk Umi dan Laura. Aku akan membawamu pergi dari pondok, kita hidup berdua. Tolong jangan minta cerai, Dik..."

Diaz menggelengkan kepalanya pelan di atas bantal, menatap Ganda dengan sorot mata yang teramat kosong, lelah, dan mati rasa.

"Aku tidak bisa, Ganda. Aku tidak bisa," bisik Diaz dingin, menutup matanya rapat-rapat seolah enggan melihat wajah suaminya lagi.

"Cintamu tidak bisa menyembuhkan rasa sesak saat aku dikunci di kegelapan itu. Pergilah... kembalilah pada mereka yang suci di pondokmu."

Ganda berdiri dengan tatapan yang nyaris kehilangan jiwanya.

Hatinya telah hancur berkeping-keping mendengar permintaan cerai dari wanita yang ia cintai.

Tanpa kata lagi, ia memanggil perawat jaga untuk memastikan Diaz mendapatkan perhatian penuh, lalu ia berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah gontai.

"Abah," panggil Ganda dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.

"Ayo kita pulang. Kita akhiri semuanya hari ini juga."

Abah Kiai menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang penuh penyesalan.

Beliau memahami bahwa tidak ada lagi ruang untuk membujuk Diaz saat ini.

Luka yang diberikan oleh keluarganya sudah terlalu dalam untuk disembuhkan dengan kata-kata manis.

Di sepanjang perjalanan kembali menuju pondok, suasana di dalam mobil begitu mencekam.

Ganda mengemudikan kendaraannya dengan tangan yang sesekali bergetar hebat.

Air mata yang sejak tadi ditahannya kini menetes satu per satu, jatuh membasahi setir mobil.

Di tengah isaknya, bayangan masa lalu kembali menyerbu pikirannya.

Ia teringat jelas hari di mana Laura datang terlambat ke acara akad nikah mereka, menunjukkan betapa rendahnya prioritas Laura saat itu.

Ganda teringat bagaimana ia, dalam keadaan terdesak oleh keadaan dan tekanan perjodohan yang tidak diinginkannya, terpaksa memohon bantuan kepada seorang wanita asing yang tak sengaja ia temui di area masjid saat ia sedang mencari pelarian dari ego orang tuanya.

Kala itu, Diaz baru saja menyelesaikan shalatnya dengan khusyuk di masjid, bersiap untuk pergi ke Gunung Kawi sendirian—sebuah perjalanan jauh yang ia pilih semata-mata untuk menenangkan diri dari tekanan perjodohan paksa dengan Bramasta, pria yang bahkan ia benci setengah mati.

Takdir justru mempertemukan mereka dalam keputusasaan yang sama.

Ganda yang saat itu kalut, melihat ketulusan dan keteduhan di wajah Diaz, seketika memohon agar wanita itu mau membantunya keluar dari perjodohan pondok dengan cara menikah dengannya.

"Astaghfirullah... Astaghfirullah..." Ganda meracau pelan di tengah isak tangisnya.

Ia menyadari betapa jahatnya ia, karena alih-alih memberikan kehidupan yang tenang bagi Diaz yang saat itu mencari kedamaian, ia justru membawa wanita itu ke dalam neraka hidup yang kini hampir merenggut nyawanya.

Abah Kiai, yang melihat putranya mulai kehilangan kendali atas emosinya, meletakkan tangannya di pundak Ganda.

"Ganda, tenangkan dirimu. Jangan biarkan emosi menguasaimu saat kita akan sampai di pondok. Kita butuh kepala dingin untuk menghancurkan kebohongan itu dan menegakkan keadilan untuk Diaz. Ingat, istrimu sedang menunggumu di rumah sakit, dia hanya punya kamu sebagai pembelanya sekarang."

Ganda berusaha menarik napas dalam-dalam, mengusap air matanya kasar, dan kembali menatap tajam ke arah gerbang pondok yang sudah terlihat di depan mata.

Ia harus kuat untuk membuka topeng Umi Maryam dan Laura akan segera runtuh hari ini.

1
merry yuliana
hmmmmm jangan bolak balik kak
sri hastuti
akhirnya ketemu, ayo diaz, pelan2 hilangkan trauma mu, ganda mencintaimu sungguh2 itu, ayo bangkit lg diaz, raih kebahagiaanmu kembali, umi yg kyk iblis sdh pergi, dan madumu jg sdh dicerai 🙏
sri hastuti
waduuh diaz, kenapa km buru2 keluar rumah sakit, ayo km hrs kuat hadapu semua, ganda sdh mencintaimu , 😭😭 ayo thor pertemukan kembali dng ganda ,kasihan diaz ,msh trauma dng umi yg kyk iblis kelakuannya 😡😡

😡😡😡😡😡😡😡😡
Elia Rosa
syukurin buat kalian berdua.. ibu mertua Dan menantu durjana🤭
sri hastuti
lanjuuttt thor sdh gak sabar topeng istri pemilik pondok yg spt iblis dibuka dan istri durhaka yg dengki di libas 😡😡😡
Elia Rosa
tambah seru NIH.. di tunggu kelanjutannya Thor 💪👍
sri hastuti
istri pemilik pondok kyk iblis ya, kelakuan nya , hiiihhh ngeri juga ,penuh tipu muslihat dan kejam , 😡😡😡😡
sri hastuti
ayo ganda kmnhrs tegas ,meski itu umi mu yg kelakuannya spt iblis, kyai jg hrs tegakkan keadilan ,meski itu istrimu ,yg sdh kyk iblis
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
sri hastuti
kelakuan umi kok kyk iblis 😡😡😡
Ana Yasrotin
Serius tanya..memang dipondok ada kelakuan se orang yg disebut umi dan dihormati py watak yg tdk manusiawi begitu 🤔
Ana Yasrotin
Terus terang thor dr awal novel saya br koment ini..saya bukan tipe orang yg suka dg novel genre poligami..tp sejauh ini saya ikuti alur cerita krn aktor pria tegas..semoga akhirx Ganda bisa memilih salah satu antara Diaz dan Laura krn mmg si Laura tdk pantas bersanding dg Ganda..mdhn diakhir cerita bs memuaskan pembaca 🙏
sri hastuti
bagus diaz, buka semua kedok kemunafikan mereka, terutama umi yg jd orang tua gak tau diri, cm ego saja yg dibesar besarkan, dan umi yg gak jd contoh baik 👍👍😡😡😡
sri hastuti
ahh lama2 pengen tak huhhh ,umi sm menantu laknat semua , thor , bikin jengkel aja, orang kok gak punya belas kasih, apalagi katanya umi , tp kelakuan e kyk 😡😡😡🤭
merry yuliana
💪💪💪😍👍🙏
Asra
Cerita kamu bagus, Kak. Bintang 5 nih, kayak kurang hhuhu, kamu berhasil bikin orang (terutama aku) bisa mendalami ceritamu, dibikin kesel, dibikin sedih, dan seterusnya^^✨

Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
sri hastuti
thor, aku kok jd jengkel dan mual dng kelakuan umi , gitu kok istri pemilik pondok to ??, trus anak didik e spt apa itu, ???? arogan ,apalagi laura itu. wanita yg bikin jengkel 😡😡😡
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
merry yuliana
ganda pdhl peluk obat termanjur buat diaz...ga salah sebuah pelukan utk hati yang patah...semangat crazy upnya kak...please crazy up banyakkan dikit boleh ya😍💪💪💪🙏👍
sri hastuti
bagus Abah,hrs tegas , umi nya juga ternyata spt itu, bikin 😡😡
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
sri hastuti
blm tentu ganda bisa adil dng 2 istri, kasihan biar lepas dari Ganda, kecuali Ganda bisa melindungi dng baik, kl tdk pendreritaannya semakin menjadi nanti 🙏🙏
sri hastuti
kasihan diaz thor, blm nanti menghadapi nyai nya ganda dan laura yg sdh punya rencana jahat, biarkan diaz bahagia thor, 🙏🙏🙏
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!