Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Hari ini Bara berencana bertemu dengan Kiara di sebuah kafe. Namun sebelumnya, ia harus membujuk Kiara terlebih dahulu, karena gadis itu dikenal sulit untuk diajak keluar dan bertemu.
Dengan perasaan gugup, Bara menghubungi Kiara melalui telepon.
“Halo, Pak Bara,” sapa Kiara dari seberang sana.
“Halo juga, Kiara. Duh, kita kan baru saja tidak bertemu lama, masa sudah lupa sih? Jangan panggil saya ‘Pak’ terus,” ucap Bara pura-pura kesal, padahal senyum tak bisa hilang dari wajahnya.
“Maaf, Pak… eh, maksud saya Mas Bara. Ada apa ya Mas Bara menelpon sepagi ini?” tanya Kiara.
“Begini, Kiara. Saya ingin mengajak kamu bertemu di kafe sebentar. Bisa, kan?” tanya Bara dengan nada ragu.
“Wah, bagaimana ya, Mas… Saya takut dimarahi Mama kalau sampai keluar rumah,” jawab Kiara ragu.
“Jangan khawatir. Nanti saya suruh Vera datang ke rumahmu, biar dia yang meminta izin kepada ibumu,” tawar Bara.
“Baiklah, Mas. Saya tunggu di rumah.” Sambungan telepon pun terputus begitu saja tanpa pamit lebih dulu.
Bara menghela napas kesal melihat sikap Kiara yang langsung mematikan telepon tanpa basa-basi.
“Dasar wanita,” gumamnya pelan. Ia lalu segera menghubungi Vera, memintanya untuk menjemput Kiara. Bara juga berpesan agar Vera mengaku di depan ibu Kiara sebagai teman kuliah Kiara dahulu.
Di rumah, Kiara sudah bersiap-siap, namun ia tak berani keluar kamar karena takut berpapasan dengan ibunya. Tak lama kemudian, terdengar suara Risma dari luar kamar menyuruh Kiara untuk keluar.
Kiara pun membuka pintu. Di sana berdiri Risma dengan wajah yang sudah dipenuhi kekesalan.
“Ada apa, Ma?” tanya Kiara pelan.
“Ada apa, ada apa! Temanmu ada di luar, dia mencarimu!” jawab Risma ketus.
Kiara pun berjalan menuju ruang tamu. Di sana tampak Vera yang duduk dengan tenang, meski sebenarnya hatinya sudah kesal setengah mati.
Sebelum berangkat, Bara sudah berpesan bahwa ibu Kiara memiliki watak yang galak. Dulu, saat Bara pernah mengantarkan Kiara pulang, ia justru dicaci-maki oleh Risma padahal ia hanya berniat memastikan Kiara sampai dengan selamat.
Vera yang sudah paham situasi itu pun datang ke rumah Kiara dengan tujuan menjemput dan membawanya menemui Bara. Namun sesampainya di sana dan bertemu Risma, Vera justru dimaki-maki tanpa alasan yang jelas. Ia disebut-sebut sebagai wanita tidak tahu diri yang telah memengaruhi Kiara hingga menjadi nakal. Sebenarnya Vera ingin membalas ucapan itu, namun ia urungkan niatnya mengingat Risma adalah istri dari Anton.
Saat menatap Kiara yang telah menghampirinya, Vera melihat dengan jelas bekas luka memar di bahu gadis itu, seolah baru saja dipukuli. Namun Vera memilih untuk tidak banyak bertanya. Ia langsung mengajak Kiara pergi tanpa pamit kepada Risma yang masih terus mengomel.
“Dasar anak kurang ajar! Awas saja kau, Kiara! Kalau sudah pulang nanti, hukuman menunggumu!” teriak Risma hingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru rumah. Bu Amira yang berada di ruang tengah hanya memutar bola matanya, merasa jengah melihat kelakuan menantunya itu.
Di dalam mobil, Kiara tampak gelisah sambil menggenggam kedua tangannya erat-erat. Vera yang duduk di sampingnya sejak tadi memperhatikan Kiara, rasa penasaran akan luka di bahu gadis itu terus mengganggu pikirannya.
Dengan hati-hati, Vera mendekatkan diri sedikit dan memanggil, “Kiara…”
Kiara menoleh menatap Vera. “Ya, Vera? Ada apa?”
“Maaf ya, bukan maksud saya ingin mencampuri urusanmu. Tapi sejak tadi di rumah, saya sangat penasaran dengan luka yang ada di bahumu itu,” ucap Vera sambil menunjuk ke arah bahu Kiara.
Kiara segera menutupi bagian itu dan membuang muka. Melihat sikap itu, Vera kembali menghela napas kesal.
“Jangan sembunyikan masalahmu, Kiara. Ceritalah padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” desak Vera.
“Saya tidak apa-apa, kok,” jawab Kiara berusaha menyembunyikan.
“Lho, sejak kapan kamu bicara menggunakan kata ‘gue’ dan ‘elu’?” tanya Vera heran.
“Saya sudah terlalu lama berbicara dengan bahasa yang sangat sopan di rumah, Ver. Di sana saya diperlakukan seperti pembantu, bahkan sering disiksa…” Tanpa sadar, Kiara membongkar rahasia pahit yang selama ini ia pendam.
Vera terkejut bukan main mendengar pengakuan itu.
“Hah? Kamu disiksa? Sama siapa, Ki? Sama ibumu yang tadi itu? Dia benar-benar keterlaluan, tidak punya hati nurani sama sekali!” seru Vera penuh amarah.
“Maaf ya, saya malah jadi curhat begini…” ucap Kiara lirih.
Vera menggeleng cepat. “Tidak apa-apa, Kiara. Justru sebaiknya kamu mengeluarkan segala unek-unek yang selama ini kamu pendam. Kami semua tahu, kamu itu anak yang baik dan manis, tidak pernah menyangka bahwa di rumah kamu mengalami hal seberat ini.”
Vera pun memeluk Kiara erat. Di dalam pelukan itu, Kiara tak mampu lagi menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu.
“Saya bingung, Ver… Bahkan saya sempat berpikir, apakah saya ini benar-benar anak mereka? Setiap hari saya dipukul, dimarahi, dan dilarang bekerja di Kantor Kencana. Bahkan saat saya meminta izin bekerja di perusahaan Papa sendiri pun, saya tetap dilarang. Satu-satunya orang yang peduli pada saya hanyalah Mbak Asih, Nenek, dan Mas Rico. Walaupun Mas Rico kadang takut untuk menolong saya karena terancam kehilangan fasilitasnya,” curhat Kiara di sela isak tangisnya.
Vera pun ikut menangis haru dan sedih mendengarnya. Bahkan sopir yang duduk di kursi depan pun tak kuasa menahan rasa iba mendengar cerita gadis malang itu.
“Tahukah kamu, Ver? Kemarin saya dipukuli habis-habisan. Dan Mama bilang, kalau bukan karena Papa yang memungut saya dan Mama yang bersedia merawat saya, mereka sudah membiarkan saya mati bersama kedua orang tua yang bahkan tak saya kenal. Apakah… apakah saya benar-benar bukan anak kandung mereka?” tanya Kiara lirih, membuat hati Vera terasa perih mendengar ucapan Risma yang begitu kejam itu.
“Bersabarlah ya, Kiara. Dan ingat satu hal, jangan pernah ragu untuk menghubungi saya. Kamu harus memberitahu saya jika terjadi sesuatu padamu, paham?” pesan Vera tegas. Kiara pun mengangguk tanda mengerti.
Tak lama kemudian, mereka tiba di kafe yang dituju. Sebelum turun dari mobil, Vera membantu mengusap air mata Kiara dan merias wajahnya sedikit agar terlihat lebih segar. Setelah itu, keduanya masuk ke dalam kafe. Di sana, Bara sudah menunggu sambil membuka laptop untuk mengusir rasa bosan.
“Maaf ya, Mas Bara, sudah menunggu lama,” sapa Kiara begitu tiba.
Vera yang mendengar panggilan itu hanya bergumam pelan, “Giliran Kiara saja dipanggil ‘Mas’…” namun suara itu masih terdengar jelas oleh Bara.
“Jangan iri hati begitu, Vera,” tegur Bara sambil tersenyum tipis. Vera hanya membuang muka tak peduli.
“Tidak apa-apa, Kiara. Silakan duduk,” ucap Bara mempersilakan. Kiara pun duduk, diikuti oleh Vera.
“Jadi, Mas Bara mengajak saya bertemu ini ada maksud tertentu ya?” tanya Kiara.
“Sebenarnya saya tidak rela kamu berhenti bekerja sebagai asisten saya. Saya ingin kamu kembali lagi ke kantor dan bekerja seperti sedia kala,” jawab Bara terus terang.
“Maaf, Mas Bara. Bukan saya tidak mau kembali bekerja. Saya hanya tidak ingin menimbulkan pertengkaran lagi dengan Papa,” tolak Kiara halus.
Bara menghela napas kesal. “Tidak masuk akal apa alasannya sampai Papa kamu melarangmu bekerja di Perusahaan Kencana,” gumamnya. Namun Kiara hanya menjawab dengan gelengan kepala tanda tidak tahu.
“Duh, susah juga kalau begini,” keluh Bara.
“Kamu ini aneh sekali, Bar. Memaksanya kembali bekerja padahal kamu tahu sendiri sifat keluarganya yang keras kepala itu,” celetuk Vera, membuat Bara mengerutkan kening.
“Hati-hati kalau bicara, Vera. Tidak enak didengar oleh Kiara,” tegur Bara.
“Tapi kan kenyataannya…” Kiara segera memotong ucapan Vera sebelum wanita itu menceritakan apa yang baru saja ia dengar di rumah.
“Kenyataannya apa?” tanya Bara penasaran.
“Ya kenyataannya saya jadi kesal sekali tadi dimaki-maki oleh ibunya Kiara. Untung saja saya masih bisa menahan emosi dan amarah saya,” jawab Vera mengalihkan pembicaraan.
“Hemm, soal itu saya juga pernah mengalaminya dulu. Sudahlah, ayo kita makan dulu saja,” ajak Bara. Melihat Kiara sulit dibujuk, ia memutuskan untuk makan siang bersama terlebih dahulu. Masalah pekerjaan itu bisa dibahas lagi di kesempatan lain.
Kiara telah tiba kembali di rumah setelah diantar pulang oleh Vera. Vera tidak bisa berlama-lama karena harus segera pergi mengurus tugas penting dari Bara.
Kiara masuk ke dalam rumah dengan langkah hati-hati, takut ketahuan baru saja pulang malam. Namun sesampainya di ruang tengah, tak ada seorang pun yang terlihat. Biasanya pada jam seperti itu Anton, Risma, Angga, dan Rico selalu berkumpul di sana, namun kali ini keempatnya sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
Kiara berpikir mungkin mereka sudah tertidur. Namun ia merasa heran, bagaimana mungkin jam baru menunjukkan pukul delapan malam, mereka semua sudah terlelap?
Saat Kiara hendak melangkah menuju kamarnya, tanpa sengaja ia mendengar suara orang sedang berbicara dari dalam ruang kerja Anton. Ruangan itu terletak di lorong kecil tak jauh dari kamar Kiara. Rasa penasaran menyelimuti hatinya. Ia pun mendekat dan menempelkan telinganya di pintu agar bisa mendengar jelas percakapan di dalam.
“Saya kira kalau Yuda sudah tiada, harta dan perusahaan ini akan jatuh ke tanganmu, Anton,” tanya suara seorang pria dari balik pintu.
“Saya terlalu bodoh. Saat itu saya terlalu fokus mengurus Yuda, sampai lupa untuk mengambil sertifikat asli miliknya,” jawab Anton.
“Bukan hanya itu saja, kamu juga terlalu sibuk mengawasi Linda yang sebentar lagi akan melahirkan, bukan? Hahaha… Anton, Anton. Saya tahu betul sifat dan kelemahanmu. Kamu sebenarnya tidak tega melihat Linda menderita, namun kamu memaksakan diri untuk bersikap kejam layaknya monster di hadapannya,” ucap pria itu lagi.
“Sudahlah, jangan bahas hal itu lagi,” potong Anton cepat.
“Kalau begitu, bagaimana dengan Kiara?” tanya Risma yang ternyata juga berada di ruangan itu.
Mendengar namanya disebut, Kiara terkejut bukan main dan memusatkan seluruh perhatiannya.
“Biarkan Kiara menjadi urusanmu, Sayang. Buatlah ia menderita dan mati perlahan, agar perusahaan itu tidak jatuh ke tangannya. Saya yakin, sebelum meninggal, Yuda telah memindahkan sembilan puluh persen saham dan seluruh aset miliknya atas nama Kiara,” jelas Anton, membuat Risma terkejut mendengarnya.
“Bagaimana bisa, Mas? Bukankah kamu pernah bilang bahwa Mas Yuda tidak sempat memindahkan aset-asetnya karena kejadian waktu itu?” tanya Risma bingung.
“Itu hanya dugaan saya saja. Tapi sepertinya saya harus memaksa Ibu untuk berbicara jujur, di mana sebenarnya Mas Yuda menyembunyikan semua kekayaan itu,” jawab Anton.
“Sebaiknya jangan bertindak gegabah, Anton. Kita harus bersikap tenang dan santai, jangan sampai ada seorang pun yang curiga,” saran pria itu.
“Henri benar, Mas. Lebih baik kita cari tahu pelan-pelan di mana mereka menyembunyikan aset itu. Kalau tidak ketemu juga, barulah kita gunakan cara untuk memaksa Ibu bicara,” timpal Risma. Anton hanya mengangguk setuju.
“Kamu ini sungguh aneh, Anton. Saya kira dulu kamu akan membunuh Kiara saat ia masih bayi, ternyata kalian malah memeliharanya hingga besar,” ucap Henri.
“Saya memang memeliharanya, tapi saya buat hidupnya sengsara dan mati perlahan. Biar ia menyusul orang tuanya ke dalam neraka!” tawa Risma yang segera disusul oleh tawa Henri dan Anton. Ketiganya lalu bersulang dan meminum anggur di gelas masing-masing.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu itu Kiara telah mendengar semuanya. Ia akhirnya mengetahui siapa sebenarnya orang tua kandungnya. Rasa terkejut yang luar biasa membuatnya membeku di tempat, tangan gemetar menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak ada suara yang keluar.
Tangisan Kiara malam itu adalah tangisan yang paling menyayat hati. Selama ini ia mengira Anton dan Risma adalah orang tua kandungnya, namun kenyataan pahit itu justru menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Apa yang harus Kiara lakukan sekarang? Akankah ia membalaskan dendam atas kematian ayah dan ibunya?
Bersambung