Namaku Arsyila Nadira
Keluarga ku masih utuh Namun retak.
Di rumah ini aku punya dua nama,
"beban keluarga"saat piring pecah karena Ayah melemparnya ke Ibu.
Dan "tidak ada"saat mereka berdua lupa, aku masih duduk di meja makan saat mereka bertengkar.
Ibuku yang punya banyak hutang membuat amarah ayah melonjak setiap hari.
Aku terpaksa terjun sebagai 'wanita malam '
untuk merubah ekonomi keluarga ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bau keringat bercampur obat,kaki nya lumayan lelah karena toko hari ini sangat ramai.Arsyila pulang dengan wajah pucat,ia demam karena dalam dua malam selalu begadang hingga larut malam.Dan paginya harus menghadapi kerja sebagai apoteker.
Semua teman-temannya sudah pada pulang.Tinggal Arsyila yang duduk di depan toko sambil membuka ponselnya, hendak memesan ojek online di aplikasi.
Mobil sport mewah berwarna hitam parkir tepat di depan tokonya.Seorang pria menggunakan jas abu-abu rapi dengan sepatu hitam nya turun dari mobil.Saat membuka kacamata nya, Arsyila baru tersadar kalau itu adalah Rey.
"darimana dia tau tempat kerjaku ?"gerutu Arsyila dalam hati.
"Syil melamun saja ! Ayo ku antar pulang... Please jangan menolak,"rintih Rey yang berdiri tepat di depan mata nya.
Arsyila malu sekali,dilihat oleh banyak orang gara-gara Rey yang memohon di depan nya.Akhirnya Arsyila menyetujui pulang bersama Rey malam itu.Padahal ia sangat takut bau keringat nya yang bercampur dengan bau obat akan mengotori mobil mewahnya.
Jantungnya berdetak kencang,kali ini bukan mobil kemarin yang ia naiki.Namun mobil sport yang mahal,bau mobilnya pun semerbak harum sekali.Arsyila tetap bersikap jual mahal di depan Rey.
"ma-maaf Rey... Mobilmu jadi bau obat gara-gara aku,"Celetuk Arsyila.
"tidak masalah Syil... Aku malah senang bisa mengantar mu pulang,"gumam Rey.
Rey suka wanita seperti Arsyila,jujur apa adanya.Dia pekerja keras,Rey hanya mencari tau kenapa bisa sampai terjun di tempat hiburan malam.
Rey mengantar Arsyila pulang ke rumahnya.Pukul sembilan malam lebih ia sampai di rumahnya,keadaan sekitar rumah yang mulai sepi.Arsyila turun agak jauh dari rumah,ia sengaja meminta itu karena takut akan di marahi oleh Ayah nya yang keras kepala apalagi jika mengetahui Arsyila di antar oleh seorang pria.
................
Dari kejauhan terlihat Ayahnya tengah berdebat dengan seorang Juragan yang juga menjadi rentenir.Ibunya hanya duduk melamun,teriakan Juragan itu sampai terdengar samar-samar dari kejauhan,nampaknya—Rey tidak langsung bergegas pergi... Ia menyaksikan sendiri kejadian malam itu di depan mata nya.
"makasih Ya Rey,"Arsyila langsung berlari menuju keributan yang terjadi di depan rumah nya.
Waktunya sudah habis, Asih," ucap Juragan Pendi. Suaranya tenang, namun dinginnya menusuk tulang.
"Aku tahu, Juragan. Tapi tolong, beri aku waktu tambahan,pekerjaan sedang sepi. Penghasilanku tidak cukup untuk melunasi semuanya sekaligus."Ucap Ayah Arsyila yang langsung memotong ketika istrinya akan berbicara.
Juragan Pendi tertawa, terkesan mengejek. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapan matanya setajam belati yang siap menguliti harga diri orang tuaku.
"Waktu? Sejak kapan bunga pinjamanmu mengenal kata toleransi? Ini bisnis, Asih. Bukan badan amal! Jika kau tak bisa membayar, ada harga lain yang harus ditebus."ucap Juragan sambil melotot ke arah Ibu Arsyila.
Napas tercekat di tenggorokan. Emosi yang ku tahan sejak lama akhirnya mendidih.
"Berapa hutang orang tua ku hingga kamu.pak tua berani menginjak harga diri orang tuaku!"Ujar Nabila penuh amarah.
Juragan Pendi hanya tersenyum sinis, mengabaikan makian Arsyila.Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya, meletakkannya di atas meja dengan satu ketukan jari yang keras.
"Aku tidak peduli sebutan kalian. Besok, aku akan kembali. Jika uang itu tidak ada di tanganku, siap-siap saja angkat kaki dari rumah ini. Sertifikat rumah ini sah menjadi milikku."Juragan Pendi kemudian pergi dengan wajah sombong nya.
Tamparan mendarat di pipi Arsyila 'praaak'
"Berani sekali kamu Arsyila, memangnya kamu sanggup melunasi semua hutang nya ?"Ayah merasa sangat emosi.
"kamu harus tanggung jawab... atau memang kamu ingin kami semua terlantar di jalanan !"Ayahnya langsung pergi masuk,menutup pintu dengan sangat kencang.
Arsyila menjulurkan tangannya ke ibunya yang tersungkur lemas di bawah sambil menangis.
"Bangun Bu,"Arsyila langsung memeluk ibunya.
"Syila janji Bu.Syila akan membuktikan omongan Syila tadi pada juragan... Ibu percaya Syila kan ?"Ucapnya dengan nada serius.
ibunya hanya mengangguk,lalu Arsyila menuntun nya masuk ke dalam rumah.
"kasihan sekali.Pulang kerja capek-capek malah di sambut dengan perdebatan seperti itu,"Ujar Rey yang menyaksikan dari kejauhan.
Rey jadi tau,alasan di balik Arsyila kerja di hiburan malam.Dia tahu pasti besok Arsyila akan mencari cara untuk melunasi hutang orang tuanya.
Rey tidak mau kalau Arsyila terjerumus lebih dalam karena Melly—teman baiknya yang pura-pura baik di awal.Lama-kelamaan akan menjerumuskan Arsyila kepada pria hidung belang yang tak segan mengambil keperawanan nya kapan saja.
Rey seorang pebisnis muda yang di warisi perusahaan oleh Ayahnya yang telah meninggal dunia.Rey hanya tinggal bersama ibu dan adik perempuannya yang masih sekolah dasar.
Rey merasa beban pikirannya menumpuk ketika harus berhadapan dengan dunia bisnis yang sama sekali ia belum siap menghadapinya.Terkadang ia sekedar melepas penat ketika pergi ke hiburan malam.Dan beruntungnya bertemu wanita seperti Arsyila yang sedang menanggung beban keluarga.
.
Arsyila melepas kemeja kerja nya dan buru-buru naik ke tempat tidurnya.Ia gelisah... Uang yang baru saja ia dapat hanya sekitar dua puluh lima persen dari hutang ibunya kepada Juragan Pendi.
"bagaimana aku bisa melunasinya sekaligus besok ?"Arsyila menggigit jari.
Tanpa pikir panjang ia mengambil ponsel dan menelfon Melly.
"Mel... Bisakah kamu pinjamkan aku uang ?"Arsyila menyebutkan nominal yang membuat Melly terkejut.
"hah- tujuh puluh lima juta ? Uang ku sudah aku berikan untuk biaya pengobatan ibuku.Tapi kalau kamu mau kamu harus jadi simpanan om-om kaya,"celetuk Melly lewat panggilan telefon.
Memang, keadaan mendesak memungkinkan seseorang untuk berbuat apa saja.Arsyila langsung mematikan telefon nya.Tubuhnya berkeringat dingin,memikirkan setiap perkataan itu.
"tidak mungkin aku harus melepaskan perawanku pada om-om itu,"gumamnya.
Arsyila tak dapat tidur, pikirannya masih dibayang-bayangi oleh kertas nominal yang juragan Pendi lemparkan padanya dan juga perkataan Melly yang sama sekali bukan solusi untuk nya.