Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 08
“Kalian semua tidak becus! Menjaga istriku saja tidak bisa!” Bentak Max kepada orang-orangnya yang berjaga di Mansion.
“Tuan Max, tapi kami benar-benar tidak melihat Nona Leticia keluar. Kami akan mencari Nona di dalam Mansion, jika Tuan Max mengizinkan,” ujar salah satu bawahannya yang membuat Max langsung menodongkan pistol di tangannya.
Kemarahan menyelimuti Max, sehingga pria itu tidak bias berpikir dengan jernih. Tidak pernah Max merasa setakut itu, apalagi penyebabnya adalah seorang perempuan yang merupakan istrinya.
“Tuan Max, ada apa?” Tanya Mabel yang baru turun dari lantai empat.
Wanita paruh baya itu sangat terkejut, saat semuanya berkumpul dan Max menodongkan pistol kesayangannya kepda salah satu bawahan yang sudah lama bekerja untuknya.
“Apa kau melihat ke mana istriku pergi?” Max kini menatap ke arah Mabel yang tidak bisa menahan senyumannya.
“Melihatnya,” jawaban itu membuat Max menurunkan pistol di tangannya dan menghampiri wanita paruh baya itu.
“Di mana? Leticia kabur ke mana?” Tanya pria itu dengan nada tidak sabaran.
“Nona tidak kabur, tetapi dia mandi di kamar sebelah dan saya menemaninya. Sekarang Nona sudah kembali ke kamar utama dan mencari Tuan,” jelas Mabel dengan begitu tenang.
“Kalian bisa kembali dan perketat kembali penjaga di Mansion maupun di sekitar!” Titah Max, sebelum masuk ke dalam lift untuk naik ke atas.
“Tuan Max hampir saja membunuh kita semua,” ucap salah satu pria yang ada di sana.
“Sudah-sudah jangan membicarkan Tuan Max, nanti dia datang lagi dan kalian bisa habis!” Kekeh Mabel yang kini membubarkan mereka semua.
“Dari kecil, Tuan Max tidak pernah bersikap seperti ini. Bahkan saat mainan kesayangannya hilang, Tuan Max masih tetap tenang. Ternyata memang ada orang yang bisa membuat Tuan Max berubah dan saya harap Nona Leticia bisa memberikan warna di hidup Tuan Max,” doa Mabel dengan begitu tulus.
Di posisi Max, pria itu melangkah cepat ke arah kamar utama dan saat pintu dibuka… ia melihat Leticia yang sedang mengeringkan rambutnya.
“Kak Max habis dari mana?” Tanya perempuan itu yang kini berdiri untuk menghampiri Max yang masih tetap diam di depan pintu.
“Aku mengira kau kabur!” Max memegang bahu istrinya dengan kuat.
Leticia meringis pelan, membuat pria itu tersadar kalau ia sudah menyakiti istrinya.
“Maaf sudah menyakitimu,” ucap Max yang untuk pertama kalinya mengucapkan kata maaf dan itu terjadi karena Leticia lagi.
Leticia tersenyum tipis, lalu menarik tangan suaminya untuk duduk di sofa.
“Aku mau pergi ke mana? Aku sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Juga, aku sudah menandatangi surat perjanjian dengan Kak Max. Aku akan tetap berada di sini sampai aku bisa menentukan perasaanku sendiri dan membalaskan dendamku,” jelas perempuan itu.
Entah mengapa Max merasa senang mendengarnya, dan ia pastikan kalau Leticia juga akan mencintainya.
“Kenapa mandi?” Tanya Max sambil menyentuh pipi istrinya yang terasa dingin.
“Soalnya aku takut kuman dari tikus menempel di tubuhku dan membuatku jatuh sakit, jadi aku mandi untuk menghilangkannya,” jawab Leticia dengan tatapan yang terlihat begitu menggemaskan di mata Max.
Pria itu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir istrinya yang kini mulai menjadi candunya.
“Lain kali kalau mau keluar dari kamar ini, izin dulu kepadaku! Tadi aku sempat mengira kau kabur dari sini, jadi aku hampir menghukum semua penjaga di Mansion ini,” ujar Max yang membuat sang istri terkejut.
“Maaf sudah membuat keributan malam-malam, lain kali aku akan bilang dulu kepada Kak Max kalau mau keluar dari kamar ini,” Leticia merasa tidak enak, apalagi kepada para penjaga yang juga ikut terseret.
“Aku pegang janjimu! Sekarang sudah waktunya tidur, dan sesuai denga perjanjian kita… malam ini dan seterusnya kita akan tidur bersama,” Max menggendong istrinya menuju ke tempat tidur mereka.
Leticia merasa gugup, karena akan tidur bersama Max. Walaupun hanya tidur sewajarnya, tetap saja perempuan itu merasa sangat gugup.
Pintu kamar tertutup, saat Max menekan remot kecil yang ada di atas nakas. Setelah itu ia mematikan lampu utama dengan remot juga, disusul dengan lampu tidur yang otomatis menyala saat lampu utama dimatikan.
“Wah, semuanya begitu canggih,” kagum Leticia yang tidak bisa menahan suaranya.
Perempuan itu langsung menutup mulutnya, karena merasa malu dengan tingkahnya sendiri.
“Kenapa ditutup? Aku sangat senang mendengar perkataanmu yang jujur itu, karena kau semakin menggemaskan!” Max menarik tangan sang istri agar tidak menutupi mulutnya.
“Kak Max benar-benar akan menunggu aku siap ‘kan?” Tanya Leticia dengan tiba-tiba.
Max tersenyum tipis, sangat tipis sampai sang istri tidak menyadarinya. “Aku tidak akan pernah memaksamu, Leticia. Aku akan menunggumu sampai benar-benar siap memberikan hakku sebagai suamimu!”
Pria itu mengecup kening istrinya, sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Leticia tidak bisa menahan senyumannya, karena Max benar-benar menghargai keputusannya.
“Kecuali ada tingkahmu yang membuat kesabaranku habis, maka jangan salahkan aku kalau bisa melewati batas,” ucap pria itu, sebelum memejamkan matanya.
Leticia menoleh, ia ingin bertanya tingkah apa yang bisa membuat kesabaran suaminya habis. Namun saat melihat kedua mata Max yang sudah tertutup rapat, perempuan itu mengurungkan niatnya dan mulai ikut memejamkan matanya.
Leticia kembali membuka matanya dan tersentak kaget, saat tubuhnya ditarik ke dalam pelukan hangat sang suami.
Max tidak mengatakan apa-apa, hanya memeluknya dengan erat. Dan Leticia kembali memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dengan sebuah pelukan yang belum pernah ia rasakan selama di kediaman Morana.
“Aku memang tidak tahu caranya menjadi suami yang romantis, bahkan buku-buku yang dibawakan Elion membuatku merasa mual sendiri. Jadi, aku akan menggunakan caraku sendiri untuk membuatmu jatuh cinta!”
Max memang tidak tidur, ia menunggu istrinya terlelap lebih dulu… agar bisa memandangi wajah Leticia dari jarak sedekat ini.
Tangannya terangkat dan menyentuh pipi istrinya, lalu mengusapnya dengan pelan agar tidak membangunkan sang istri.
“Aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu, agar kau tahu kalau hidupmu jauh lebih berharga. Mereka yang sudah menyakitimu adalah orang-orang bodoh, terutama kedua orang tuamu… mereka tidak pantas disebut orang tua!”
Max menahan geramannya, saat mengingat apa saja yang didapatkan Leticia dari kedua orang yang perempuan itu anggap sebagai orang tua.
“Sebenarnya aku ingin melenyapkan mereka, tetapi rasanya belum cukup kalau mati begitu saja. Aku akan menunggu dan melihat seperti apa balas dendammu untuk mereka. Setelah itu, aku akan menambahkan penderitaan mereka…”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️