NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. Kehangatan yang Semu

Keesokan harinya, Minggu pagi di kediaman Wardhana terasa sangat berbeda. Ketegangan malam tadi seolah menguap, digantikan oleh kehangatan keluarga yang jarang tersorot namun selalu ada di rumah megah itu.

Meskipun Tuan Bagian dan Nyonya Zen sangat tegas mengenai bisnis dan penjodohan, di hari libur seperti ini, mereka tetaplah orang tua yang hangat. Mereka semua berkumpul di meja makan luar yang menghadap langsung ke kolam renang dan taman belakang yang asri.

"Aksa, ambilkan Ibu selai stroberi itu," ucap Nyonya Zen lembut, penampilannya pagi ini sangat keibuan tanpa setelan formalnya.

"Siap, Nyonya Besar," canda Aksa, menyerahkan selai itu dengan kedipan mata yang membuat Nyonya Zen tertawa kecil.

Dania duduk di antara Damian dan Aksa, dengan manja memindahkan sosis dari piring Damian ke piringnya sendiri. "Kak Damian, potongkan dagingku. Aku malas memotongnya," rengek Dania.

Damian yang biasanya kaku dan berwajah dingin di kantor, mendadak melunak di depan adik bungsunya. Tanpa banyak bicara, ia menarik piring Dania, memotong dagingnya menjadi bagian-bagian kecil dengan rapi, lalu mengembalikannya pada Dania. "Makan yang banyak, jangan merepotkan kakakmu terus."

"Biar saja, kan punya kakak laki-laki hebat dua harus dimanfaatkan," sahut Dania riang, membuat Tuan Bagian Wardhana yang sedang membaca koran pagi terkekeh pelan di ujung meja.

Valerian duduk di sebelah Damian, menyaksikan interaksi itu dengan perasaan yang campur aduk. Rumah ini sebenarnya sangat hangat. Hubungan persaudaraan antara Damian, Aksa, dan Dania begitu erat dan saling menyayangi. Dania begitu dekat dan manja pada kedua kakaknya, dan kedua pria itu selalu memperlakukan adik perempuan mereka bagai putri kerajaan.

Namun, di balik kehangatan sarapan keluarga itu, ada arus bawah yang mengalir begitu berbahaya.

Saat Damian sibuk mengelap sudut bibir Dania yang terkena saus, tangan Aksa yang berada di bawah meja makan mewah yang tertutup taplak panjang itu tiba-tiba bergerak.

Jemari panjang Aksa menyusup, dengan berani menggenggam jemari Valerian yang berada di atas pangkuannya. Aksa meremas tangan Valerian dengan lembut namun posesif, seolah mengingatkan wanita itu akan janji setianya semalam di balik pintu yang terkunci.

Valerian tersentak kecil, hampir saja menjatuhkan garpunya. Ia melirik ke arah Aksa yang sedang asyik mengobrol dengan sang ayah tentang klub golf, seolah tangannya tidak sedang melakukan tindakan terlarang di bawah meja.

Di saat yang bersamaan, Damian tiba-tiba menoleh ke arah Valerian. Dengan gerakan yang tidak terduga, Damian meletakkan tangannya di atas bahu Valerian, mengusapnya perlahan. "Kau masih pucat, Valerian. Setelah sarapan, istirahatlah di kamar. Nanti siang aku akan menemanimu," ucap Damian, suaranya terdengar tulus tanpa nada dingin yang biasa.

Sikap manis Damian di meja makan rupanya hanyalah sebuah fatamorgana singkat yang sengaja ia ciptakan demi menjaga citra di depan kedua orang tuanya. Begitu jam dinding menunjukkan pukul satu siang dan kedua orang tua mereka pergi beristirahat, kehangatan semu itu menguap tanpa bekas.

Valerian sedang merapikan beberapa majalah di ruang tengah ketika Damian melangkah masuk dengan setelan kasualnya yang kaku. Pria itu menatap Valerian yang sedang membungkuk, lalu berdeham dingin.

"Ikut aku ke kamar, Valerian," perintah Damian tanpa nada ramah sedikit pun.

Jantung Valerian berdesir agak ngeri. Ia teringat ucapan Damian tadi pagi yang berjanji akan menemaninya di kamar siang ini.

Begitu pintu kamar utama tertutup rapat, Valerian berbalik menatap suaminya. "Ada apa, Damian? Kau bilang kau ingin menemaniku—"

"Jangan terlalu percaya diri," potong Damian cepat, nadanya terdengar begitu merendahkan hingga membuat kalimat Valerian terputus di udara. Damian berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah map dokumen, lalu melemparkannya begitu saja ke atas ranjang.

"Aku menemanimu di kamar ini hanya untuk memastikan kau menandatangani berkas persetujuan aset yayasan yang baru. Ibu memintaku memastikan kau tidak menundanya lagi," ucap Damian datar, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Valerian dengan pandangan menghina. "Kenapa? Kau mengira aku benar-benar ingin menghabiskan waktu intim denganmu? Jangan naif, Valerian. Dua tahun ini tidak mengubah fakta bahwa kau berada di rumah ini hanya karena status bisnis."

Kata-kata itu bagai air es yang disiramkan langsung ke lubuk hati Valerian yang paling dalam. Luka lama yang sempat mengering kini kembali menganga, menyisakan rasa perih yang teramat sangat. Damian selalu tahu bagaimana cara menguliti harga diri Valerian sampai habis. Pria itu bisa saja cemburu dan posesif jika melihat miliknya didekati pria lain—seperti kejadian semalam dengan Aksa—namun begitu mereka berdua saja, Damian akan kembali memperlakukannya tak lebih dari seonggok pajangan tak berharga yang membosankan.

"Lalu kenapa semalam kau menggedor kamar Aksa seperti orang gila?!" pekik Valerian, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata akibat rasa terhina yang tak terbendung. "Kau mencariku seolah-olah kau peduli, Damian! Kau mencengkeramku seolah-olah aku ini istrimu!"

Damian terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk meremang. Ia melangkah mendekat, mencengkeram rahang Valerian dengan jemarinya yang besar, memaksa wanita itu menatap matanya yang sekeras batu.

"Aku mencarimu karena kau membawa namaku, Valerian Dirgantara. Aku benci jika ada barang milikku yang berkeliaran di luar kamar pada jam tiga pagi, apalagi jika barang itu berada di dekat adikku," bisik Damian dengan suara parau yang penuh racun. "Jangan salah mengartikan egoku sebagai rasa cinta. Kau tidak lebih dari sebuah kewajiban yang harus kujaga agar tidak merusak reputasiku. Sekarang, tanda tangani berkas itu dan hapus air mata menyedihkanmu itu. Kau membuatku muak."

Valerian merosot di lantai yang dingin, menangis dalam senyap. Sikap Damian benar-benar kejam. Pria itu menuntut kesetiaan mutlak darinya, mencemburuinya karena ego, namun di saat yang sama terus-menerus menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang wanita. Di kamar utama yang megah ini, Valerian merasa jiwanya telah mati dan membusuk dalam kesepian.

Satu jam berlalu dalam kesunyian yang menyiksa, sampai akhirnya sebuah ketukan lembut terdengar dari arah pintu penghubung balkon luar.

Valerian tersentak, buru-buru menghapus air matanya. Pintu balkon kamar utama perlahan terbuka, dan sosok Aksa menyelinap masuk dengan gerakan yang teramat tenang namun sigap. Pria itu tampaknya memanjat dari balkon kamarnya sendiri yang letaknya memang bersebelahan.

Begitu melihat wajah Valerian yang sembap dan hidungnya yang memerah, senyuman humoris yang biasa menghiasi wajah tampan Aksa langsung lenyap. Sepasang netra gelapnya berkilat berbahaya oleh amarah yang pekat.

"Dia merendahkanmu lagi, kan?" Suara berat Aksa terdengar serak di keheningan kamar.

Valerian tidak menjawab, ia hanya menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya. Namun, Aksa tidak membiarkannya. Pria itu melangkah cepat, merengkuh tubuh ramping Valerian ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan teramat hangat. Aksa memeluknya begitu erat, seolah ingin menyatukan seluruh kepingan hati Valerian yang telah dihancurkan oleh Damian.

"Sudah kubilang, jangan pernah menangis untuk pria berengsek seperti dia, Valerian," bisik Aksa lembut, jemarinya yang besar mengusap rambut Valerian dengan penuh kasih sayang.

Di dalam pelukan Aksa, rasa dingin yang membekukan jiwa Valerian seketika mencair. Aksa selalu tahu bagaimana cara membuatnya merasa hidup. Berbeda dengan Damian yang penuh tekanan, Aksa adalah pria yang humoris, yang selalu bisa memancing senyumnya di saat-saat tersulit, namun di saat yang sama bisa berubah menjadi begitu posesif dan protektif jika menyangkut keselamatan dan kebahagiaan Valerian.

"Aksa... aku lelah," bisik Valerian lirih di dada Aksa.

Aksa melonggarkan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Valerian dengan kedua tangannya. Ia menunduk, mengecup kelopak mata Valerian yang bengkak dengan kelembutan yang memabukkan, sebelum akhirnya mendaratkan sebuah ciuman yang dalam dan penuh perasaan di bibir wanita itu. Sentuhan Aksa malam ini tidak menuntut, melainkan sebuah penegasan bahwa di sini, di dalam pelukannya, Valerian adalah wanita yang paling berharga.

"Tetaplah hidup untukku, Valerian. Karena dalam waktu dekat, aku yang akan membawamu keluar dari neraka ini," janji Aksa parau tepat di depan bibir Valerian, membuat jantung wanita itu berdegup kencang oleh debaran cinta yang terlarang namun begitu adiktif.

Ketenangan rahasia mereka di kamar utama tiba-tiba terusik ketika suara klakson mobil mewah terdengar dari halaman depan rumah, disusul oleh suara riuh Dania yang menyambut tamu dengan nada sangat gembira.

Ketenangan rahasia mereka di kamar utama tiba-tiba terusik ketika suara klakson mobil mewah terdengar dari halaman depan rumah, disusul oleh suara riuh Dania yang menyambut tamu dengan nada sangat gembira.

"Kak Aksa! Kak Vale! Turun ke bawah, dong! Ada tamu istimewa!" teriak Dania dari lantai satu, suaranya yang melengking manja menggema hingga ke lantai dua.

Valerian panik, buru-buru mendorong dada Aksa. "Aksa, ada tamu. Kau harus kembali ke kamarmu sekarang."

Aksa menghela napas panjang, memberikan satu kecupan kilat di hidung Valerian sebelum akhirnya tersenyum jail. "Baiklah, Sayang. Mari kita lihat siapa tamu istimewa yang membuat si bungsu berteriak seperti itu." Dengan gerakan lincah, Aksa kembali menyelinap keluar melalui balkon.

Setelah merapikan riasan wajah dan memastikan tidak ada jejak tangis yang tersisa, Valerian melangkah turun ke lantai satu. Namun, begitu kakinya menginjak anak tangga terakhir menuju ruang tengah, langkah kaki Valerian mendadak membeku.

Di atas sofa beludru mewah ruang tamu, duduk Clarissa Narendra.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!