Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Sistem, konfirmasi durasi efek obatnya," panggil Alneo dalam benak.
[Ramuan Penenang Tingkat Rendah bekerja efektif selama 5 jam, Tuan. Target tidak akan terbangun oleh suara bising standar.]
Alneo mengembuskan napas lega. "Lima jam. Lebih dari cukup untuk bolak-balik ke pasar," gumamnya.
Ia berjalan cepat menyusuri lorong kos-kosan yang, hingga sampai di pos depan. Pak tarno, penjaga kos, yang sedang asyik menyeruput kopi hitamnya.
"Pak," panggil Alneo, membuat pria paruh baya itu menoleh.
"Eh. Mau ke mana lagi kamu," tanya Pak Tarno.
"Saya ada urusan sebentar, Pak. Titip adik saya, ya? Tolong jaga adik saya, tapi jika dia terbangun sebelum saya kembali dan mencari saya, tolong katakan kalau saya sedang pergi ke pasar untuk membeli seragam sekolahnya," kata Alneo
Pak Tarno menurunkan gelas kopinya, menatap Alneo dengan pandangan iba sekaligus kagum. "Oh, beli seragam? Adikmu mau masuk sekolah?"
"Iya, Pak. Bagaimanapun keadaannya, dia harus tetap sekolah," kata Alneo dengan suara rendah.
"Orang tua kamu di mana?" tanya Pak Tarno.
Alneo mengingat ayahnya yang gila itu, ia anggap saja sudah mati. Ia tidak punya ayah gila yang tega menjual adiknya sendiri.
"Kedua orang tua saya sudah meninggal pak," kata Alneo lagi.
Pak Tarno mengangguk-angguk paham. "Oh, baiklah. Beres itu, Neo. Kamu tenang saja, biar pantauan keamanan kos agak saya geser ke arah kamarmu nanti. Pergilah, hati-hati di jalan."
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Alneo tulus sebelum membalikkan badan.
Alneo melangkah keluar dari gerbang kosan. Hari juga sudah sore. Ia sengaja melangkah lebar-lebar dengan berjalan kaki.
"Uang di dompet ini pas-pasan. Kalau aku naik angkot, ongkos bolak-balik bisa memotong anggaran dasi atau kaus kaki Riani," pikirnya sambil melihat uangnya yang sisa 1 juta lebih itu.
Sesampainya di pasar induk yang riuh, Alneo langsung berhadapan dengan lautan manusia dan teriakan para pedagang.
Ia menyusuri lorong khusus konveksi baju sekolah hingga matanya tertuju pada sebuah toko kecil di sudut.
"Cari seragam apa, Dek? SD, SMP, SMA ada. Bahan bagus, enggak luntur," puji si ibu pemilik toko, seorang wanita paruh baya dengan cetar emas di jemarinya.
"Empat seragam untuk anak SMP, Bu. Ukuran S," jawab Alneo sopan.
Wanita itu mengambil satu setel baju dari rak. "Ini bahannya katun tebal, Dek. Awet buat tiga tahun. Harganya semuanya 900 ribu."
"Bu... boleh kurang sedikit tidak? Saya beli tanpa bungkus plastiknya juga tidak apa-apa. Untuk adik saya, dia yatim piatu," kata Alneo.
Mendengar kata 'yatim piatu', raut wajah judes si penjual langsung melunak. Ia menatap Alneo dari atas ke bawah, melihat kaos lusuh dan peluh yang bercucuran di pelipis pemuda itu.
"Kamu kakaknya?" tanya Ibu itu dengan nada yang jauh lebih lembut.
"Iya, Bu. Saya walinya sekarang."
"Ya sudah, Ibu kasih 750.000 saja. Tapi jangan bilang-bilang toko sebelah, ya?" bisik si Ibu sambil mengerdipkan mata. "Semoga adikmu pintar sekolahnya."
"Terima kasih banyak, Bu! Semoga dagangan Ibu makin laris manis," kata Alneo.
Setelah menerima bungkusan seragam tersebut, Alneo langsung memeluknya erat di dada seolah itu adalah barang paling berharga di dunia.
Setelah membeli bau, ia membeli tas dan sepatu lalu sisanya membeli buku dan kaos kaki.
Ting!
[Sisa saldo Anda 100.000]
"Baiklah, uang segini untuk makan nanti malam dan ongkos Riani sekolah. Semoga saja cukup," kata Alneo dalam hati.
"Satu langkah selesai, Riani. Kakak pulang sekarang," bisiknya dengan senyum yang akhirnya mengembang, lalu segera membalikkan badan untuk berjalan kaki kembali menuju kosan.