Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya. Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: DILEMA DI BALIK DINDING ASRAMA
Kedatangan Ibu Hedy Mari ke ksatrian Bukit Raya kali ini ternyata menyimpan riak taktis yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan lepas rindu pada sepasang cucu kembarnya, anak dari Lettu dr. Shaneen dan Letkol Reyes. Di balik tawa hangat saat menimang bayi, ada sebuah misi prinsipil yang telah matang dirancang di kepala sang "Ibu Negara."
Malam sebelum kepulangannya, bertempat di dalam ruang tengah rumah dinas jabatan yang ditempati oleh Kolonel Victor, ketegangan itu bermula. Hedy duduk dengan anggun namun tatapannya laksana seorang panglima tertinggi yang siap menjatuhkan dekrit. Di hadapannya, Victor berdiri tegap, mencoba menahan langkah ibunya dengan segala argumen logis kedinasan dan taktik perlindungan emosional agar Ayu tidak merasa terdesak.
"Ibu, biar Victor yang urus. Jangan ke rumah Ayu malam-malam begini. Tidak enak dilihat anggota," cetus Victor, suaranya bariton rendah, mencoba bernegosiasi.
Namun, bukan wanita namanya—terutama wanita dari klan mereka—jika tidak memiliki tingkat kekerasan kepala yang setara dengan baja tank baja. Hedy mengabaikan lambaian tangan putranya. Dengan langkah mantap, malam itu beliau tetap mendatangi rumah dinas Ayu seorang diri.
Di ruang tamu minimalis milik Ayu, Hedy tidak membuang waktu dengan retorika manis. Beliau langsung menuturkan niatnya dengan garis tegas yang mutlak. "Ibu tidak ingin mendengar kata penolakan lagi, Ayu. Pikirkan ini baik-baik," ujar Hedy, sebelum akhirnya mengeluarkan kartu ancaman pamungkas yang tidak main-main. "Kalau kamu tetap keras kepala dan tidak mau menerima Victor, maka Ibu sendiri yang akan turun tangan. Ibu akan pastikan Victor benar-benar menikah dengan wanita lain pilihan Ibu dalam waktu dekat. Tidak ada tawar-menawar lagi."
Hedy mengira ancaman psikologis itu akan meruntuhkan benteng pertahanan Ayu. Namun, di luar dugaan, Ayu justru menarik napas dalam-dalam, mengulas sebaris senyuman tipis yang teramat sopan, lalu menjawab dengan ketenangan seorang perwira intelijen.
"Jika memang begitu jalannya, menurut Ayu... itu jauh lebih baik untuk Victor, Bu. Dia memang berhak mendapatkan wanita yang sempurna."
Mendengar jawaban itu, Hedy dibuat gemas setengah mati. Ayu benar-benar definisi wanita keras kepala yang sulit ditembus. Alih-alih berhasil membujuk Ayu, malam itu Hedy kembali ke rumah jabatan dengan perasaan dongkol yang meluap-luap. Dan yang menjadi sasaran empuk kemarahannya, siapa lagi kalau bukan putra kembarnya sendiri.
Malam itu menjadi malam sejarah terpanjang di Bukit Raya, di mana seorang Kolonel Victor—pria raksasa yang ditakuti ribuan prajurit di lapangan—benar-benar habis diomeli dan kena marah oleh ibunya sendiri di ruang tengah.
"Kamu itu jadi laki-laki, jadi komandan di lapangan kok tidak ada jantannya sama sekali dalam menaklukkan hati satu wanita! Pangkatmu saja yang kolonel, tapi urusan mengajak wanita naik ke pelaminan saja susahnya minta ampun!" omel Hedy berapi-api sembari menunjuk-nunjuk dada bidang putranya.
Victor hanya bisa berdiri dengan sikap tobat di depan ibunya, tidak berani membantah sepatah kata pun. Johan yang kebetulan berjaga di luar garasi bahkan harus menahan napas, menyadari bahwa malam itu sang komandan telah kehilangan wibawa taktisnya di hadapan sang Ibu Negara. Hedy benar-benar representasi nyata dari sosok calon mertua idaman yang siap pasang badan, walau eksekusi malam itu berakhir dengan kegagalan total akibat keras kepalanya kedua belah pihak.
Hari-hari di Bukit Raya pun berganti begitu saja dengan cepat. Kunjungan Hedy Mari di kabupaten pedalaman yang masih asri dengan kehijauannya itu hanya berlangsung sekitar dua hari saja. Beliau memilih untuk segera pulang ke ibu kota pusat timur, enggan berlama-lama larut dalam drama yang melelahkan sarafnya.
Sebelum melangkah naik ke dalam mobil dinas berplat komando yang akan mengantarnya menuju bandara kota pusat pesisir, Hedy menyempatkan diri menatap Ayu yang ikut melepas keberangkatannya di koridor Mako. Tatapan itu bukan lagi tatapan hangat penuh pelukan seperti hari pertama kedatangannya. Itu adalah tatapan kekecewaan yang mendalam, dingin, dan menusuk. Bagi Hedy, jika Victor gagal membujuk orang yang ia cintai kali ini, maka tidak ada alasan lagi bagi putranya untuk menolak perjodohan. Victor harus mau menikah dengan siapa pun pilihan keluarga nanti.
Setelah mobil dinas itu melaju membelah jalanan asrama yang rindang, perasaan Ayu seketika dirundung dilema yang luar biasa hebat. Atmosfer kerjanya hari ini berantakan. Untuk pertama kalinya dalam karier militernya, Kapten Ayu tidak bisa konsisten dalam menyelesaikan laporan taktis. Pikirannya bercabang, dadanya terasa sesak.
Ayu duduk di balik meja kerjanya, menatap kosong ke arah jendela sebelum pandangannya perlahan jatuh pada pergelangan tangan kirinya. Di sana, sebuah jam tangan pintar smartwatch dengan strap karet berwarna putih bersih melingkar dengan anggun. Jam yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati, jam yang ia kira adalah hadiah pernikahan manis dari sahabat karibnya, Shaneen, beberapa tahun lalu ketika ia hendak melangsungkan akad nikah dengan mantan suaminya.
Ternyata... dugaan itu salah total. Jam tangan putih itu adalah pemberian dari Victor. Pria itu membelinya dengan sembunyi-sembunyi, lalu memohon pada adiknya agar berpura-pura memberikan benda itu atas nama Shaneen, hanya karena takut Ayu akan melempar atau menolak memakainya jika tahu nama Victor yang tertera di sana.
Fokus Ayu benar-benar pecah. Di dalam benaknya berkecamuk rasa bersalah yang teramat besar. Untuk pertama kalinya, wanita paruh baya yang selalu ia panggil dengan sebutan 'Ibu' itu pergi dengan gurat kekecewaan yang nyata karenanya. Ayu meremas jemarinya sendiri. Sebenarnya apa sih yang sedang ia cari? Apakah ini semua karena trauma masa lalu yang belum sembuh? Apakah rasa takut akan kegagalan sebuah hubungan telah membutakan mata hatinya dari ketulusan seorang pria sehangat Victor?
Di tengah lamunan panjang yang menyiksa batinnya, sebuah suara geseran pintu mengejutkannya. Seseorang masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa ia sadari karena Ayu terlalu larut dalam dilemanya sendiri.
"Nin, manusia itu tidak selalu sama. Kamu tidak bisa menyamakan semua pria berseragam dengan masa lalumu."
Sontak Ayu terkejut, kepalanya langsung mendongak tegak. "Shaneen...?"
Shaneen berdiri di depan meja kerja Ayu dengan seragam putih dokter militernya, kedua tangannya bersedekap di dada, dengan tatapan mata yang tajam namun tersirat rasa gemas yang tertahan.
"Kenapa? Kaget?" tanya Shaneen dingin. "Bukankah kata-kata itu adalah kata-kata yang persis kamu ucapkan padaku tiga tahun yang lalu? Sebelum aku benar-benar memantapkan hati untuk menikah dengan Reyes?"
Ayu mengembuskan napas panjang, bersandar pada kursi kerjanya yang terasa kaku. "Nin... tapi kasus kamu dan aku itu jelas berbeda—"
"Beda kenapa, Ayu?" potong Shaneen cepat, suaranya meninggi satu oktav, menuntut penjelasan. "Karena waktu itu kita berdua sama-sama masih lajang? Lalu sekarang kamu merasa statusmu dan kakakku berbeda, begitu? Kamu mau pakai alasan janda anak satu lagi untuk kabur dari kenyataan?"
Ayu tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap sahabat belas tahunnya itu dengan tatapan sayu yang teramat lelah, sebelum akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindar dari konfrontasi mata Shaneen.
"Ayu, aku tanya sekali lagi... sebenarnya apa sih yang kamu cari dalam hidup ini?" tanya Shaneen, melangkah mendekat ke meja kerja Ayu, menumpukan kedua tangannya di atas kayu meja. "Kakakku kurang apa lagi untuk meyakinkanmu?"
"Aku tuh takut, Shaneen!" seru Ayu tiba-tiba, suaranya bergetar hebat, air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di sudut matanya. "Aku takut kalau aku membuka hati dan menikah lagi, lalu semuanya terulang kembali bagaimana? Bagaimana kalau ujung-ujungnya berakhir dengan kehancuran yang sama seperti pernikahan pertamaku? Aku tidak mau hancur untuk kedua kalinya!"
Shaneen mendengus seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Jadi... secara tidak langsung, kamu menyamakan kakakku dengan mantan suamimu yang berengsek itu?"
"Bukan gitu, Shaneen! Kamu gak paham posisiku!" bantah Ayu, suaranya naik bergetar.
"Udahlah, Ayu. Malas aku bicara dengan orang yang terus-menerus memelihara ketakutannya sendiri," ucap Shaneen dengan nada suara yang teramat kecewa.
Wanita itu membalikkan badannya dengan cepat, melangkah lebar menuju pintu keluar. BRAAKK! Shaneen pergi begitu saja dengan membanting pintu ruangan kerja Ayu dengan keras.
Ayu tersentak di kursinya. Dadanya naik turun, tangannya bergetar hebat di atas meja. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah belasan tahun mereka berteman sejak masa abu-abu sekolah dulu, mereka berdua terlibat dalam pertengkaran dan perdebatan hebat hingga membanting pintu seperti ini. Selama ini, Shaneen adalah sosok yang paling ia manjakan dan membelanya, namun hari ini, batas kesabaran dokter militer itu tampaknya telah mencapai titik nadir.
Belum sempat Ayu menata kembali detak jantungnya yang berantakan pasca kepergian Shaneen, suara ketukan pintu kembali terdengar, kali ini dengan ritme yang jauh lebih formal dan tegas laksana ketukan khas prajurit lapangan.
TOK! TOK! TOK!
Pintu terbuka, menampilkan sosok Sersan Satu Johan yang berdiri tegap di ambang pintu dengan baret dan ban lengan provost atau ajudan yang terpasang rapi. Johan melakukan penghormatan militer dengan patah-patah sebelum melangkah masuk.
"Mohon izin, Kapten," ucap Johan, suaranya lantang namun tetap menjaga etika kedinasan. "Menyampaikan perintah langsung dari Komandan Pusdikmil. Jam sekarang juga, Anda diperintahkan untuk segera menghadap Komandan di ruang kerja Mako Atas. Perintah ini bersifat mutlak dan tidak bisa ditunda, Kapten."
Ayu terpaku di tempat duduknya. Perintah mutlak dari sang Kolonel di saat kondisinya sedang berantakan laksana benang kusut seperti ini adalah hal terakhir yang ia inginkan. Namun, di dalam ksatrian militer, perintah atasan adalah hukum tertinggi yang tidak mengenal kompromi emosional. Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Ayu meraih baretnya di atas meja, membetulkan letak kerah baju dinas PDH-nya, lalu berdiri tegap.
"Dimengerti, Sersan Johan. Saya segera menghadap," jawab Ayu datar, bersiap melangkah menuju ruang kerja sang komandan yang mungkin akan menjadi tempat eksekusi akhir dari seluruh dilema cintanya.