NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Sisa yang Tertinggal

...

Suara dentuman pintu lemari es yang ditutup kasar oleh Zidan masih menyisakan gema tipis di area dapur mewah itu. Zidan berdiri mematung memegangi botol air mineralnya, menatap nanar ke arah deretan botol jus yang berlabel tulisan tangan Pamela. Setiap huruf yang tertera di sana seolah menjelma menjadi duri-duri kecil yang tak kasat mata, menusuk tepat ke dalam rasa percaya diri dan keangkuhannya sebagai seorang pria narsis.

Dengan langkah kaki yang terasa lebih berat dari biasanya, Zidan berjalan meninggalkan dapur. Dia tidak sudi kembali ke ruang tengah di mana ibunya, Keysha, dan Karina masih sibuk dengan kekesalan mereka masing-masing. Pria itu memilih melangkah keluar melalui pintu samping yang terhubung langsung dengan pelataran taman belakang rumah.

Udara malam di luar terasa sedikit lebih segar, meskipun angin bertiup cukup kencang, menggoyang dedaunan pohon mangga di sudut halaman. Zidan berjalan mendekati sebuah kursi malas yang terletak di dekat kolam renang. Biasanya, di jam-jam seperti ini, area belakang rumah ini akan sangat sunyi karena semua pekerjaan luar sudah diselesaikan sejak sore.

Namun, saat matanya melirik ke arah sudut dekat tempat jemuran baju, Zidan melihat sebuah ember plastik besar berwarna biru tergeletak di sana. Di dalamnya, masih ada tumpukan pakaian yang belum sempat dijemur. Zidan melangkah mendekat, rasa penasarannya perlahan mengalahkan rasa tidak pedulinya.

Dia menunduk dan melihat isi ember tersebut. Di bagian paling atas, terdapat kemeja kerja sutra miliknya yang berwarna putih kemeja yang dia pakai dua hari lalu. Kemeja itu sudah dicuci bersih, menyebarkan aroma wangi detergen yang lembut bercampur pelembut pakaian lavender. Namun, kemeja itu masih basah kuyup, memeluk dinginnya malam karena tidak ada tangan gesit yang menggantungnya di bawah bilah bambu jemuran.

Di bawah kemeja Zidan, menyembul selembar kain katun tipis bermotif garis-garis biru kecil. Zidan meraba kain itu, lalu menariknya keluar dari ember. Itu adalah seragam sekolah milik Ryan. Kondisinya sama, sudah dikucek bersih hingga noda cokelat bekas cokelat di kerahnya hilang total, namun dibiarkan terendam air begitu saja di dasar ember.

Pamela pasti sedang mencuci semua pakaian ini kemarin malam, tepat sebelum Zidan pulang membawa Karina masuk lewat pintu depan. Perempuan itu pasti sedang berjongkok di atas lantai semen yang dingin, menyikat kerah kemeja suaminya dan seragam anaknya dengan sisa-sisa tenaga dari tubuhnya yang didiagnosis mengalami kelelahan kronis oleh dokter. Dia melakukan semua itu tanpa suara, menyiapkan segala kebutuhan keluarganya untuk esok hari, sebelum akhirnya kejutan pahit berupa kehadiran selingkuhan yang hamil memadamkan seluruh sisa waras di dalam jiwanya.

Zidan merasakan jemarinya yang memegang seragam basah Ryan perlahan bergetar. Hawa dingin dari kain yang basah itu seperti merambat naik ke atas lengannya, menembus kulit, dan langsung menusuk ulu hatinya yang paling dalam.

"Kenapa kamu harus pergi dengan cara kayak gini, Pam?" bisik Zidan lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Ada rasa kesal yang berbaur dengan kebingungan aneh yang belum pernah dia rasakan selama tiga puluh dua tahun hidupnya.

Ego narsisnya berteriak bahwa Pamela adalah pihak yang bersalah karena telah merusak keteraturan hidupnya. Namun, setiap sudut fisik di rumah ini seolah terus menerus membisikkan kenyataan bahwa Pamela adalah satu-satunya alasan mengapa rumah megah ini bisa disebut sebagai tempat tinggal, bukan sekadar bangunan semen yang mati dan angkuh.

Zidan melempar kembali seragam basah itu ke dalam ember dengan gerakan kasar. Dia membalikkan badan dan berjalan cepat kembali ke dalam rumah, menolak untuk menatap sisa-sisa pengorbanan Pamela yang tertinggal di halaman belakang.

...

Malam semakin larut, dan ketenangan yang dipaksakan di dalam rumah mewah itu akhirnya pecah saat jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Di kamar anak-anak, Ryan tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi dahi kecilnya.

Bocah laki-laki itu mendadak mendudukkan tubuhnya di atas kasur, matanya membelalak menatap kegelapan kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur mini di sudut ruangan. Ryan baru saja bermimpi buruk dia bermimpi dikejar oleh sosok bayangan hitam besar yang ingin merebut mainan robot kesukaannya, dan saat dia berteriak memanggil ibunya, ibunya hanya berdiri jauh di ujung jalan sambil melambaikan tangan dengan wajah sedih sebelum akhirnya menghilang ditelan kabut.

"Mama... Mama..." panggil Ryan dengan suara serak, air matanya langsung menetes perlahan membasahi pipinya yang tembam.

Dia menoleh ke arah tempat tidur di sebelahnya. Riana masih tertidur pulas dengan posisi meringkuk, memeluk boneka kelinci usangnya erat-erat, meskipun sisa-sisa air mata kering masih tercetak jelas di pipi adiknya akibat amukan Keysha sore tadi.

Ryan turun dari ranjangnya dengan perlahan, kaki kecilnya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang terasa sedingin es. Biasanya, jika dia terbangun karena mimpi buruk seperti ini, dia hanya perlu berteriak kecil, dan dalam hitungan detik, pintu kamarnya akan terbuka dengan pelan. Sosok manis Pamela akan melangkah masuk dengan daster hangatnya, langsung mendekap tubuh Ryan ke dalam pelukannya yang wangi minyak telon, sambil membisikkan kalimat-kalimat penenang hingga Ryan tertidur kembali.

Namun malam ini, suasana di luar kamarnya begitu sunyi dan gelap. Ryan berjalan mendekati pintu, membukanya dengan perlahan, lalu melangkah keluar ke koridor lantai dua. Langkah kaki kecilnya membawanya berjalan lurus menuju kamar utama kamar yang biasanya ditempati oleh Ayah dan Ibunya.

Ryan mendorong pintu kamar utama yang ternyata tidak dikunci rapat oleh Zidan. Kamar itu tampak temaram, hanya diterangi oleh lampu gantung utama yang diredupkan. Di atas ranjang besar, sosok Zidan terlihat sedang berbaring telentang dengan satu tangan menutupi matanya, tampak belum tertidur meskipun matanya terpejam.

"Mama... Ryan mau Mama..." cicit bocah lima tahun itu sambil berjalan mendekati tepi ranjang, tangan kecilnya meraih ujung sprei sutra milik Zidan.

Zidan tersentak kecil, lalu membuka matanya. Dia menorehkan pandangannya ke bawah dan mendapati anak laki-lakinya sedang berdiri gemetar dengan wajah yang basah oleh air mata dan keringat. Rasa dingin di wajah Zidan sedikit mencair saat melihat kondisi putranya yang tampak menyedihkan.

"Ryan? Kenapa belum tidur? Ini sudah malam," tanya Zidan, suaranya terdengar berat dan serak. Dia mendudukkan tubuhnya di tepi kasur.

"Ryan mimpi buruk, Papa... Ryan mau dipeluk Mama. Mama di mana? Kenapa Mama belum pulang dari kemarin?" tangis Ryan akhirnya pecah, dia memegangi lutut Zidan dengan erat, menumpahkan seluruh rasa takut dan rindu yang sejak pagi dia tahan karena takut dibentak oleh Nenek dan Tantenya.

Zidan terpaku. Pertanyaan polos dari anaknya yang berusia lima tahun itu terasa seperti hantaman godam yang tepat mengenai ulu hatinya. Bagaimana dia harus menjawabnya? Apakah dia harus mengatakan bahwa Ibunya pergi karena Ayahnya membawa wanita lain yang sedang hamil ke rumah ini? Ataukah dia harus mengatakan bahwa Ibunya sudah menyerah menghadapi perlakuan kejam dari seluruh isi rumah ini?

Zidan menarik tubuh kecil Ryan ke atas kasur, mencoba memeluk anaknya itu dengan canggung. Selama lima tahun ini, Zidan tidak pernah benar-benar memeluk atau mengurus anak-anaknya secara fisik. Dia selalu menganggap tugas merawat anak adalah urusan penuh Pamela, sementara tugasnya hanyalah mencari uang dan memastikan anak-anaknya mendapatkan fasilitas terbaik. Pelukan Zidan terasa kaku, keras, dan tidak memiliki kehangatan alami yang biasa Ryan dapatkan dari Pamela.

"Mama... Mama sedang pergi sebentar, Ryan. Ada urusan. Sudah, sekarang tidur sama Papa di sini ya," ucap Zidan, mencoba menenangkan anaknya dengan kebohongan kecil, suaranya terdengar kaku di telinganya sendiri.

Ryan tidak berhenti menangis, meskipun dia berada di dalam dekapan ayahnya yang kaya dan tampan. Tubuh ayahnya tidak sewangi daster Pamela, pelukan ayahnya tidak selembut usapan tangan Pamela yang kasar namun penuh kasih sayang. Bocah kecil itu meringkuk di samping Zidan dengan dada yang masih sesenggukan, menyadari dengan cara yang sangat perih bahwa kemewahan kamar utama ini sama sekali tidak bisa menggantikan hilangnya satu-satunya pelindung sejati dalam hidupnya.

Zidan menatap rambut anaknya yang kusut, lalu pandangannya beralih menatap langit-langit kamar yang tinggi. Rasa bersalah yang samar, yang sejak kemarin malam coba dia tekan dengan keangkuhannya, malam ini mulai merembes keluar dari celah-celah hatinya yang retak.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!