Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08• Sentuhan Kecil
Pagi pertama mereka sebagai suami istri pecah tanpa suara.
Arkan berpamitan kerja pukul setengah delapan. Kemejanya rapi, dasinya lurus. Ia mampir ke dapur, menunduk, dan menempelkan ciuman singkat di pipi Naya. Hangatnya masih tertinggal ketika langkah Arkan menjauh menuju garasi.
Di belakang Naya, Bara melintas. Ia menoleh sekilas ke arah Naya. Tatapannya bukan sapaan. Lebih seperti serpihan kaca yang lewat cepat, dingin, dan melukai tanpa darah.
Beberapa jam kemudian, suara Ibu Desy memecah kesunyian rumah.
“Naya, turun. Bantu Bibi membuat kue untuk Bara. Sore nanti ia kembali ke luar kota.”
Naya menurut. Di dapur, aroma mentega dan gula meleleh di udara panas. Tangannya mengaduk adonan, sementara pikirannya terjerat pada tatapan Bara pagi tadi. Kue itu matang, mengembang sempurna, berwarna kuning lembut seperti matahari yang tidak pernah menyinari sudut rumah itu.
Ibu Desy pergi setelahnya. Katanya, ada pertemuan dengan teman-teman sosialitanya. Ia meninggalkan rumah dengan wangi parfum mahal dan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
Lalu beberapa jam kemudian tamu itu datang.
“Naya, kenalin. Ini Jeslyn,” ujar Ibu Desy, menggandeng seorang gadis berbalut gaun biru muda. “Calon istri Bara.”
Jeslyn tersenyum manis, mengulurkan tangan. “Halo, Mbak Naya.”
Naya membalasnya. Tapi jantungnya merosot. Kata calon istri itu jatuh di telinganya seperti batu ke dasar sumur.
Bara turun beberapa menit kemudian. Ia duduk di sofa, bersebelahan dengan Jeslyn. Tapi jarak di antara mereka selebar samudra. Jeslyn mencoba berbicara, suaranya riang, seperti burung yang tidak sadar sangkarnya terkunci. Bara tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar ponselnya. Jarinya bergerak tanpa henti, seolah dunia di genggamannya lebih nyata daripada gadis di sampingnya.
“Nay, buatkan teh untuk tamu,” perintah Ibu Desy dari dapur.
Naya berjalan ke pantry. Air mendidih, uapnya mengepul seperti napas yang tertahan. Ia membawa nampan berisi dua cangkir teh melati, langkahnya pelan menuju ruang tamu.
Saat ia menaruh cangkir di hadapan Jeslyn, ia merasakan tatapan itu.
Bara mengangkat wajahnya dari ponsel. Matanya menabrak Naya. Bukan ke wajahnya. Ke tangannya yang merapikan tatakan. Ke gerakannya yang menunduk, melayani.
Dalam tatapan itu, Naya bukan menantu. Naya bukan Naya.
Ia hanya pelayan di rumahnya sendiri.
Dan teh yang baru saja dituang terasa pahit, jauh sebelum menyentuh bibir siapa pun.
Udara di ruang tamu terlalu ringan untuk menampung diam yang berat.
Jeslyn menggenggam cangkir teh itu dengan kedua tangan, seolah mencari kehangatan yang tak ia temukan dari lelaki di sampingnya. Senyumnya masih terpasang, tapi matanya mulai nakal, mengembara dari Bara ke Naya, lalu kembali lagi.
“Mbak Naya udah lama tinggal di sini?” tanyanya, suaranya manis seperti gula yang ditabur di atas luka.
“Baru dua hari,” jawab Naya pelan. Ia berdiri sedikit di belakang sofa, seperti bayangan yang tak diundang duduk.
“Oh,” Jeslyn mengangguk. Lalu ia menoleh ke Bara. “Bar, kamu kok nggak pernah cerita kalau kamu punya kakak ipar secantik Mbak Naya?”
Satu kalimat. Satu jarum.
Bara tidak menjawab. Jempolnya masih bergerak di layar ponsel, cepat dan kosong. Tapi rahangnya mengeras. Nadi di pelipisnya berdetak sekali, keras, seperti peringatan.
Ibu Desy tertawa kecil dari dapur, lalu berjalan mendekat kearah ruang tamu.
“Ya ampun Jes, Bara itu cuek. Nggak pernah cerita apa-apa. Makanya kamu harus sering main ke sini, biar kenal semua.”
Jeslyn mengangguk, tapi matanya tidak lepas dari Naya.
“Pasti seru ya, Mbak, jadi istri sulung di rumah ini. Ngurus semua orang.”
Kata ngurus itu melayang di udara, menggantung seperti asap rokok. Bukan pujian. Lebih seperti cap.
Naya menunduk. Jari-jarinya meremas ujung apronnya. Ia ingin bilang bahwa ia bukan pembantu. Ia ingin bilang bahwa ia juga punya nama, punya luka, punya masa lalu yang pernah bersinggungan dengan lelaki yang sekarang pura-pura buta di depannya.
Tapi ia diam.
Karena di sudut matanya, ia melihat Bara akhirnya mengangkat wajah. Bukan ke Jeslyn. Bukan ke ibunya.
Ke Naya.
Sekilas. Tajam. Seperti pisau yang dilempar tanpa aba-aba.
Lalu Bara berdiri.
“Aku ke kamar,” katanya datar. Tanpa pamit ke Jeslyn. Tanpa lirik ke ibunya.
Langkahnya menjauh, meninggalkan ruang tamu yang tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Jeslyn masih tersenyum. Tapi senyum itu kini retak di tengah, seperti cangkir teh yang hampir pecah.
Dan Naya masih berdiri di tempatnya. Menjadi patung di tengah rumah yang bukan miliknya.
......................
Sore merayap masuk lewat celah pintu, membawa bayangan panjang di lantai marmer.
Naya merapikan kue bolu pandan ke dalam kotak putih. Tangannya hati-hati, seperti sedang mengubur sesuatu yang belum sempat mekar. Wangi pandan masih melekat di ujung jarinya, bercampur dengan getir yang tak bisa ia cuci.
Bara sudah berdiri di ambang pintu. Ransel besar tergantung di punggungnya, menggantungkan berat yang bukan hanya miliknya. Arkan belum pulang. Rumah itu terasa kosong, meski Ibu Desy dan Jeslyn masih ada di ruang tengah.
“Bar,” panggil Naya pelan. Ia mengulurkan kotak kue itu.
Bara menoleh. Tatapan mereka bertabrakan satu detik. Terlalu singkat untuk disebut pertemuan, terlalu lama untuk disebut kebetulan. Di mata Naya ada tanya yang belum berani keluar. Di mata Bara, ada tembok yang sudah terlanjur tinggi.
Saat Bara meraih kotak itu, jari mereka bersentuhan. Sekilas. Dingin. Naya refleks menarik tangannya karena kaget. Sentuhan itu asing, canggung, seperti bersenggolan dengan orang yang seharusnya tak perlu ia dekati.
Bara juga langsung menarik tangannya, cepat, seolah sama-sama salah. Ia menggenggam kotak itu erat, tanpa menatap Naya lagi.
“Terima kasih,” gumamnya. Suaranya datar, seperti jalan tol di tengah malam.
Ia lalu berbalik, melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman. Ransel besar masih tergantung di punggungnya.
Jeslyn buru-buru menyusul. Sebelum Bara masuk ke mobil, ia meraih tangan Bara. Genggamannya lembut, penuh harap.
“Bar, hati-hati di jalan ya,” katanya pelan.
Tapi Bara langsung menarik tangannya. Gerakannya kaku, cepat, seperti orang yang tersentuh api. Ia bahkan tidak menoleh ke Jeslyn. Wajahnya datar, rahangnya mengeras.
Naya yang masih berdiri di ambang pintu melihat semuanya. Dadanya mengerut. Aneh. Bukankah Jeslyn calon istrinya? Bukankah seharusnya genggaman itu disambut, bukan ditolak seperti penyakit?
Tapi Bara hanya membuka pintu mobil, melempar kotak kue ke kursi penumpang, lalu masuk tanpa sepatah kata.
Mesin menyala. Mobil melaju perlahan, meninggalkan halaman, meninggalkan Jeslyn yang masih membeku dengan tangan terulur di udara.
Naya mengepalkan tangannya yang tadi bersentuhan dengan Bara, bukan untuk menyimpan, tapi untuk membuang rasa canggung itu. Kotaknya sudah berpindah tangan, tapi hawa aneh masih menggantung di antara mereka.
Di belakangnya, Ibu Desy masih tersenyum. Tapi Naya hanya bisa menatap punggung mobil Bara yang semakin kecil, ditelan senja.
Seolah pamitan itu bukan cuma ke luar kota.
Seolah ada sesuatu yang ikut pergi, dan tak akan kembali.