NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Raka memandang kedua telapak tangannya.

Ia teringat tadi malam.

Saat Bram dan anak buahnya berlutut.

Saat ia menyuruh Bram bicara, tapi mulut pria itu terkunci.

Saat Jaya pergi dari warung Pak Harun hanya karena satu kata darinya.

Semua itu bukan jurus yang ia pelajari.

Bukan teknik.

Bukan mantra.

Itu keluar begitu saja.

Karena saat itu, ia menginginkannya.

Raka menarik napas berat.

“Kalau aku kehilangan kendali?”

Sistem diam.

Heningnya terlalu lama.

Raka menatap cermin. “Jawab.”

[Jika Tuan kehilangan kendali sepenuhnya, Pontianak tidak akan mampu menanggungnya.]

Dada Raka terasa dingin.

Di luar, suara kota terus berjalan seperti biasa. Orang-orang tertawa. Motor lewat. Pedagang menawarkan dagangan. Hidup bergerak tanpa tahu bahwa di kamar sempit itu, seorang pemuda baru saja diberi tahu bahwa kemarahannya bisa menjadi bencana.

Raka menunduk.

“Aku tidak mau menghancurkan kota ini.”

[Itu sebabnya sistem membimbing Tuan.]

“Dan kalau aku tidak mau jadi Dewa Absolut?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Suara sistem tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, Raka merasakan sesuatu dari keheningan sistem.

Bukan marah.

Bukan tersinggung.

Seperti luka lama yang tersentuh.

[Ada hal-hal yang tetap menjadi milik Tuan meski Tuan menolaknya.]

[Nama.]

[Takhta.]

[Pengkhianatan.]

[Dan darah yang sudah terbangun.]

Raka memejamkan mata.

Ia tidak meminta semua ini.

Ia hanya ingin hidupnya sedikit lebih tenang. Ia ingin bisa bekerja tanpa dihina. Ia ingin punya tempat pulang yang tidak terasa seperti lubang kecil di ujung dunia. Ia ingin membantu orang seperti Bu Lestari dan Pak Harun tanpa harus dihajar sampai hampir mati.

Tapi sekarang, kehidupannya justru berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Dewa.

Takhta.

Pedang Penghakiman.

Dunia Immortal.

Semuanya terdengar terlalu besar untuk seseorang yang bahkan sering menghitung uang sebelum makan.

Perut Raka tiba-tiba berbunyi pelan.

Ia membuka mata.

Sistem diam.

Raka menatap cermin dengan ekspresi datar.

“Jangan komentar.”

[Aku tidak berniat.]

Entah kenapa, jawaban itu membuat Raka hampir tertawa kecil. Hampir. Tapi ia menahannya.

Ia berdiri, mengambil jaket hitam yang tergantung di paku dinding, lalu memakainya. Meski tubuhnya sudah pulih, pakaiannya dari semalam masih kotor. Ia mengganti kaos, mencuci wajah, lalu keluar dari kamar kontrakan.

Di gang sempit, suasana pagi Pontianak terasa ramai.

Seorang ibu menyapu halaman. Anak kecil berlari membawa kantong plastik berisi sarapan. Seorang bapak memperbaiki motor di depan rumah. Di ujung gang, pedagang sayur mendorong gerobaknya sambil memanggil pelanggan.

Raka berjalan melewati mereka.

Beberapa orang menoleh.

Biasanya mereka hanya melihatnya sekilas, lalu mengabaikannya. Tapi hari ini, ada yang berbeda. Raka tidak tahu apakah karena cara berjalannya berubah, atau karena aura di tubuhnya membuat orang tanpa sadar merasa segan.

Seorang pria yang biasanya suka menyindirnya dari depan warung kecil tiba-tiba diam saat Raka lewat.

Raka melirik sebentar.

Pria itu langsung menunduk pura-pura melihat ponsel.

Raka terus berjalan.

Di matanya, aura orang-orang terlihat samar. Putih, abu-abu, kuning redup, merah gelap. Ia belum sepenuhnya mengerti arti masing-masing warna, tapi ia mulai bisa merasakan perbedaannya.

Aura putih terasa tenang.

Abu-abu terasa biasa.

Merah gelap terasa tidak nyaman.

Seolah ada duri kecil yang menyentuh mata batinnya.

Sistem berbicara.

[Mata Dewa akan semakin jelas seiring penyesuaian tubuh.]

[Untuk saat ini, Tuan hanya melihat lapisan awal.]

“Lapisan awal saja sudah membuat kepalaku berat,” gumam Raka.

[Karena Tuan mencoba memahami semua hal sekaligus.]

“Memang harus bagaimana?”

[Abaikan yang tidak penting.]

Raka tertawa pelan tanpa suara.

“Mudah sekali bicaramu.”

[Tentu.]

Raka menggeleng kecil.

Ia berjalan menuju pasar. Bukan pasar besar yang rapi, melainkan area ramai tempat pedagang kecil membuka lapak sejak pagi. Di sana, orang-orang menjual sayur, ikan, makanan, pakaian murah, dan berbagai kebutuhan harian. Suara tawar-menawar bercampur dengan aroma ikan segar, bumbu dapur, gorengan, dan asap kendaraan.

Biasanya Raka datang ke sana untuk mencari pekerjaan angkut barang atau membantu pedagang yang butuh tenaga.

Namun hari ini, sebelum ia sampai di tengah pasar, suara keributan sudah terdengar.

“Bu, jangan pura-pura tidak punya uang. Setoran tetap setoran.”

Raka berhenti.

Suara itu datang dari sisi pasar yang agak sempit, dekat deretan pedagang kecil.

Ia mengenal suara kasar itu.

Anak buah Bram.

Raka melangkah mendekat.

Di antara kerumunan yang menyingkir, ia melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan lapak kecil berisi sayuran dan bumbu dapur. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam kain lusuh, sementara dua lelaki berdiri di depannya dengan wajah galak.

Wanita itu adalah Bu Lestari.

Beberapa hari lalu, Raka melihatnya diperas. Malam itu ia mencoba membantu, dan akhirnya dihajar sampai hampir mati.

Ternyata masalah itu belum selesai.

Salah satu preman mendorong keranjang sayur dengan kakinya.

“Kalau tidak sanggup bayar, lapaknya kami angkut.”

Bu Lestari menahan tangis.

“Saya baru buka, Bang. Dagangan belum laku. Kasih waktu sampai sore.”

Preman itu tertawa.

“Kami bukan koperasi.”

Orang-orang di sekitar hanya melihat.

Ada yang kasihan.

Ada yang marah.

Tapi tidak ada yang berani maju.

Karena semua orang tahu, di belakang orang-orang ini ada Bram. Dan di belakang Bram, ada nama yang lebih besar lagi.

Mahendra.

Raka berdiri di tepi kerumunan.

Tangannya mengepal pelan.

Sistem berkata dalam jiwanya.

[Emosi Tuan meningkat.]

Raka menatap Bu Lestari.

Ia ingat wanita itu pernah memberinya sebungkus nasi saat ia belum makan seharian. Bu Lestari tidak banyak bertanya waktu itu. Ia hanya berkata, “Makan dulu, Ka. Orang lapar jangan dipaksa kuat.”

Kalimat sederhana.

Tapi bagi Raka, hal seperti itu tidak mudah dilupakan.

Preman di depan Bu Lestari mengangkat tangan, hendak menamparnya.

Sebelum tangan itu turun, Raka sudah bergerak.

Tidak cepat seperti kilat.

Tidak dramatis.

Hanya satu langkah maju.

Namun ketika kakinya menyentuh tanah, udara di sekitar lapak berubah berat.

Tangan preman itu berhenti di udara.

Bukan karena ada yang menahannya.

Tapi karena tubuhnya tiba-tiba tidak bisa bergerak.

Kerumunan langsung hening.

Preman itu mengerutkan kening, mencoba menggerakkan tangan.

“Apa-apaan ini?”

Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Turunkan tanganmu.”

Suaranya tenang.

Tidak keras.

Namun preman itu langsung menurunkan tangannya.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!