Karena suatu kesalahan, Anastasia Lambert terpaksa menikah dengan Paman angkatnya, Henry Theodor, di usianya yang masih delapan belas tahun.
Semua bermula karena kebaikan dan perhatian Paman angkatnya, membuat Anastasia, yatim piatu yang diadopsi Henry, diam-diam jatuh cinta pada Henry, hingga hubungan mereka yang tadinya baik-baik saja menjadi dingin.
Dan, sampai datangnya orang ke tiga dalam kehidupan mereka, membuat hubungan mereka menjadi sangat jauh, seperti jarak antara terbitnya matahari dari timur, hingga matahari terbenam di barat.
Saat Anastasia menyadari telah salah mencintai Paman angkatnya, dan membuka hati untuk mengenal pria lain, sikap Henry tiba-tiba berubah menjadi hangat padanya.
Apakah hubungan mereka yang tadinya baik-baik saja, akan kembali seperti dulu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 8.
Pagi hari.
Seperti apa yang dikatakan Henry, sarapan Anastasia di urus Butler sendiri tanpa bantuan Henry sama sekali.
Anastasia duduk dengan patuh menatap sarapan, yang di letakkan Butler di hadapannya, lalu menikmatinya dalam diam juga tanpa bersuara.
"Bagaimana rasanya, Nona? apakah pas dilidah, Nona?" tanya Butler melihat Anastasia makan dalam diam.
"Iya, pas!" jawab Anastasia.
"Silahkan, Tuan!" Butler menarik kursi Henry, begitu Henry masuk ke ruang makan.
Setelah Henry duduk, Butler menuangkan susu hangat ke dalam gelas Henry.
Henry melirik Anastasia yang sedang sarapan dalam diam, tanpa mengangkat wajahnya untuk melihat ke arahnya.
"Selesai kuliah, jangan pergi kemanapun dengan teman tidak bergunamu, dan membuat masalah diluaran sana, yang bisa membuat aku malu, dan berdampak pada perusahaan!!" suara dingin Henry terdengar datar tanpa emosi memberi peringatan pada Anastasia.
Anastasia yang sedang sarapan diam tidak menanggapi apa yang dikatakan Henry.
Brak!!
Henry memukul permukaan, "Anastasia! dengar tidak?!!"
Anastasia tersentak ditempatnya, "Iya, dengar!" jawab Anastasia.
"Kamu jadi keras kepala karena terlalu dimanjakan! kamu sepertinya harus belajar mandiri, supaya tidak terlalu manja!!"
Nada dingin Henry membuat Anastasia menggenggam erat sendok yang ia pegang, lalu dengan pelan meletakkan sendok ke atas piring, tanpa menimbulkan suara sama sekali.
"Butler, aku sudah selesai!"
"Oh!"
Butler membantu Anastasia menarik kursi, agar memudahkan Anastasia bangkit berdiri dari duduknya.
"Paman, aku pergi dulu!" kata Anastasia dengan suara pelan, lalu melangkah meninggalkan ruang makan.
Aura dingin yang dapat Anastasia rasakan dari Henry, mungkin karena pengakuan perasaan sukanya pada Henry, membuat Henry masih marah padanya.
Henry tidak menjawab Anastasia.
Ia fokus melihat ponselnya, sampai Anastasia keluar dari ruang makan.
"Silahkan, Nona!" Arthur membuka pintu mobil untuk Anastasia.
"Terimakasih, Arthur!"
Anastasia masuk ke dalam mobil, dan kembali diam seperti sejak ia bangun pagi tadi.
Ia merasa sangat asing dengan suasana kediaman Theodor, sejak ia mengungkapkan perasaannya pada Henry.
"Nona, sudah sampai!"
"Oh, iya!" Anastasia tersadar dari lamunannya.
Ia melihat keluar mobil, memang benar ia telah sampai di kampusnya.
"Terimakasih, Arthur!" ucap Anastasia seperti biasanya, lalu turun dari dalam mobil.
Selama mengikuti mata kuliah, Anastasia tidak fokus mengikuti penjelasan dari Dosen.
Ia memikirkan sikap Henry, yang begitu marah mendengar pengakuan cintanya, dan membuat hubungan mereka menjadi dingin.
Kuliahnya ia ikuti begitu saja, tanpa ia simak sedikit pun apa yang dijelaskan Dosen di depan kelas.
Pulang kuliah, kembali Arthur yang menjemputnya tanpa adanya pesan dari Henry untuknya seperti biasanya.
"Nona, kamu sudah pulang?" Orpa menyambut Anastasia di pintu utama Mansion.
Ia kemudian mengambil alih tas Anastasia.
"Tuan Henry sudah menunggu Nona di ruang makan, untuk makan siang bersama!" kata Orpa lagi memberitahu Anastasia.
"Oh, iya! baik!" jawab Anastasia.
Kaki Anastasia seketika berhenti, saat ia akan mendekati meja makan.
Ia melihat wanita dewasa, dengan penampilan modis dan cantik, duduk di samping kursi Henry sedang mengobrol bersama Henry.
Mereka terlihat begitu akrab, sama seperti saat ia biasanya mengobrol dengan Henry.
"Kamu sudah pulang? duduklah di tempatmu!" sahut Henry melihat Anastasia melangkah ke meja makan.
"Siapa dia, Henry?" tanya wanita cantik itu dengan suara merdu memandang ke arah Anastasia.
"Dia keponakanku, sudah kuanggap seperti putriku sendiri!" jawab Henry, "Namanya Anastasia Lambert!"
"Oh, hai.. Anastasia!" sapa wanita cantik itu.
"Hai.. !" jawab Anastasia dengan suara sedikit tercekat.
"Namanya Ivana Marius, calon Bibimu!" kata Henry memperkenalkan wanita cantik itu.
Deg!
Jantung Anastasia serasa ditusuk oleh sebilah belati yang sangat tajam, rasanya begitu nyeri sampai ke ulu hatinya mendengar apa yang dikatakan Henry.
Bersambung.......
lma2 up thor tk inak menunggu n klau up yg buanyk n hrs tiap hri
nie malah berbeilit²🙄🙄🙄🙄
kalo ragu, untuk apa minta ketemuan sama henry🙄🙄🙄