Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C008: Festival Bunga & Kebun
...Selamat Baca...
Pukul 08.30 WAZ pagi, tanggal 30 Maret
Musim semi menyapa Kota Adelia dengan penuh semangat—udara segar bercampur aroma bunga mawar dan melati yang menghiasi setiap sudut jalan raya menuju Mall Central Adelia.
Ethan mengenakan kaos polos warna biru tua, celana jeans, dan jaket kulit tipis berwarna coklat—pakaian kasual yang membuatnya terlihat lebih dekat dengan anak muda.
Bersamanya, tiga trainee juga mengenakan pakaian nyaman namun tetap rapi: Evan dengan kaos olahraga dan celana panjang hitam, Felix dengan kemeja lengan pendek bergaris dan celana chino coklat muda, serta Adrian dengan kaos bergambar dan celana jeans.
“Lihat, banyak orang yang datang!” ujar Adrian dengan mata yang bersinar melihat keramaian di depan mall.
Gedung Mall Central Adelia berdiri megah dengan struktur arsitektur modern bertema alam—dinding kaca besar yang memantulkan sinar matahari musim semi, dan bagian depan dihiasi dengan reruntuhan bunga warna-warni yang menjadi bagian dari Festival Bunga.
Tulisan besar “FESTIVAL BUNGA AURELIA” terpampang di atas gerbang utama, disertai dengan dekorasi bentuk kupu-kupu dan burung yang terbuat dari bahan ramah lingkungan.
Mereka memasuki mall melalui gerbang utama, di mana lantai 1 sudah dipenuhi dengan kios-kios penjual bunga, makanan khas musim semi, dan booth permainan ringan untuk anak-anak.
Musik instrumental yang lembut mengalir dari speaker tersembunyi, namun suara itu perlahan tergeser oleh irama musik yang semakin jelas dari arah lift dan eskalator.
Samar-samar terdengar irama elektronik dan iringan tari yang khas dari acara tantangan di lantai atas.
“Acara tantangan ada di lantai 5,” jelas Ethan sambil melihat peta mall yang terpampang di dinding.
“Mall ini punya 10 lantai—lantai 1 sampai 4 untuk pusat perbelanjaan, lantai 5 untuk acara dan ruang pertemuan, lantai 6 sampai 8 untuk restoran dan bioskop, sedangkan lantai 9 dan 10 adalah area kantor dan pusat pengelolaan.”
Mereka naik eskalator yang melintas melewati setiap lantai, dengan jumlah orang yang semakin banyak saat mendekati lantai 5.
Di lantai 5, sebuah area terbuka seluas ratusan meter persegi sudah diubah menjadi panggung tari dengan lantai kayu khusus yang berkilau, dikelilingi oleh kursi penonton yang hampir penuh.
Banner besar bertuliskan “TANTANGAN TARI & VOKAL FESTIVAL BUNGA—GRAND PRIZE 50 JUTA AURELIA” terpampang di belakang panggung.
Suasana ramai dan penuh semangat—penonton berteriak mendukung peserta mereka, sementara beberapa peserta lain sedang melakukan pemanasan di sisi panggung.
Ethan dan para trainee memilih tempat duduk di barisan keempat agar bisa melihat dengan jelas setiap gerakan peserta.
Pukul 09.45 WAZ pagi
Suara MC yang energik memenuhi ruangan. “Selanjutnya, mari kita sambut peserta ke-17 yang akan menari dengan koreografi dari grup idol ternama AURORA WINGS."
"Dengan lagu berjudul ‘SKY DIVE’ yang dikenal dengan gerakan kompleks dan kecepatan tinggi!”
Seorang pemuda berusia 17 tahun maju ke tengah panggung dengan langkah yang mantap.
Rambut hitam pekat yang dipotong rapi dengan bagian atas sedikit berdamping, mata warna coklat tua yang terlihat tajam namun lembut, wajah simetris dengan dagu yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol.
Dia mengenakan jaket olahraga hitam dengan aksen warna emas, celana panjang ketat, dan sepatu tari khusus yang membuat gerakannya terlihat lebih ringan.
Saat musik mulai mengalir, dia langsung menunjukkan kemampuannya—gerakan tubuhnya luwes seperti air, mampu menyesuaikan setiap irama musik dengan presisi yang luar biasa.
Bagian koreografi yang membutuhkan loncatan tinggi dan putaran cepat dilakukan dengan mudah, bahkan bagian yang dikenal sulit yaitu serangkaian gerakan kaki yang saling bersilangan dengan kecepatan tinggi dia lakukan tanpa sedikit pun kesalahan.
Penonton terkejut dan memberikan tepuk tangan yang meriah setiap kali dia menyelesaikan bagian sulit.
Evan mengerutkan kening dengan kagum, “Gerakannya sangat presisi Kak Ethan—dia bahkan bisa menambahkan variasi kecil yang membuat koreografi lebih menarik.”
Felix mengangguk sambil mencatat beberapa hal di buku catatannya, “Saya rasa dia sudah memiliki dasar tari yang sangat kuat."
"Jika dia bergabung, akan sangat membantu dalam pembuatan koreografi grup kita.”
Setelah musik berakhir, pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dengan sikap yang sopan dan kembali ke belakang panggung.
Setelah beberapa peserta lain tampil, MC kembali naik ke panggung dengan senyum lebar.
“Dan pemenang tantangan tari hari ini adalah—peserta ke-17, Lucas Elves!”
Suara sorak dan tepuk tangan memenuhi ruangan saat Lucas maju ke depan untuk menerima piala dan amplop hadiah uang sebesar 50 juta Aurelia.
Wajahnya menunjukkan senyum yang sederhana namun tulus, meskipun secara umum dia terkesan dingin dan fokus.
Setelah acara berakhir dan kerumunan mulai menyebar, Ethan mendekati Lucas yang sedang berbicara dengan salah satu panitia acara.
“Halo, saya Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment,” ujar Ethan dengan senyum ramah saat Lucas menoleh padanya.
“Saya sangat terkesan dengan tarianmu tadi—gerakan yang presisi dan ekspresi yang mampu menyampaikan makna lagu dengan jelas. Kamu memiliki bakat luar biasa untuk industri hiburan.”
Lucas segera berdiri dengan sopan dan memberikan jempol untuk bersalaman. “Terima kasih banyak, Pak Ethan,” jawabnya dengan suara yang tenang namun penuh rasa hormat.
Walaupun wajahnya terkesan dingin, tatapannya jelas dan menunjukkan bahwa dia sungguh menghargai pujian yang diberikan.
"Bolehkan saya mengetahui siapa namamu dan usiamu, serta bagaimana kamu menguasai tarian sulit itu." tanya Ethan sopan agar tidak menyinggung, Lucas mengangguk, dan memperkenalkan dirinya.
“Nama saya Lucas Elves, usia saya 17 tahun. Saya memang suka menari dan sudah belajar tari sejak saya berusia 8 tahun.”
“Itu bagus, Lucas, jika boleh saya ingin menawarkan sesuatu.” lanjut Ethan dengan tatapan yang penuh harapan.
“Perusahaan saya sedang membangun grup idol baru yang akan terdiri dari 5 orang berbakat."
"Bakat tari kamu sangat sesuai dengan visi yang kami miliki. Apakah kamu berminat untuk bergabung sebagai trainee dan mengembangkan bakat kamu lebih jauh bersama kami?”
Lucas terdiam sebentar, matanya melihat ke arah amplop hadiah di tangannya, kemudian kembali melihat ke arah Ethan dan para trainee yang berdiri di belakangnya.
Setelah terdiam sebentar, Lucas mengangkat wajahnya dengan tatapan yang lebih jelas. “Saya sangat menghargai tawaran Anda, Pak Ethan,” ujarnya dengan sopan.
“Bakat saya memang saya kembangkan dengan susah payah, dan menjadi idol adalah salah satu impian saya."
"Namun saya perlu sedikit waktu untuk mempertimbangkannya dan membicarakannya dengan keluarga saya terlebih dahulu.”
“Tentu saja, tidak ada tekanan sama sekali,” jawab Ethan dengan senyum hangat sambil memberikan kartu nama putih dengan logo Lucifer Entertainment yang sudah dihiasi dengan gambar bunga mawar kecil.
“Ini kartu nama saya—silakan hubungi saya kapan saja setelah Anda memutuskan. Kami akan sangat senang jika Anda mau bergabung dengan kami.”
Lucas menerima kartu nama dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam kantong jaketnya. “Terima kasih banyak, Pak Ethan. Saya akan menghubungi Anda dalam waktu maksimal tiga hari kedepan.”
Setelah itu, mereka saling berpisah dengan senyum. Ethan kembali bergabung dengan Evan, Felix, dan Adrian yang sudah tidak sabar untuk berbagi pendapat tentang tarian Lucas.
“Gerakannya benar-benar luar biasa Kak,” ujar Evan dengan mata yang bersinar. “Jika dia bergabung, kita bisa belajar banyak dari dia.”
“Ya benar,” tambah Adrian. “Variasi gerakan yang dia tambahkan membuat koreografi yang sudah sulit jadi lebih menarik lagi.”
Mereka berempat mulai berjalan-jalan menikmati suasana Festival Bunga di dalam mall.
Dari lantai 1 hingga 4, setiap sudut dipenuhi dengan dekorasi bunga yang indah—bunga matahari di area anak-anak, bunga anggrek di kios aksesoris, dan bahkan langit-langit lantai 3 dihiasi dengan ribuan bunga lavender yang membuat udara terasa segar dan wangi.
Dengan uang yang mereka miliki, mereka membeli beberapa barang kecil sebagai kenang-kenang: Evan membeli topi olahraga dengan aksen bunga.
Felix membeli buku tentang komposisi musik yang ditemukan di kios buku kecil, Adrian membeli pernak-pernik kecil untuk adik perempuannya, dan Ethan membeli beberapa bibit bunga untuk ditanam di halaman perusahaan.
Pukul 12.30 WAZ siang
Mereka keluar dari mall dan menemukan bahwa keramaian Kota Adelia semakin meriah—jalan raya di sekitar mall dihiasi dengan reruntuhan bunga.
Gerobak makanan khas musim semi berjajar rapi, dan banyak keluarga yang sedang berjalan-jalan menikmati suasana festival.
Di kejauhan, terlihat atraksi udara dengan balon udara berbentuk berbagai jenis bunga yang melayang di langit biru musim semi.
“Ada restoran taman yang saya tahu tidak jauh dari sini,” ujar Ethan sambil menunjukkan arah jalan yang lebih tenang.
“Namanya Restoran Melati Garden—tempatnya penuh dengan tanaman dan bunga, sangat cocok untuk makan siang sambil menikmati suasana festival.”
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka tiba di restoran yang memang benar-benar seperti taman—kebun kecil di depan dipenuhi dengan berbagai jenis melati berwarna putih, merah muda, dan kuning.
Dengan jalan setapak yang mengantar mereka ke dalam area makan yang terlindungi oleh atap transparan agar bisa menikmati sinar matahari namun tidak terlalu panas.
Mereka memilih meja di sudut yang menghadap kebun bunga. Makan siang mereka cukup sederhana namun lezat—nasi dengan lauk khas Aurelia yang diberi hiasan bunga comestible di atas piring, serta jus buah segar dari buah-buahan musim semi.
Sambil makan, mereka bercerita dan tertawa bersama, merasakan kedekatan yang semakin tumbuh sebagai tim.
Pukul 14.30 WAZ siang
Setelah makan siang, mereka berjalan menuju lokasi pameran perkebunan yang terletak di lapangan terbuka dekat alun-alun kota.
Tempat tersebut dipenuhi dengan stan-stan dari berbagai perkebunan bunga di seluruh Aurelia—mulai dari perkebunan mawar di daerah utara hingga perkebunan anggrek dari daerah selatan.
Mereka melihat berbagai jenis bunga langka yang jarang ditemukan, termasuk bunga “Matahari Malam” yang hanya mekar pada malam hari dan memiliki warna keemasan yang cantik.
Ethan bahkan berbicara dengan salah satu pemilik perkebunan untuk memesan beberapa tanaman bunga langka untuk menghiasi ruang latihan dan kantor perusahaan.
“Bunga bisa memberikan suasana yang lebih positif dan kreatif,” jelas Ethan kepada para trainee.
“Saya ingin perusahaan kita bukan hanya tempat untuk berlatih, tapi juga tempat yang nyaman dan penuh inspirasi.”
Selama berjalan-jalan di pameran, mereka bertemu dengan banyak orang yang antusias berbicara tentang bunga dan seni tanam.
Felix bahkan menemukan sebuah buku tentang makna simbolis bunga di Aurelia yang dia beli untuk menginspirasi dirinya dalam menulis lirik lagu.
Pukul 17.00 WAZ sore hari
Sinar matahari mulai miring dan udara sedikit menjadi lebih dingin. Kerumunan di pameran mulai menyebar saat orang-orang bergegas pulang atau mencari tempat makan malam. Ethan melihat ke arah jam tangannya dan tersenyum.
“Sudah cukup jauh untuk hari ini,” ujarnya. “Mari kita pulang dulu—besok kita bisa melanjutkan latihan dan mungkin bisa datang lagi ke festival untuk melihat bagian tantangan vokalnya."
"Siapa tahu kita akan menemukan bakat vokal yang luar biasa juga.”
Mereka berjalan kembali menuju tempat parkir mobil sambil menikmati sisa suasana festival yang masih meriah.
Lampu-lampu dekoratif mulai menyala perlahan, memberikan sentuhan keindahan ekstra pada malam yang akan datang.
“Saya berharap Lucas bisa bergabung dengan kita, Kak,” ujar Felix dengan lembut. “Saya rasa dia akan menjadi teman yang baik dan bisa membantu kita banyak.”
“Kita harus tetap berdoa dan berharap terbaik,” jawab Ethan sambil menepuk bahu Felix.
“Namun yang penting, kita sudah menemukan salah satu calon anggota yang sangat berbakat. Sekarang kita hanya perlu menunggu keputusannya dan terus berusaha mencari yang lain.”
Mereka memasuki mobil dan mulai perjalanan pulang. Di dalam mobil, musik dari grup musik lokal Aurelia mengalir lembut.
Sementara para trainee berbicara antusias tentang rencana latihan dan konten yang akan mereka buat untuk kanal Metube.
Ethan melihat ke arah jalan yang diterangi sinar matahari sore dan merasakan harapan yang semakin besar di hatinya.
Festival Bunga ini sudah memberikan hasil yang lebih dari yang dia harapkan, dan dia tahu bahwa perjalanan untuk membangun grup idol terbaik di Aurelia semakin dekat dengan tujuan.