NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Payung darurat

Awan kelabu yang menggantung sejak istirahat kedua akhirnya tumpah. 

Byurrr! 

Hujan deras mengguyur atap parkiran SMA Garuda, menciptakan suara gaduh yang meredam kebisingan knalpot motor-motor yang hendak keluar gerbang.

 Naren berdiri di bawah naungan atap beton gedung olahraga, memperhatikan tetesan air yang memantul dari aspal. 

Ujung sepatunya yang hitam sedikit basah. Di sampingnya, Abyan sedang berusaha memakai jas hujan plastik lima ribuan yang tipisnya hampir menyamai tisu.

​"Aduh, nyangkut! Ren, bantuin napa, ini lubang kepalanya mana sih?" Abyan berputar-putar seperti gasing. 

Sret. Sret. Bunyi plastik beradu.

​"Kebalik itu, Yan," sahut Naren datar. 

Ia tidak bergerak untuk membantu. Tangannya masuk ke dalam saku jaket kulit, jemarinya menyentuh permukaan plastik sarung tangan yang tadi siang ia simpan—benda yang sama dengan yang ia gunakan untuk merapikan kardus.

​"Oalah, pantesan gelap. Eh, Arion mana? Tadi katanya mau bareng ke warung depan," Abyan akhirnya berhasil mengeluarkan kepalanya dari lubang plastik. Mukanya merah padam.

​"Udah balik duluan sama Venzo. Ada urusan OSIS katanya."

​Naren mengeluarkan ponselnya. Layarnya retak di pojok kiri atas, tapi masih berfungsi.

 Pukul tiga lewat lima belas menit. Seharusnya jam pulang sekolah sudah lewat lima belas menit yang lalu, tapi koridor masih penuh dengan siswa yang terjebak hujan. 

Di kejauhan, dekat pintu keluar ruang OSIS, ia melihat sosok familiar dengan rok abu-abu yang disetrika kaku. Agnesa. 

Cewek itu berdiri kaku, memegang sebuah map plastik di dada, matanya menatap hujan dengan ekspresi yang sulit dibaca.

​"Ren, lo nggak balik? Apa nungguin bidadari turun dari kayangan?" Abyan menyikut lengan Naren. 

Duk.

Naren tidak menoleh ke arah Abyan. Ia justru melangkah satu meter menjauh, mendekati batas kucuran air hujan dari talang.

 Posisinya kini membelakangi gedung, menghadap ke arah Agnesa yang berjarak sekitar dua puluh meter.

 Naren mengeluarkan sebatang rokok, tapi tidak menyalakannya. Ia hanya menjepitnya di antara bibir.

​"Gue masih ada urusan," kata Naren singkat. Suaranya agak serak tertimpa bunyi hujan.

​"Urusan apa? Balapan di genangan air? Ya udah, gue duluan ya. Takut ini jas hujan sobek kena angin. Vroom vroom!”

Abyan berlari menerjang hujan menuju parkiran motor.

 Plak, plik, pluk. 

Langkah kakinya menciptakan cipratan air di mana-mana.

​Naren kini sendirian di bawah naungan gedung olahraga. Ia melihat Agnesa mulai melangkah ragu-ragu menuju selasar yang menghubungkan gedung utama dengan parkiran mobil. 

Masalahnya, selasar itu tidak sepenuhnya tertutup; ada celah sekitar lima meter yang terbuka tanpa atap.

 Agnesa berhenti di depan celah itu. Ia melihat map plastiknya, lalu melihat hujan.

Naren merasakan udara dingin merayap masuk ke balik jaketnya. Kulit tengkuknya meremang. 

Ia melihat Agnesa mengangkat map plastiknya ke atas kepala, bersiap untuk berlari. 

Naren membuang rokok yang belum sempat ia sulut ke lantai beton. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma tanah basah memenuhi paru-parunya, lalu ia mulai berjalan. 

Bukan berlari, tapi berjalan dengan langkah lebar.

​Tap. Tap. Tap.

​Agnesa baru saja akan melangkah ke area terbuka saat sebuah bayangan gelap menutupi kepalanya.

 Ia mendongak. Naren berdiri di sampingnya, menggunakan jaket kulitnya yang dilepas dan direnggangkan dengan kedua tangan untuk menjadi payung darurat di atas kepala mereka berdua.

​"Jalan," perintah Naren.

​Agnesa mematung. Matanya mengerjap-kerjap, ada setitik air hujan yang hinggap di bulu matanya. "Naren? Kamu apa-apaan?"

​"Map lo basah nanti. Jalan aja."

Agnesa bergeser sedikit ke kiri untuk menjaga jarak, tapi Naren ikut bergeser, memastikan jaketnya tetap melindungi kepala cewek itu. 

Ruang di antara mereka sangat sempit, hanya ada jarak sekitar sepuluh sentimeter yang memisahkan bahu mereka.

 Hawa panas dari tubuh Naren yang baru saja bergerak melawan dinginnya hujan terasa sangat nyata bagi Agnesa.

​"Saya bisa lari sendiri, Naren. Kamu nanti basah kuyup," Agnesa memprotes, meski kakinya mulai melangkah mengikuti irama jalan Naren.

​"Gue udah biasa basah. Kertas lo nggak."

​Mereka melewati celah terbuka itu. 

Suara hujan yang menghantam jaket kulit Naren terdengar berat. 

Buk, buk, buk. 

Air mulai merembes ke kemeja putih Naren yang kini terekspos karena jaketnya dijadikan payung. 

Kemeja itu menempel di bahunya yang lebar, mencetak bentuk otot di bawahnya.

​"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Agnesa saat mereka sampai di bawah atap selasar parkiran mobil.

​Naren menurunkan jaketnya. 

Jaket itu kini berat dan licin karena air. Ia tidak segera memakainya kembali, melainkan menyampirkannya di bahu. "Nunggu hujan reda. Tapi kayaknya makin deres."

​Agnesa memperhatikan plester kelinci di jempolnya yang sedikit basah. "Terima kasih. Sekali lagi."

​"Sama-sama."

Agnesa membuka map plastiknya, memastikan isinya tetap kering. Ada tumpukan formulir berwarna biru di sana. 

Naren melirik sekilas. Nama 'Oxford University' tercetak besar di bagian atas. Ada jeda sekitar tiga detik di mana Naren hanya menatap kertas itu tanpa ekspresi, sebelum akhirnya ia membuang muka dan menatap ban mobil sedan hitam yang terparkir di depan mereka.

​"Jadi, itu formulirnya?" tanya Naren pelan.

​Agnesa terdiam. Ia menutup kembali mapnya. 

Sret. 

Bunyi ritsleting plastik itu terdengar tajam. "Iya. Papa mau saya urus semuanya minggu ini."

​"Baguslah."

​"Bagus?" Agnesa menoleh, menatap wajah samping Naren yang terlihat lebih tajam dari biasanya di bawah cahaya sore yang redup.

 "Kenapa kamu bilang bagus?"

​"Ya... lo pinter. Tempat lo emang di sana, bukan di ruko berdebu kayak markas gue."

Naren teringat saat dia berumur tujuh tahun, ibunya membelikan sebuah miniatur pesawat terbang dari plastik murahan. Ia sangat menyukainya, sampai-sampai ia membawanya tidur.

 Suatu hari, pesawat itu patah karena terduduki oleh ayah tirinya yang baru pindah ke rumah.

 Ayah tirinya hanya bilang, "Benda rusak nggak ada gunanya disimpan." 

Naren tidak menangis, tapi sejak hari itu ia tahu bahwa hal-hal yang 'bagus' dan 'indah' memang tidak ditakdirkan untuk bertahan lama di tangannya. 

Termasuk, mungkin, interaksi singkatnya dengan ketua OSIS di depannya ini.

​"Kamu merendahkan diri kamu sendiri, Naren?" suara Agnesa terdengar lebih lembut, hampir teredam suara hujan.

​"Gue ngomong fakta, Agnes. Realitas kita beda. Lo itu kayak... gedung pencakar langit. Gue cuma trotoar di bawahnya."

​"Tapi trotoar yang menyangga gedung itu, kan?" balas Agnesa cepat.

​Naren menoleh. Ia menatap mata Agnesa. 

"Lo belajar itu di kelas ekonomi atau gimana? Teori penyangga?"

​Agnesa tidak tertawa. Wajahnya tetap serius. 

"Saya nggak suka cara kamu bicara seolah-olah kamu itu sampah. Kamu yang menyiapkan logistik baksos itu paling rapi dibanding anggota yang lain. Saya lihat cara kamu menyusun mi instan itu kemarin."

Naren merasa telapak tangannya gatal. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan gumpalan sarung tangan plastik yang sudah lecek, lalu mulai merobek-robeknya menjadi potongan kecil tanpa sadar. 

Matanya tetap tertuju pada Agnesa, tapi tangannya sibuk menghancurkan plastik itu.

​"Gue cuma ngikutin revisi lo," kata Naren.

​"Nggak, Naren. Kamu melakukannya karena kamu peduli. Jangan bohong."

​Bip! Bip!

​Suara klakson mobil sedan hitam memecah suasana. Pak Jaka, sopir Agnesa, melambaikan tangan dari balik kemudi. Mobil itu bergerak mendekat.

​"Mobil saya sudah jemput," kata Agnesa.

​Naren mengangguk. "Ya. Masuk sana."

​Agnesa melangkah menuju pintu mobil yang dibuka oleh Pak Jaka. 

Sebelum masuk, ia berhenti sebentar. Ia berbalik dan menatap Naren yang masih berdiri dengan kemeja putih basah kuyup yang kini transparan, memperlihatkan kaus dalam hitam di baliknya.

​"Naren," panggilnya.

​"Apa?"

​"Besok jam delapan pagi di gerbang. Jangan telat. Kita harus antar logistik itu ke panti asuhan."

​"Gue tahu."

​Agnesa masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup dengan bunyi debum yang solid. 

Mesin mobil menderu pelan, lalu perlahan meninggalkan area sekolah. 

Naren tetap berdiri di sana sampai lampu belakang mobil itu hilang di balik tikungan gerbang.

​Hujan mulai sedikit mereda, berubah menjadi gerimis yang tipis tapi tajam. 

Naren memakai jaket kulitnya yang basah. Rasa dingin yang lembap langsung menusuk kulitnya, tapi ia tidak peduli.

Naren berjalan kembali menuju motornya di parkiran bawah. Ia melihat sebuah genangan air besar di depannya. 

Bukannya menghindar, ia justru sengaja menginjak bagian tengah genangan itu. 

Byurrr. 

Air kotor menciprat ke celana seragamnya. Ia menatap sepatunya yang kini benar-benar berantakan, basah, dan kotor. Ia mendengus kecil, sebuah tawa pendek yang tidak sampai ke mata.

​"Oxford ya..." gumamnya sambil menghidupkan mesin motor. 

Vruuummm!

​Suara mesin Ninja-nya membelah sunyi sore yang basah. Ia memacu motornya keluar gerbang sekolah, melewati warung kopi tempat teman-temannya biasanya nongkrong. 

Tapi sore ini dia tidak berhenti. Ia terus melaju di bawah sisa gerimis, melewati jalanan Bandung yang macet.

​Pikirannya melayang pada formulir biru di map Agnesa. Ia membayangkan Agnesa di bandara, membawa koper besar, mengenakan mantel musim dingin, dan terbang menjauh puluhan ribu kilometer.

​"Kenapa gue jadi mikirin beginian sih? Nggak penting banget," ia memarahi dirinya sendiri.

​Ia kemudian teringat plester kelinci di tangan Agnesa. Ia berharap air hujan tadi tidak membuat perekatnya lepas. 

Luka lecet itu harus tertutup, pikirnya.

 Di dunianya yang keras, luka kecil bisa jadi infeksi kalau tidak diurus.

Naren berhenti di lampu merah. Ia melihat ke arah spion motornya.

 Rambutnya berantakan, wajahnya kusam kena asap knalpot, kemejanya basah. 

Ia merapikan sedikit kerah kemejanya yang miring, lalu tangannya berhenti di kancing kedua yang hampir lepas. Ia menarik napas panjang, menatap lampu yang berubah dari merah ke hijau, dan kembali memacu motornya ke arah ruko markas ZENTRIX.

​Di markas, ia disambut oleh aroma mi instan yang sedang dimasak Arion.

​"Wuih, si Bos basah kuyup! Habis berenang di mana, Ren?" Arion berteriak dari dapur kecil.

​"Kehujanan," sahut Naren singkat.Ia melepas jaketnya, menggantungnya di sandaran kursi kayu.

​"Susu cokelat masih ada nggak di kulkas?" tanya Naren tiba-tiba.

​"Habis. Tadi diminum Abyan. Kenapa? Tumben lo nanya susu."

​Naren tidak menjawab. Ia berjalan menuju pojok ruangan, tempat tumpukan kardus mi instan yang ia rapikan kemarin. 

Ia duduk di lantai semen yang dingin, menyandarkan punggungnya pada tumpukan itu. Ia merasa sangat lelah.

Naren menyentuh sudut kardus mi instan yang paling atas. 

Ia meniru gerakan Agnesa tadi—menghaluskan permukaan karton dengan ujung jarinya. Gerakan itu lambat, repetitif, dan memberikan semacam ketenangan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.

​"Besok baksos, ya?" Arion muncul membawa dua gelas kopi hitam.

​"Ya. Jam delapan."

​"Agnesa ikut?"

​"Ketua OSIS ya pasti ikut."

​Arion menyerahkan satu gelas kopi pada Naren. 

Sruuup.

 Kopi panas itu membakar lidah Naren, tapi ia menikmatinya.

​"Lo tahu nggak, Ren? Tadi gue lihat Agnesa di selasar parkiran. Dia kayak lagi nungguin seseorang," Arion berkata sambil meniup kopinya.

​Naren tidak menjawab. Ia terus menatap tumpukan kardus di depannya.

 Di pikirannya, ia masih memegang jaket kulit di atas kepala Agnesa, merasakan detak jantungnya yang berpacu saat bahu mereka hampir bersentuhan.

​"Mungkin dia nungguin jemputannya," kata Naren akhirnya.

​"Atau mungkin dia nungguin payung," Arion terkekeh.

​Naren mematikan lampu ruko, menyisakan cahaya remang dari lampu jalan yang masuk lewat ventilasi. 

Ia ingin tidur, tapi bau hujan dan aroma parfum jeruk Agnesa seolah masih menempel di jaket kulitnya yang tergantung di sana.

​"Oxford itu jauh banget ya, Yon?"

​"Hah? Oxford? Jauh lah. Di Inggris kan? Kenapa lo nanya gitu?"

​"Nggak apa-apa. Pengen tahu aja berapa lama waktu tempuh pesawat ke sana."

​Naren memejamkan mata. 

Di kegelapan itu, ia tidak melihat tumpukan logistik atau markas yang berantakan. Ia hanya melihat sebuah plester kelinci berwarna pink yang menempel di jempol seseorang yang, bagi Naren, adalah hal paling rapi dan paling rapuh yang pernah ia temui.

​Senin sore yang basah pun berakhir dengan suara rintik hujan yang perlahan berhenti, menyisakan genangan air yang memantulkan cahaya lampu kota yang dingin.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Bagus kalau begitu. Pastikan kamu sudah di gerbang jam 07:50. Saya tidak mau menunggu."

​"Iya, Bu Ketua. Tidur sana. Jangan belajar kalkulus terus. Otak lo bukan kalkulator."

​Naren Khawatir Sama Agnesa? Yuk Simak Kelanjutannya di Bab 9: Tempurung Emas

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!