NovelToon NovelToon
Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Berbaikan / Anak Genius / Pengganti / Penyesalan Suami / Pelakor jahat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Prabowo

Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Lisa masih berdiri di area tamu lantai dua puluh ketika Alya keluar dari ruang makan dan kembali ke sana untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Sekretaris itu merapikan dokumen di mejanya dengan gerakan yang sedikit terlalu sibuk untuk terlihat alami.

"Nyonya Aditya." Lisa mengangkat pandangannya. "Bagaimana makan siangnya?"

"Baik." Alya mengambil tasnya dari kursi tunggu. Ketika hendak berbalik, ia berhenti. "Lisa."

"Ya, Nyonya?"

Alya memandangnya dengan tenang—bukan tatapan yang mengancam, tapi tatapan yang tidak meninggalkan ruang untuk salah tafsir. "Tadi sebelum saya masuk, kamu bilang Bapak sedang di dalam bersama Nona Lina." Ia berhenti sebentar. "Cara kamu mengatakannya—itu bukan peringatan jadwal. Itu sesuatu yang lain."

Lisa membuka mulutnya, tapi tidak ada yang keluar.

"Saya mengerti posisi kamu," lanjut Alya. "Kamu dengar macam-macam, dan mungkin niatnya baik. Tapi sebagai sekretaris, pekerjaan kamu adalah menjaga informasi—bukan meneruskannya dengan kemasan yang lain." Nada suaranya tidak naik, tidak turun. "Saya tidak ingin mendengar yang seperti itu lagi. Dari kamu atau dari lantai ini."

Lisa menelan ludah. "Baik, Nyonya. Maaf."

Alya tersenyum—singkat, tidak hangat tapi tidak juga kejam. "Terima kasih."

Ia berjalan kembali ke arah kantor Rizky.

Dua ketukan di pintu, lalu ia membuka tanpa menunggu terlalu lama. "Rizky, saya masuk ya."

Di dalam, Rizky duduk di belakang mejanya dengan laptop terbuka dan Lina di kursi tamu dengan dokumen tersebar di hadapannya. Keduanya mengangkat pandangan sebentar—Lina dengan senyum, Rizky dengan tatapan yang memeriksa—sebelum kembali ke layar laptop yang menampilkan spreadsheet penuh angka.

Alya duduk di sofa samping tanpa membuat keributan. Ia mengeluarkan ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk selama makan siang, sesekali mendengar fragmen percakapan antara Rizky dan Lina—angka, persentase, nama kontraktor, estimasi penyelesaian fase kedua. Diskusi yang hidup, keduanya mengisi kalimat satu sama lain dengan data tanpa jeda yang tidak perlu.

Setengah jam berlalu sebelum Lina menutup laptopnya dan berdiri dengan ekspresi seseorang yang baru menyelesaikan sesuatu dengan memuaskan.

Alya berdiri juga dan berjalan ke arahnya. "Sebulan tidak ketemu." Ia memeluk Lina—bukan pelukan seremonial, tapi yang cukup hangat untuk menyampaikan bahwa ini tulus. "Saya kangen kamu."

Lina tertawa kecil dan membalas pelukan itu. "Kamu yang menghilang ke Puncak."

"Nemenin ibu." Alya melepaskan pelukan dan memandangnya. "Tinggal dulu, makan bareng kita. Masih siang."

Lina menggeleng dengan ekspresi menyesal yang nyata. "Masih ada yang harus saya selesaikan di bawah. Tapi—" ia mengangkat alis, "—akhir pekan? Kita belanja. Sudah lama tidak jalan bertiga."

"Deal." Alya mencium pipinya sekali. "Jangan cancel."

"Tidak akan." Lina mengambil tasnya, mengangguk ke Rizky, dan keluar dengan langkah yang sudah menghitung ke mana akan pergi berikutnya.

Pintu tertutup.

Rizky mendorong kursinya sedikit dan melambaikan tangannya sekali ke arah sofa—isyarat yang tidak memerlukan kata-kata. Alya menghampirinya, berhenti di sisinya, menunduk dan mencium sudut bibirnya dengan ringan.

"Rindu." Kata itu keluar pelan, tanpa tanda tanya, bukan pernyataan yang meminta konfirmasi.

Rizky memandangnya sebentar—satu atau dua detik—dengan cara yang tidak bisa dengan mudah diberi nama. Lalu ia menoleh ke meja dan membuka laci samping. Tangannya mengeluarkan selembar dokumen berlipat, dan ia mendorongnya ke depan Alya di atas permukaan meja.

Alya menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya lebih dulu.

Dalam sepersekian detik sebelum membukanya, satu pikiran melintas—bayangan skenario yang selama beberapa hari terakhir sempat singgah di kepalanya, tentang kemungkinan Rizky memilih momen ini, di kantor, di tengah siang yang netral, untuk mengeluarkan perjanjian perceraian dengan Kezia entah di mana. Tentang harus menandatangani sesuatu seperti itu di bawah cahaya matahari penuh, di meja yang sama tempat ia baru saja duduk menunggu dengan tenang.

Ia mengambil dokumen itu dan membukanya.

Bukan perjanjian perceraian.

Alya membaca baris pertama, lalu paragraf pertama, lalu mulai dari awal lagi dengan lebih lambat. Matanya bergerak mengikuti teks dengan cermat—nama-nama properti, nomor sertifikat, alamat, kolom pengalihan kepemilikan yang sudah terisi dengan namanya.

Dua vila. Satu di Sentul, satu di Cisarua. Satu apartemen tiga kamar tidur di Menteng.

Ia menyelesaikan halaman pertama dan membuka halaman kedua. Angka valuasi ada di bagian lampiran—tertera dalam tabel yang sudah diisi oleh penilai properti independen, lengkap dengan tanggal penilaian bulan ini.

Dua ribu dua ratus lima puluh miliar rupiah, lebih sedikit.

Alya melipat dokumen itu kembali dengan rapi dan meletakkannya di meja. Ia tidak bicara selama beberapa detik.

Rizky tidak menjelaskan apa pun. Ia hanya duduk dan menunggu, matanya ke layar laptopnya yang masih terbuka.

"Ini di luar kesepakatan awal," kata Alya akhirnya.

"Saya yang memutuskan."

Alya memandang dokumen yang terlipat rapi di hadapannya. Empat tahun, dan Rizky tidak pernah menjadi orang yang pelit—itu bukan rahasia, tapi juga bukan sesuatu yang pernah Alya jadikan tolok ukur untuk menilai apa pun selain kemurahan hati yang terpisah dari perasaan. Uang dan benda bisa diberikan oleh seseorang yang tidak mencintai dengan cara yang sama murahnya seperti seseorang yang mencintai. Rizky sudah membuktikan itu berkali-kali.

Yang membuat Alya diam bukan nilainya.

Yang membuatnya diam adalah bahwa di tengah semua yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir—pesan Kezia, peringatan di suite hotel, kata-kata di antara cahaya amber dan selimut yang ditarik sendiri—Rizky duduk di kantor ini dan mengeluarkan surat pengalihan properti atas tiga aset senilai lebih dari dua ribu miliar.

Bukan perjanjian perceraian.

Bukan sesuatu yang memintanya pergi lebih cepat.

Ia mengambil dokumen itu lagi dan membukanya ke halaman tanda tangan. Kolom miliknya kosong, menunggu.

"Kapan perlu ditandatangani?"

"Tidak terburu-buru." Rizky menutup laptopnya. "Tapi sebelum proses perceraian selesai lebih baik."

Alya mengangguk pelan. Ia melipat dokumen itu sekali lagi dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Rizky berdiri dan mengambil jaketnya. "Ada yang perlu diperiksa di lantai tiga puluh. Kamu mau menunggu di sini atau—"

"Saya ada janji sore." Alya mengangkat tasnya dan berdiri. "Nanti kita makan malam?"

"Saya telepon kalau selesai sebelum delapan."

"Oke." Ia mencium pipinya sekali, ringan, seperti tanda baca yang sudah familier.

Di lift, ketika pintu tertutup dan lantai mulai bergerak turun, Alya berdiri tegak menatap pintu berlapis logam di depannya. Di dalam tasnya, dokumen itu ada di antara dompet dan ponsel dan kunci mobil—tiga lembar kertas yang beratnya tidak sebanding dengan angka di dalamnya, dan angka di dalamnya tidak sebanding dengan hal-hal yang tidak bisa dituliskan dalam format tabel valuasi mana pun.

Dua ribu dua ratus lima puluh miliar rupiah.

Dan tidak satu pun dari uang itu bisa membeli satu malam di mana seseorang bersedia menggendongnya ke kamar mandi.

Alya menarik napas panjang dan melepaskannya pelan ketika lift mencapai lobi, pintu terbuka, dan ia melangkah keluar ke dalam cahaya siang yang tidak mengenal konteks apa pun dari apa yang baru saja terjadi di lantai dua puluh.

1
lyani
yg ada situ nggak tau malu
lyani
penulisan yg bagus dengan mempermainkan perasaan tiap pemilihan kata.
lyani
syedihhhhh
Anonim
Kapan episode baru?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!