NovelToon NovelToon
Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Reinkarnasi / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:198.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.

Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!

Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Perjalanan menuju Surabaya terasa lebih panjang dari dua jam yang tertera di papan jadwal. Sepanjang jalan, Aminah memandangi hamparan sawah yang perlahan berubah menjadi deretan gudang, pabrik, dan cerobong asap. Bau tanah basah berganti dengan aroma solar dan debu polusi.

Ia turun di terminal kecil dekat kawasan industri, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju lokasi tambang batu bara tempat Rio bekerja. Jalanan menuju tambang itu bergelombang dan dipenuhi truk-truk besar yang mengangkut muatan hitam pekat. Debu beterbangan setiap kali kendaraan berat melintas, membuat udara terasa kasar di tenggorokan.

Ketika sampai di gerbang tambang, Aminah berdiri beberapa saat, memandangi para pekerja yang keluar masuk dengan helm keselamatan dan rompi reflektif. Wajah-wajah mereka tertutup debu, pakaian mereka kotor oleh arang dan keringat. Di antara mereka, ia mencari satu sosok yang begitu ia kenal.

Lalu ia melihatnya.

Rio berdiri di dekat tandon air besar, mengenakan helm kuning dan sepatu bot tinggi. Wajahnya legam oleh debu, tapi sorot matanya tetap sama—hangat dan penuh perhatian. Ia sedang mengisi air ke dalam botol plastik, wajahnya terlihat lelah.

“Kakak!” teriak Aminah tanpa bisa menahan diri.

Rio menoleh. Butuh beberapa detik baginya untuk mengenali gadis yang berdiri di balik debu dan cahaya matahari itu. Ketika ia menyadari siapa yang memanggilnya, matanya membesar.

“Aminah?” suaranya parau.

Ia melepas helmnya dan berjalan cepat menghampiri. “Aminah, kenapa kamu di sini? Apa yang terjadi? Apakah ada yang menyakitimu?”

Pertanyaan itu seperti membuka pintu bendungan. Aminah yang sejak tadi menahan diri, tiba-tiba merasa lututnya melemas. Ia berlari ke arah kakaknya dan memeluknya erat. Debu menempel di bajunya, tapi ia tidak peduli.

Air matanya mengalir deras.

Rio membalas pelukannya, tangannya yang kasar karena kerja keras mengusap punggung adiknya dengan canggung. “Sudah, sudah… tenang. Cerita pelan-pelan.”

Mereka duduk di bawah pohon akasia di pinggir area tambang. Suara mesin berat terdengar samar di kejauhan.

Dengan suara tersendat, Aminah mulai bercerita.

Tentang bagaimana ia dijadikan seperti pembantu di rumah orang tuanya sendiri. Tentang bagaimana ia dipaksa menerima lamaran Andre demi uang tunangan dua juta rupiah dan janji kuota pekerjaan. Tentang ijazah sekolahnya yang diambil oleh Siti Lestari dan tidak pernah dikembalikan. Tentang bagaimana mimpinya untuk melanjutkan sekolah dipatahkan begitu saja.

Rio mendengarkan tanpa menyela. Namun setiap kalimat membuat rahangnya mengeras.

“Mereka… menjualmu?” suaranya rendah, hampir bergetar. “Dua juta rupiah? Untuk itu mereka serahkan kamu?”

Aminah mengangguk pelan.

Rio berdiri tiba-tiba, matanya menyala. “Aku akan mengembalikan uang itu! Aku akan datang ke rumah dan—”

Ia mengepalkan tangan, urat-uratnya menegang.

“Siapa yang menyakitimu? Pak Joko? Maria? Katakan!”

Aminah cepat berdiri dan memegang lengannya. “Jangan, Kak.”

Rio menatapnya, napasnya memburu.

“Aku sudah kabur,” lanjut Aminah, berusaha menenangkan suaranya. “Aku tidak datang ke sini untuk membuat masalah. Aku datang untuk kamu.”

Rio mengerutkan kening. “Untuk aku?”

“Jangan kirim uang lagi ke rumah mereka,” kata Aminah tegas. “Selama ini uangmu tidak pernah benar-benar digunakan untukku. Mereka tidak peduli.”

Rio terdiam. Selama ini, sebagian besar gajinya ia kirimkan ke rumah dengan keyakinan bahwa itu untuk membantu adiknya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa uang itu mungkin hanya mengalir ke dapur Maria dan kebutuhan orang lain.

“Aku bekerja di sini untuk kamu,” katanya pelan.

“Aku tahu,” jawab Aminah lembut. “Tapi aku tidak mau kamu mengorbankan dirimu di tempat seperti ini.”

Ia memandang sekeliling. Tanah hitam, udara berat, suara mesin tanpa henti.

“Kakak suka memasak, kan?” tanyanya tiba-tiba.

Rio sedikit terkejut. “Ya… tapi itu cuma hobi.”

“Bukan cuma hobi,” potong Aminah. “Waktu kita kecil, kamu yang selalu masak mie untukku. Kamu yang belajar bikin sambal dari Ibu Dewi. Kamu punya bakat.”

Nama itu membuat keduanya terdiam sejenak.

Ibu Dewi.

Perempuan yang membawa mereka ke kota bertahun-tahun lalu dengan harapan menemukan Pak Joko. Namun yang mereka temukan hanyalah pintu tertutup dan wajah Maria yang penuh kemenangan. Ibu Dewi akhirnya kembali ke pedesaan, sementara Rio dan Aminah terpisah dalam kekacauan keluarga yang tidak pernah benar-benar menerima mereka.

“Kakak berhenti kerja di sini,” lanjut Aminah pelan tapi pasti. “Akhir bulan ini, kembali ke kota. Cari magang di restoran. Mulai dari bawah tidak apa-apa.”

Rio menatapnya, seolah mencoba membaca kesungguhan di matanya.

“Aku butuh kamu di sebelahku,” tambah Aminah. “Tanpa kamu, mereka akan menyakitiku lagi.”

Rio tidak butuh waktu lama untuk menjawab.

“Baik,” katanya mantap. “Aku akan berhenti. Aku akan kembali ke kota.”

Aminah tertegun, tidak menyangka persetujuannya datang begitu cepat. “Kakak yakin?”

Rio tersenyum kecil. “Aku sudah lama ingin keluar dari sini. Aku hanya bertahan karena merasa harus menanggung keluarga.”

Ia menatap adiknya dengan lembut. “Aku pernah janji pada Ibu Dewi, aku akan melindungi kamu.”

Air mata Aminah kembali menggenang.

Angin sore bertiup membawa debu halus. Di antara suara mesin dan langkah pekerja, dua bersaudara itu seperti menemukan kembali pijakan mereka.

“Setelah kakak kembali,” kata Aminah hati-hati, “kita pergi ke Desa Mulyo, ya? Kita temui Ibu Dewi.”

Rio terdiam beberapa saat.

Desa Mulyo.

Nama itu terasa asing sekaligus akrab. Ia mencoba mengingat jalan pulang, tapi bayangan masa kecilnya kabur. Ia hanya ingat sawah luas dan rumah kayu dengan jendela biru. Setelah bertahun-tahun di kota dan tambang, ingatannya tentang desa itu memudar.

“Aku sudah lupa jalannya,” katanya pelan.

“Kita bisa cari tahu,” jawab Aminah cepat. “Yang penting kita kembali.”

Rio mengangguk. “Ya. Kita kembali.”

Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan batu bara yang hitam. Aminah memandang kakaknya dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan selama ini—bukan sekadar harapan, tetapi keyakinan.

Ia tidak lagi sendirian.

Di tempat yang penuh debu dan kelelahan itu, ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari uang tunangan dua juta rupiah atau buku tabungan dengan saldo ratusan ribu.

1
syska
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ sᴇʀɪᴜs... ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ...
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
syska
😭😭😭
syska
ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ.... ɢᴏᴏᴅ ᴊᴏʙ ᴀᴍɪɴᴀʜ...👍👍
WHATEA SALA
Beli rumah pake ngomong sih...
Fitrian
yang ini dina yang ono siti🤔🤔🤔
Fitrian
loh 3 anak🤔
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔
Rangiku Gin
kerenn 🔥🤭
Rangiku Gin
🔥😈
Rangiku Gin
mantapp 🔥🥰
Rangiku Gin
astagaaa 🔥😈
Rangiku Gin
terharuuuu 😩😩
Rangiku Gin
😩😢
Rangiku Gin
omo 🔥😈
Rangiku Gin
🔥😈
Anifa
kenapa seperti di ulang2 ceritanya, bisa nggak sih bikin cerita 🙄
Anifa
aku skip skip ceritanya kek di ulang2 🙄
Yuyun Zampiet
mohon maaf thor, aku baca nya skip aja, karena sdh bbrp BAB kok ceritanya mutar2 naik turun seperti tidak nyambung, bingung aku 🙏
Yuyun Zampiet
knp gak langsung urus surat cerai aj
Yuyun Zampiet
murah sekali harga rumah, aku juga pengen dpt rumah murah🤣
Yuyun Zampiet
ya ampun, ajaran sesat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!