NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkunjung

Ari tersenyum senang. Wajahnya terlihat semakin berbinar. Kiran baru saja keluar dari ruangannya. Namun hawa wanita itu seakan masih ada. Menghangati hatinya yang sebelumnya merasa sepi.

Ari baru saja menjalankan taktik keduanya. Taktik kedua yang berjalan dengan sedikit bantuan tak terduga dari kakaknya. Meskipun bantuan itu sebenarnya tidak diketahui Radit. "Sekarang tinggal tergantung Mama ...," ucapnya lirih.

Flashback On

"Ma ..., lagi repot nggak?" tanya Ari pada mamanya tadi siang. Setelah menjumpai papa Marissa, Ari singgah sebentar ke rumah untuk menemui Mama. Saat ia datang, Mama masih berada di dapur.

"Kamu sudah pulang, Mas? Mau apa, Nak?" tanya sang Mama tanpa mengalihkan pandangan dari masakannya.

" Mbok ... tolong disiapin masakannya. Nanti langsung letak di meja makan saja sebagian. Mas Ari biar makan," ucapnya kemudian memberikan perintah.

"Iya, Nyonya," jawab wanita yang bernama Mbok Minah. Ia adalah pelayan bagian memasak makanan.

"Ada apa?" tanya Mama membuka apron yang menempel di tubuhnya.

Ari menarik tangan mama dan menuntunnya ke dekat kolam ikan di taman belakang. Ari tidak ingin ada yang mendengarnya. Mama mengikuti langkah putranya dengan sabar.

"Ma, Ari ingin cerita. Tapi Ari minta Mama dengarkan dulu baik-baik ya." Mama mengangguk, menatap lekat kedua manik mata putra keduanya itu yang menatapnya penuh dengan kesungguhan.

Kini mereka sudah berada di taman belakang. Duduk di atas gazebo yang berada tepat di samping kolam ikan. Rerumputan hijau tampak mendominasi area ini. Memanjakan mata yang melihatnya.

"Ari menyukai seorang wanita, Ma. Namanya Kiran. Dia sekretaris Ari di kantor. Dia yang selama ini membantu Ari. Ari suka sama Kiran sejak pertama kali bertemu Kiran di kantor. Kemarin kami pergi ke luar kota, Ma. Ada keperluan dengan klien di sana. Kemudian ...." Ari menghentikan ucapannya untuk memastikan perubahan dari kedua raut wajah mamanya. Merasa sepertinya raut wajah sang Mama masih menatapnya lembut, Ari pun melanjutkannya

"Terjadi sesuatu di sana, Ma." Ari pun membisikkan sesuatu dengan sangat pelan di kuping mama. Wanita paruh baya itu seketika membeliakkan matanya.

"Ya Allah .... Nakalnya kamu Ari!!!" Mama memukul bahu Ari bertubi-tubi.

"Iya Ma, ampun!!! Udah Ma." Mama mengerucutkan bibirnya. Ia mulai tahu apa maksud anak laki-lakinya itu.

"Jadi Mas maunya apa?!" Mama mendelikkan mata.

Ariana, mama Ari memang selalu membiasakan memanggil setiap anak lelakinya dengan sebutan tertentu. Memanggil Ari dengan panggilan mas. Sementara Radit dipanggil kakak. Hanya Raisa yang mendapat sebutan adek sebab dia anak bungsu.

"Ari mau Mama memberikan restu dan ...," membisikkan sesuatu ke kuping mama kembali. Mama kembali melototkan matanya.

"Tidak semudah itu, Mas ...! Semuanya butuh waktu. Setidaknya kita harus datang dulu ke rumahnya. Menemui orang tuanya kemudian melamarnya." Mama menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa tidak habis pikir dengan pemikiran putranya itu yang ingin semuanya serba cepat.

"Dia yatim piatu, Ma. Jadi Ari kira kita tidak perlu melakukan itu. Karena dia hanya sendiri di dunia ini," ujar Ari lirih. Suaranya mengandung kesedihan.

Ariana menarik nafas perlahan. "Apa Mas betul-betul mencintainya?" tanyanya kemudian menatap kedua manik mata Ari. Menegaskan perasaan anaknya.

"Untuk apa Ari melalukan semua ini jika memang Ari tidak mencintainya, Ma," jawab Ari dengan yakin.

"Mama takut jika yang Mas katakan cinta tadi sebenarnya hanya perasaan kasihan yang dibungkus kekaguman."

"Tidak Ma. Perasaan ini benar. Untuk pertama kalinya Ari jatuh cinta pada wanita, Ma. Dan Ari pastikan jika wanita itu adalah Kiran."

"Lalu yang kemarin-kemarin itu, bukan jatuh cinta namanya? Siapa itu, Elga, Cindy, Marissa... trus ...," ledek Ariana menghitung nama gadis dengan tangannya, mencoba mengingat kembali nama gadis yang pernah disebutkan oleh Ari.

"Kiran berbeda, Ma. Buktinya cuma dia kan, Ma, yang ingin Ari bawa untuk Ari kenalkan sama Mama sebagai calon istri Ari. Kalau yang lain kan cuma pacar Ma ...," elak Ari. Mama tersenyum simpul karena perkataan Ari benar adanya.

"Jadi Mama harus apa?" tanya Ariana. Ari kembali membisikkan sesuatu. Bisikan itu lebih lama dari sebelumnya. Mama tampak ragu dan berniat menolaknya. Namun Ari mengatupkan kedua tangannya dan menatap wajah Ariana dengan tatapan memelas. Ariana menghela nafas panjang kemudian mengangguk. Ari berbinar, sejurus kemudian memeluk Ariana dengan sangat erat. Pipi Ariana berulangkali mendapat kecupan ringan dari anaknya itu.

"Makasi ya, Ma ... makasih banget. Ari sayang Mama ...."

Flashback Off

...***...

Kiran menghela nafas panjang, berusaha menetralisir jantungnya yang kian bertalu. Ari masih menatapnya.

"Ayo masuk," mengulurkan tangannya dengan telapak tangan terbuka. Kiran menatap tangan Ari.

"Iya deh, aku tahu. Belum mahrom!" ucap Ari menarik tangannya, melihat keengganan di kedua mata Kiran.

"Kamu gak perlu khawatir. Aku akan menemanimu. Aku akan selalu berada disisimu." Ari menatap Kiran dengan penuh kesungguhan.

Ini sedikit aneh, menurut Kiran. Sewaktu Rangga mengajaknya menemui orang tuanya, tidak ada keresahan di dalam dirinya. Dalam pikirannya, jika mereka tidak suka padanya, ia akan memutuskan Rangga. Tapi kali ini berbeda. Kiran sendiri bingung. Terkadang ia sendiri sulit menebak arah hatinya.

Kiran kembali menghembuskan nafas pelan. Mengucap bismillah dalam hati, kemudian beranjak mengikuti Ari dari belakang, yang sepertinya begitu tidak sabar untuk membawa Kiran masuk ke dalam rumahnya.

Rumah Ari sangat megah menurut Kiran. Kemegahan itu sudah terlihat dari awal tatkala mereka memasuki gerbang. Jarak dari pintu gerbang ke rumahnya saja mungkin sama seperti jarak dari rumahnya ke ujung gang.

Kiran menaiki tangga yang terdapat di teras. Teras dengan enam pilar yang berdiri kokoh di atasnya. Di samping kanan kiri tangga tersebut terdapat beberapa bunga yang menambah kesan asri saat melihat rumah tersebut dari depan. Ada kolam kecil dengan air pancur di dekat bunga yang ada di sebelah kanan tangga.

Ari melangkah dengan pelan di depan Kiran sembari sesekali melirik ke belakang memastikan Kiran mengikutinya. Pintu depan rumah Ari dibuka. Seorang wanita paruh baya menunduk sedikit ke arah Ari dan memberikan senyuman kecil.

Ari menghentikan langkahnya. Menunggu Kiran untuk berdiri di sisinya. Entah kenapa saat ini jantung Kiran berdetak semakin cepat. Ia menghela nafas sebentar kemudian berdiri di sisi Ari dengan setenang mungkin.

Ari mengajak Kiran masuk ke dalam rumah dengan kode matanya, kemudian Ari pun melangkah masuk diikuti oleh Kiran.

"Kamu tunggu di sini dulu. Aku akan memanggil Mama. Jika boleh, aku ingin mandi sebentar." Kiran mengangguk dengan ragu. Sejujurnya ia tidak merasa tenang jika Ari meninggalkannya. Ia merasa sangat asing dan sangat sungkan di rumah ini.

"Kenapa? Kamu tidak ingin aku tinggalkan? Atau kamu ingin ikut aku sebentar ke kamar?" Ari seperti memahami kegelisahan Kiran. Kiran menggeleng pelan.

"Padahal aku berharap kamu mau tadi. Kan lumayan ada yang gosokin punggungku. Kalau perlu kamu juga bisa mandi bersamaku." Ari mengerling dengan tatapan menggoda. Kiran melototkan matanya.

Wanita paruh baya yang membuka pintu depan tadi, hanya menatap datar interaksi antara Ari dan Kiran. Meskipun sebenarnya sedikit banyak dia jadi tahu jika wanita yang dibawa Ari ini sepertinya adalah teman spesial Ari.

"Tina, tolong panggilkan Mama. Katakan jika Kiran sudah datang. Tolong buatkan minum untuk Kiran juga ya, Tina," ucap Ari cepat. Tina mengangguk tanpa ekspresi.

"Kiran, aku tinggal sebentar ya." Kiran menjawab dengan anggukan.

Ari berbalik meninggalkan Kiran yang masih menatap punggung pria itu. Selang beberapa langkah Ari menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Kiran.

"Aku cuma mandi sebentar. Jadi jangan rindukan aku ya ...," ucap Ari dengan senyum menggoda.

Kiran menyebikan bibirnya. Ari tertawa kemudian kembali melangkah lalu menaiki tangga. Entah kenapa sejak kejadian dirinya menanyakan Ari terkait peristiwa malam itu, ia jadi suka sekali menggoda Kiran. Wajah Kiran terlihat menggemaskan jika digoda olehnya.

Melihat Ari sudah menaiki tangga, Tina pun mengangguk sedikit ke arah Kiran lalu beranjak pergi ke belakang. Kiran menghembuskan nafas pelan.

Sebuah mobil tampak memasuki pekarangan rumah lalu berhenti di depan teras. Seorang pria dengan stelan resmi tampak turun dari mobil itu. Pria itu kemudian menaiki tangga teras. Mobil yang berhenti tadi pun meluncur kembali.

Kiran mengamati sekilas pria yang menaiki tangga tadi. Ia menajamkan matanya. Mencoba mengingat wajah yang sepertinya tidak asing baginya. Kemudian ia tersentak seketika menyadari bahwa pria itu adalah Radit. Ia mengatur debaran jantungnya yang bertalu semakin cepat. Mencoba menenangkan diri, dan merilekskan diri.

Pria itu memasuki pintu dan terpaku menatap Kiran. "Kau ...," berusaha mencerna kenapa Kiran ada di rumahnya. Kemudian ia baru ingat bahwa Ari mungkin yang membawanya.

"Mohon maaf, Tuan Radit. Saya kesini atas perintah Pak Ari," berdiri dan menganggukkan kepalanya sedikit.

Radit menatap Kiran tajam kemudian mendekati wanita itu. Jarak mereka kini hanya terhalang meja.

"Aku peringatkan padamu, Nona Sekretaris. Apapun yang sudah kau lakukan sebelumnya pada adikku hingga dia begitu menyukaimu, kini kau harus tahu, semuanya akan berbeda karena aku telah melihatmu. Jangan lakukan sesuatu yang melampaui batas karena apapun yang kau lakukan, aku akan mengetahuinya." Pria itu berbisik, memberikan sebuah ancaman pada Kiran.

Kiran hanya diam terpaku membalas tatapan Radit yang tajam. Wajahnya tampan, tapi kenapa lidahnya begitu tajam..., batin Kiran.

Radit melangkahkan kakinya, berniat meninggalkan Kiran. Namun sesaat kemudian Radit menoleh dan menatap tegas kepada Kiran. Sorot matanya tajam menandakan keseriusan.

"Kebohongan apapun yang kau ciptakan pada adikku demi mencapai tujuanmu, aku akan tahu," katanya santai, namun tegas dan penuh peringatan hingga membuat suasana sekitar terasa mencekam. Kiran menelan salivanya dengan kasar.

Radit berbalik kembali melanjutkan langkahnya namun kemudian ia terhenti tanpa menoleh mendengar suara Kiran memanggilnya. "Mohon maaf atas kebohongan yang telah saya lakukan pada Bapak. Namun satu hal yang perlu saya tegaskan pada Bapak, tidak ada satupun kebohongan yang saya lakukan pada Ari. Silahkan Anda kerahkan kemampuan Anda untuk memastikan itu," ucap Kiran, membalas dengan tidak kalah tegas.

Radit membisu untuk sesaat. Kemudian berjalan tanpa menoleh. Kiran menghela nafas panjang lalu kembali duduk.

Radit melangkahkan kakinya ke lantai tiga. Di lantai dua ia berpapasan dengan Ari yang sudah tampak lebih fresh. Ari ingin menegur kakaknya, namun melihat mata Radit yang begitu kelam ia pun mengurungkannya.

Ariana melangkahkan kakinya menuju ruang tamu ketika Tina memberitahunya bahwa kekasih Ari sudah datang. Di belakangnya tampak Tina dan seorang pelayan membawa nampan mengekorinya.

Kiran langsung berdiri melihat Ariana mendekatinya. Ia pun menganggukkan kepalanya dengan sopan. Ariana terpaku sesaat ketika sudah berhadapan di depan Kiran. Terutama ketika ia sudah melihat wajah gadis itu secara keseluruhan.

"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ariana mencoba berpikir ulang wajah siapakah yang pernah dilihatnya yang mirip seperti wajah gadis yang ada di hadapannya ini.

Kiran menggeleng pelan. "Perkenalkan saya Kiran, Nyonya." Ia mengulurkan tangannya ke arah Ariana.

Ariana tersenyum simpul balas mengulurkan tangan. Kiran mencium punggung tangan Ariana. Ariana sedikit terkejut namun ia berusaha tidak menampakkannya.

"O, iya. Kau gadis yang diceritakan Ari ya. Baiklah Kiran, silahkan duduk." Kiran menurut kembali duduk.

Tina mengawasi pergerakan pelayan yang membawa nampan tadi. Usai meletakkan minumannya, Tina dan pelayan tadi pun kembali ke belakang.

Ari datang dan bergabung bersama mereka. Ia mengambil tempat di samping Kiran. Menatap Ariana dengan senyum berbinar.

❤❤❤💖

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!