Di latar belakangi suasana awal terbentuknya penduduk Nusantara. Di mana terjadi konflik kepentingan antara kaum pendatang dari utara dengan penduduk yang telah terlebih dahulu tinggal di wilayah kepulauan Hindia.
Tidak sampai di situ, persaingan dan intrik meraih kekuasaan mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara ketika itu, terutama sejak Raja mereka Hyang Parikesit mengangkat Petruk menjadi Perdana Menteri.
Banyak pejabat dan cendikiawan yang mempertanyakan kebijakan Sang Raja. Mereka menganggap penunjukkan Petruk menjadi Perdana Menteri melanggar aturan, karena tidak melalui kompromi terlebih dahulu.
Terlebih lagi, selama menjadi Perdana Menteri, Petruk terkadang membuat peraturan yang dianggap aneh. Akibatnya penentangan terhadap penunjukkan dirinya, semakin menjadi-jadi.
Konflik antar pendukung semakin meruncing disertai adu siasat untuk menghancurkan lawan membuat suasana bertambah ruyam.
Apakah Petruk dapat mempertahankan jabatannya? Mari kita ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rimau Melayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Dara Putih
Semakin hari, semakin banyak saja pemuda bangsa punt menikah dengan wanita yang merupakan pengungsi bangsa utara (Suku Formosa). Pilihan para pemuda ini bisa dimaklumi karena wanita asal Suku Formosa tidak mensyaratkan mahar yang tinggi.
Para wanita Suku Formosa berharap dengan menjadi istri di keluarga bangsa punt, mereka dan anak keturunannya bisa diterima sebagai bagian dari warga negeri Mayapada, sementara tanah air mereka sendiri sudah dikuasai oleh bangsa lain.
Para wanita suku formosa bukan hanya mengincar para pemuda bangsa punt, pria beristripun tidak menjadi masalah buat mereka. Mereka bersedia menjadi istri ke-2 atau istri ke-3 dari suami mereka itu.
Fenomena ini menjadi persoalan tersendiri di negeri Mayapada. Banyak ditemukan suami istri cekcok, gara-gara ketahuan suaminya menikah lagi dengan wanita Suku Formosa.
Banyak para istri bangsa punt yang mengalami keretakan rumah tangga tersebut kemudian mengadukan nasibnya kepada Ibu Ratu Kirana. Ibu Ratu Kirana tidak lain ada permaisuri Hyang Parikesit, yang juga ibunda dari Pangeran Hyang Jayanaga.
Ibu Ratu Kirana adalah putri Mpu Wijaya yang merupakan seorang saudagar kaya raya. Mpu Wijaya memiliki puluhan kapal niaga, yang memasarkan rempah-rempah ke manca negara.
Jika Ki Kerto dianggap sebagai orang terkaya di Jawadwipa, maka Mpu Wijaya adalah orang terkaya di tanah sumatera. Selain Ibu Ratu Kirana, Mpu Wijaya memiliki 2 anak laki-laki, yakni Mpu Rama dan Mpu Bisma, dimana keduanya meneruskan perniagaan dari orang tuanya.
Ibu Ratu Kirana hanya bisa menasehati wanita-wanita itu agar bersabar. Ibu Ratu Kirana berjanji akan memikirkan permasalahan ini, untuk kemudian dapat dijadikan peraturan yang melindungi para istri dari Bangsa Punt.
Dalam upayanya tersebut, Ibu Ratu Kirana memanggil beberapa cendikia, terutama yang berasal dari kaum wanita. Pangeran Hyang Jayanaga pun ikut dipanggilnya, untuk diajak berdiskusi mencari solusi.
"Pangeran Jayan, apa kamu ada saran terkait persoalan para istri bangsa punt ini?" tanya Ibu Ratu Kirana kepada Putranya.
Pangeran Jayan adalah panggilan kesayangan Ibu Ratu Kirana kepada Pangeran Hyang Jayanaga, beda dengan ayahnya Hyang Parikesit yang lebih suka memanggilnya dengan panggilan Pangeran Aga.
"Ibunda Ratu, sebaiknya kita memilah dulu permasalahannya" jawab Pangeran Hyang Jayanaga.
"Sebetulnya ketika wanita suku utara mencari pasangan pria bangsa punt yang berstatus lajang atau duda, tidak ada yang protes atau menjadikannya masalah" ujar Pangeran Hyang Jayanaga lagi.
"Namun baru menjadi masalah ketika wanita-wanita itu bersedia menjadi istri ke-2 atau ke-3 dari pria bangsa punt" ucap Pangeran Hyang Jayanaga menambahkan.
"Oleh karena itu, kita permudah jika wanita-wanita itu memilih yang pertama, tetapi di sisi lain, kita persulit jika wanita-wanita itu memilih yang terakhir" jawab Pangeran Hyang Jayanaga melengkapi.
"Maksudnya bagaimana? ibu masih kurang paham" tanya Ibu Ratu Kirana.
"Maksudnya, jika wanita bangsa utara memilih pria lajang bangsa punt, mungkin bisa kita pikirkan memberi mereka lahan pertanian sebagai hadiah perkawinan" ucap Pangeran Hyang Jayanaga.
"Tetapi jika wanita bangsa utara itu mengincar pria beristri bangsa punt, dan berakibat merusak rumah tangga orang, maka perlu kita pikirkan untuk memberinya hukuman" kata Pangeran Hyang Jayanaga menjelaskan.
"Cukup menarik juga usulmu, tak sia-sia kamu di sekolahkan ke luar negeri" ujar Ibu Ratu Kirana memuji pendapat putranya tersebut.
"Nanti coba ibunda bicarakan usul ini dengam ayahmu Tuan Raja Hyang Parikesit, mudah-mudahan bisa disetujui" kata Ibu Ratu Kirana.
Setelah Ibu Ratu Kirana menyampaikan usulan tersebut kepada suaminya, tidak lama setelah itu muncul peraturan terkait pernikahan antara Bangsa Punt dengan penduduk pendatang.
Usulan Pangeran Hyang Jayanaga agar ada hadiah pernikahan dalam bentuk lahan pertanian sepertinya belum diterima. Namun adanya hukuman bagi wanita yang merusak rumah tangga dimasukkan dalam salah satu aturan yang dikeluarkan.
Munculnya peraturan pernikahan ini disambut baik oleh penduduk bangsa punt, namun ada sebagian yang menyayangkan munculnya aturan ini. Mereka yang keberatan terutama terkait adanya hukuman bagi wanita yang menikah dengan pria beristri.
Melalui Ki Jayalaga, salah seorang pemuka Suku Formosa minta ijin buat ketemu. Setelah disusun waktunya, Pangeran Hyang Jayanaga menjadwalkan bertemu di istana putra mahkota.
Pemuka Suku Formosa yang menemuinya itu bernama Sang Setya. Namun Sang Setya tidak sendiri, ia datang bersama putrinya yang bernama Dara Putih.
Putri Dara Putih diperkirakan berumur 19 tahunan, seumuran dengan Putri Raras anak Mpu Salya. Gadis ini berparas sangat cantik, bahkan kabarnya merupakan primadona di kalangan Suku Formosa.
Saat pertemuan berlangsung, Putri Dara Putih duduk persis di sebelah kiri ayahnya dengan posisi kursi agak ke belakang sedikit.
"Tuan Pangeran, saya bingung mengapa sampai ada hukuman bagi wanita kaum kami, yang menikah dengan pria beristri" kata Sang Setya ketika dipersilahkan untuk berbicara.
"Begini Tuan Setya, wanita yang di hukum itu juga ada prasyaratnya yakni sampai merusak rumah tangga orang lain" jawab Pangeran Hyang Jayanaga menjelaskan.
"Jadi tidak semuanya akan dihukum" kata Pangeran Hyang Jayanaga lagi.
Sang Satya terdiam sejenak. Sebetulnya dia sudah paham dengan peraturan yang baru dikeluarkan itu. Namun dirinya cari-cari alasan agar bisa bertemu Pangeran Hyang Jayanaga. Tujuannya tentu untuk memperkenalkan putrinya kepada Sang Putra Mahkota.
"Tuan Pangeran, faktanya di lapangan sering kali para pria beristri ini mengaku bujangan atau telah lama menduda. Jadi sebetulnya, dari pihak wanitalah yang menjadi korban" kata Sang Setya lagi.
"Memang kejadian yang Tuan Setya ungkapkan bisa saja terjadi, oleh karena itu sebelum hukuman dilaksanakan harus melalui persidangan dahulu, jadi bisa ketahuan siapa sesungguhnya yang bersalah" jawab Pangeran Hyang Jayanaga.
Sang Setya hanya menganggukkan kepalanya, dia sudah menduga akan mendapat jawaban seperti ini. Namun yang jelas misi utamanya mempertemukan putrinya dengan Pangeran Hyang Jayanaga berjalan dengan sukses.
Kemudian Sang Setya sedikit menoleh ke samping kiri.
"Putriku Dara Putih, apa ada yang ingin engkau sampaikan?" tanya Sang Setya kepada Putrinya.
"Terima kasih ayah... Tuan Pangeran apakah seorang gadis lajang seperti saya, menikah dengan pemuda bangsa punt" tanya Putri Dara Putih pura-pura tidak paham dengan peraturan yang baru dibuat.
Mendengar kata "gadis lajang" dari mulut Putri Dara Putih, berdetak kencang jantung Pangeran Hyang Jayanaga, apalagi ketika berbicara Putri Dara Putih sambil tersenyum manja.
"Oh... tentu tidak, wanita lajang dari suku utara diperkenankan mencari jodoh pemuda lajang bangsa punt" jawab Pangeran Hyang Jayanaga sambil menahan diri.
"Terima kasih Tuan Pangeran, mudah-mudahan saya bisa menemukan jodoh sebaik tuan" ucap Putri Dara Putih sedikit menggoda.
Pertemuan dengan pemuka Suku Formosa itu kemudian dilanjutkan dengan santap siang bersama. Dalam santap siang itu, Putri Dara Putih banyak bercerita tentang beragam jenis masakan khas sukunya. Pangeran Hyang Jayanaga sesekali mengajukan pertanyaan, dan nampak keduanya semakin akrab saja.
d tunggu novel selanjutnya kak
Ini Cerita kisah nyata bukan sejarah..
BTW author suka nonton wayang y:)
taunya datuk maringgi..
mereka saudaraan y..atau nama Marga y
dilanjut lagi ya kak, tetap semangat nulisnya.
aku udah kasih jempolnya, ya🙏
mampir dicerita aku
hati yang terluka sama aku menikahi pacar sahabat ku
jngan lupa mampir