Netha Putri, wanita karir yang terbangun dalam tubuh seorang istri komandan militer, Anetha Veronica, mendapati hidupnya berantakan: dua anak kembar yang tak terurus, rumah berantakan, dan suami bernama Sean Jack Harison yang ingin menceraikannya.
Pernikahan yang dimulai tanpa cinta—karena malam yang tak terduga—kini berada di ujung tanduk. Netha tak tahu cara merawat anak-anak itu. Awalnya tak peduli, ia hanya ingin bertanggung jawab hingga perceraian terjadi.
Sean, pria dingin dan tegas, tetap menjaga jarak, namun perubahan sikap Netha perlahan menarik perhatiannya. Tanpa disadari, Sean mulai cemburu dan protektif, meski tak menunjukkan perasaannya.
Sementara Netha bersikap cuek dan menganggap Sean hanya sebagai tamu. Namun, kebersamaan yang tak direncanakan ini perlahan membentuk ikatan baru, membawa mereka ke arah hubungan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita
Malam turun perlahan, menyelimuti rumah dengan cahaya lampu yang hangat dan tenang. Setelah makan, ketiganya kini duduk di sofa ruang keluarga.
El dan Al duduk bersebelahan, kaki mereka menggantung, wajah serius menatap layar ponsel. Jari-jari kecil mereka bergerak cepat, sesekali terdengar suara efek game yang nyaring.
Netha duduk di sisi lain sofa, punggungnya bersandar, ponsel di tangan. Awalnya ia hanya membuka pesan dan jadwal gym besok, tapi pandangannya beberapa kali melirik ke arah si kembar.
Netha menghela napas kecil, lalu akhirnya membuka suara. “Kalian sedang main apa?”
Dua kepala kecil menoleh hampir bersamaan.
“Game,” jawab Al otomatis.
El melirik kakaknya. “Game tembak-tembakan… eh, bukan tembak-tembakan. Ini yang lari-lari, Ma.”
Netha mendekat sedikit. “Boleh Mama lihat?”
Keduanya saling pandang sejenak, lalu El menggeser ponsel sedikit ke arah Netha.
Di layar terlihat game co-op dengan karakter kartun kecil yang harus bekerja sama menyelesaikan rintangan.
“Oh…” Netha menyipitkan mata. “Ini Adventure Pals.”
El berkedip. “Mama tahu?”
Netha mengangguk. “Dulu Mama sering main.”
Lalu Al bertanya pelan, “Mama mau ikut main?”
Pertanyaan itu terdengar hati-hati, seolah takut ditolak.
Netha mengangkat ponselnya. “Kalau kalian mau satu tim sama Mama.”
Mata El langsung berbinar. “Beneran?”
Netha menganggukkan kepalanya, membuat si kembar menyunggingkan senyuman manis nya.
Mereka bertiga mulai menyusun tim. El memilih karakter lincah, Al memilih yang kuat, dan Netha mengambil karakter dengan kemampuan strategi.
Game dimulai.
Di layar, ketiga karakter bergerak bersamaan.
Awalnya El dan Al masih kikuk, sering jatuh atau salah lompat.
“Al, jangan maju dulu!”
“Eh! Aku jatuh!”
“Ma, tolong!”
Jari Netha bergerak cepat. “Tenang. Ikut Mama.
Sekarang lompat. Satu… dua.”
Mereka berhasil melewati rintangan pertama.
“Yay!” Al mengangkat tangan.
“Menang satu!” seru El.
Netha tersenyum kecil, matanya fokus ke layar. Gerakan tangannya lincah, jelas bukan pemula.
“Ma, Mama jago,” kata Al kagum.
“Latihan,” jawab Netha singkat.
Beberapa level berlalu. Suara tawa mulai memenuhi ruang keluarga.
“El, jangan dorong Mama!”
“Bukan sengaja!”
“Al, kamu jadi umpan dulu.”
“Hah?!”
Ketika karakter mereka kalah di satu level, Al mendengus. “Aduh, gagal.”
Mereka bermain hingga satu jam dan akhirnya menyelesaikan level itu dengan susah payah. Saat tulisan MISSION COMPLETE muncul, ketiganya terdiam sejenak, lalu tertawa bersamaan.
El dan Al masih duduk berdempetan di sofa, napas mereka sedikit tersengal, pipi memerah karena terlalu fokus dan tertawa barusan.
Netha meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap kedua anak itu lebih lama dari biasanya.
“Capek?” tanyanya.
El menggeleng cepat. “Enggak.”
Al menguap kecil. “Sedikit…”
Netha menggeser posisi duduknya, kini menghadap mereka sepenuhnya. Tangannya bertumpu di paha, sikapnya tenang tapi serius.
Netha menepuk pahanya pelan, menarik perhatian mereka. “Kalau begitu,” katanya sambil berpikir, “bagaimana kalau besok-besok kalian undang teman ke rumah?”
El dan Al menoleh hampir bersamaan.
“Daripada main di handphone terus,” lanjut Netha, nadanya santai, “Mama bisa belikan PlayStation. Sekarang ada yang canggih. Layarnya gede, mainnya juga bisa rame-rame.”
“Lagipula, uang yang diberikan Sean sangat banyak, hanya PlayStation saja, tidak akan berkurang banyak bukan?” pikir Netha.
Kedua anak itu terdiam. Tidak langsung bersorak. Tidak langsung senang. Mereka malah saling bertukar pandang.
Satu detik. Dua detik.
Netha mengerutkan kening. Aneh. Biasanya anak lima tahun sudah melompat kegirangan mendengar kata PlayStation.
“Kenapa?” tanya Netha curiga. “Bukannya senang?”
El menggaruk pipinya. Al menggeser posisi duduk.
Tatapan Netha makin menyipit. “Jangan bilang…”
Ia mencondongkan tubuh ke depan “Kalian tidak punya teman?” tanya Netha tiba-tiba, memecah keheningan.
El dan Al menoleh ke arahnya hampir bersamaan. Mereka terdiam sejenak, lalu saling bertukar pandang.
“Punya!” bantah Al cepat, nadanya sedikit meninggi.
“Aku banyak teman,” tambahnya sambil menyilangkan tangan, jelas tersinggung.
El mengangguk kecil. “Iya, Ma. Banyak.”
“Oh ya?” Netha menyandarkan punggung lagi, menatap mereka satu per satu. “Kalau gitu, kalian biasanya main apa sama teman-teman kalian?”
“Kenapa Mama tanya itu?” Al menjawab lebih dulu.
“Yah, mama cuma penasaran,” kata Netha, menatap mereka dengan ekspresi lembut. “Biasanya anak-anak seusia kalian punya banyak teman, kan? Apalagi kalian tinggal di kompleks militer. Di sana pasti banyak anak-anak lain, bukan? Bermain bersama, bukan masalah.”
El diam, tapi matanya mengerjap sedikit lebih cepat dari biasanya, pertanda ia tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Al, seperti biasa, mencoba menguasai situasi dengan bicara.
Netha menyilangkan tangan di dada. “Kalau begitu…”
Ia memiringkan kepala. “Kalian biasanya main apa dengan teman-teman kalian?”
Pertanyaan itu membuat Al terdiam sejenak. El juga. Kali ini lebih lama.
Al yang pertama membuka mulut. “Kami biasanya lari bareng.”
“Bermain Kejar-kejaran?” tanya Netha, pikir Netha anak seusia mereka sangat suka main kejar-kejaran.
Al terdiam lama lalu mengangguk. “Iya.”
“Terus?” Netha menatap El.
El menelan ludah kecil. “Kami juga kadang berlatih bertarung.”
Netha mengernyit. “Bertarung?”
“Iya, itu semacam latihan,” tambah Al cepat.
“Latihan apa?” suara Netha kini terdengar lebih waspada.
El menjawab pelan, tapi jelas. “Latihan militer.”
Sunyi. Lampu ruang keluarga berdengung pelan, seperti ikut terkejut.
“Militer?” ulang Netha, pelan tapi tajam.
Al mengangguk. “Iya.”
Netha tertawa kecil, tawa yang lebih terdengar seperti tidak percaya.
“Itu untuk orang dewasa,” katanya. “Bukan untuk anak lima tahun.”
Ia menatap wajah mereka satu per satu. “Teman-teman kalian, tentu bukan orang dewasa, kan?”
El dan Al kembali saling pandang. Lalu, perlahan keduanya mengangguk.
Netha membeku. “Tidak mungkin,” katanya pelan. “Itu tidak mungkin.”
“Kalian bercanda,” ucapnya, lebih pada dirinya sendiri. “Pasti bercanda.”
Al menggeleng. “Kami nggak bohong, Ma.”
El mengangguk pelan. “Kami nggak boleh bohong.”
“Bukankah di mess banyak anak-anak seusia kalian?” tanyanya cepat. “Kenapa kalian tidak main dengan mereka?”
Keduanya terdiam. Lalu El menjawab dengan tajam, “Kita nggak butuh banyak teman seusia kita.”
Jawaban itu membuat Netha mengernyit. Netha tahu ada sesuatu yang tidak beres. Anak-anak ini terlalu muda untuk memutuskan tidak membutuhkan teman. Mereka pasti menyembunyikan sesuatu.
Netha dalam hati “Ada apa sebenarnya di kompleks militer itu? Kenapa mereka tidak punya teman seusia nya? Apakah mereka pernah mengalami sesuatu yang buruk?”
Namun, ia memutuskan untuk tidak terlalu memaksa. “Oke, kalau kalian tidak mau cerita sekarang, tidak apa-apa,” katanya pelan. “Tapi kalian tahu, kan, kalau Mama selalu di sini kalau kalian mau berbagi cerita, jadikan Mama teman kalian. Ingat kan?”
El tetap diam, sementara Al hanya mengangguk kecil, tampak tidak benar-benar memikirkan ucapan Netha.
“Bagaimana dengan sekolah?” Netha bertanya dengan santai.
“Kita nggak pernah belajar, apalagi pergi ke sekolah,” jawab Al dengan santai. “Papa nggak pernah ngajarin. Dia cuma ngajarin cara bertarung.”
Netha tertegun.
“Tapi papa nggak pernah ngajarin kita baca atau nulis, Papa selalu sibuk.” tambah Al, nadanya kembali datar. “Mama juga nggak pernah ngajarin.”
Netha merasa jantungnya mencelos.
Dia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. “Kalian tahu, membaca dan menulis itu penting,” katanya pelan. “Kalau kalian tidak bisa, bagaimana kalian akan belajar hal-hal lain?”
“Kita nggak perlu itu,” jawab Al cepat. “Kalau kita nggak bisa, papa yang baca buat kita. Lagian, kita kan anak-anak militer. Nggak butuh belajar banyak.”
Netha mencoba menyembunyikan perasaannya.
“Maafkan Mama nak, mama memang salah selama ini,” katanya jujur. “Tapi mama ingin memperbaiki semuanya. Apakah kalian menerima nya?”
Al diam, tampaknya mempertimbangkan tawaran itu. El menatap Netha dengan ekspresi yang sulit diartikan, tapi ada secercah harapan di matanya. Al akhirnya mengangguk kan kepalanya, di ikuti El.
Netha terdiam. Dalam hati, ia merasa marah sekaligus sedih. “Sean, Netha, apa yang kalian pikirkan? Anak-anak ini butuh perlindungan.”