Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan dari Masa Lalu Aisha
Trauma psikologis akibat bentakan Adrian siang tadi membuat Aisha mengurung diri di dalam paviliun. Beruntung, Kael hari ini sangat tenang dan lebih banyak tertidur, seolah memahami bahwa "ibunya" sedang tidak baik-baik saja. Namun, ketenangan di paviliun itu kembali terusik menjelang sore hari.
Aisha sedang melipat pakaian bayi Kael di dekat ranjang ketika ponselnya di atas meja kembali bergetar panjang. Bukan lagi pesan singkat, melainkan sebuah panggilan telepon dari nomor tidak dikenal.
Jantung Aisha mencelos. Firasatnya buruk. Dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara.
"Halo? Aisha? Akhirnya kau angkat juga telepon ini, Pelacur sialan!"
Suara cempreng dan melengking itu seketika membuat darah Aisha berdesir dingin. Itu bukan suara Taufik, melainkan suara Ibu Ratna—mantan ibu mertuanya yang kejam.
"I-Ibu..." bisik Aisha, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak sudi punya menantu pembawa sial seperti kau!" seru Ibu Ratna dari seberang telepon dengan nada menghina. "Taufik memberi tahu aku kalau kau sekarang bekerja di rumah orang kaya di Menteng. Hebat juga kau, ya? Belum cerai resmi sudah bisa menggoda lelaki kaya demi menumpang hidup di rumah mewah!"
Air mata Aisha menetes deras, rasa sakit hati yang teramat sangat kembali mencuat. "Ibu, tolong hentikan... Saya di sini hanya bekerja dengan halal. Tolong jangan ganggu saya lagi. Bukankah kalian sudah membuang saya?"
"Bekerja halal atau menjual diri?!" potong Ibu Ratna sinis. "Dengar, Aisha. Kami tahu kau memegang banyak uang sekarang. Taufik sedang butuh modal usaha dan bayar utang. Kalau kau tidak mau rahasia kotormu dan asal-usulmu kami bongkar kepada majikan kayamu itu, transfer lima puluh juta ke rekening Taufik besok pagi! Jika tidak, jangan salahkan kami kalau kami datang dan membuat keributan di depan rumah majikanmu!"
*Tut... tut... tut...*
Panggilan diputus sepihak. Aisha menjatuhkan ponselnya ke atas kasur, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis histeris tanpa suara agar tidak membangunkan Kael.
Uang seratus juta yang diberikan Adrian di dalam amplop cokelat tempo hari masih utuh tersimpan di lacinya. Namun, Aisha tahu tabiat mantan mertua dan suaminya. Sekali ia memberikan uang itu, mereka tidak akan pernah berhenti memerasnya. Menyerah pada ancaman mereka sama saja dengan menyerahkan lehernya sendiri untuk terus dicekik.
---
Di saat yang sama, di pos keamanan gerbang depan mansion Arkan, suasana tampak tegang. Dua orang pengawal bertubuh kekar sedang mengadang seorang pria bermuka licik yang mengenakan jaket usang. Pria itu adalah Taufik.
"Saya katakan sekali lagi, Pak. Ini kawasan privat. Anda tidak bisa masuk tanpa janji atau izin tertulis dari pemilik rumah," ujar salah satu pengawal dengan nada tegas dan mengintimidasi.
Taufik mendengus, matanya melirik rakus ke arah mansion mewah di balik jeruji besi gerbang. "Saya tidak ada urusan dengan pemilik rumah ini! Saya mencari istri saya, Aisha! Saya tahu dia disembunyikan di dalam rumah ini. Panggil dia keluar sekarang, atau saya akan berteriak di sini!"
"Ada keributan apa ini?"
Sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan otoritas mendadak terdengar dari arah belakang. Pengawal itu langsung berbalik dan menunduk hormat saat melihat Adrian berjalan mendekat, didampingi oleh Hendra, kepala pengawalnya. Adrian baru saja hendak keluar untuk urusan bisnis malam.
Taufik tertegun melihat sosok Adrian yang begitu tinggi, tegap, dan memancarkan aura kemewahan serta kekuasaan yang mutlak. Nyali Taufik sempat menciut selama beberapa detik.
"Tuan Adrian, pria ini memaksa masuk dan mengaku sebagai suami dari Nona Aisha," lapor pengawal tersebut.
Adrian menyipitkan matanya yang tajam bak elang. Ia menatap Taufik dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. Mengingat kembali rekaman CCTV tempo hari saat Aisha ketakutan setelah menerima pesan, Adrian langsung bisa menyatukan kepingan teka-teki itu. Pria brengsek di depannya inilah yang menjadi sumber ketakutan Aisha.
"Kau... suaminya Aisha?" tanya Adrian, suaranya sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat atmosfer di sekitar gerbang terasa mencekam.
Taufik mencoba menegakkan bahunya, berusaha terlihat berani. "Ya! Saya suaminya yang sah! Dan Anda... Anda kaya tapi ternyata suka menyembunyikan istri orang, ya? Apa yang Anda lakukan pada istri saya di dalam sana?!"
Hendra langsung maju satu langkah, bersiap untuk menghajar Taufik, namun Adrian mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar Hendra menahan diri.
Adrian melangkah maju hingga jaraknya dengan Taufik hanya terpisah oleh jeruji gerbang besi. Senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibir sang CEO.
"Siapa namamu?" tanya Adrian pendek.
"Taufik!" jawabnya menantang.
"Dengar baik-baik, Taufik," ucap Adrian, suaranya merendah namun penuh dengan penekanan yang mematikan. "Aisha berada di dalam rumah ini karena terikat kontrak resmi denganku. Mulai detik ini, apa pun dan siapa pun yang berada di bawah atap rumahku, adalah tanggung jawabku. Jika kau atau keluargamu berani melangkah satu senti saja melewati gerbang ini, atau berani mengusik Aisha lagi..."
Adrian menjeda kalimatnya, tatapan matanya mengunci manik mata Taufik dengan dingin yang absolut.
"...aku pastikan besok pagi kau tidak akan hanya kehilangan istrimu, tapi juga kebebasanmu. Aku bisa menjebloskanmu ke penjara dengan ratusan pasal dalam kedipan mata. Jangan pernah menguji batas kesabaranku."
Mendengar ancaman mutlak dari pria sekelas Adrian Arkan, seluruh keberanian Taufik lenyap tak berbekas. Wajahnya mendadak pias, dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia menyadari bahwa pria di depannya bukanlah lawan yang bisa ia peras dengan mudah.
"Hendra, usir dia dari area perumahan ini. Jika dia kembali lagi, patahkan kakinya," perintah Adrian datar sebelum berbalik badan dan berjalan kembali menuju mobil mewahnya tanpa menoleh lagi.
Taufik melangkah mundur dengan tergesa-gesa, ketakutan setengah mati, lalu segera kabur dari depan gerbang. Sementara itu, Adrian yang sudah duduk di dalam mobilnya, menatap ke arah paviliun belakang dari kejauhan. Guratan kemarahan masih tersisa di rahangnya yang mengeras. Ada rasa posesif yang aneh yang mendadak muncul di dalam benak sang CEO—rasa ingin melindungi wanita rapuh yang kini menjadi Ibu Susu bagi putranya itu dari dunia luar yang kejam.
---
Bersambung