[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8. Kontrak Konyol
Zahra melangkahkan kakinya kembali ke kelas setelah mengembalikan buku yang di pinjamnya di perpustakaan. Koridor nampak sepi karena jam pelajaran tengah berlangsung, tidak seperti kelas 11 IPA 2 karena guru yang bersangkutan sedang sakit.
Zahra menelusuri setiap hal yang ada di sekolahnya ini, sekolah bertingkat empat. Tingkat pertama untuk kelas 10, tingkat kedua untuk kelas 11, tingkat ketiga untuk kelas 12 yang bercampur dengan ruang guru, perpustakaan, dan ruang-ruang yang penting lainnya dan terakhir tingkat keempat rooftop sekolah, kecuali ruang OSIS dan UKS yang berada di tingkat 2 dan kantin yang berada di tingkat pertama, toilet sekolah yang berada di setiap tingkatnya.
Zahra menuruni tangga dengan bersenandung riang. Tidak ada yang mengamatinya, tidak ada sorot mata aneh yang di dapatinya, tidak ada bisikan-bisikan halus tentangnya. Jika begini terus, Zahra akan selalu merasa bahagia.
Zahra berjalan sambil melihat-lihat ruangan apa saja yang di laluinya. Lantas langkahnya berhenti saat melirik papan yang bertuliskan 'Ruang Osis'. Ruang yang ingin sekali di masukinya dari dulu tapi belum kesampaian.
Zahra menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Bismillah ...," gumamnya sebelum mengetuk pintu di depannya. Pintu Berwarna biru yang sedikit terbuka menandakan ada seseorang di dalam ruangan itu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," sahut seseorang di dalam sana.
Setelah mendapat persetujuan, Zahra melangkahkan kakinya dengan pandangan yang tak henti-hentinya melihat ke sekeliling ruangan ini. Banyak kertas-kertas yang tersusun rapi di sini, tentu saja itu kertas penting sangat penting. Pikir Zahra.
Pandangannya jatuh pada seorang pemuda yang sedang menyusun beberapa kertas yang berserakan di meja panjang, tempat diskusi para anggota OSIS.
"Maaf ... saya Zahra," ucap Zahra sopan setelah berdiri di dekat pemuda yang terlihat fokus menyusun lembaran demi lembaran kertas di depannya.
Pemuda itu mendongakkan kepalanya, menatap gadis yang sedang berdiri di sampingnya.
"Lo murid baru itu kan? Nama lo Zahra," ujarnya dengan nada ramah.
"Iya," jawab Zahra kikuk.
Zahra bingung harus memulai dari mana. Ia ingin bergabung menjadi anggota OSIS, sangat ingin. Tapi, Zahra tidak tahu harus memulai itu dari mana. Apakah ia langsung saja mengatakan bahwa dia ingin bergabung jadi anggota OSIS? atau Zahra kembali saja dan melupakan keinginannya untuk bergabung di salah satu organisasi kesukaannya. Itulah yang ada di benak Zahra sekarang---bingung.
"Ada apa?" tanya pemuda itu yang ternyata adalah Farhan.
"Nggak kok, aku cuman mau liat-liat ruangan ini saja," elak Zahra.
Zahra menggerutu sendiri di dalam hatinya atas kebohongan yang lagi-lagi di ucapkannya.
"Lo mau gabung jadi anggota OSIS?" tebak Farhan setelah meneliti kegugupan yang melingkupi Zahra.
Dan yap tepat sasaran!
Mata Zahra membulat sempurna. "Emang bisa?" tanyanya polos.
Farhan terkekeh pelan melihat tingkah Zahra yang menggemaskan, hanya dengan menanyakan itu ekspresi yang tadinya malu-malu kucing sekarang berubah drastis.
"Mulai hari ini lo jadi wakil gue, gue bakalan yakinin para anggota gue untuk nerima lo," jelas Farhan dengan nada yakin.
Zahra menatap berbinar Farhan, Zahra masih tidak percaya akan apa yang di dengarnya.
Zahra mencubit lengannya sendiri dan ternyata sakit dan itu artinya ini bukan mimpi. Zahra tidak akan pernah tau jika salah satu keinginannya akan terkabul dengan begitu mudah.
Farhan berdiri dari duduknya, dan kemudian menunduk menatap gadis yang hanya setinggi dengan dadanya. "Ngapain lo nyubit lengan lo sendiri?" tanya Farhan dengan kening berkerut bingung.
Zahra mendongak menatap lurus mata Farhan. "Ternyata aku enggak salah dengar," sahut Zahra dengan pandangan berbinar. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang berseri, Zahra sangat senang dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Zahra menatap Farhan dengan antusias. "Ok! jadi apa yang harus aku kerjakan?" tanyanya antusias dengan semangat juang 45.
Farhan tersenyum melihat tingkah aneh gadis di depannya. Senyum yang Farhan pancarkan hanya senyum biasa tetapi mampu membuat gadis-gadis yang melihatnya memekik kegirangan, dan gadis itu tentunya selain Zahra.
"Tugas lo, besok jam istirahat harus ke ruangan ini karena besok ada rapat OSIS sekaligus meresmikan lo sebagai wakil ketos baru," titah Farhan.
Zahra masih tidak percaya, hingga dua detik setelahnya Zahra merasa ada yang janggal di pikirannya.
Kening Zahra berkerut bingung. "Emang yang jadi ketosnya siapa?" tanya Zahra dengan tatapan polosnya, membuat Farhan menahan mati-matian dirinya agar tidak tertawa.
Entah mengapa Farhan merasa senang jika harus berkomunikasi dengan Zahra, gadis itu bahkan berhasil membuat Farhan tak henti-hentinya tersenyum tertahan hari ini.
Farhan kembali bersikap biasa-biasa saja. "Gue," jawabnya singkat tetapi mampu membuat Zahra kembali berulah.
"Wahh ... Nama kakak siapa?" seru Zahra.
Farhan diam-diam menghela nafas. Padahal, mereka sempat bertemu sebelumnya, apakah wajahnya begitu susah untuk di ingat. "Nama gue Farhan, Farhan Zahran Radeya," jawab Farhan mengucapkan nama lengkapnya.
Farhan Zafran Radeya sang ketua OSIS dua periode. Ketua OSIS yang jadi dambaan para siswi-siswi waras sekolah ini, karena selain tampannya yang di atas rata-rata, kepintarannya pun tak dapat di ragukan lagi.
Farhan kerap memenangkan perlombaan dari berbagai penjuru membuat nama baik sekolah ini kian bersinar. Farhan juga kaya raya karena anak dari pemilik sekolah ini, anak sulung dari Martin Radeya pemilik Radeya company.
Kepintarannya yang di atas rata-rata pasti menjadikannya penerus perusaahan milik Papanya. Dan plus-nya lagi sikap ramah dan sifat baiknya kepada orang lain tanpa pamrih, sehingga dirinya mendapatkan julukan perfect boy oleh penghuni sekolah.
Zahra mengangguk-angguk mengerti. "Oh, Kak Farhan," gumamnya.
Bahkan, Zahra masih tidak sadar bahwa seorang pemuda di depannya ini ialah kakak dari teman kelasnya Verrel. Rasa senangnya hari ini membuat daya ingat dan pikirannya melenceng.
Farhan merasa obrolannya dengan Zahra sudah selesai. Farhan memilih duduk kembali dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Hingga suara Zahra terdengar lagi dan terpaksa Farhan kembali berhenti.
"Kak?" panggil Zahra.
"Iya?" sahut Farhan.
"Kak, aku nggak di suruh bawah pas photo 3×4, photo copy kartu keluarga dan lain-lain gitu kak?" tutur Zahra dengan kepolosannya.
Farhan bahkan sempat terkejut dengan penuturan polos Zahra, tapi Farhan dengan cepat mengendalikan ekspresinya dan segera mengangguk.
Zahra terdiam sejenak.
"Baik banget sih kak Farhan, nggak nyesel deh Zahra pindah kesini bisa ketemu dengan orang baik kayak kak Farhan," ujar Zahra dalam hati.
Farhan kembali melanjutkan pekerjaannya menyusun dokumen-dokumen yang masih berserakan di meja. Farhan melirik Zahra sekilas yang masih berdiri sambil tersenyum. Membuat Farhan lagi-lagi menahan senyum dan bersikap biasa-biasa saja seolah-olah kehadiran Zahra tidak membuyarkan konsentrasinya.
"Ya udah, aku ke kelas dulu. Besok aku kesini lagi, makasih banyak kak," pamit Zahra sopan. Setelah itu, memilih untuk segera keluar ruangan ini.
Setelah Zahra berbalik pergi, Farhan mengeluarkan senyum yang sudah lama di tahannya.
Farhan menatap kepergian Zahra dengan senyum tipis yang terpancar di bibirnya. Merasa tidak percaya jika gadis yang menjadi trending topic di sekolahnya ini karena memakai hijab ke sekolah seorang diri, sering menerima sorotan tajam dan sunggingan licik, tersenyum merekah tanpa beban hanya karena di tawarkan menjadi wakil dirinya.
Entah apa yang sekarang Farhan rasakan, kehadiran Zahra mampu membuat warna di hidupnya bertambah.
####
"Audy aku senang banget hari ini," pekik Zahra antusias setelah mendudukkan dirinya di bangku.
Audy tersenyum tipis. "Why?" tanya Audy lumayan penasaran. Audy sebenarnya tidak benar-benar berniat ingin berteman dengan Zahra, hanya saja Audy merasa kasian.
"Tadi waktu pulang dari perpustakaan aku ngeliat ruang osis dan tau nggak apa yang aku lakukan saat itu?" tanya Zahra antusias.
Bahkan senyumnya masih mengembang kala menceritakan hal ini ke Audy. Teman-teman sekelas Zahra bahkan merasa heran dan ada yang bergidik ngeri, saat Zahra masuk ke kelas dengan keadaan tersenyum seolah-olah mendapat undian berhadiah mobil.
Audy memutar bola matanya jengah. "Nggak!" jawabnya singkat.
Zahra kembali menceritakan kejadian-kejadian di ruang osis dengan antusias, mulai saat dia mengetuk pintu ruangan itu sampai akhirnya berada di dekat Audy sekarang.
Zahra bertopang dagu masih dalam keadaan tersenyu., "Kak Farhan orangnya baik yah, ramah, ganteng, pintar lagi! " gumam Zahra memuji Farhan. Walaupun pelan, Audy masih dapat mendengarnya samar-samar dengan bantuan gerakan mulut Zahra.
"Iya," jawab Audy datar.
Audy tersenyum kecut tanpa sepengetahuan Zahra yang masih berangan-angan. Farhan memang pemuda yang sempurna, tidak heran jika banyak yang menyukainya, heranlah jika ada yang tidak menyukai Farhan.
Bahkan, seorang Audy yang cuek dan dingin pun tak menuntut kemungkinan bahwa ia juga dapat menyukai Farhan.
Zahra tersadar dari angan-angannya, dan entah kenapa Zahra menoleh ke arah Verrel yang masih saja memejamkan mata, padahal bel istirahat sebentar lagi berbunyi.
Terlintas di pikiran bahwa Verrel telah mentraktirnya di hari pertama sekolah, dan Zahra belum berterimakasih. Sebenarnya ia ingin berterimakasih di hari berikutnya, tapi karena Verrel keseringan bolos sehingga tidak sempat bertemu.
Entah angin apa yang kali ini menerpa Verrel hingga pemuda itu terlelap dengan pulas.
Bahkan, banyak siswi-siswi teman sekelasnya yang mengambil gambarnya secara diam-diam.
Zahra tersenyum jahil dan berjalan sambil menjinjitkan kakinya layaknya seorang pencuri yang sedang sembunyi karena tidak ingin ketahuan oleh sang pemilik rumah.
Audy yang melihat tingkah Zahra hanya berkerut bingung, tetapi tak berniat menegur Zahra sama sekali.
Zahra menunduk mensejajarkan tingginya dengan pemuda yang tertidur di atas lipatan tangan.
Satu!
Dua!
Tiga!
"KEBAKARAN!!" pekik Zahra, setelah itu tersenyum puas.
Zahra bahkan tidak sempat berfikir dampak dari tingkahnya. Zahra hanya ingin berterimakasih dengan Verrel.
Verrel yang menenggelamkan wajahnya diatas lipatan tangannya sambil tertidur terpelonjak kaget, karena suara pekikan nyaring di telinganya.
Zahra terdiam.
Teman-teman sekelas mereka pun yang mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing mendadak berhenti, ikut terkejut dengan teriakan Zahra.
Ada yang menatap tajam ke arah Zahra dengan mulut komat-kamit melafazkan sumpah serapah. Zahra yang terdiam sejenak pun mulai merasa takut, sedikit tapi pasti jantungnya sudah berdetak tak karuan. Keringat dingin menetes di pelipisnya yang ia hapus dengan cepat.
Zahra tersenyum kikuk ke arah Verrel yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Mampus aku," batin Zahra.
Audy yang melihat tingkah teman barunya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ikut merasakan malu akibat ulah Zahra.
Sedangkan Deon dan Daniel yang tadinya merasa bosan kini tertawa terbahak-bahak, melihat keberanian Zahra dan ekspresi bangun tidur Verrel.
Verrel menatap tajam ke arah Zahra. "Lo ..." Belum sempat Verrel mengucapakan kalimat pedasnya Zahra dengan cepat memotongnya.
"Aku cum--an mau bilang terimakasih udah itu aj-aja," potong Zahra cepat dan gugup.
Verrel mendongak menatap gadis yang berdiri di sampingnya. "Trus maksud lo apa bangunin gue?" desis Verrel, membuat Zahra semakin gugup dan berdiri gemetaran.
Zahra menelan saliva-nya gugup. Entah perasaan Zahra saja atau memang tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. "Aku cuman mau ngucapin makasih itu aja," balas Zahra berusaha setenang mungkin.
Verrel mendelik dan terdiam sejenak, di satu sisi Verrel tidak ingin jika Deon dan Daniel mengetahui bahwa ia telah mentraktir Zahra. Bisa-bisa kedua sahabat laknatnya itu akan menggodanya, membuat ia ingin menenggelamkan mereka berdua.
Melihat Verrel tak lagi menyahut ucapannya membuat Zahra bernafas lega, baru saja Zahra membalikkan badannya suara Verrel terdengar mengerikan.
"Lo udah ganggu tidur siang gue dan sebagai gantinya lo harus nurutin apa mau gue selama sebulan!" titah Verrel dengan santainya.
Suara santai Verrel mampu membuat seisi kelas berbisik-bisik, kecuali Audy, Daniel dan Deon yang memerhatikan perdebatan Verrel dan Zahra dengan senyum-senyum menyebalkan.
Zahra langsung berhenti di tempatnya. Bahkan, Zahra masih mencerna ucapan Verrel. Apa mungkin ia salah dengar, tapi sedetik setelahnya. "APA?!! Cuman gara-gara aku bangunin kamu tidur, aku harus mengikuti semua keinginan kamu selama sebulan?!!" pekik Zahra tidak terima. Zahra mendengus kasar. "Tidur siang? Bahkan istirahat pertama pun belum berbunyi!!" lanjutnya lagi.
Zahra benar-benar tidak terima dengan ucapan Verrel. Zahra merasa harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya jika hal itu benar-benar terjadi, dan bagaimana Zahra harus menjelaskan hal ini kepada Raihan. Zahra tidak ingin menyimpan rahasia lagi. Zahra merasa gila saat ini, pikirannya tidak berjalan jernih saat ini.
Verrel tersenyum miring, merasa sangat bersemangat menjadikan Zahra sebagai babunya. "Ok, kalo lo nggak mau. Gue bakalan keluarin lo dari skolah ini skarang juga!!" gertak Verrel.
Zahra terdiam.
Tak ingin mengalah begitu saja Zahra pun melawan. "Emang siapa kamu, berani-beraninya ngeluarin aku dari sekolah ini?!" tantang Zahra menepis kegugupannya.
Verrel menyeringai menatap Zahra, terlihat jelas dimata Verrel bahwa gadis itu tengah ketakutan. "Gue Verrel Aryanka Radeya anak pemilik dari sekolah ini!!" tukas Verrel dengan nada angkuh mode on.
Seketika Mata Zahra membulat, mulutnya sedikit terbuka dan nyalinya ciut seketika. Zahra masih mencerna ucapan Verrel berharap bahwa kali ini ia salah dengar.
"Ta--pi aku kan eng-gak senga--jaa," elak Zahra terbata-bata. Kegugupannya tak dapat ia sembunyikan lagi.
Verrel tersenyum menyebalkan. "Bodo amat, yang jelas lo harus jadi babu gue!"
Zahra berdecak sebal, Zahra bahkan mengutuk dirinya sendiri karena tidak berfikir akan dampak dari tingkahnya.
Padahal, niatnya cuman ingin sedikit usil dan sekaligus mengucapkan terimakasih yang belum sempat disampaikannya. Dan lihat hasilnya, padahal dari awal gadis itu bertekad untuk tidak berurusan dengan pemuda kurang ekspresi seperti Verrel. Dan liat sekarang, hanya karena kesenangannya akan menjadi wakil ketua osis baru, membuat ia harus menandatangani kontrak konyol selama sebulan oleh pemuda yang di hindarinya.
"Audyyy ..., " rengek Zahra pada Audy.
Sedangkan Audy, hanya mengangkat bahunya acuh tak ingin ikut campur masalah Zahra dengan Verrel.
KRING! KRING!
"Gue tunggu lo di kantin!!"