Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Aku Gila?
Suasana kamar rawat terasa begitu hening. Hanya terdengar suara kendaraan yang masih berlalu lalang melintasi jalan yang dekat dengan rumah sakit.
Thomas duduk termenung menatap lurus ke arah brankar, dimana Irene masih memejamkan matanya. Malam ini, ia yang menjaga putrinya sendirian. Sementara Anita pulang, karena Cala selalu menangis dan tidak ingin ditinggal oleh sang ibu.
Thomas teringat dengan ucapan sang dokter tadi siang. Dimana sang dokter mengatakan kalau Irene mengalami depresi dan juga trauma. Dokter menganjurkan untuk membawa Irene ke Psikiater, untuk menyembuhkan rasa depresi dan trauma nya itu.
Thomas menghela nafasnya, lalu ia berdiri menghampiri tempat tidur Irene. Tangannya terulur mengusap kepala putrinya. Air matanya tidak dapat dibendung lagi. Thomas pun menangis mengingat apa yang dialami sang putri.
Thomas mengusap wajahnya dengan begitu kasar. Kemudian dia menggenggam tangan Irene yang terbebas dari jarum infus.
"Maafkan Ayah, Nak. Karena Ayah belum bisa melindungimu dengan benar!" lirih Thomas.
Ia sangat bersalah pada putrinya. Tidak seharusnya Irene menanggung semua amarah dan kekesalan dari sang ibu. Thomas begitu menyayangi Irene, namun tidak dengan ibu kandungnya.
Thomas pikir setelah menikahi Lusiana, wanita itu akan menerima takdir hidupnya. Namun kenyataannya, Lusiana semakin membenci Irene. Bahkan Lusiana pernah hampir mencelakai Irene, ketika gadis itu berusia 3 bulan. Dengan tega Lusiana menenggelamkan Irene bayi di dalam bak mandi saat dirinya hendak memandikan putrinya itu. Beruntung ada Ema, ibu dari Thomas yang melihatnya.
Tidak hanya itu, bahkan pernah Ema memergoki Lusiana memberikan obat-obatan ke dalam botol susu Irene saat sedang membuatkan Irene susu. Beruntung Ema selalu ada diwaktu yang tepat. Thomas hampir gila karena sikap Lusiana, yang tidak mau menerima putri kandungnya sendiri. Thomas juga tahu kalau Irene sering mendapatkan siksaan berupa pukulan dan makian dari Lusiana. Bahkan Thomas sering bertengkar dengan istrinya itu karena hal tersebut.
Bukannya Lusiana sadar atas perbuatannya terhadap Irene. Wanita itu malah semakin membenci Irene, karena putrinya itu Thomas sering marah dengannya. Akibatnya Lusiana meluapkan kekesalannya pada Irene kembali.
Sebab itulah, Thomas memilih menikahi Anita. Thomas juga berharap banyak pada istri keduanya itu untuk bisa menyayangi putrinya. Namun, sayangnya Irene tidak menyukai kalau dirinya menikah dengan Anita. Thomas sangat ingat dengan ucapan putrinya itu.
"Irene tidak mau mempunyai Ibu tiri, Yah. Cukup Ibu Lusiana saja yang menjadi Ibuku," ucap Irene kala itu.
Walau Luciana selalu berbuat kadar terhadap Irene, tapi gadis itu tetap menyayangi Luciana.
Thomas mengusap wajahnya kasar, saat kembali teringat setiap ucapan-ucapan dari Irene. Thomas sangat menyayangi sikap Irene yang selalu menyayangi Lusiana sebagai ibu yang baik baginya. Walaupun dirinya terus disiksa lahir dan batin.
Thomas mengusap sudut air matanya yang mulai basah. Ia kembali merasa begitu bersalah pada Irene. Karena dirinyalah Irene seperti ini, mengalami depresi dan trauma yang mendalam.
“Maafkan Ayah, Nak. Maaf!” lirih Thomas seraya menahan tangisnya.
Ia tidak ingin tangisannya itu membangunkan Irene yang sedang tertidur.
Pagi menjelang, Anita kembali datang ke rumah sakit setelah mengantarkan Cala ke rumah nenek Sari. Saat memasuki ruang rawat Irene, Anita dapat melihat seorang dokter sedang memeriksakan kondisi Irene pagi ini. Thomas tersenyum saat melihat istri keduanya sudah datang.
Setelah dokter dan perawat itu keluar, Anita pun mendekati ranjang dimana Irene berada. Ia tersenyum seraya mengusap kepala putri sambungnya itu.
“Sudah makan?” tanya Anita dengan suara lembut.
Irene tak menjawab, namun gelengan kepalanya telah menjawab pertanyaan Anita.
Anita pun tersenyum. “Kita makan bersama, ya!” ajak Anita.
“Kamu masak apa, Mah?” Thomas bertanya guna mencairkan suasana ketiganya.
Anita pun menoleh. “Aku masak ayam rica-rica kesukaan Irene dan kamu. Pasti kalian berdua suka,” jawabnya seraya membuka tas yang berisikan rantang makanan.
Irene masih terdiam, rasanya dirinya juga sudah mulai lapar. Mengingat sejak sore dirinya belum makan apapun sampai dirinya melewatkan makan malamnya. Anita begitu telaten menyiapkan makanan untuk suaminya dan juga Irene. Bahkan wanita itu juga begitu telaten menyuapi Irene.
“Kamu tidak makan, Mah?” tanya Thomas.
Anita kembali menoleh ke arah sofa dimana Thomas sedang makan.
“Aku makan bersama Irene, Yah!” jawabnya.
Memang Anita sengaja melebihkan porsi nasi dan lauk di piring yang dipegangnya untuk Irene. Anita berniat akan makan setelah Irene merasa kenyang.
Sesekali Irene memperhatikan Anita yang sedang menyuapinya. Anita tersenyum saat tatapan matanya bertemu dengan mata Irene.
“Makan yang banyak, ya! Biar lekas sembuh,” ucap Anita menyemangati putri sambungnya itu.
Irene tak menjawab, ia hanya fokus mengunyah dan benar-benar mengabaikan apa yang diucapkan oleh ibu tirinya itu. Irene menoleh ke arah gelas yang berada di atas nakas, tangannya hendak meraih gelas itu. Namun dengan cepat Anita mengambilnya dan memberikannya pada Irene.
“Cukup!”
Irene menaikkan tangannya memberi isyarat pada Anita untuk tidak menyuapinya lagi.
“Kamu sudah kenyang?” tanya Anita.
Irene hanya mengangguk lemah. Anita tersenyum, lalu ia pun berjalan menuju sofa dimana Thomas sudah selesai sarapan. Anita pun mulai memakan makanannya di piring bekas Irene tadi. Anita tidak pernah merasa geli sedikit pun, mungkin banyak orang yang beranggapan seperti itu adalah hal menjijikan. Namun tidak dengan Anita, lagi pula nasi dan lauk yang ditaruhnya tadi masih cukup banyak. Anita seperti itu pun juga tidak ingin mubazir makanan.
Thomas berdiri, lalu berjalan mendekati Irene. Ia pun duduk di kursi yang tadi Anita duduki. Thomas menggenggam tangan Irene dan tersenyum. Tidak ada respon apapun di wajah Irene, gadis itu tetap memasang wajah datarnya.
“Ayah sudah memberitahukan pihak sekolah kalau kamu tidak dapat masuk sekolah dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Ayah juga sudah menghubungi Alya, dan meminta tolong padanya untuk mencatat semua mata pelajaran yang sudah terlewat olehmu,” ujar Thomas.
Thomas menghela nafasnya sambil mengeratkan genggamannya. “Nak,” panggil lembut Thomas.
Lagi-lagi Irene tak menjawab. Ia hanya memperhatikan dan menunggu apa yang akan dikatakan kembali oleh Thomas.
“Kemarin Ayah bertemu dengan Dokter Abi. Setelah kejadian kemarin, Beliau menyarankan agar kamu melanjutkan pemeriksaan ke bagian Psikolog. Tadi juga Ayah sudah bertemu kembali dengan Dokter Abi dan memintanya untuk mengatur jadwal, agar kita bisa bertemu dengan Psikiater tersebut,” ujar Thomas menjelaskan dengan sangat hati-hati pada Irene.
Dahi Irene pun berkerut. “Kenapa aku harus bertemu dengan mereka?” tanya Irene.
Thomas tersenyum seraya mengusap kepala gadis itu. “Ini demi kesehatan dan masa depanmu, Nak.” Jawab Thomas.
Alis sebelah kanan Irene terangkat. “Kesehatan?” beo Irene.
Thomas mengangguk. “Iya, Nak. Ini demi kesehatan psikis kamu,” jawabnya.
“Itu artinya aku gila?” tanya Irene dengan alis yang saling bertautan.
Thomas menggeleng dengan cepat. “Tidak. Kamu tidak gila, Nak!” sanggah Thomas dengan cepat.
“Jika aku tidak gila, lalu kenapa aku harus bertemu dengan Psikolog segala?” tanya Irene yang mulai sedikit kesal.
Anita yang sejak tadi menyimak pun akhirnya menghampiri keduanya. Ia meninggalkan makanannya begitu saja. Karena ia sangat khawatir kalau Irene tersinggung dan mentalnya kembali down.
“Sayang,”
Baik Irene dan Thomas pun langsung menoleh ke arah Anita.
Anita sudah berdiri di sisi kanan Irene. Wanita itu tersenyum seraya mengusap kaki Irene. “Orang yang mendatangi Psikolog bukan berarti orang itu mengalami gangguan jiwa atau seperti apa yang tadi kamu katakan. Tetapi mereka yang datang kesana, karena berhasil menyadari bahwa mereka berhak atas kebahagiaan diri mereka sendiri dan peduli akan kesehatan mental mereka.” ucap Anita.
Anita mengusap lembut pipi Irene. “Jangan beranggapan, jika kamu datang ke Psikolog itu artinya kamu gila.” Anita menggelengkan kepalanya.
“Sebenarnya tidak seperti itu, karena Psikolog bukanlah orang yang membantumu untuk sembuh dari kegilaan. Karena Psikolog itu orang yang akan membantumu untuk memecahkan masalah dan membantumu berperang melawan rasa trauma dalam dirimu.”
“Jangan memendamnya terus menerus, karena itu akan membuatmu tersiksa.” Anita terus berusaha memberikan penjelasan agar Irene mau memenuhi usulan dokter Abi.
“Karena pada dasarnya peran seorang Psikolog itu untuk membantu pasiennya, dalam mengatasi berbagai gangguan kesehatan mental melalui sejumlah terapi psikologis.” Anita kembali memberi penjelasan agar Irene sedikit paham dan tak berburuk sangka.
Anita paham akan pertanyaan Irene tadi, memang faktanya banyak orang awam yang berpikir kalau mendatangi Psikolog itu karena sakit jiwa atau bisa dikatakan gila. Tetapi apa yang para orang awam itu pikirkan adalah salah. Karena faktanya tidak seperti itu.
“Kami tahu apa yang selama ini kamu alami, Nak. Jujur saja kami sangat mengkhawatirkan kondisi Psikis kamu, terlepas apa yang sudah kamu alami selama beberapa tahun ini,” Anita kembali bersuara.
Irene memejamkan matanya seraya menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian ia hembuskan dengan sangat kasar. Lalu ia menatap sang ayah dengan tatapan begitu lekat.
“Apakah Ayah sangat mengkhawatirkanku?” tanya Irene.
Thomas kembali tersenyum. “Tentu sayang. Ayah sangat mengkhawatirkanmu,” jawabnya tanpa ragu.
Irene memicingkan matanya. “Jika Ayah mengkhawatirkan diriku. Kenapa Ayah jarang pulang dan malah menikah lagi. Lalu membiarkan Ibu merasakan sakit hati, hingga aku yang selalu menjadi sasaran kemarahan Ibu?” Irene bertanya dengan suara meninggi.
Sorot matanya mulai memancarkan kesedihan, kekecewaan pada sosok ayah yang selalu dianggapnya adalah pria yang sangat mencintai istrinya. Namun kenyataannya, sang ayah malah memilih melukai sang ibu hanya demi mengejar cinta pertamanya dulu.
Anita menutup mulutnya mendengar pertanyaan Irene. Tanpa sadar air matanya mulai menetes, ia teringat akan kisah lalu. Anita menggelengkan kepalanya, baginya ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Irene.
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak bisa meninggalkan Ibu tiri kamu lagi. Karena ini sudah menjadi keputusan Ayah,” ujar Thomas.
Irene semakin merasa kecewa mendengar jawaban Thomas. Sementara Anita hanya bisa memejamkan matanya saat melihat raut wajah Irene yang sedang menahan air matanya.
Tanpa Thomas dan Anita ketahui, sejak tadi Irene mencoba mencerna ucapan Thomas tadi. Yang mengatakan kalau pria itu tidak bisa meninggalkan istri keduanya itu lagi.
“Apa maksud Ayah yang tidak bisa meninggalkan dia lagi?” tanya Irene seraya menunjuk ke arah Anita.