Selamat membaca ...!
Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.
Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.
Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?
Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
This is just fiction.
•••••••••••••••••••••••••
Navian mengekor di belakang ayah mertuanya, matanya sendu bagaikan awan mendung yang kini tengah berkumpul di luar mengumpulkan butiran tangisan sang semesta yang perlahan mulai berjatuhan, rintiknya membasahi dedaunan dan atap rumah-rumah di sana.
Helaan napas pria itu terdengar berat, debur di dalam dadanya melemah, kemarahan bersinggungan dengan kekecewaan, tetapi rasa cinta seakan mengolahnya menjadi kepedihan yang tak bisa dia tepis.
Ridzwan menyadari ada hal yang tidak benar dalam hubungan Navian dengan putri kandungnya, mengingat betapa kerasnya Vianna membuat pria berumur 45 tahun itu dengan cepat menyadari masalah apa yang tengah dihadapi Navian.
"Vianna menyuruh Tiara untuk mengurus Ansel, setiap hari, dan aku pikir itu tidak berlangsung lama, ternyata Vianna memang mempekerjakan Tiara untuk selamanya, aku sudah menawarkan baby sitter tetapi Vianna menolaknya," jelas Navian.
Abun-abun pria itu terantuk pada sebuah ingatan tentang pertengkarannya dengan Vianna beberapa malam yang lalu, sepulang kerja, Ansel-sang putra selalu terdengar menangis sampai bayi itu tersedu-sedu hampir suaranya tak terdengar lagi.
"Vianna ... Kenapa kamu membiarkan putra kita menangis seperti ini," tegur Navian, rahangnya mengeras sembari menggendong Ansel di tangannya, mengayun-ayun bayinya sampai Ansel mereda.
"Anak itu memang cengeng dan menyusahkan, biarkanlah, nanti juga berhenti," ketus Vianna yang terlihat tengah mewarnai kuku-kuku tangannya dengan kutek berwarna merah padam.
Mendengar hal itu tentu saja mengundang kemarahan Navian semakin mencuat, dahinya mengkerut bersamaan dengan kemarahan yang berguruh di dalam dadanya. "Keterlaluan! Vianna! Kamu gila!" bentak Navian membuat tubuh Vianna mengerjap dan membuat kutek itu melembak kemana-mana.
"Apa sih Nav! Gak usah lebay deh, cuman gitu aja pake acara marah-marah segala, ya sudah sana urus sendiri, aku tidak ada waktu."
"Kalau gitu aku akan menyewa babby sitter untuk mengurusnya."
"Tidak! Aku tidak mau ada orang lain yang menyentuh anak itu, walau aku tidak menginginkannya, aku tidak suka."
Bayangan-bayangan pertengkarannnya dengan Vianna kembali menggetarkan jiwa Navian, kemarahannya kembali membuncah, itu terlukis jelas di wajahnya yang perlahan memerah, bibirnya bergetar.
"Vianna ini benar-benar." Paras Ridzwan mengeras. "Ibunya terlalu memanjakannya, maafkan Papa ya Nav, sebenarnya ada rahasia yang Papa sembunyikan, ini semua permintaan ibunya Vianna, tapi Papa harus mengungkapkan sama kamu," ungkap Ridzwan tiba-tiba saja membuat Navian mengernyit heran.
Punggung yang meleleh itu dengan segera menegak, sorotnya hanya tertuju pada sang papa mertua yang meredup di depannya, binaran di matanya seolah-olah karam bersamaan dengan cahaya sang baskara yang tenggelam beberapa jam lalu.
"Ada apa Pa?" tanya Navian melelehkan kedua tangan yang menggantung di pinggangnya.
"Sebenarnya ... Saat perjodohan terjadi, beberapa tahun yang lalu, Papi kamu meminta Tiara untuk dijodohkan denganmu, maka dari itu saat SMA Papa menyekolahkan Tiara di sekolah yang sama dengan kamu, tetapi ternyata kalian tidak saling mengenal sampai kelulusan terjadi," jelas Ridzwan membuat Navian semakin kebingungan.
"Tiara? Sekolah di gedung yang sama? A-aku sama sekali tidak pernah tahu, bahkan aku tahunya Vianna yang sekolah di gedung yang sama, karena aku sering lihat Vianna di gerbang sekolah menggunakan jaket, dia selalu membawakanku masakan kesukaanku," urai Navian melontarkan semua ingatan yang menempel di benaknya.
"Iya ...," sahut Ridzwan, tatapannya meleleh pada ruang sendu yang kelam.
Denting usang membalut jiwa Ridzwan yang tersandung rasa bersalah yang sampai saat ini tak pernah dia maafkan oleh dirinya sendiri, nasib buruk yang terjadi pada Tiara adalah karenanya, karena ulahnya yang terlalu lambat dan lemah menghadapi Viara-sang istri.
"Itu karena ...," ucap Ridzwan lagi, jiwanya menggebu-gebu ingin mengungkap semua yang telah terjadi di masa lalu.
Tak sempat pria berumur lima puluh tahun itu menyelesaikan perkataannya, dokter yang memeriksa Tiara tiba-tiba saja keluar dari kamar di mana Tiara terbaring dalam keadaan pintu terbuka lebar, dokter itu tidak ingin meninggalkan pikiran buruk di antara Navian dan Ridzwan.
"Permisi Pak Navian, pasien sudah siuman," ucap dokter tersebut.
Cepat-cepat Navian dan Ridzwan menghentikan obrolannya dan segera berlari ke dalam kamar memastikan keadaan Tiara, gadis itu masih berusaha membuka matanya, tubuhnya tetap terdiam, terasa kaku dan nyeri.
"Tiara sayang, Nak ... Apa yang kamu rasakan?" tanya Ridzwan panik, mata sendunya mengairi Tiara yang terbaring di depannya.
Perlahan Tiara mengurai senyuman tipis, matanya mengedip begitu lambat. "Tidak apa-apa Pa, aku baik-baik aja, ini aku di mana ya Pa," jawab Tiara lirih.
Sebelum menjawab pertanyaan putrinya, Ridzwan sempat menoleh ke arah Navian yang berdiri di belakangnya dengan tegak, tatapan sendu lelaki itu terjatuh ke bawah, bukan pada keramik-keramik yang dia pijaki melainkan pada Ridzwan yang berlutut di samping Tiara.
"Rumah Navian, sayang ...," jawab Ridzwan menggenggam kedua tangan putrinya.
Pelan-pelan Tiara menolehkan wajahnya sampai dia mempertemukan sorot matanya dengan Navian yang tertunduk di belakang Ridzwan, gadis itu merasa segan menatapi Navian dalam waktu yang lama, sehingga dia segera melepaskan pandangannya pada Navian dan menatap lurus pada langit-langit kamar yang kosong.
"Istirahat ya Nak," ucap Ridzwan yang kemudian dia berdiri dan menghadap pada Navian.
Tatapan Navian memuncak kala mendapati sang ayah mertuanya berdiri di depannya. "Kemungkinan aku dan Vianna tidak bisa melanjutkan pernikahan Pa," celetuk Navian melipat kedua tangannya layuh di bawah.
"Hah?! Kenapa?" Ridzwan terkejut hebat mendengar penuturan Navian barusan, bola matanya melebar.
Begitupun dengan Tiara yang masih terbaring lemah di atas ranjang, sekujur tubuhnya yang kaku mendadak bergetar, dia telah ludahnya kasar bersamaan dengan wajahnya yang mengerang.
"Vianna yang memintanya, dan aku tidak bisa menahannya, aku kecewa dengannya karena dia tidak menginginkan putra kita, bahkan beberapa kali Vianna membiarkan Ansel dalam kehausan dan kelaperan, menangis sampai suaranya habis, jika terus-terusan seperti itu Ansel bisa mati Pa," terang Navian, rahangnya mengeras seiringan dengan hidungnya mengkerut, kedua tangannya yang mengepal di bawah pun ikut memanas.
"Apa?!" seru Ridzwan tak habis pikir dengan jalan pikiran putri semata wayangnya itu, "Vianna tega melakukan itu pada anak yang dia lahirkan sendiri? Apa kamu mengatakan yang sebenarnya Nav?" tambah Ridzwan yang sepertinya tidak mempercayai perkataan menantunya.
"Jika Tiara tidak ada maka Ansel akan kelaparan dan kehausan, itulah yang dilakukan Vianna, jika Papa tidak percaya, silakan saja, yang jelas aku akan menuruti permintaan Vianna," pungkas Navian.
Perairan sendu yang terbendung jauh di benaknya, ada denting yang bergetar, perih mengoyak rasa yang selalu terbelenggu di sana, Navian dilanda dilema yang tumpat, ada perasaan yang bergelora di sana, memerintahnya untuk mempertahankan Vianna, tetapi derit kecewa pun tak kalah berdenyut sampai rasanya sesak.
...***...
Elegi sang waktu bersenandung, dari detik menuju detik, jam berjalan pada jam berikutnya, bahkan hari bertemu dengan hari lagi, tepat hari ke tujuh hari setelah Vianna memutuskan untuk bercerai, selama itu pula Vianna tidak pernah kembali ke rumah.
Navian berdiri tegak di hadapan kaca besar yang menampilkan pemandangan indah di luar sana, hamparan hijau yang memanjakan matanya membuat Navian terantuk pada ingatannya sendiri, dia terbelenggu oleh perasaan yang membuat jiwanya lemah.
Sekali lagi dia pandangi selembar kertas putih yang dikirimkan oleh pengadilan agama, tertanda dari Vianna, ternyata sang istri benar-benar bertekad ingin bercerai dengannya, tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi.
Tanpa menunggu lama lagi, pria itu menandatangani surat perceraian tersebut dengan penuh kepercayaan diri, tangannya bergetar menggenggam sebuah pulpen, matanya memerah bersamaan dengan hatinya yang mencelus seperti ada yang mencekik udara di sekitarnya.
"Selesai? Benarkah kita selesai dengan cara seperti ini Vianna ... Aku jatuh hati padamu karena kebaikan dan kelembutan hatimu saat kita dalam masa pacaran, kamu yang selalu memperhatikan hal kecil yang terjadi padaku, terlebih saat masakan yang membuatku benar-benar terlena dalam perasaan ini," urai Navian sendu memandangi secarik kertas yang dia setujui dengan semua keputusan yang terjadi.
Dia cengkeram erat surat perceraian itu, sorotnya meruncing, perlahan dia bergelombang dan tersandung pada ingatan indah yang dia miliki saat masa pacaran Navian dan Vianna beberapa tahun ke belakang.
Vianna berlari dari sudut kanan membawakan sebuah bingkisan yang berisikan makanan sehat dan minuman yang sengaja disediakan untuk Navian, netra pria itu mengembang, senyumannya terukir dengan indah.
"Hai Nav, ini ada makanan untuk kamu, semangat ya main basketnya, aku menunggu di luar aja, takut ganggu kamu," ucap Vianna lembut, rambut sebahunya yang berlayer tertiup angin.
"Makasih Vianna, kamu selalu membawakanku makanan yang enak, ini kamu yang masak?" ucap Navian tak melepaskan senyumannya dari Vianna.
"Eeum ...." Vianna mengangguk dengan tatapan yang membeku, punggung wanita itu bagaikan patung yang kehilangan nyawanya.
Navian menyugar wajahnya dengan kasar secara bersamaan memori yang tengah dia tarik untuk kembali dia ingat itu perlahan memudar dan segera dia tepis dengan gelengan kepalanya yang kuat.
Dia lempar secarik kertas surat perceraian itu kembali terjatuh ke atas meja kerjanya tepat di samping laptop miliknya yang masih menyala, tubuhnya berputar pada pemandangan hijau di luar sana.
"Tapi ... Semuanya menghilang begitu saja saat aku mempersuntingmu menjadi istriku, dan selama kami menikah Vianna tidak pernah memasak lagi untukku, dia selalu beralasan jika pekerjaannya sebagai top modelnya sangat menyita waktunya, aku kecewa, tetapi aku sangat mencintainya." Tatapan sendu Navian terjatuh ke bawah bersamaan dengan helaan napasnya yang berat.
...See you next part....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mampir juga di karyaku yaa
yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe