NovelToon NovelToon
Skandal Dengan Pacar Bos

Skandal Dengan Pacar Bos

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:113.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gresya Salsabila

"Kau tangan kananku. Apa yang kau lakukan dengan kekasihku?"

"Maaf, Tuan, saya dan Anne saling mencintai. "

Raksa Saskara tak bisa mengelak saat skandalnya diketahui oleh atasan—Nero Morvion. Raksa sadar, segala perbuatan memang ada konsekuensi yang harus diterima, termasuk selingkuh dengan Keanne Syahira Dirgantara—calon tunangan Nero.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selangkah Lebih Dekat

Walaupun Anne kesal dan tidak terima, tetapi Nero tetap pada keputusannya. Kerja sama dengan Morgan terlalu menjanjikan, Nero tak bisa menunda meski itu demi kekasihnya.

'Masih ada banyak waktu untuk menemui orang tua Anne, nggak harus sekarang. Nanti Anne juga akan mengerti kalau ini untuk masa depan kami. Dia nggak mungkin nggak suka kemewahan, kan?'

Begitulah pikir Nero, hingga akhirnya sangat yakin dengan keputusan yang dia ambil.

Dengan mudahnya Nero memberikan undangan dari Anne kepada Raksa.

"Ini undangan dari saudara kembar Anne, peresmian kantor cabang di Bali. Kamu nanti luangkan waktu untuk hadir di sana, sebagai perwakilan dari N&M," ucapnya.

Raksa terkejut. "Saya, Tuan?"

"Iya, kamu. Mau siapa lagi?"

"Anda tidak berniat menunda dulu keberangkatan ke London? Ini acara keluarga Nona Anne, Tuan. Apa mereka tak kecewa jika Anda tidak hadir?"

Raksa mencoba memberi pengertian, meski dalam hati ada rasa yang membuncah jikalau benar akan ke Bali bersama Anne.

"Aku bisa membujuknya nanti. Tidak mungkin aku menunda agenda dengan Tuan Morgan," jawab Nero.

Raksa hanya bisa menarik napas panjang. Sudah menyerah dengan pemikiran tuannya yang selalu memprioritaskan pekerjaan.

Tanpa menyahut lagi, Raksa meraih undangan yang tadi disodorkan padanya. Bersamaan dengan tatapan yang tertuju pada tanggal yang tertera di sana, dua rasa dalam hati Raksa mulai bergejolak, saling bertentangan dan mematahkan satu sama lain.

'Terima saja, itu kesempatan terbaik untuk lebih dekat lagi dengan Anne. Kamu senang kan dekat-dekat dengannya?'

'Kamu harus berani menolak, jangan memberi celah pada diri sendiri untuk mendekati keburukan. Ingat, Anne adalah calon tunangan atasanmu. Akan tamat kalau kamu bermain-main dengannya!'

Raksa menarik napas panjang, merasa dilema dengan undangan yang ada di genggamannya. Harus menolak atau menerima?

"Biaya tranportasi dari perusahaan, kamu tak perlu bingung memikirkan itu. Cukup datang dan bawa nama baik N&M. Tunjukkan pada semua pihak yang hadir di sana sehebat apa N&M. Ingat, kita harus memanfaatkan peluang sekecil apa pun untuk memperluas relasi. Paham?" lanjut Nero, yang secara tidak langsung memupus harapan Raksa untuk menolak perintah tersebut.

"Baik, Tuan."

Meski dengan perasaan yang tak menentu, pada akhirnya Raksa menerima jua apa yang sudah diperintahkan oleh Nero. Ya, memang menjengkelkan atasannya itu. Dirinya bingung karena tak enak hati dengan Anne, malah dikira memikirkan biaya transportasi. Apakah memang hanya uang yang ada dalam otak Nero?

"Penerbanganku nanti sudah kamu atur dengan baik?" tanya Nero, membuyarkan renungan Raksa.

"Sudah, Tuan."

"Bagus. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Aku tidak mau meninggalkan kesan buruk pada Tuan Morgan." Nero pun bangkit dari duduknya. "Ya sudah, lanjutkan kerjamu!" sambungnya sambil melangkah pergi.

Raksa berdecak seraya menyandarkan punggung. Sekali lagi, ia pandangi undangan yang masih belum diletakkan. Perasaannya kembali berkecamuk, entah apa yang akan terjadi nanti. Sekarang saja, emosinya sering dipengaruhi oleh Anne. Apalagi jika nanti mereka lebih dekat, bisakah ia menahan diri?

"Andai saja Tuan Nero tahu apa yang kurasakan saat ini," batin Raksa sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

______

Sesuai dengan perintah Nero, Raksa akhirnya berangkat juga ke Bali. Pada saat yang sama, Nero sudah berada di London bersama Morgan.

Raksa sengaja memilih penerbangan paling akhir—pukul 07.00 malam, karena acaranya masih besok siang. Hanya saja, Raksa tak mau terburu-buru, makanya memilih berangkat malam. Dan ... di bandara Kota Surabaya inilah dia sekarang.

"Raksa!"

Suara yang sangat familier, yang spontan saja menghadirkan debar aneh dalam diri Raksa.

Ketika ia menoleh, sebentuk wajah dengan paras cantiknya menyambut dengan senyuman. Namun, justru membuat Raksa tertegun dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Sampai wanita itu berdiri sejajar dengannya, Raksa belum jua melontarkan sepatah kata.

"Kamu baik-baik saja?"

"Mmm ... iya, Nona. Saya ... tidak apa-apa." Raksa menjawab dengan gugup. Tatapannya nyaris tak bisa beralih dari pesona Anne, yang kala itu tampil anggun dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.

Sesaat berlalu, Anne juga ikut diam. Banyak yang ia pikirkan saat ini, termasuk tentang penjelasan untuk orang tuanya nanti. Entah dengan cara apa dia membela Nero, yang pasti akan mendapat penilaian buruk dari keluarganya.

"Saya kira Anda berangkat lebih awal, Nona," kata Raksa, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba canggung.

Anne menggeleng dengan ekspresi yang sedikit berubah, dan Raksa menyadari itu. Lantas, ia langsung diam dan kemudian mengalihkan pembahasan, sembari melanjutkan langkah karena ternyata penerbangan mereka sama.

Walau tempat duduknya berjauhan, tetapi keduanya berada dalam satu pesawat. Ahh, perasaan Raksa makin menggila lagi dibuatnya. Sepanjang penerbangan yang memakan waktu sekitar satu jam, Raksa nyaris tak bisa berpikir jernih. Kerja otaknya hanya bertumpu pada satu sosok—Anne.

Sialnya lagi, itu tak cepat berakhir. Setelah pesawat landing di Kota Denpasar, Raksa kembali dihadapkan dengan Anne. Wajah cantik itu lagi-lagi menghiasi sepasang mata yang merindu cinta, sedangkan wangi tubuhnya kembali mengetuk pintu rindu yang tak sempat tertutup. Ahh, makin ke sini pertahanan Raksa makin setipis kasa.

"Kamu akan menginap di mana?" tanya Anne.

"Deluxe Hotel, Nona."

"Deluxe Hotel? Kamu serius?" Anne menatap tak percaya.

Meskipun Deluxe Hotel adalah hotel terbaik di Pulau Bali, tetapi letaknya agak jauh dari kantor cabang milik Keanu. Seharusnya Raksa memilih yang lebih dekat, kan? Namun, nyatanya malah memilih hotel itu. Entah kebetulan macam apa lagi ini.

"Kenapa Anda terkejut, Nona?" tanya Raksa.

Anne berpaling ke samping, lalu tertawa sumbang.

"Aku juga menginap di sana," ucapnya dengan lirih.

"Menginap di hotel? Kenapa, Nona? Bukankah ... saudara Anda juga punya tempat di sini? Anda tidak langsung datang ke sana?"

Anne menunduk, lantas menggeleng pelan.

"Kalau saja ini bukan acara penting, aku malah nggak akan datang. Aku malu bertemu Mama Papa, sudah terlalu banyak alasan yang kuberikan pada mereka untuk membela Nero. Dan sekarang ... aku nggak tahu lagi harus menjawab apa. Sudah berbulan-bulan berlalu, tapi Nero belum menepati janjinya. Malah dia menolak datang di acara yang sepenting ini, padahal Keanu mengundangnya secara khusus. Menurutmu ... apa keluargaku masih bisa memandang Nero dengan baik?"

Jawaban yang panjang lebar, yang sekilas tak terlihat sebagai seorang atasan.

Raksa pun ikut terhanyut dibuatnya. Suara sendu Anne mampu membangkitkan sisi empati dalam hati, yang lantas membuat tangannya refleks memegang bahu Anne.

"Yang sabar, Nona. Saya mengerti bagaimana posisi Anda," ucapnya.

Kemudian, hening. Anne tak menjawab, bahkan mendongak pun tidak. Ia tetap mematung pada posisi yang sama.

Sementara Raksa, tiba-tiba tersentak saat menyadari tangannya berada di bahu Anne.

"Aku memegangnya, tapi ... kenapa dia nggak menghindar? Apa mungkin belum sadar?" batin Raksa dengan jantung yang berdetak cepat.

Nalurinya sebagai lelaki yang kerap merindukan wanita, bangkit seketika. Mematahkan logika yang sedari tadi berusaha menyadarkan dirinya dari pikiran gila. Lantas, mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang lebih—mengusap bahu Anne dengan lembut.

Seperti tantangan baru bagi Raksa. Jantung seakan-akan sampai lompat dari tempatnya manakala menunggu rekasi Anne—marah atau tetap tidak sabar.

"Terima kasih."

Di luar dugaan, Anne malah menatap sambil tersenyum ke arah Raksa, juga menggenggam tangan yang masih mengusap lembut bahunya.

"Apa artinya ini, Nona?" batin Raksa.

Bersambung...

1
neni onet
Nero pasti ga nidurin, dia pasti cuma drama dan akhirnya akan benar2 jatuh cinta 😄
neni onet
jangan bilang Raina diperk*s* sama Nero🫣
neni onet
baru kali ini aku mendukung perselingkuhan, bermainlah yang rapi biar reader ga senam jantung 😄
Erni Fitriana
thot keren karyamy😘😘😘😘
Erni Fitriana
paati topeng y thor raina n nerro
Erni Fitriana
aku percaya sama thor...👍🏾👍🏾👍🏾
Erni Fitriana
walahhhh...kenapa raaa???
Erni Fitriana
apakah brtan bisa dipercaya sa????
Erni Fitriana
raksa..salut abang yg sangat cinta n kasih terhadap adiknya...
Erni Fitriana
poor raina.....author baik banget udah mau bikin buku khususan nero-raina...love u author😘😘😘
Erni Fitriana
nero...pada saat raina sadar n sdh pintar..giliran kamu gantian junhkie baluj ngwjar cinta raina...inhat kata" raimon
Erni Fitriana
😔😔😔😔😔😔berasa sedihnya sape ke reader's saaaaa
Erni Fitriana
neroooooooo😡😡😡
Erni Fitriana
thor ceritamu😘😘😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
sekecil apa ra???
Erni Fitriana
raina😫
Erni Fitriana
jodoh ditangan author raaa
Erni Fitriana
RAINA SAAAAA....RAINAAAAA
Erni Fitriana
aduh raina😖😖😖😖
Erni Fitriana
aduhhhhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!