Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Sementara Indira tengah asik menyuapi Nasya, Nala hanya diam menatap pemandangan itu dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Hati Nala mencelos, dia tidak menyangka bahwa Nasya benar-benar suka pada sang dokter. Nala bisa menyaksikan dengan jelas betapa bahagianya Nasya saat berada di dekat dokter itu. Nala pun memilih keluar dan duduk di kursi tunggu, dia tidak ingin mengganggu kebersamaan diantara Nasya dan Indira.
Tidak lama berselang, Indira keluar dari ruangan setelah memastikan bahwa Nasya benar-benar sudah tertidur. Namun saat menangkap keberadaan Nala yang langsung berdiri, dia pun membuang muka dan melangkah pergi begitu saja. Nala yang melihat itu hanya bisa mengernyit sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ya, Indira masih sangat kesal pada pria itu. Selain mulutnya yang selalu berkata menyakitkan, kelakuan Nala tadi bahkan semakin membuat Indira jijik terhadapnya. Berani sekali pria itu memegang pinggangnya seperti tadi.
Sesampainya di ruangan, Indira mengoceh mengumpat Nala. Dia benar-benar murka dan ingin sekali membunuh pria itu. Indira mengepalkan tinjunya kemudian memukul sofa sesaat setelah menjatuhkan tubuhnya di sana.
Akan tetapi, semua itu sama sekali tidak berlaku bagi Nala. Dia kembali masuk ke ruangan Nasya dan duduk di sampingnya. Nala merasa hatinya ngilu saat memandangi wajah polos sang putri.
Ya, kini Nala dapat memahami. Nasya memang tidak kekurangan apapun, hanya saja sang putri merasa kesepian tanpa sosok seorang ibu.
Apa itu artinya Nala harus menikah? Tapi dengan siapa? Dia tidak mungkin menikahi Sarah yang merupakan mantan tunangannya, dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada wanita itu.
Nala terdiam sejenak, kembali dia teringat dengan sosok seorang gadis yang pernah masuk ke dalam hidupnya. Akan tetapi dia sama sekali tidak tau dimana gadis itu berada sekarang. Mungkin saja gadis itu sudah bahagia hidup berumah tangga bersama suaminya.
Seeerrr...
Darah Nala seketika berdesir kala mencium aroma khas yang menyengat di hidungnya. Nala menutup mata perlahan, mencoba menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
Deg...
Nala terperanjat kaget dan membuka mata lebar-lebar saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Pufft..." Nala sedikit jengkel namun terpaksa meredam emosinya karena kedatangan Rudi yang membawakan pakaian ganti untuknya. Akan lebih baik dia mandi terlebih dahulu agar tubuh dan pikirannya kembali segar.
Siang hari Indira memberikan sebuah laporan medis kepada Nala, dia hanya berharap Nasya bisa cepat pulih dan tidak kembali lagi ke rumah sakit itu. Hanya itu yang Indira berikan lalu dia pun dengan cepat berbalik badan.
Namun saat Indira hendak melangkah, Nala memberanikan diri membuka suara. "Tunggu sebentar!" serunya, Indira pun urung melanjutkan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya.
"Boleh bicara sebentar!" ucap Nala meminta izin, kali ini raut wajahnya nampak sendu, tidak seperti biasa yang terlihat seperti malaikat pencabut nyawa.
"Katakan saja!" jawab Indira dingin dengan tatapan tajam.
Nala menghampiri Indira dan berdiri di hadapannya. Dia pun mengutarakan maksudnya untuk mengajak Indira makan di luar. Selain sebagai bentuk rasa terima kasih, dia juga ingin membahas tentang Nasya dengan sang dokter.
Awalnya Indira menolak ajakan Nala dengan senyum mengejek, tapi lama-kelamaan pria itu berhasil meluluhkan hati ibu satu anak itu. Keduanya pun meninggalkan rumah sakit dan memilih makan siang di cafe yang tidak jauh dari bangunan itu.
Di cafe, Indira dan Nala duduk berhadap-hadapan. Keduanya terlihat sama-sama canggung tanpa tau harus memulai pembicaraan dari mana.
Nala menatap wajah Indira dengan pandangan berbeda, entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan hatinya.
Apakah Nala menyukai Indira? Ataukah perasaan itu hanya sekedar lewat karena sikap lembut Indira terhadap Nasya. Entahlah...
"Terima kasih." ucap Nala yang akhirnya memberanikan diri memulai percakapan.
"Untuk apa?" tanya Indira dengan kening mengernyit.
Nala mengulas senyum simpul seraya menghela nafas panjang. "Untuk semuanya. Aku juga minta maaf jika selama dua hari ini Nasya sudah membuatmu kerepotan, aku tidak mengerti kenapa anak itu suka sekali padamu."
"Tidak usah dipikirkan, namanya juga anak kecil. Lagian bukannya sudah tugasku..."
"Tidak, ini berbeda." selang Nala.
"Berbeda apanya?" tanya Indira kebingungan.
Nala terdiam sejenak, kemudian dengan sangat hati-hati mengatakan bahwa Nasya sangat merindukan sosok seorang ibu. Dan Nala bisa melihat betapa tulusnya hati Indira.
"Apa kamu juga menyukai Nasya?" tanya Nala penasaran.
Indira lagi-lagi mengerutkan kening, dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini sebenarnya.
"Anakmu sangat lucu, siapa saja pasti akan suka padanya." jawab Indira santai.
"Hmm..." gumam Nala seraya manggut-manggut tanpa berhenti mematut wajah Indira. Alis tebal dan bulu mata lentiknya membuat Nala terkesima, pria itu menyadari bahwa Indira ternyata sangat cantik. Ditambah bibir bawah yang tebal yang nampak sangat seksi.
Disaat bersamaan, pandangan Indira mendadak berkabut. Pertanyaan Nala tadi sontak mengingatkannya pada bayi perempuan yang pernah dia lahirkan. Perasaan Indira tiba-tiba berkecamuk, air matanya pun jatuh tanpa dia sadari.
Deg...
Nala benar-benar terkejut menyaksikan gumpalan air yang menetes di pipi Indira, jantungnya berdegup kencang tanpa tau apa yang terjadi pada Indira sebenarnya. Dia pun dengan cepat mengambil tisu dan menyodorkannya ke arah Indira.
"Maaf, aku harus pergi." Indira mengabaikan tisu pemberian Nala, dia lantas bangkit dari duduknya dan meninggalkan pria itu begitu saja. Nala sendiri hanya terpaku di kursinya sembari menatap punggung Indira yang semakin menjauh darinya.
Nala menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak tau kesalahan apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Indira menangis. Apa dia salah menanyakan hal tadi pada dokter itu?
Tidak ingin berpikir macam-macam, Nala pun memutuskan pergi meninggalkan cafe setelah membayar makanan yang tadi dia pesan. Dia dan Indira bahkan belum sempat mencicipi makanan tersebut.
Di rumah sakit, Indira buru-buru masuk ke ruangannya. Nala yang menyusul di belakang langsung mampir di lobby untuk melunasi tagihan, sebentar lagi dia sudah bisa membawa Nasya pulang ke rumah.
Ya, setelah menyelesaikan administrasi, Nala lantas berjalan menuju ruangan Nasya. Dia sangat senang karena putri kesayangannya sudah bisa dibawa pulang, namun hatinya sedikit resah mengingat keanehan Indira di cafe tadi.
Banyak pertanyaan yang membelit di benak Nala, akan tetapi dia tidak bisa bergerak lebih jauh. Dia pikir mungkin perlakuan lembut Indira terhadap Nasya hanya bentuk rasa simpati sebagai seorang dokter. Nala tidak ingin meracuni pikirannya dengan hal yang tidak penting.
Setelah membereskan barang-barang, Nala langsung membawa Nasya meninggalkan rumah sakit dibantu oleh Rudi yang membawakan barang mereka.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘