NovelToon NovelToon
Bintang Alaska

Bintang Alaska

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: rnsa

Kematian sang kakak tercinta membuat Alaska sangat terpuruk di tambah pertengkaran rumah tangga kedua orang tuanya setelah kepergian sang kakak.

Suatu hari Alaska balap liar di kalahkan oleh seorang wanita cantik yang bernama Aline. Alaska tertarik dengan Aline, ia berusaha untuk mendapatkan Aline. Akankah Alaska berhasil?

Kejanggalan kematian kakaknya, Alaska pun menyelidikinya dan berhasil menemukan pelakunya yang ternyata ada hubungannya dengan keluarga Aline.

Ada dendam apa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taruhan

Terdengar rintikan suara hujan yang perlahan turun, kilatan petir menghiasi awan dan juga suara petir. Jam menunjukkan pukul 8 malam, 3 orang pria yang sedang duduk di ruang tengah berkumpul dengan pakaian mereka yang sudah siap untuk jalan.

“Alah hujan segala.” Kesal Carlos.

“Hujan-hujanan aja lah kalau begini caranya.” Sahut Zen.

“Gue gak jadi kalau masih hujan.”

Vino paling anti yang namanya basah-basahan karena memang tidak suka kalau pakaiannya basah. Karakter Vino dengan yang lainnya tidak terlalu berbeda hanya sedikit lebih bersih.

“ALASKA.” Teriak Vino.

“Apa?” Alaska menuruni anak tangga sambil memasang jaket kulitnya.

“Gimana ini hujan?”

“Ya tunggu aja kalau gitu.” Duduk di samping Zen. “Btw jadi gak kita pasang WIFI?”

“Jadi, nanti besok siang orang WIFI datang.” Jawab Carlos.

“WIFi apa?” tanya Zen.

“Telkomsel lah, biar jaringannya bagus.” Ucap Vino.

“Kayaknya hujannya udah reda.” Alaska beranjak dari sofa lalu berjalan keluar di ikuti Carlos.

“Gas gak nih?”

Vino langsung membalikkan telapak tangannya ke atas agar bisa merasakan apakah masih hujan atau tidak. Alaska hanya menggeleng sambil memasang helm nya.

“Gas lah.”

Breuuummm… Breuuummm…. Breuuummm…

Zen menghidupkan motornya sesaat menoleh Vino yang masih berdiri didepan sana. “Woy Vino, nanti keburu hujan lagi.”

“Lo ikut siapa?” tanya Carlos.

Tadi siang motor Vino di antar ke bengkel, jadi Vino ikut nebeng ke yang lain dan kemungkinan motornya 2 hari baru selesai.

“Ikut lo.” Naik ke belakang motor Carlos.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 12 malam, Elang masih berada di basecamp Redwolf untuk bersantai. Di tengah keasikan mereka bersama anak yang lain main kartu, tiba-tiba terdengar ada yang berteriak memanggil Alaska dari luar.

“Siapa tuh?” tanya Arik anak Redwolf.

Terlihat Oyi berlari ke dalam menghampiri Alaska lalu terduduk di depan sana dengan dahi yang berdarah. Membuat mereka semua terkejut dan bingung apa yang terjadi.

“Kenapa dahi lo berdarah?” tanya Zen.

“Lo di keroyok siapa?” tanya Carlos juga.

“Bisa diam gak?” kesal Alaska lalu menatap Oyi. “Kenapa lo?”

“Tadi gue dan 3 anak Redwolf yang lain di keroyok sama kelompok Drakers.” Jelasnya.

“Drakers?”

Seketika Vino berpikir namanya seperti tidak asing benar saja Drakers adalah kelompok anak motor yang dulunya bermasalah dengan Elang hanya Elang bukan Redwolf.

“Anjing kenapa mereka tiba-tiba menyerang kalian?” kesal Vino.

“Vino lebih baik lo diam, gue belum selesai bertanya.” Nada Alaska sedikit meninggi membuat Vino terdiam.

Tidak heran kenapa Drakers menyerang anak Redwolf karena Alaska adalah ketua Redwolf dan mereka juga bisa mengenali anak Redwolf karena di belakang motor mereka ada stiker Serigala putih yang memang berciri khas bahwa itu anak Redwolf.

“Di mana yang lain?” tanya Alaska sambil mengambil jaketnya lalu berdiri.

“Mereka masih tertahan di sana, gue juga gak tahu mereka maunya apa.” Oyi menahan sakit di dahinya.

“Masuklah, obati luka lo.”

“Lo mau kemana ka?” tanya Arik.

“Gue mau mendatangi mereka.”

“Gue ikut.” Ucap Carlos.

“Gue juga.” Sahut Vino.

Alaska memasang helmnya sambil mengangguk. “Zen lo di sini aja, jaga yang lain.”

“Lo tenang aja, selama ada gue semuanya aman.”

.

.

.

Breuuummm…

Motor mereka melaju menuju jalan Rotan 3 yang di mana tadi Oyi di serang oleh kelompok Drakers. Wajah Alaska memerah karena sangat marah, anak Redwolf di ganggu oleh mereka padahal yang bermasalah dengannya Elang bukan Redwolf.

Terlihat dari kejauhan anak Drakers menendang 2 anak Redwolf secara berkeroyokan.

“Woy.” Teriak Alaska.

Prokkk… Prokkk… Prokkk…

Bram bertepuk tangan untuk menyambut kedatangan Alaska dan 2 Elang. Sesaat Bram terkekeh sambil menggelengkan kepala.

“Lepaskan mereka.” Pinta Alaska.

“Kalau gue gak mau?”

“Jangan jadi pengecut lo, yang bermasalah dengan lo itu gue bukan Redwolf.” Jelas Alaska sambil melepaskan helm. “Mainnya keroyokan, lo pada takut 1 lawan 1?” tantang.

“Lo ketua Redwolf, apa bedanya?”

“Lepaskan mereka!” pinta Alaska lagi.

Bughhh….

Bram menendang salah satu anak Redwolf yang ada di tengah-tengah anak Drakers. Terdengar dia meringis kesakitan sambil memanggil Alaska.

Sesaat Alaska menoleh Carlos dan Vino memberikan isyarat kepada mereka untuk menyelamatkan anak Redwolf. Ketika Vino dan Carlos sudah mengerti apa yang di maksud Alaska, dengan cepat Alaska menarik Bram lalu memukul wajahnya.

Bram memberi isyarat kepada anak Drakers untuk tidak ikutan-ikutan karena dia tahu sendiri bagaimana Alaska jika menghadapi musuhnya.

Ketika Bram ingin membalas memukul Alaska terdengar sirine mobil polisi membuat anak Drakers langsung behamburan dan bubar begitu juga dengan Alaska dan yang lainnya.

.

.

.

Hari sudah semakin malam, Elang masih berada di basecamp untuk mengobati anak Redwolf yang tadi di keroyok oleh Drakers.

“Gue juga kaget anjing tiba-tiba di lempar batu untung helm gue kebal. Kalau gak, bocor kepala gue.” Kesal Oyi.

“Kalau bocor tinggal di tambal.” Sahut Carlos.

“Lo kira ban.”

“Gimana luka Han sama Fero?” tanya Alaska kepada Zen.

Zen ini mengerti dengan yang namanya obat-obatan berhubungan dengan kesehatan jadi entah itu anak Elang atau Redwolf sakit, pasti Zen yang akan mengurusnya. Karena ibu Zen seorang dokter di salah satu rumah sakit terkenal di kota Jakarta.

“Axel di mana?” tanya Alaska.

“Axel ada di luar.” Sahut Zen sambil mengolesi obat di lengan Han.

“Panggil Axel!”

Tidak lama kemudian Axel datang lalu duduk di samping Alaska. Kemarin Alaska memberinya tugas untuk mencari tahu wanita yang waktu itu berhasil mengalahkan Alaska di pertangingan balap liar.

“Sudah sampai mana lo mencari tahu wanita itu?”

“Gue sudah dapat informasinya.” Axel mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkan kepada Alaska. “Lihatlah, dia bukan yang lo maksud?”

Terlihat foto Aline dengan pakaian swag duduk di atas motornya yang waktu itu bertanding balap liar dengan Alaska. Seketika Alaska terkejut tidak menyangka bahwa wanita itu adalah Aline yang sebelumnya juga Alaska pernah melihatnya di warung makan.

“Lo yakin ini dia? Apa jangan-jangan editan?”

Alaska memastikan lagi karena sedikit tidak percaya bahwa itu Aline, karena waktu Alaska ospek Aline terlihat polos dan juga feminim.

“Gak, gue sudah mencari-cari tahu sama anak Fire.” Jelas Axel.

Fire adalah geng motor yang berteman dengan anak Redwolf bisa di bilang bos mereka pernah berhubungan baik dengan kakak Alaska yaitu Gevan.

.

.

.

Alaska merebut roti yang ada di tangan Carlos lalu berjalan keluar, terlihat pagi ini Alaska sangat bersemangat untuk berangkat kuliah.

“Ka, kembalikan roti gue anjing.” Kesal Carlos yang kesabarannya setipis tisu di bagi 7.

“Enak, makasih.” Ucap Alaska keluar rumah lalu naik ke atas motornya.

“Anjing memang tuh orang, pagi-pagi dah bikin gue emosi.” Menghabiskan airnya lalu berjalan menuju dapur untuk membuat roti yang sama.

Carlos ini anak yang tidak bisa tidak sarapan pagi, karena memang perutnya sedikit bermasalah berbeda jauh dengan Alaska yang tidak pernah sarapan entah kenapa pagi ini tiba-tiba sarapan bahkan mengambil roti Carlos.

“Kenapa lo?” tanya Zen.

“Alaska merebut rotinya.” Sahut Vino sambil memasang sepatunya.

“Hari ini gue izin gak masuk.”

“Kenapa?”

“Nenek gue tiba-tiba sakit, mama gue menyuruh ke rumah sakit buat jenguk.”

“Tenang aja, nanti gue yang izinin lo.” Sahut Carlos keluar dapur membawa rotinya.

“Nanti selesai kuliah kami ke rumah sakit.” Ucap Vino.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, Elang baru keluar dari ruang kelasnya. Mereka berjalan keluar Fakultas menuju kantin yang ada di dekat sana. Ada beberapa kantin yang mereka lewati karena bingung mau nongkrong di mana.

“Kantin mana? Perut gue dah lapar.” Vino memegang perut yang berbunyi.

“Iya nih, lo maunya kemana?” kesal Carlos.

Tiba-tiba Alaska melihat Aline bersama temannya masuk ke dalam kantin YUK. Sesaat Alaska tersenyum lalu berjalan menuju kantin itu.

“Lo mau kemana?” teriak Carlos.

Vino merangkul Carlos lalu berjalan menyusul Alaska yang sudah duluan berjalan dan masuk ke dalam kantin itu. Terlihat di kantin itu tidak terlalu banyak mahasiswa, Alaska memilih tempat duduk di paling pojok. Sementara Aline dan temannya di tengah-tengah ruangan, Aline yang menyadari ada Alaska pun mengalihkan pandangannya.

“Kenapa lo tiba-tiba mau ke sini?” tanya Vino bingung karena bisa di bilang kantin YUK ini kebanyakan mahasiswi yang datang.

“Lo lagi ngincar siapa?” goda Carlos.

“Gak usah banyak bertanya.”

Alaska beranjak dari kursinya lalu berjalan menghampiri Aline dan duduk di sampingnya. Seketika Carlos dan Vino di buat terkejut melihat aksi Alaska yang terlalu terang-terangan.

“Eh kita ketemu lagi, kebetulan gue juga di sini.” Alaska mulai basa-basi dengan Aline.

Sesaat Julia berdehem. “Kenapa lo selalu mengganggu Aline?”

“Mengganggu? Hahaha sejak kapan gue mengganggunya?”

“Lo memang mengganggu gue.” Sahut Aline tanpa menoleh.

“Gue cuman mau kenalan sama lo.”

“Gue gak ada waktu buat kenalan sama lo.” Aline menjawab dengan jutek, bukannya Alaska menyerah malah semakin menjadi-jadi.

“Kenapa lo gak mau kenalan? Apa gue….”

Aline menoleh lalu menatap Alaska dengan serius. “Gua gak suka di ganggu apalagi sama cowok kayak lo.”

“Gue? Kenapa gue?”

“Aline, sekarang sudah waktunya kita masuk kelas lagi.” Ucap Julia.

“Gue minta, lo jangan ganggu gue lagi.”

Aline pun beranjak pergi keluar dari kantin bersama Julia. Carlos dan Vino langsung menghampiri Alaska yang masih duduk di situ.

“Baru kali ini ada cewek yang menolak lo secara brutal.” Ledek Vino.

“Menarik.” Alaska menarik ujung bibirnya.

“Apanya yang menarik? Dia? Hahaha mata lo buta ya, masih banyak cewek yang lebih cantik dari dia.” Sahut Carlos.

“Bukan urusan lo, kita gak ada kelas lagi kan?” Alaska berdiri lalu berjalan duluan keluar kantin. “Kita ke rumah sakit menjenguk nenek Zen.” Teriak.

.

.

.

Beberapa malam ini seluruh kota Jakarta di guyur air hujan membuat beberapa titik lokasi menjadi banjir. Dengan demikian para warga mulai kesusahan untuk beraktivitas keluar rumah ketika malam hari. Elang yang tadinya janjian ingin ke basecamp kumpul-kumpul mengurungkan niat untuk tidak jadi pergi.

“Ada yang punya nomor Aline gak?” tanya Alaska.

“Aline?” Zen langsung menoleh. “Untuk apa lo mencari nomornya?”

Carlos menepuk bahu Zen. “Lo gak tahu kalau dia lagi mengejar tuh cewek?”

“Anjing yang benar? Kenapa lo tiba-tiba mengejar cewek itu? Apa gak ada cewek yang lain?”

Zen tidak percaya selera Alaska seperti Aline, karena kalau di lihat di kampus Aline adalah orang yang biasa saja. Karena Elang tahu bahwa Alaska paling suka kalau wanitanya itu seperti dia. Dan Elang juga belum tahu identitas Aline yang sebenarnya, hanya Alaska dan Axel yang tahu.

“Terus gimana? Berhasil gak?” tanya Zen.

“Gak, dia ti tolak secara brutal.” Ledek Vino lalu tertawa dengan puas.

Alaska orang yang sangat tampan dan baru kali ini ada wanita yang menolaknya secara terang-terangan kalau kata Vino brutal. Tetapi justru Alaska merasa bahwa Aline membuatnya semakin tertarik dengan sikapnya yang menolak Alaska seperti itu.

“Apa lo benar-benar suka dengan tuh cewek?” tanya Carlos.

“Gak mungkin anjing, yang benar saja.” Bantah Zen. “Paling juga Alaska hanya tertarik sesaat saja.”

“Gimana kalau kita buat taruhan?” ucap Vino.

“Apa maksud lo?”

Zen melempar kelang soda kepada Alaska. “Taruhan, kalau selama 1 Minggu lo bisa mendapatkan tuh cewek kami bakal….”

“Belikan lo motor baru.” Sahut Carlos.

Seketika Alaska terkekeh mendengar mereka yang mengajak taruhan. “Jadi lo pada remehin gue?”

“Gue yakin lo bakal kesusahan buat mengejar tuh cewek, secara dia orangnya sangat jutek dan juga cuek.” Jelas Vino. “Berbeda dengan lo yang banyak omong, gak yakin gue kalau lo bisa mendapatkan dia.”

“Kalau lo kalah, em lo traktir kita makan selama 1 Minggu.”

Alaska langsung melempar bantal sofa kepada Zen. “Memangnya mau belikan gue motor apa?”

“Yamaha YZF-R1.” Ucap Carlos.

“Oke gue setuju.”

Setelah memberikan persetujuan kepada mereka, Alaska memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya sambil tersenyum bahagia. Karena jika berhasil Alaska mendapat 2 keberuntungan yang pertama Aline dan yang kedua motor yang di idamkannnya.

Orang tua sangat mampu membelikannya hanya saja Alaska pasti menggunakannya untuk balapan makanya Daren tidak mau membelikan Alaska.

...Bersambung….....

1
Butterfly
Setia dengan Elang 🥳
Army
Aku suka, semangat kakak 🌹
Butterfly
hahaha ada-ada aja 🤣
Army
semangat kak, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!