Bak disambar petir di siang bolong. Jantung Andini berdebar lebih cepat mendengar kedua orang tuannya yang saat ini sedang membicarakan tentang perjodohannya. Padahal jelas sekali jika saat ini Andini masih menimbah ilmu di salah satu kampus swasta.
"Ayah, ibu. Aku tidak ingin menikah dengan pria pilihan ibu dan ayah." Tolak Andini memberanikan dirinya untuk menyelah perbincangan orang tuanya. Ia tidak sanggup jika harus menikah di usia yang masih sangat belia. belum lagi, pria yang akan di jodohkan dengannya adalah pria yang paling menyebalkan di kampus. Pria yang memiliki kekuasaan, ketua geng motor, dan juga pria yang sangat-sangat dingin dan kejam.
Kevin Mahendra
-Bagiku semua gadis di kampus ini sama saja. Tidak ada yang istimewa. Pesonaku, ketampananku dan juga kekayaanku, mampu membuatku memiliki siapa pun yang aku inginkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LS bab 8
Andini menatap bangunan yang menjadi tempat Kevin tinggal selama ini. Bangunan rumah yang besarnya mungkin 4 kali lipat dari rumahnya. Pantas saja selama ini, banyak orang mengidolakan Kevin, ternyata benar rumor yang beredar yang mengatakan jila Kevin berasal dari keluarga teratas dan terpandang, belum lagi anak dari pemilik kampus tempatnya menimba ilmu.
"Ayo masuk nak." Ajak Farah. "Ini rumah Kevin, tempat Kevin tumbuh menjadi dewasa."
Andini hendak menarik kopernya namun, dicegah oleh Farah.
"Biarkan saja, nanti ada nani yang membawanya."
"Tante, apa Kevin ada?" Tanya Andini saat sudah berada di ruang tamu.
"Kevin? Hm, belum pulang sayang. Mungkin saja saat ini masih berada di rumah Yuda, atau rumah Farel. Mungkin kau sudah tahu tentang sahabat Kevin."
"Ya aku tahu tante. Aku tahu semuanya. Bahkan aku tahu jika Kevin saat ini memiliki seorang pacar." Batin Andini. Lalu Andini menatap sekeliling, ada foto Kevin bersama kedua orangtuanya. Tapi di foto itu nampak sekali jika wajah Kevin tidak bahagia.
Lalu Andini mengingat, tentang ayah Kevin yang berada di rumah sakit. Mata Andini melihat ke arah sekita, tidak ada satupun tanda keberadaan ayah Kevin.
"Mungkin ayahnya saat ini sibuk." Gumam Andini.
"Oh yah nak. Ikut ibu ke kamar Kevin." Farah berjalan beriringan dengan Andini menaiki anak tangga menuju lantai dua, di mana letak kamar Kevin. Farah membuka pintu kamar. Nuansa biru dan abu-abu menjadi tema kamar Kevin. "Ini kamar Kevin, istirahatlah dulu, sebelum jam makan malam." Kata Farah lalu keluar meninggalkan Andini seorang diri.
Andini menyusuri kamar Kevin, hingga langkah kaki Andini terhenti tepat di atas nakas, ada foto seorang anak laki-laki yang tentu Andini tahu, jika itu adalah Kevin, karena wajahnya sama persis.
"Ternyata sudah ganteng dari lahir." Ucap Andini sambil tersenyum dan mengambil ponsel lalu memotret foto tersebut.
•••
Makan malam, hanya dihadiri oleh Andini dan ibu mertuanya tanpa ada Kevin dan juga ayahnya. Kali ini Andini masih berfikir jika mungkin ayah Kevin sangat sibuk sampai tidak pulang.
Setelah selesai makan malam, kini Andini dan Farah duduk di ruang keluarga.
"Apa kau tidak ingin bertanya tentang Kevin?" Tanya Farah, membuat Andini hanya tersenyum.
Ingin tanya apa? Tidak ada sama sekali dalam benak Andini untuk bertanya tentang Kevin.
"Kevin, dia anak yang baik. Dia suka makan daging, dan nasi goreng." Farah mulai menjelaskan kepada Andini. "Dia pandai menyembunyikan isi hatinya, dia sangat pintar. Dan juga di sangat menyayangi keluarganya."
"Menyayangi keluarga? Masa iya? Ibunya saja makan hanya sendiri, untuk ada aku di sini." Gumam Andini.
"Percayalah, dia pria yang baik. Hanya saja," Farah mengatur nafasnya. "Semenjak ayahnya selingkuh, Kevin berubah. Dia menjadi anak yang pendiam, dingin, dan bergabung dengan geng motor. Bahkan ibu tahu, jika Kevin sangat nakal dan tidak pernah ikut pelajaran di kampus. Itu salah kami sebagai orang tua." Farah pun memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Andini, karena Andini sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.
Setelah semua sudah selesai, kini Andini kembali ke kamar. Andini sudah mendapat jawaban dari sifat Kevin yang memberontak. Kevin hanya seorang anak yang butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.
"Aku pastikan kau mendapat kasih sayang dari istrimu ini." Batin Andini saat menatap lekat foto Kevin yang berada di ponsel miliknya, hingga kantuk pun menyerang, Andini tertidur pulas di atas tempat tidur.
Dan saat jam satu dini hari. Saat Kevin kembali ke rumah, ia dikejutkan dengan kehadiran Andini di dalam kamarnya. Sanking kagetnya Kevin membuat dia sontak teriak. Andini yang memang sudah sejak tadi tertidur pulas, akhirnya bangun karena juga ikut kaget dengan teriakan suara Kevin.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?"
Buru-buru Andini bangun dan memperbaiki hijabnya.
"Turun! Cepat turun!" titah Kevin yang tidak suka melihat Andini tidur di kasur miliknya.
Andini langsung turun.
"Apa yang kau lakukan di kamarku ini?"
"Kau lihat sendirikan, aku tidur."
"Iya aku tahu."
"Lalu kenapa bertanya?"
Kevin memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Pulang dalam keadaan lelah, berharap ingin tidur pulas justru mendapat seseorang di dalam kamarnya.
"Jangan coba-coba tidur di tempatku."
"Lalu aku tidur dimana?"
Kevin menunjuk sofa.
Tanpa banyak kata, Andini langsung menuju sofa dan membaringkan tubuhnya, membuat Kevin sontak terhenyah melihat tingkah Andini yang menurutnya sangat aneh.
"Dasar aneh"