Kehidupan Nadira semakin menderita sejak kejadian malam itu. Mulai dirinya yang ternyata hamil di luar nikah, di keluarkan dari kampus secara tidak hormat. Semua orang mengecapnya sebagai wanita tidak baik. Pupus sudah impiannya selama ini untuk bisa lulus kuliah dan bekerja kantoran. Yang ada dirinya harus hidup penuh penderitaan. Leon yang merupakan ayah dari anak yang di kandungnya pun tak mau bertanggung jawab.
Hingga pada akhirnya kedua orang tua Leon tahu kelakuan anaknya. Mereka terpaksa menikahkan Leon dengan Nadira. Setelah menikah pun kehidupan Nadira jauh lebih menderita dari sebelumnya, karena Leon memperlakukannya dengan buruk.
Suatu hari mantan kekasih Leon yang bernama Vanesa meminta kembali menjalin hubungan dengannya. Hampir setiap hari Leon dan Vanesa bermalam bersama di rumah yang sama dengan Nadira. Hati Nadira semakin sakit saat melihat kemesraan mereka. Biar bagaimana pun Leon adalah suaminya dan tak pantas berselingkuh di depan matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Bu Salma
Semenjak memergoki suaminya bersama Vanesa, kini Nadira lebih sering lagi memperhatikan mereka. Jika masih dalam batas wajar, Nadira pun masih memaklumi. Namun, jika mereka berdua sudah sampai berbuat yang tidak-tidak, maka Nadira akan langsung menasihatinya.
Sudah beberapa menit yang lalu Leon pergi ke kampus. Saat ini Nadira hanya berdua di rumah bersama Vanesa. Vanesa mendekati Nadira yang sedang menutup pintu depan.
"Hei cewek kampung, Lo harus ingat ya jika posisi Lo disini hanya sementara. Nanti setelah Lo melahirkan maka Leon akan langsung melayangkan talak," ucap Vanesa tegas.
"Terserah mau bicara apa. Yang pasti aku tak memikirkan perceraian." Nadira berlalu pergi begitu saja dari hadapan Vanesa, karena malas untuk meladeni perkataannya yang pada akhirnya membuat emosi.
Tinggal beberapa hari bersama Vanesa membuat Nadira sedikit-sedikit tahu bagaimana karakternya. Maka dari itu sebisa mungkin tak usah meladeni perkataannya. Apa yang Vanesa katakan pasti hanya untuk memancing emosinya.
Nadira yang baru memasuki kamar mendengar ponsel miliknya berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari Bu Salma. Nadira tersenyum senang, menggeser tombol hijau lalu mulai bicara.
📞"Hallo, Mah. Assalamu'alaikum," ucap Nadira.
📞"Waalaikum'salam, Nak. Bagaimana keadaan kamu dan cucu mamah?"
📞"Kami baik-baik saja alhamdulillah."
📞Syukurlah, mamah senang mendengarnya. Oh iya bagaimana dengan dua pembantu yang mamah sewa untuk kalian? Apa mereka mengerjakan pekerjaannya dengan baik?"
📞"Em itu .... " Nadira ragu-ragu untuk menjawab.
📞''Kenapa kamu diam, Nak?''
📞''Tidak apa-apa kok, Mah.''
📞''Syukurlah. Tolong jaga kesehatan kamu ya, Nak. Mungkin mamah akan jarang untuk menengok kamu karena akan pergi ke luar negeri.''
📞''Tidak apa-apa, Mah. Mamah jangan lupa jaga kesehatan disana. Apalagi udara disini dan disana pasti berbeda,'' ucap Nadira memberikan nasihat.
📞''Siap. Kamu juga jaga cucu mamah ya. Nanti mamah akan usahakan untuk pulang cepat.''
📞''Baik, Mah.''
📞''Kalau begitu mamah tutup teleponnya ya, Nak. Kebetulan mamah masih ada urusan di luar.''
📞''Baik, Mah. '' Kini keduanya pun selesai berteleponan.
....
....
Sore ini Nadira menyapu halaman belakang rumah. Banyak sekali dedaunan kering yang berjatuhan. Di belakang rumah memang ada beberapa pohon buah-buahan. Terkadang Nadira pun mengambil buah dari sana. Sungguh pemilik rumah sebelumnya sepertinya memang suka berkebun.
'Sampai kapan aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah? Apa Mas Leon tidak ada niatan untuk merekrut tukang kebun?' gumam Nadira dalam hati.
JIka setiap harinya melakukan semua pekerjaan, lama-lama Nadira tidak akan sanggup. Apalagi perutnya yang terkadang merasa sakit. Memang tidak seharusnya ibu hamil sepertinya bekerja terlalu keras.
Sesekali Nadira menghentikan pekerjaannya dan memilih duduk. Nadira hendak istirahat sejenak karena sudah merasa lelah. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Ting tong
Nadira mendengar ada yang memencet bel dari depan rumah. Ia bergegas ke depan untuk mengecek siapa yang datang. Tidak biasanya ada tamu yang datang ke rumah.
Cklek
Nadira terkejut melihat kedatangan Bu Salma. Yang ia tahu Bu Salma telah pergi ke luar negeri. Memang sebelumnya sempat berpamitan tetapi hanya lewat telepon saja.
''Mamah, kok datang kesini? Bukankah mamah bilang mau ke luar negeri?'' tanya Nadira.
''Memang ia, Nak. Tapi mamah pulang lagi karena teringat kamu.''
''Nadira disini baik-baik saja kok, Mah. Mamah tidak usah cemaskan aku,'' ucap Nadira.
Bu Salma memperhatikan raut wajah Nadira. Terlihat pucat dan berkeringat. Seperti habis mengerjakan pekerjaan berat.
''Jangan bohong sama mamah! Kamu tidak terlihat baik-baik saja. Sepertinya kamu kelelahan, Nak.''
''Nadira tidak apa-apa kok, Mah. Tadi memang sedikit mengerjakan pekerjaan rumah,'' ucapnya.
''Kenapa kamu mengerjakan pekerjaan rumah, Nak? Harusnya biar bibi saja yang mengerjakan.'' Lalu Bu Salma memanggil-manggil pembantu di rumah itu. ''Bi, Bibi,'' panggilnya. Tetapi yang di panggil pun tidak muncul.
Nadira diam sambil meremas jemarinya. Ingin ia menjelaskan yang sebenarnya, tetapi takut jika Leon memarahinya. Tentu sikap diamnya Nadira itu membuat Bu Salma curiga.
''Nad, kenapa kamu diam saja?'' tanya Bu Salma penuh selidik.
''Em itu, maaf, Mah.'' Nadira menundukan pandangannya.
''Mamah yakin kamu sedang menutupi sesuatu. Bicaralah! Mamah tidak akan memarahimu.''
''Tapi aku takut jika Kak Leon yang akan marah,'' ucap Nadira.
''Mamah pastikan Leon tidak akan pernah memarahimu,'' ucapnya.
''Sebenarnya pembantu di rumah ini sudah Kak Leon suruh pergi dari pertama kali kita tinggal disini,'' ujar Nadira jujur.
''Astaga dasar anak itu. Pasti dia lakukan itu biar kamu yang beres-beres rumah,'' ujar Bu Salma, dan ternyata tebakannya itu benar.
Nadira menganggukan kepalanya. Sungguh Bu Salma merasa kecewa terhadap anaknya. Tidak mengira jika anaknya bisa berbuat kejam seperti itu.
Bu Salma meraih jemari menantunya lalu menggenggamnya. ''Nak, maafkan anak mamah ya. Kamu harus kuat menghadapi Leon. Mamah yakin jika leon bisa berubah baik sama kamu. Bersabarlah sebentar lagi!"
Nadira menganggukan kepalanya. "Nadira pasti akan bertahan demi anak ini, Mah."
"Terima kasih, Nak." Bu Salma merengkuh Nadira ke dalam pelukannya.
Bu Salma akan langsung mencarikan pembantu baru untuk Nadira. Tidak mungkin membiarkan menantunya itu terus mengerjakan pekerjaan rumah. Apalagi dalam keadaan hamil muda.
"Nak, sebenarnya mamah ingin sekali menginap disini, hanya saja untuk sekarang-sekarang mamah belum bisa karena masih ada pekerjaan di luar. Tapi tenang saja, kapan-kapan mamah akan menginap disini," ujar Bu Salma.
"Iya, Mah. Tidak apa-apa kok."
"Oh iya mamah mau telepon yayasan punya kenalan mamah buat minta dua pembantu baru." Setelah mengatakan itu Bu Salma langsung menelepon kenalannya.
Nadira hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan Bu Salma. Nadira senang memiliki mertua yang baik sekali sepertinya. Keberadaan Bu Salma adalah salah satu alasan Nadira masih bertahan.
Setelah menelepon pemilik yayasan, kini Bu Salma kembali mengajak Nadira mengobrol.
Vanesa yang baru bangun tidur mendengar suara orang yang sedang mengobrol. Ia langsung saja pergi ke sumber suara. Dari arah belakang Vanesa melihat Nadira sedang mengobrol dengan seseorang.
"Nad, mamah akan menemani kamu sampai Leon pulang. Sekalian mamah mau membicarakan sesuatu dengan dia," ucap Bu Salma kepada Nadira.
"Mamah jangan marahin Kak Leon ya," pinta Nadira.
"Tenang saja, Nak. Mamah tidak akan memarahinya, paling juga menasihatinya," ucap Bu Salma.
Vanesa tadinya hendak menghampiri Nadira. Namun, saat mendengar suara Bu Salma membuatnya mengurungkan niatnya. Vanesa takut jika nanti dirinya malah di usir dari sana. Jika itu terjadi berarti usahanya memasuki rumah itu bisa saja gagal. Bu Salma sendiri sudah mengenal Vanesa. Dulu pernah beberapa kali bertemu saat ia masih menjadi kekasih Leon.
.....
.....
hrs Leon yg minta maaf ma nadira krn bohong
g suka bila lelaki yg sudah selingkuh tetap diterima istrinya