Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Apa Salah dan Dosaku?
Tiba di salah satu mall terbesar di ibu kota, ketiga orang itu lantas turun dari mobil. Akan tetapi satu hal yang membuat Ziel merasa geram, kedua gadis di sampingnya menempel di sisi kanan dan kirinya, membuat dia tak bisa bergerak dengan leluasa.
Ada saja kelakuan Gloria dan Amanda yang membuatnya tarik urat dan harus mengeluarkan suara.
"Astaga, kalian ini sudah seperti ulat bulu. Bisa tidak jalan seperti biasa, jalanan itu masih lebar!" tegas Ziel, sambil memperhatikan sisi di sampingnya. Namun, baik Gloria maupun Amanda tetap tidak ada yang mau mengalah. Bahkan keduanya pura-pura tidak dengar.
Ziel menghela nafas panjang, sepertinya dia harus memiliki stok kesabaran lebih malam ini, karena harus meladeni dua gadis labil di sampingnya.
Tiba-tiba Ziel merentangkan tangan, hingga tubuh Gloria dan Amanda bergeser. "Satu meter dariku! Jangan membuatku susah."
Kedua gadis itu hendak protes, tetapi Ziel justru melanjutkan langkahnya, membuat mereka kembali menelan perkataan masing-masing.
Hingga akhirnya mereka masuk ke dalam mall. Karena tidak tahu harus ke mana, Ziel pun memilih untuk bertanya. "Kalian mau pergi ke mana? Katakan yang jelas dan jangan berbelit-belit."
Namun, baru saja menyelesaikan kalimatnya, Gloria dan Amanda sudah kabur dan berlari ke toko pakaian. Karena mereka melihat barang-barang diskon.
Mata normal seorang wanita ketika melihat produk fashion, langsung berbinar-binar dan terasa lapar.
"Astaga, mereka benar-benar to the point," gumam Ziel dengan rasa frustasi yang semakin mendera, dia terus-menerus mengeluh karena meladeni tingkah dua wanita kesayangannya.
Dengan terpaksa Ziel pun menyusul Gloria dan Amanda yang nampak sangat heboh. Mereka memilih dan mencoba sana sini, seolah lupa kalau mereka baru saja bertengkar gara-gara masalah sepele.
"Man, bagaimana dengan ini, bagus tidak?" tanya Gloria, belum apa-apa di tangannya sudah ada lima baju.
"Bagus-bagus, itu sangat cocok di tubuhmu, Aunty," jawab Amanda, tak kalah dengan sang tante, dia juga memilih beberapa pakaian.
Sementara Ziel lebih memilih menunggu dua gadis itu dengan berdiri di sudut ruangan. Dia melipat kedua tangan di depan dada sambil terus memperhatikan Gloria yang sedang asyik berbelanja.
Tiba-tiba sudut bibirnya tertarik ke atas, dia geleng-geleng kepala karena Gloria benar-benar tak bisa cukup dengan satu, dua baju.
"Ziel, kenapa hanya berdiri di situ? Bantu kami dong!" teriak Gloria, menyadarkan lamunan Ziel. Pria itu mengangkat kepala, dan baru sadar kalau kini sudah ada setumpuk baju di tangan Gloria.
Lantas Ziel pun mendekat lalu bertanya. "Kamu beli sebanyak ini?"
"Ya, makanya kamu bantu aku, bawakan ke kasir," jawab Gloria, lalu menyerahkan semua pakaian itu kepada Ziel.
"Punyaku juga," timpal Amanda, membuat beban Ziel semakin bertambah.
"Ya Tuhan ... tubuh kalian ini cuma satu, tapi sekali belanja seperti ingin berjualan!" gerutu Ziel, tetapi meskipun begitu dia tetap berjalan ke arah kasir, lalu meletakkan pakaian milik tante dan adiknya.
Sementara dua gadis itu hanya bisa terkekeh kecil.
"Ada tambahan lagi, Tuan?" tanya sang kasir setelah berhasil menjumlahkan semua barang belanjaan.
"Cukup!" jawab Ziel singkat, sebab menurutnya itu sudah terlalu banyak.
"Baik, kalau begitu total keseluruhannya .55.267.300 rupiah, Tuan."
Ziel langsung membulatkan kelopak matanya, apa dia tidak salah dengar? Dengan perlahan Ziel menggerakkan kepala untuk melihat ke arah Amanda dan Gloria, tetapi mereka justru nampak biasa-biasa saja.
"Keluarkan satu kartu untuk membayar, dan selebihnya kalian atur sendiri!" kata Ziel penuh penekanan, tetapi Gloria dan Amanda malah bergeming. Tak ada tanda-tanda mereka akan mengeluarkan kartu masing-masing.
"Hei, cepatlah banyak yang mengantri untuk membayar!" sentak Ziel dengan kesabaran yang sudah semakin menipis.
"Kami datang dengan seorang pria, masa kami harus membayar dengan kartu sendiri, Ziel. Di mana harga dirimu?" ucap Gloria yang membuat Ziel menganga.
"Maksudmu? Aku yang suruh membayar ini semua?" tanya Ziel dengan suara yang nyaris berbisik, karena kini semua mata pengunjung sedang menatap ke arahnya. Dia jadi enggan untuk marah, karena merasakan malu yang luar biasa.
"Tentu saja, lalu siapa lagi? Aku benar kan, Man?" jawab Gloria seraya meminta persetujuan Amanda. Dan sialnya gadis itu mengiyakan ucapan tantenya, membuat Ziel terpaksa menahan geram di hatinya.
Ya Tuhan ... sebenarnya apa salah dan dosaku? Apakah setelah ini aku akan dapat keajaiban? Sttt ... Gloria, kenapa kau sangat menyebalkan? Dan sialnya aku malah menyukaimu!
"Tuan, maaf, sebaiknya anda segera melakukan pembayaran, yang mengantri sudah semakin banyak," ucap sang kasir. Hingga mau tak mau, akhirnya Ziel mengeluarkan kartu ATM-nya.
Dia melirik Gloria dengan tatapan sebal. Akan tetapi gadis itu tak merasa bersalah sedikitpun.
"Apakah itu sudah termasuk diskon?" tanya Ziel dengan ketus.
"Sudah, Tuan."
Haish, diskon dari mananya? Setengah gajiku melayang dalam semalam.
***
Kapan gue diajak ke mall juga, Bang, mumpung mau lebaran😩😩