(17+)
Mengenal seorang laki-laki bernama Dika, dia adalah teman sepupuku, kakak kelasku waktu SMP, dia itu anak yang usil sekali dan suka menggodaku, lulus SMP Dika meninggalkan kota ini dan melanjutkan sekolah di ibukota bersama kepindahan keluarganya, disaat Dika jauh, Vania merasa kehilangan dan merasa mencintai Dika.
Vania... gadis tomboi yang pintar dan banyak prestasi menunggu kabar dari Dika tak juga kunjung ada, kemudian saat di SMK Vania bertemu dengan Arman, laki-laki yang selalu mengisi hari-harinya dan akhirnya Vania melupakan cinta pertamanya dan mulai mencintai Arman.
Tapi... di saat Dika bekerja di Negeri Jepang dan mulai mapan, Dika menghubungi Vania, dan menginginkan menjadi istrinya.
Simak kisah selanjutnya, apakah Vania memilih Dika sebagai cinta pertamanya? atau Arman yang selalu ada untuk Vania, atau memilih laki-laki lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariyanti Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Tapi Mesra
"Vania kamu sudah makan?" tanya Arman.
"Aku masih kenyang" kataku.
"Bisa nemani aku jalan-jalan keliling kota?" tanyanya.
"Gimana ya?" kataku ragu.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
"Kita ngobrolnya di sini saja Man" pintaku.
"Ayo sebentar saja, ke Alun-alun, jam delapan sudah sampai sini" kata Arman sedikit memaksa.
"Oke, aku gak punya helm" kataku.
"Aku sudah bawa untukmu" katanya.
kemudian aku dibonceng Arman meninggalkan rumah kost, Arman berhenti di sekitar Alun-alun dan mengajakku ke penjual empek-empek, kami duduk di sana dengan santai, Arman memesan empek-empek dan es jeruk.
"Man... aku belum tau tentang kamu, kamu apa sama denganku kelas satu?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Iya sama, aku kelas satu aku jurusan mesin" jawabnya.
"Arman... aku lama-lama gak enak kamu perlakukan aku seperti ini, aku gak mau suatu saat hutang budi sama kamu" kataku.
"Vania.. aku suka sama kamu, dari awal aku ketemu kamu waktu kamu daftar dulu, aku memperhatikanmu dari jauh, kamu diantar sama Bapakmu kan?" katanya.
"Iya betul" kata ku singkat, kemudian pesanan kami datang, aku makan sedikit-sedikit.
"Vania... kamu menerima atau tidak rasa sukaku ini terserah kamu, aku bisa dekat denganmu aku sudah senang" kata Arman, aku tersenyum mendengarnya, aku sendiri tidak tau harus menerima atau tidak, dalam hatiku masih ada bayangan Dika.
"Vania... aku akan sering menjemputmu dan mengantarmu pulang juga mengajakmu keluar seperti sekarang, kamu tidak keberatan kan?" katanya.
"Selama tidak merepotkanmu gak apa-apa?" kataku.
"Kamu pulang ke rumahmu kapan? boleh aku mengantarmu" katanya.
"Hai... jangan ke rumahku, Bapakku gak suka aku dekat sama laki-laki" kataku.
"Maksudku, aku belum dapat ijin untuk mengenal laki-laki" jelasku.
"Oh... berarti selama ini kamu belum pernah pacaran? atau kamu pernah suka dengan temanmu Smp? tanyanya, aku menggelengkan kepala.
Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit.
"Arman, ayo pulang" pintaku, kemudian Arman berdiri membayar makanan kami dan menuju sepedanya dan aku naik ke sepedanya.
"Hei... lajunya jangan kencang begini, aku jatuh nanti" teriakku.
"Makanya kamu pegangan aku" katanya.
"Enak saja, mending aku jalan kaki" kataku.
"He he he" Arman tertawa.
"Kamu Van, berani berkelahi tapi takut ngebut" katanya mengejek.
"He he he, aku kan belum bisa naik sepeda motor" kataku dan tertawa.
"Apa..? cewek tomboy macam kayak kamu gak bisa naik motor?" katanya.
"He he he iya" jawabku cengengesan.
"Besok habis maghrib aku ajari ya?" katanya.
"Oke, dengan senang hati" kataku.
Sampailah aku di rumah kost.
"Arman, makasih, aku masuk dulu" kataku pelan.
"Kamu langsung pulang atau mau main-main dulu, atau barangkali ke teman perempuanmu gak apa-apa" kataku.
"Aku langsung pulang" katanya.
"Rumahmu mana?" tanyaku.
"Dekat sini, kapan-kapan aku ajak main ke rumahku, aku punya adik perempuan" katanya kemudian mensetater sepedanya meninggalkan rumah kost.
"Cie...cie... pacar ya?" tanya Rita.
"Bukan.. teman saja, Mbak Dyah tau ceritanya, gara-gara kemarin aku berantem dia sekarang baikan sama aku" kataku kemudian berlalu meninggalkan Rita masuk ke kamar.
Di dalam kamar aku merebahkan tubuhku, bayangan wajah Arman dan Dika silih berganti, entah kenapa aku sekarang merindukan Dika, apa yang dilakukan Dika di Jakarta sana? batinku, ah sudahlah untuk apa memikirkan Dika yang belum tentu juga suka denganku, Arman baik, tapi aku baru kenal dia, kenapa aku tidak mencoba mengenal Arman, toh Arman juga cakep, ah... sudahlah pusing, lebih baik aku tidur, batinku, mulailah ku pejamkan mataku, lama kelamaan aku mulai tertidur.
Adzan subuh sayup-sayup terdengar, aku terbangun dan keluar kamar untuk melaksanakan sholat subuh kemudian menyiapkan perlengkapan sekolah, setelah semua selesai aku keluar kamar melihat ke kamar mandi masih sepi, lebih baik mandi dulu, daripada nanti antri, batinku, akhirnya aku menuju kamar mandi untuk mandi.
Mentari pagi bersinar, menghangatkan suasana pagi ini, aku sudah siap dengan baju seragam pramukaku, ya... hari ini hari jumat, besok rencana pulang ke rumah, kangen sama Ibu, Bapak, Zika batinku, waktu menunjukkan pukul enam pagi, perutku sudah minta di isi, masih ada roti dan susu di kamarku, lebih baik sarapan dengan ini, dan aku ambil roti kemudian aku teteskan susu coklat kental manis di atas rotiku, sedikit demi sedikit aku makan, setelah habis satu potong perutku masih lapar akhirnya nambah lagi, setelah empat potong akhirnya kenyang dan aku minum teh hangat yang sudah aku buat tadi, Alhamdulillah kenyang, waktu menunjukkan pukul enam lebih seperempat menit, seperempat menit lagi masuk sekolah, aku melangkah menuruni anak tangga hampir bersamaan dengan Mbak Dyah, ya... di kost sini yang sekolah di SMK 2 cuma aku dan Mbak Dyah, dan kami masuk jam setengah tujuh lainya jam tujuh.
"Ayo bareng Van" ajak Mbak Dyah.
"Iya Mbak" kataku.
Kami berjalan menyusuri jalan gang menuju jalan trotoar di ujung jalan, terlihat ada Arman mengendarai sepeda motornya menghampiri kami.
"Ayo Van, aku bonceng" ajak Arman.
"Arman... nanti saja waktu pulang, aku jalan kaki sama Mbak Dyah, anggap saja olah raga pagi hehehe" kataku.
"Oke... nanti ketemu di kantin" katanya.
Kemudian berbalik meninggalkan kami.
"Siapa tadi Van?" tanya mbak Dyah.
"Teman Mbak yang kemarin aku ceritakan" kataku.
"Yang berantem apa yang tanganya kamu pelintir?" tanya mbak Dyah.
"Yang tanganya aku pelintir" jawabku.
"Sepertinya dia menyukaimu, cakep juga anak itu" kata Mbak Dyah.
"Mbak Dyah naksir ya?" tanyaku menggoda.
"Gila apa? aku sudah punya pacar" jelasnya.
"He he he" aku tertawa mendengarnya.
Kami berpisah, Mbak Dyah masuk ke dalam kelasnya aku masih jalan ke depan.
"Ayo bareng" kata Arman mengagetkanku.
"Bikin kaget saja" kataku.
"Pulang sekolah aku ajari naik sepeda ya?" pintanya.
"Oke, aku masuk kelas dulu ya" kataku kemudian masuk ke kelas dan duduk di kursiku, hari ini masih juga belum ada pelajaran cuma pengenalan saja, minggu depan baru mulai pelajaran.
Bel istirahat berbunyi.
"Vania.. kamu jadian sama Arman?" tanya Ari.
"Cuma teman saja, kenapa?" tanyaku
"Itu kamu sudah di tunggu Arman, gak apa-apa kamu jadian, dia teman SMP ku, baik kok" jelas Ari.
"Tapi..." kataku kemudian dipotong sama Ari.
"Sudah temui dia" kata Ari, kemudian Arman masuk ke kelasku, "Ayo ke kantin" pintanya.
"Cie... cie... primadona kita ada yang mendekati, bagaimana setuju tidak?" kata Andri.
"Setuju....." jawab beberapa teman, aku jadi malu, mungkin pipiku kelihatan memerah.
"Man... dijaga ya primadona kelas kita ini, kalau Vania kamu apa-apakan, bukan hanya Vania atau bokapnya yang menghajarmu, tapi kita sekelas juga pasti menghajarmu" kata Feri sambil menepuk pundak Arman dan berlalu meninggalkan kelas, tinggal aku sendiri dengan Arman.
"Ayo ke kantin" pinta Arman.
"Ayo" jawabku dan tersenyum.
semangat kak😍