Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.
Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'
Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.
Siapakah yang akan di pilih Ara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Celananya basah ketika Farhan bangun keesokan paginya. Dia mengusap wajah, menyadari semuanya hanya mimpi.
Farhan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mencuci celananya. Kemudian berangkat kerja setelah menghabiskan sarapannya.
Hari itu Farhan bekerja dari jam delapan pagi hingga pukul empat sore. Ketika kembali ke rumah, waktu sudah menunjukan pukul lima lewat lima belas menit.
Farhan menjatuhkan tubuhnya di sofa, di ruang tamu. Melepas sepatu dan jaket sebelum menyandarkan punggungnya ke belakang, melepas lelah setelah bekerja seharian. Dia menghabiskan sebatang rokok sebelum bergegas ke kamar mandi.
Pada pukul tujuh malam, Farhan kembali mengendarai sepeda motornya menuju ke sebuah rumah yang berada di jalan ampera. Kedatangannya disambut Sandi dan Hendra, yang sedang bermain catur.
Farhan menghampiri dua orang itu dan duduk di sebelahnya. Dia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan pemilik rumah yang tak kelihatan batang hidungnya. "Bimo mana?"
"Lagi pergi." Sandi berkata tanpa mengalihkan pandangan dari papan catur. Tangannya terulur, memindahkan benteng setelah berpikir selama satu menit.
"Kemana?"
Sandi mengangkat bahu. "Entahlah."
"Sudah lama?" Farhan bertanya lagi.
"Dia pergi lima menit sebelum kau datang." Hendra menggeser kuda-nya ke kanan. Setelah itu menoleh ke arahnya "Kenapa, ada perlu, Han?
"Tidak, hanya bertanya."
Farhan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana. Mengambil sebatang sebelum melemparnya ke meja seraya menawarkan ke kedua temannya.
Sambil merokok, Farhan mengamati permainan sebentar sebelum bermain dengan ponselnya sendiri. Sudut mulutnya melengkung ketika melihat story WhatsApp Ara yang mengunggah beberapa foto.
Foto pertama diambil di pagi hari, saat gadis itu sedang menyiram bunga. Foto kedua memperlihatkan secangkir kopi hitam dan roti panggang dengan caption Big boss favorite. Slide ketiga merupakan foto selfie dirinya dengan seekor kucing Persia.
Bulunya panjang dan lebat, badannya gemuk, dan wajahnya bulat. Kucing itu tampak cantik sekaligus menggemaskan, seperti pemiliknya.
Farhan menggerakkan jari-jarinya di layar. Mengetik satu kata di kolom komentar dan mengirimkannya.
Beralih ke slide berikutnya, layar menampilkan fotonya lagi. Kali ini full body. Gadis itu mengenakan midi dress sabrina yang memperlihatkan bahu serta tulang selangkanya yang indah.
Pemandangan itu mengingatkan Farhan pada mimpinya semalam. Sama seperti yang dilihatnya dalam mimpi, kulitnya yang seputih salju berkilauan dibalik gaunnya yang berwarna burgundy. Bahkan senyumnya yang semanis madu, serta lekuk tubuhnya yang tak tertahankan tampak sama persis.
Celananya menjadi ketat seiring dengan bagian tubuh diantara kakinya yang membengkak.
Farhan menelan ludah dengan keras. Dia hendak menyimpan ponselnya ketika benda itu tiba-tiba bergetar. Begitu membukanya dia mendapati sebuah pesan dari Ara.
—Banyak yang bilang begitu, tapi dia sebenarnya jantan. Kak Farhan bukan satu-satunya yang tertipu
Sudut mulutnya berulang kali melengkung ke atas selama Farhan berbalas pesan dengan gadis itu.
Farhan: Kamu salah paham. Aku tidak memuji kucing itu, tapi pemiliknya. Cantik sekali
Ara : Terimakasih
Farhan : Kucingmu, siapa namanya? aku juga punya satu di rumah, dia sedang sakit
Ara : Namanya Zhichu. Sakit apa?
Farhan : Aku tidak tahu dia sakit apa. Yang pasti ada yang salah dengannya. Akhir-akhir ini dia tampak kusam dan lemah. Badannya juga semakin kurus, tapi anehnya perutnya justru membuncit. Apakah kamu tahu dia sakit apa?
Ara : Aku juga tidak tahu. Mengapa Kak Farhan tidak membawanya ke dokter saja? Kasihan kalau tidak segera ditangani
Farhan : Aku tidak begitu berpengalaman. Tidak tahu klinik mana yang bagus. Apakah kamu punya rekomendasi?
Ara : Aku tidak tahu banyak, tapi menurutku DC Pet Care cukup bagus
Farhan : DC Pet Care? Di mana itu?
Ara : Tidak jauh dari rumahku. Tepatnya di jalan sangguan, samping bengkel mobil
Farhan : Aku tidak terlalu paham daerah situ, bisakah kamu menunjukannya padaku?
Farhan : Jika kamu tidak keberatan
Bimo menyajikan martabak di meja begitu dia tiba. Setelah itu berjalan menuju ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Dia berbalik dan bertanya dengan suara keras, "Ngopi enggak, Han?"
Hendra menduga Farhan tidak mendengar Bimo, jadi dia mengulangnya, "Mau kopi enggak?"
Orang disebelahnya tetap bungkam setelah beberapa detik berlalu. Hendra menoleh dan mendapati Farhan tengah tersenyum pada gawai-nya.
Entah bagaimana Farhan seolah memisahkan diri dengan lingkungan sekitar dan berada di dunia lain. Jari-jarinya yang panjang dan ramping melintasi papan ketik di layar, membalas pesan.
–Besok aku bekerja. Bagaimana kalau lusa? Aku akan menjemputmu sepulang sekolah.
Sandi mengernyitkan dahi melihat Farhan yang tersenyum seorang diri. Berpaling darinya, Sandi menatap Hendra dan bertanya,
"Apa dia gila?"
"Sepertinya begitu," sahut Hendra.
Sandi pura-pura batuk dengan suara keras sebelum berkata, "Chatting sama siapa sih, Han? Asyik bener."
Farhan mengangkat kepala dan mengunci ponselnya sebelum memasukannya ke dalam saku. "Bukan siapa-siapa."
Sandi menyeringai. Jelas tidak percaya dengan ucapannya.
Hendra menyeruput kopinya yang hampir dingin. Sambil meletakkan gelas di meja, dia tiba-tiba berkata, "Dia tampak masih sangat muda."
Farhan meliriknya sekilas. "Kau melihatnya?" Tangannya terulur, mengambil sepotong martabak di meja dan memasukkan ke dalam mulutnya dengan gigitan besar.
"Tidak sengaja," jawab Hendra jujur. Dia tidak bermaksud mengintip. Hanya saja saat menoleh, dia melihat apa yang sedang dilihat Farhan.
Hendra memiringkan kepala dan menatap Farhan. Dia bertanya lagi, "Apa dia masih sekolah?"
Farhan mengangguk. "Ya, kelas dua SMA."
Sandi memandang Farhan dengan seringai di wajahnya. "Kupikir seleramu yang matang saja, Han. Ternyata kau menyukai yang mengkal juga, aku baru tahu."
"Kau terlalu banyak berpikir. Aku tidak tertarik dengan remaja." Farhan hanya ingin bermain-main dengannya sedikit. Di tidak berniat menjalin hubungan serius.
"Apa salahnya dengan remaja?" Dengan senyum nakal Sandi menambahkan, "Mereka justru sedang enak-enaknya."
Seorang gadis remaja bagaikan bunga yang sedang mekar dan siap dipetik. Mereka menginginkan kebebasan, menyukai petualangan dan tantangan. Rasa keingintahuannya besar dan cenderung berani menanggung risiko atas perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan yang matang.
Tidak sedikit pria yang memanfaatkan hal itu. Mereka tidak segan mengambil keuntungan darinya. Menghisap seluruh madunya dan meninggalkannya ketika sudah layu.
Farhan berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kekanakan, manja dan terlalu berisik."
"Kau tidak mau, kalau begitu berikan padaku saja. Aku siap menampung dan memberinya kasih sayang penuh," ujar Hendra.
Farhan memiringkan kepala dan menatapnya. Nadanya pedas saat berkata, "Mengapa aku menyerahkan gadisku pada bajingan sepertimu?"
Hendra sama sekali tidak marah ataupun tersinggung. Pria itu justru tertawa. "Sejak kapan dia menjadi gadismu? Apakah kau yang melahirkannya?
"Siapa yang kalian bicarakan?" Bimo membawa secangkir kopi dan meletakkannya di hadapan Farhan. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di sebelah Sandi.
"Pacar barunya," Sandi menunjuk Farhan dengan dagunya.
"Secepat itu? Dia baru saja putus."
"Mengapa kau begitu terkejut?" Sandi menatap Bimo dengan heran. "Dia tampan, tidak seperti kita. Bahkan sebelum putus, lusinan wanita sudah mengantri untuk menjadi kekasihnya."
Bimo tidak ingin mengakuinya, tapi itu memang benar. "Apakah pacar barunya cantik?"
"Tanyakan saja padanya, mengapa kau bertanya padaku!" Sandi menjawab dengan kesal. Entah, apa yang membuatnya tidak senang.
Bimo beralih memandang Farhan yang duduk di seberangnya. "Mengapa kau tidak menunjukkan pacar barumu padaku? Biarkan aku melihat."
"Jangan dengarkan omong kosongnya, aku tidak punya pacar." Farhan mengangkat gelas dan mendekatkan ke bibirnya, menyeruput isinya sedikit sebelum mengembalikannya ke meja. Sambil mengedarkan pandangan dia bertanya, "Ngomong-ngomong, di mana Bleki?"
Farhan tidak menyukai kucing maupun binatang lain. Bimo menatapnya dengan curiga. "Mengapa kau tiba-tiba mencarinya?"
"Aku akan membawanya ke dokter," jawab Farhan. "Dia belum mati kan?" imbuhnya dengan panik.
Seseorang yang cuek, yang tidak peduli dengan apapun kecuali keluarganya, tiba-tiba menaruh perhatian pada kucingnya. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Dengan sebatang rokok di antara jari-jarinya, Bimo menatapnya saat berkata, "Bagaimana menurutmu?"
Seringai di wajahnya menunjukan bahwa Bimo tidak akan memberitahunya.
"Aku akan mencarinya sendiri."
Farhan bangkit dari kursi dan berjalan menjauh sambil memanggil si hitam berulang kali.
"Bleki... di mana kamu?"
...
Terletak dilantai tujuh belas hotel Hilton,
17th Restaurant and Lounge menyajikan pemandangan malam kota Z yang sangat indah. Menu sajian mewah seperti steak, pasta dan cocktail bisa dinikmati setiap pengunjung serta membuat malam semakin romantis.
Duduk didekat jendela kaca setinggi langit-langit, Ara sedang membalas pesan Farhan ketika seseorang menghampirinya.
"Ara."
Gadis itu mendongak, menatap pria dihadapannya yang mengenakan kacamata berbingkai emas. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan kulitnya seputih salju. Kemeja merah maroon serta celana hitam berpotongan lurus membalut tubuh rampingnya dengan sempurna.
Dengan satu kaki ditekuk ke lantai, pemuda tampan itu berlutut di hadapannya. Kedua tangannya memegang buket mawar merah berukuran besar.
"Aku sudah menyukaimu sejak lama, maukah kau menjadi pacarku?"
Gio tersenyum melihat wajahnya yang memerah. Wanita dihadapannya begitu cantik dan murni. Dia sangat menyukainya.
"Tolong terima bunga ini jika kamu mau," imbuhnya dengan penuh harap. Meskipun sudah mempersiapkan diri secara mental, Gio tetap merasa gugup. Jantungnya berdegup kencang.
Ara pun merasakan hal yang sama. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin keluar dari tenggorokannya. Wajahnya terasa panas seperti terbakar matahari. Gadis itu menatap Gio, buket mawar merah di tangannya, serta teman-teman yang mengelilinginya secara bergantian. Dibawah tatapan semua orang, yang menggemakan kata 'terima' secara serempak, wajahnya yang putih dan halus kian memerah.
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya