Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.
Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azel : Pertanyaan-pertanyaan Nayla
Selama ini, gue tidak pernah penasaran dengan reaksi wanita saat pertama kali mereka mengetahui bahwa gue adalah seorang duda yang bercerai. Ada buntutnya lagi, beranak satu.
Jika saat bersama mereka kebetulan gue harus menjawab telepon Rara, gue akan menjawab dengan suara yang sangat pelan. Lalu setelah itu gue akan mengalihkan pembicaraan, gue tidak akan pernah membahas lebih lanjut tentang anak kebanggan gue itu. Meskipun mereka berani bertanya, gue kebanyakan akan membungkam mereka dengan godaan nakal ataupun sejuta ciuman agar mereka lupa akan pertanyaan tentang Rara.
Hehehe.
Lama-lama gue membuat diri gue menjadi terlihat sangat brengsek disini.
Tapi, dengan Nayla, gadis ini benar-benar membuat gue penasaran setengah mati dengannya. Dia membuat gue bingung dengan diri gue sendiri. Seakan-akan gue mengabaikan seluruh prinsip, etika dan norma yang berlaku dan gue anut daridulu. Mengajak Nayla makan malam saja sudah merupakan pelanggaran besar, apalagi ngobrol dengannya tentang status gue.
Gue memberi jeda obrolan kami sesaat setelah Rara menelepon. Gue membiarkan kecanggungan terjadi agar dia berusaha mengangkat topik itu. Gue benar-benar penasaran bagaimana opini Nayla tentang masa lalu gue dan Rara.
Gue sudah gila.
Dan lebih gila lagi, sepertinya Nayla tidak terdengar menghakimi sama sekali. Setidaknya begitu, pendapat gue.
Karena tadi, dia menanyakan apakah gue sudah baik-baik aja sekarang.
Pertanyaan yang jarang sekali ditanyakan orang lain.
Kebanyakan orang hanya akan menghakimi gue. Karena dalam perceraian, biasanya yang disalahkan adalah lelakinya. Walaupun jelas-jelas wanitanya yang berselingkuh. Apalagi jika seperti gue, yang tidak ingin terang-terangan menuding kesalahan Diana. Bagaimana pun juga, dia tetaplah ibu dari anak gue.
"Kamu ayah yang hebat. Jarang banget seorang bapak yang dapat hak asuh.”
Nayla memuji gue. Gue menggeleng.
“Enggak, Nay, aku bukan ayah yang hebat. Tapi setidaknya, aku berusaha setiap harinya."
“Emang itu yang dibutuhin. Terus berusaha."
Hening. Lama.
Lalu sebuah pertanyaan terlontar dari Nayla.
Pertanyaan yang dulunya akan selalu gue hindari untuk menjawabnya. Pertanyaan yang jika dilontarkan oleh wanita lain tidak akan gue gubris sama sekali.
“Can I meet Rara someday, Zel?”
(Satu saat nanti, aku bisa ketemu Rara gak, Zel?)
Nayla tersenyum membuat gue terdiam sepersekian detik.
Kali ini tidak ada pertentangan batin sedikit pun.
Ntah apa yang merasuki gue, seperti disihir, gue mengangguk sambil berkata, “Tentu aja, Nay.”
“Thank you, Zel.”
Gue bisa melihat keikhlasan dalam nadanya, dalam tatapannya, dalam senyuman. Membuat jantung gue tiba-tiba rasanya ingin melompat keluar.
Apa-apan ini?
Duda berumur tiga puluh delapan tahun ini, yang terkenal brengsek dan tidak punya hati, kini tiba-tiba jadi cemen hanya karena ucapan tulus seorang gadis.
Gila. Kenapa gue jadi sekonyol ini?
Gue dipelet Nayla atau gimana sih?
Tapi seinget gue, keluarga Nayla itu sangat religious. Ayahnya saja sering pelayanan ke tempat-tempat terpencil. Mana mungkin Nayla dekat dengan hal-hal seperti itu.
Gue hanya sedang mencari alasan logis dari kegoblokan gue sekarang ini, tapi tetap tidak menemukan satu pun. Untuk memecah keheningan, gue memutuskan untuk memasang lagu saja.
“Nyalain musik ya.”
Gue berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebuah lagu akustik terdengar.
“Wow, kamu tahu Joseph Vincent.” Nayla berdecak.
“Gue uda tau dia dari zaman awal youtube banget, Nay. 2012 kali ya.”
“You watch youtube too?”
(Kamu nonton youtube juga?)
“Nay, I’m not that old. I’m not a sixty years old grandpa. Hahaha.”
(Nay, aku gak setua itu. Aku bukan kakek-kakek berumur 60 tahun. Hahaha.)
“Hahaha. Sorry, Zel. Tapi aku kagum aja. Soalnya Nathan tuh gak nonton youtube sama sekali. Katanya banyak konten yang gak bener.”
“Sekarang emang iya. Tapi dulu banyak musisi-musisi bagus di youtube, Nay. Modal suara dan gitar doang. Salah satunya Joseph Vincent. Dan lagi, lagu-lagunya dia tuh bukan lagu yang baru-baru banget. Dia masih ngecover killing me softly, stand by me. Jadi masih cocoklah aku ikutin.”
“Hahaha. Kamu tersinggung ya? Gak kok, maksud aku bukan tua.”
“Tapi?”
“Tua banget.”
“Hahaha. Asem. Kalau Tori Kelly tau?”
“Nada deringku sampe sekarang itu Dear No One.”
“Hahaha. Cocok banget buat kamu.”
“Ih, ngejek. Kamu juga tau!”
“Hahaha, bener juga. Aku jadi kena deh.”
“Tapi yang dulunya laku banget di youtube jadi mulai dilupain ya.”
“Iya. Ketutup sama prank-prank gak jelas sih.”
“Iya. Tapi aku tetap ngikutin sih kalau musisi-musisi favoritku.”
“Sama.”
Lalu hening lagi.
Tapi tidak lama karena Nayla bertanya lagi.
“Aku boleh nanya hal lain lagi, Zel?”
“Selama kamu gak nanya tentang masalah apa yang lagi dihadapain Ataya sekarang sih, kayaknya aku bisa jawab.”
“Hahaha. Kalau itu aku bakal cari tau sendiri.”
“Tapi jangan terlalu kepo ya. Nanti laporan keuangannya gak rilis-rilis.”
“Dih. Masa gak kepo. Nanti kerjanya gak bener.”
“Hahaha, tadi mau nanya apa dong? Jadi lupa karena ngecengin mulu.”
“Tapi ini bener-bener gak ada maksud apa-apa sih, Zel.”
“Santai, Nay. Kayak lagi ngomong sama guru BP.”
“Hahaha.”
“Ketawa mulu. Nanyanya gak jadi-jadi deh.”
“Hmm. You still have no plan to find somebody else?”
(Kamu belum punya rencana untuk nyari yang lain?)
Nayla, how dare you to ask this question…
(Nayla, berani-beraninya kamu menanyakan hal ini...)
Dan gue akhirnya tersadar betapa brengseknya gue saat gue menatap mata Nayla sambil berkata.
“I didn’t yesterday. But today, I think I change my mind.”
(Kemarin sih enggak, tapi hari ini aku berubah pikiran.)
Gue tersenyum.
Nayla kaget. Wajahnya bersemu merah. Menggemaskan sekali.
Gue tau gue menjijikkan. Gue tau ini tidak pantas. Tapi ada sesuatu dalam diri Nayla yang membuat gue ingin bertindak lebih jauh.
Gue tau gue sedang bermain api, tapi gue bingung caranya untuk berhenti.
Kira-kira kalau Nathan tahu, gue bakal diapain ya. Gue tidak berani membayangkan.
***