Tidak ada kata tidak untuk dirinya, segala hal yang membuat dia tersenyum dan bahagia pasti akan aku lakukan, meski harus mengorbankan perasaan aku sendiri, karena dia adalah prioritas utama dalam hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lissaju Liantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#008
"Yakin nih mau traktir aku di restauran semewah ini?" Tanya Rakes setelah ia memarkirkan motornya di parkiran sebuah restauran ternama.
"Banget! buruan gih turun!" Jelas Una yang terlihat masih sibuk melepas sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.
Una yang masih di dalam mobilnya, bergegas keluar setelah menurunkan kaca mobil yang sedari tadi ia buka agar bisa berkomunikasi dengan baik dengan Rakes yang berada di sebelah mobilnya.
Tampa sengaja pintu mobil Una yang tiba-tiba dibuka dari dalam justru membuat seorang gadis yang sedang berjalan di dekat sana terjatuh akibat kesenggol dengan pintu mobil Una.
"Maaf!" Pinta Una yang segera menghampiri gadis tersebut.
"Punya mata nggak sih? kamu kira ini parkiran milik orang tau mu? seenak jidat main buka aja tuh pintu mobil nggak lihat apa ada orang lagi lewat!" Cetus gadis tersebut kesal diikuti dengan tatapan tajamnya.
"Maaf banget, aku benar-benar nggak sengaja!" Pinta Una lalu mencoba untuk membantunya berdiri.
"Nggak perlu, aku bisa bangun sendiri!" Cetusnya lagi dan langsung bangun.
"Kenapa lama banget? katanya cuman mau ambil tas di mobil." Tanya Roger yang kembali menyusul Zea di parkiran.
"Zea, Roger!" Seru Rakes ketika melihat Roger dan Zea sedang bersama Una.
"Abang! ngapain di sini? sama siapa?" Tanya Roger.
"Mau makan siang, kalian?" Jelas Rakes.
"Sama, kami juga mau makan siang. Ya udah ayo sekalian aja!" Ajak Roger.
"Nggak apa, abang bareng sama kawan juga soalnya." Jelas Rakes.
"Jangan bilang kalau dia ini teman abang!" Gumam Zea.
"Iya, Una kenalkan dia Roger dan yang itu Zea, mereka berdua adik aku!" Jelas Rakes.
"Apa??? Jadi dia nih yang namanya Una, nggak di telpon nggak di depan mata, sama-sama ngeselin aja kerjaannya." Cetus Zea sinis.
"Aku benar-benar nggak sengaja, maaf!" Pinta Una.
"Nggak penting, aku nggak butuh maaf kakak. Ayo abang Roger, aku udah lapar!" Jelas Zea dan segera kembali ke dalam restauran tanpa lagi peduli dengan Una dan kedua abangnya.
"Kalau gitu aku juga duluan ya bang, semoga kencan kalian menyenangkan!" Ujar Roger dengan senyuman menggoda dan segera menyusul Zea.
"Maaf, mereka emang gitu! terlebih lagi Zea, dia emang agak kasar, tolong jangan terlalu diambil hati perkataannya. Ayo kita masuk!" Ajak Rakes.
"Tapi aku jadi nggak enak sama adik-adikmu, terlebih sama Zea, aku membuatnya kesal." Jelas Una.
"Udah tenang aja, meski agak kasar, tapi sebenarnya mereka adik-adik yang nurut kok, ya udah ayo, buruan!" anak Rakes dan juga segera masuk ke dalam restauran bersama Una.
-------------------
"Haisshhhhh!" Gumam Zea kesal lalu menjatuhkan sendok yang ada ditangannya begitu saja hingga membuat sebuah suara yang cukup berdenting karena sendok bersambut dengan piring.
"Kenapa?" Tanya Roger yang paham betul dengan keadaan Zea saat ini.
"Kesal aja! pokoknya dia itu cewek yang benar-benar ngeselin banget, kemaren dia ganggu tidur aku hari ini menghadang jalan aku, pengen rasanya ku sentil tuh jidat!"
"Yakin cuma karena itu alasannya?" Tanya Roger yang kembali menyantap makanannya.
"Maksudnya???"
"Cemburu misalnya?"
"Cemburu? karena apa?"
"Karena kedekatan dia dengan abang Rakes."
Penjelasan Roger sontak membuat Zea tertawa seketika.
"Becandaan abang Roger sukses mengaduk perut aku!"
"Dan sayangnya, abang tidak sedang bercanda!" Tegas Roger dengan tatapan serius.
"Jangan bahas hal konyol, jika pun di dunia ini stok lelaki habis dan yang tersisa cuma abang Rakes, aku tetap tidak akan memilihnya. Aku udah kenyang, ayo kita pulang!"
Dengan langkah terburu-buru, Zea bergegas keluar dari restauran tersebut, hingga tanpa sengaja Zea malah menabrak seseorang yang sedang melangkah masuk ke dalam restauran.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya lelaki tersebut.
Ketika tangannya hendak meraih tangan Zea untuk membantunya berdiri seketika sebuah tangan nan gagah langsung menangkis tangan tersebut agar menjauh dari Zea.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Rakes yang langsung membantu Zea untuk berdiri.
"Ada apa? kenapa abang di sini? Una di mana?" Tanya Roger yang mendapati Rakes saat ini justru sedang bersama Zea.
"Jaga Zea, jika tidak bisa menjaganya dengan baik, jangan ajak dia keluar." Jelas Rakes lalu kembali masuk.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya cowok tersebut yang sedari tadi hanya memperhatikan ketiganya.
"Oke! aku minta maaf, aku yang jalan nggak lihat kiri kanan, sorry!" Pinta Zea.
"Aku juga salah, karena main ponsel pas lagi jalan." Jelas cowok itu lagi.
"Berarti masalah kelar kan? ayo kita pulang." Ajak Roger.
"Kalau gitu aku duluan, bey!" Ujar Zea dan segera mengikuti Roger ke mobil.
------------------
Tepatnya di ruang keluarga sana, semuanya sedang berkumpul, bercanda ria sambil menyaksikan sebuah film action yang sedang terputar di layar televisi sana.
"Kenapa mulai jarang main ke sini? apa kamu udah lupa sama tante?" Tanya Elsaliani sambil menatap wajah Roger yang duduk tepat si sebelahnya.
"Bukan gitu loh tante, belakangan aku lagi konsul skripsi jadi agak sibuk di tambah lagi aku harus bantu-bantu di kantor kakek." Jelas Roger.
"Jadi serius nih, kamu bakal gantiin posisi om Faisal? bukannya kemaren itu jabatan om Faisal mau di alihkan untuk pak Anton?" Tanya Iqbal yang memang tau dengan semua kejadian di keluarga besar Hadi, karena memang Erina sering cerita semuanya pada Iqbal.
"Itu cuma ancaman kakek, agar si sulung mau gantiin posisi kakek, tapi percuma, rencana kakek gagal, Abang menolaknya dengan tegas." Jelas Roger.
"Di dunia ini kayaknya cuma Hadi dan Rakes aja deh yang dengan santainya melepas jabatan tinggi dan harta berlimpah hanya karena bersih keras dengan keinginannya." Jelas Iqbal.
"Percuma punya segalanya jika hati tidak bahagia dengan apa yang kita dapatkan." Jelas Rakes.
"Rakes benar, semua akan terasa percuma dan semu, karena keinginan hati adalah hal yang lebih penting dari apapun itu." Jelas Elsaliani.
"Kayaknya otak uma sama abang Rakes satu tingkatan deh! Terlalu polos." Ujar Zea.
"Biarin, karena dalam hidup itu yang penting adalah nyaman dengan apa yang kita miliki." Jelas Rakes.
"Tante setuju dengan mu, Rakes." Tegas Elsaliani.
" Kalian berdua mau minum apa biar tante buatkan!" Tanya Elsaliani.
"Kopi aja deh Tante, biar melek!" Jelas Roger.
"Rakes?" Tanya Elsaliani.
"Sama aja tante." Jawab Rakes.
"Kalau gitu tante ke dapur dulu, Zea ayo bantuin uma." Ujar Elsaliani.
"Hmmmm!" Jawab Zea dan mengikuti Elsaliani ke dapur.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Zea dan Elsaliani kembali bergabung dengan nampan yang berisi gelas kopi di tangan Zea.
"Ayah, uma tidur di kamar Zea aja malam ini ya? kan ayah mau nonton bola dengan Rakes dan Roger." Jelas Elsaliani.
"Oke, selamat malam sayang!" Ujar Iqbal yang langsung mengecup lembut kening sang istri.
"Malam ayah!" Ujar Zea.
"Malam sayang." Ujar Iqbal sambil mengusap pucuk kepala Zea yang terbalut dengan kerudung coklat.
"Tante istirahat duluan ya sayang!" Ujar Elsaliani.
"Iya tante, selamat malam!" Ujar Rakes dan Roger hampir bersamaan.
Zea dan Elsaliani segera menuju kamar Zea sedangkan para lelaki menghabiskan malam bersama sambil menonton pertandingan bola.
Menonton bola adalah hal yang sejak dulu ketiganya lakukan, dulu setiap menginap di rumah Hadi, Iqbal selalu saja mengajak kedua bocah tersebut untuk menonton pertandingan bola di setiap musim.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya😊😊
Stay terus di My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️
kai baru marvel
mengandung bawang banget