NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah ketegangan di jalanan puncak mereda, Kenzo kembali melajukan mobilnya membelah kabut yang mulai turun menyelimuti perbukitan.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah vila pribadi berarsitektur kayu modern yang berdiri megah di tengah hamparan kebun teh yang sunyi.

Suasana di sana sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.

Kenzo mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah istrinya yang tampak takjub melihat keindahan vila tersebut.

Ia turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Liana, lalu merangkul pinggang wanita itu dengan protektif.

"Ayo kita masuk, Liana," ajak Kenzo lembut.

Liana menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis, membiarkan suaminya menuntun langkahnya masuk ke dalam kehangatan vila.

Malam harinya, dinginnya udara puncak semakin menusuk tulang.

Namun, di halaman belakang vila yang privat, Kenzo telah menyiapkan sebuah kejutan kecil.

Sebuah api unggun berukuran sedang menyala dengan hangat, memercikkan bunga-bunga api ke udara malam yang gelap.

Di dekatnya, sebuah meja kecil telah ditata dengan lilin-lilin aromaterapi dan hidangan makan malam hangat khusus ibu hamil yang dimasak sendiri oleh pelayan vila.

Suasana makan malam itu terasa sangat romantis, hanya ditemani suara gemercik api dan petikan gitar instrumental yang mengalun lirih dari pemutar musik.

Liana duduk dengan nyaman di kursi empuk berselimut tebal, menatap kobaran api yang memantulkan cahaya jingga di wajah tampan Kenzo yang duduk di hadapannya.

Rasa penasaran yang selama ini terpendam di benak Liana akhirnya tak terbendung lagi.

Ia menopang dagunya, menatap suaminya dengan lekat.

"Kenzo, sejak kapan kamu menjadi pimpinan geng Cobra?" tanya Liana penasaran, memecah keheningan di antara mereka.

Kenzo tertegun sesaat. Ia meletakkan cangkir teh hangatnya, lalu menatap kobaran api unggun dengan pandangan yang mendadak menerawang jauh ke masa lalu.

Gurat ketangguhannya perlahan melunak, digantikan oleh binar sendu yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

"Sepuluh tahun yang lalu, Liana," jawab Kenzo dengan suara baritonnya yang terdengar bergetar rendah.

Ia kembali menatap mata Liana, lalu melanjutkan dengan helaan napas berat.

"Banyak orang mengira aku memilih jalan ini karena haus kekuasaan atau sekadar kenakalan remaja. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Geng Black Cobra awalnya didirikan oleh mendiang kakak kandungku, satu-satunya keluarga yang kupunya setelah orang tua kami tiada."

Kenzo jeda sejenak, mengenang memori pahit yang mengubah garis hidupnya.

"Suatu malam, kakakku dikhianati dan dibunuh secara keji oleh geng lawan tepat di depan mataku. Saat itu aku hanyalah seorang mahasiswa kedokteran yang lemah, yang bahkan tidak bisa menyelamatkan nyawa kakakku sendiri. Setelah pemakaman, anak-anak Black Cobra kehilangan arah dan hampir hancur. Di saat itulah aku sadar... dunia ini terlalu kejam jika kita hanya mengandalkan kebaikan. Aku melepaskan jas putihku sejenak kala itu, turun ke jalanan, dan mengambil alih kepemimpinan untuk melindungi 'keluarga' yang ditinggalkan kakakku."

Kenzo meraih tangan Liana di atas meja, mengusapnya dengan ibu jari secara perlahan.

"Aku menjadi monster di jalanan agar tidak ada lagi orang-orang yang kusayangi direnggut dariku. Kedokteran adalah caraku menyembuhkan orang, tapi Black Cobra adalah caraku melindungi mereka yang lemah dari dunia yang kotor ini. Dan sekarang... geng itu adalah perisai utamaku untuk melindungi kamu dan anak kita."

Mendengar penjelasan Kenzo yang begitu jujur dan penuh luka masa lalu, hati Liana seketika terenyuh.

Rasa hangat sekaligus haru menjalar di dadanya. Pria yang dihadapannya ini ternyata memikul beban yang begitu berat di balik topeng kekejamannya sebagai seorang ketua geng.

Liana membalas genggaman tangan Kenzo, menyiratkan dukungan yang kini mulai tumbuh di hatinya.

Kenzo tersenyum misterius sembari menyodorkan sebuah kotak hadiah yang dibungkus rapi dengan pita satin merah ke pangkuan Liana.

"Sayang, aku punya hadiah. Kamu buka dan kamu pakai ya," ucap Kenzo dengan tatapan mata yang berkilat nakal.

Liana mengerutkan keningnya, menimang-nimang kotak itu. "Apa ini, Kenzo?"

"Sudah, masuk sana," usir Kenzo gemas, menepuk pelan pinggang istrinya agar beranjak dari sofa halaman belakang.

Liana akhirnya mengangguk patuh dan melangkah masuk ke dalam vila sambil membawa hadiah dari Kenzo.

Langkahnya membawanya masuk ke dalam kamar tidur utama yang bernuansa hangat. Begitu pita dilepas dan tutup kotak dibuka, mata Liana seketika membelalak sempurna.

Ia mengangkat sepotong pakaian tidur berbahan lace transparan berwarna merah marun dengan potongan yang sangat minim.

"Apa papamu sudah gila?" gumam Liana spontan, mengelus perutnya yang masih rata sambil membayangkan bagaimana bisa Kenzo terpikir untuk membelikan baju sekurang bahan ini untuk ibu hamil.

Namun, mengingat janji setianya di mobil tadi dan rasa haru yang masih tersisa dari cerita Kenzo, Liana akhirnya menghela napas pasrah.

Ia melepaskan pakaian kasualnya dan mulai mencoba gaun tidur minim tersebut di depan cermin.

Pakaian itu melekat sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah dan kulitnya yang kontras dengan warna merah marun. Pipi Liana merona hebat karena malu.

Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kamar membuat Liana tersentak panik.

"Liana, boleh aku masuk?" terdengar suara bariton Kenzo dari balik pintu.

"M-masuklah, Kenzo," sahut Liana gugup.

Sebelum pintu terbuka, dengan gerakan cepat dan panik, Liana langsung mematikan lampu utama kamar, menyisakan keremangan dari lampu tidur di sudut ruangan yang temaram.

Kenzo melangkah masuk ke kamar dan menyadari ruangan itu gelap.

Sambil terkekeh pelan, tangan kekarnya meraba dinding dan langsung menghidupkan kembali lampu utama hingga kamar terang benderang.

Begitu lampu menyala, Kenzo seketika berdiri mematung di ambang pintu.

Lidahnya mendadak kelu, dan seluruh kata-kata godaan yang sudah ia siapkan di kepala menguap begitu saja.

Pimpinan geng yang ditakuti itu hanya bisa menelan salivanya dengan berat saat melihat kecantikan Liana yang terpampang nyata di depan matanya.

Baju tidur minim itu membuat istrinya tampak begitu menawan, anggun, sekaligus sangat menggoda.

Liana yang merasa risi dan salah tingkah karena dipandangi begitu intens akhirnya bersuara pelan, "Kenzo... apakah ada yang aneh?"

Pertanyaan Liana seolah menjadi pemantik. Tanpa aba-aba, Kenzo langsung melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka.

Ia menarik lembut tangan istrinya dan langsung merengkuh tubuh mungil Liana ke dalam pelukan hangatnya yang posesif.

Nafas Kenzo terdengar memburu di ceruk leher Liana.

"Kamu sangat cantik, Sayang... dan membuatku tidak bisa menahan diri lagi," bisik Kenzo dengan suara serak yang penuh gairah.

Dengan satu gerakan cepat, Kenzo kembali mematikan lampu kamar, menenggelamkan mereka dalam keheningan malam puncak yang dingin.

Kenzo mulai menuntut haknya sebagai seorang suami, menuntun Liana ke atas ranjang yang empuk untuk memulai hubungan intim pertama mereka sebagai sepasang suami istri yang sah.

"Kenzo, kamu gila!" protes Liana tertahan di tengah kegelapan, terkejut dengan kegigihan suaminya.

Namun, Kenzo tidak membiarkan Liana memprotes lebih jauh.

Ia langsung membungkam dan mencium bibir istrinya dengan lumatan lembut yang penuh dengan rasa cinta dan kepemilikan yang mendalam.

Sentuhan demi sentuhan hangat Kenzo perlahan meruntuhkan seluruh sisa pertahanan Liana.

Rasa dingin di luar vila menguap begitu saja saat Liana perlahan mulai mengalungkan tangannya di leher Kenzo, membalas ciuman hangat yang diberikan oleh suaminya dengan perasaan yang mulai tumbuh di hatinya.

1
Bunga Andthea
triple hp dungs kak
Bunga Andthea
yok yok bisa up lagi
seru ni
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Alex
sweet bgts
Bunga Andthea
seru
up lgi kkak
Bunga Andthea
double up dungs kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
Muft Smoker
jgn terpengaruh dg omongan ulat bulu tu liana ,, org yg terpojok biasa ny akan melakukan berbagai macam cara tuk menang ,, meski dg cara licik sekali pun 😒😒😒😒
Muft Smoker
aaaaaa meleleh adek bang ,,
Alex
oh sweet bgtsss
Muft Smoker
nah kan di marahin ma mak ,, makany jgn punya fikiran mcm2
Muft Smoker
jgn mcm2 kania ,, liana mungkin org biasa ,, tp anggora black cobra semua melindungi serta menghargai dirinya ,,
Muft Smoker
lanjuuut kaak ,,
Muft Smoker
lanjuut kaak ,, makiin seruuuu
Muft Smoker
ngeri juga yx ,, jd incaran ketua gangster ,, 😲😲😲😲😲
Muft Smoker
lanjuuut kak
Bunga Andthea
ayok kak up lagi
Bunga Andthea
up lgi yuk kak
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
baru Kali ini dapet cerita ketua geng motor profesi ny dokter kandungan ,,
biasa ny kn CEO perusahaan ,,

tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!