BONEKA BISA BERGERAK SENDIRI!
Latisha baru saja mendapatkan boneka dari kotak tempat sampah rumah kosong di sebelah rumahnya, dan boneka tersebut mencuri perhatian semua orang. Baik itu teman-teman, keluarga, maupun tetangga mereka. Sarah, adiknya merasa tersisih dan kesal karena dirinya menjadi diacuhkan. Sehingga ia sangat membenci boneka tersebut, terlebih saat boneka itu mulai membuat masalah dan hal-hal seram mulai terjadi dan mengganggu hidupnya.
Haunted Doll's
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ☘️Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 08
Teng teng teng ...
Suara jam tua di ruang keluarga berdentang panjang. Suaranya khas jam tahun 80an. 12 kali berdentang, sudah menunjukan waktu tengah malam. Suasana sepi, karena anak-anaknya sudah istirahat di kamarnya.
Sementara Laura masih duduk lesehan di bawah sofa memandangi laptopnya, ia berusaha keras menyelesaikan dateline pekerjaan kantor yang ia harus email malam itu juga.
Sebenarnya bukan hal yang baru baginya, jika setiap akhir bulan ia membuat laporan tutup buku dan terkadang ia membawa pekerjaannya ke rumah, namun untuk laporan bulanan, bulan ini agaknya Laura mengalami sedikit kendala. 'Ah sial' gerutu Laura, beberapa kali ia mencoba mengirimkan laporan pekerjaan namun selalu gagal karena cuaca buruk malam itu mengakibatkan signal terputus.
'Come on, please' ia mencobanya sekali lagi berharap email laporannyanya bisa terkirim dan ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan laporannya.
Ia menurunkan tangangannya ke lantai, sambil mengotak atik handphonenya, ia mencoba menyambungkan jaringan internet dari handphonenya ke laptopnya, berharap signal di handphonenya lebih baik dari pada jaringan wifi rumahnya yang tadi ia gunakan.
Deg!
Ditengah keseriusannya, ia merasakan ada sebuah bola kecil yang menggelinding ke arahnya kemudian bola tersebut mengenai tangannya. Ia mengalihkan pandangannya, matanya bergerilya mencari tahu siapa yang melempar bola tersebut sambil mengambil bola kecil itu "Milo" panggilnya, sambil menoleh ke belakang kediamannya yang dimana arah tersebut merupakan arah letak kandang Milo.
Laura tahu persis jika bola tersebut adalah milik Milo, anjing peliharaannya. "Milo.." panggilnya kembali, beberapa kali Laura memanggil Milo, namun tak ada sahutan gonggongan atau tanda-tanda kedatangan dari Milo.
JEGAAARRRR!...
Tiba-tiba saja dentuman petir dan halilintar, terdengar semakin keras dan saling bersahutan, membuat Laura sangat terkejut dan sedikit takut oleh suara halilintar yang menyambar, dan di tambah dengan matinya listrik di kediamannya membuat malam semakin mencekam.
Ia mengabaikan bola kecil tadi dan kembali menatap layar laptopnya "Sepertinya aku memang belum bisa untuk mengirimkan laporan malam ini" pikirnya. Cuaca yang tak bersahabat di tambah lampu rumahnya yang padam, membuatnya terpakasa menunda pengiriman laporannya. Ia berharap atasannya tak marah kepadanya karena keterlambatan pengiriman laporan pekerjaannya.
Laura bergegas menutup semua aplikasi pada layar laptopnya, kemudian mematikannya. Baru setengah ia menutup layar laptopnya, matanya tertuju pada sudut ruang keluarganya, di antara cahaya kilatan-kilatan petir yang menyambar ia melihat Lilly sedang duduk di sudut ruangan.
Lilly duduk sambil menatap ke arahnya dengan mata biru bulatnya yang menyala.
'Apa mungkin Latisha lupa membawanya ke kamar?' batinnya. Rasanya agak terlalu aneh jika putri sulungnya meletakan boneka ke sayangannya secara sembarangan, kemudia ia berfikir mungkin Sarahlah yang melakukannnya karena ia masih sedikit cemburu pada Lilly.
Laura menutup laptopnya secara sempurna dan menaruhnya di atas meja, kemudian ia mengambil handphonenya, menyalakan lampu flash. Ia sempat ragu untuk menghampiri Lilly, namun mengingat itu adalah boneka kesayangan milik putri sulungnya, Laura pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan mendekati Lilly. Laura mengulurkan tangannya untuk meraih Lilly.
Brug..
Seseorang menabrak tubuhnya hingga Laura dan handphonenya terjatuh. "Sarah, kau mengagetkan Mommy saja!!!" bentaknya, cahaya kilat yang menyambar dari jendela membuatnya dapat melihat dengan jelas wajah putrinya yang nampak gemetar dan ketakutan.
"Ada apa Sarah?" tanya Laura panik, ia merangkum wajah ketakutan putrinya.
"Li- Lilly, menggangguku lagi Mom..." ucapnya tebata-bata. "Tolong aku Mom, Lilly seringkali menggangguku, aku sudah tidak tahannya dengannya" Sarah mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Lilly?" tanya Laura "Bagaimana ia bisa mengganggungmu, Lilly saja sedang berada di sin-" ia menghentikan kalimatnya karena saat ia menoleh ke arah Lilly rupanya Lilly tidak ada di tempat tersebut padahal ia sangat yakin sekali jika tadi Lilly ada di sudut ruang keluarganya.
"Tadi Mommy melihat Lilly ada di sini," ucap Laura. ia menghela nafas sambil memegang keningnya "Ah sudahlah sepertinya mommy sangat kelelahan hari ini"
"Mom please beritahu Latisha, suruh ia membuang boneka bodohnya itu" rengek Sarah, masih dengan wajah pucatnya.
"Sudahlah, ini malam, ayo kita istirahat" Laura mengelus rambut putri bungsunya, kemudian ia mengambil handphonenya yang tadi terjatuh.
"Tidak Mom, aku tidak ingin satu kamar dengan boneka bodoh itu" Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah, untuk malam ini kamu boleh tidur dengan Mommy" Laura mengajak putrinya menuju kamarnya.
Sambil berjalan menuju kamar, Sarah terus merengek agar mommynya mau membantunya menyingkirkan Lilly. "Mom, tadi Lilly masuk ke dalam mimpiku. Ia hampir saja membunuhku dengan membawa gunting di tangannya"
"Sarah, itu hanya mimpi. Lilly hanya sebuah boneka, mana mugkin ia bisa membunuhmu. Mommy tahu kamu sedang cemburu dan iri pada pada kakakmu, tapi percayalah Nak, suatu saat kamu juga akan menemukan jalanmu"
"Mom ini bukan lagi soal iri atau pun cemburu, ini soal Lilly yang menakutkan!!" protes Sarah.
"Ssst..." Laura menaruh jari telunjuknya di bibir putrinya, menghentikan perdebatannya tentang Lilly. "Ini sudah malam sebaiknya kita istirahat, cup" Laura mengecup kening putrinya kemudian ia menarik selimut hingga ke dada putrinya dan memeluknya hingga ia pun ikut tertidur bersama Sarah.
Sebuah karya "HOROR" but "NICE"
Dari judulnya pasti kita menebak ini cerita tentang boneka horor...boneka jahat, dll.
Tapi ternyata focus Author bukan hanya di "horor" nya, tetapi juga "nice" story di balik semua itu...
Sajian cerita novel ala film, pembaca seolah diajak masuk ke dalam scene demi scene, dengan latar lokasi, suasana dan gambaran cuaca yang pas untuk cerita bergenre "HOROR"
"NICE" nya ada pada peran boneka Lilly : lambang hubungan kasih sayang antara daddy Yoseph dan Latisha...
Alur cerita sederhana, tapi sarat dengan pesan moral :
About Family,
Brotherhood (Yoseph & Nathan)
Sisterhood (Latisha & Sarah)
Parenting (Yoseph, Nathan, Laura & Caroline)
Persahabatan (Latisha & Mike)
Pendidikan anak dan tanggung jawab.
Ada sebab, ada akibat...
Pembalasan dan karma dalam cerita ini berlaku. Sesuai porsi masing2 tokoh dan logis, ga berlebihan.
Novel ini ditutup dengan manis, bahkan Lilly yang hororpun tersenyum manis melihat kebahagiaan keluarga itu telah kembali...
Great... your challenge mission complete...
Semangat berkarya Ai
berhati besar...👍👍👍
ide cerita yang soft horor bagus, terbelit kondisi realita disekeliling kita.
tapi mungkin bagus juga dimasukkan sentuhan spiritual atau metafisis kultur sekitar
lanjut Thor ditunggu next karyanya 👍👍👍🌟🌟🌟