IG. suliani_cucu
Rasa cinta yang kuat terhadap lelaki yang tak pernah memandangnya merupakan hal berat untuk Fatimah, apa lagi saat lelaki tersebut memilih untuk menikahi Kakak kandungnya.
Hal itu membuat Fatimah kecewa, sampai-sampai dia tak ingin mengenal lagi yang namanya lelaki.
Akan tetapi, nasib seakan mempermainkan hidupnya. Kakeknya yang sedang kritis memintanya untuk menikah dengan lelaki yang tak dia kenal sama sekali.
Akankah kisah rumah tangganya berakhir bahagia?
Ataukah akan menjadi siksaan yang tiada akhir untuknya?
Kepoin kuy..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Fatimah hanya bisa pasrah dengan tangan kanan yang mencengkram setir mobilnya dengan kuat, sedangkan tangan kirinya menarik jas yang Rudi pakai.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di kaca mobil menghentikan aksi mereka, dengan cepat Rudi melepaskan tautannya. Saat Rudi melihat ke arah luar, dia sangat kaget karena melihat perempuan yang sedang berdiri dengan wajah memerah menahan amarah.
"Buka, Mas. Jangan sampai aku pecahan kaca mobilnya ya!" teriak Audy.
Ya, perempuan yang sebentar lagi akan Rudi nikahi itu terlihat sangat marah, tentu saja karena dia cemburu saat melihat Rudi yang sedang asik berciuman dengan istri sah nya.
"Aku turun ya, Ra. Maaf," ucap Rudi.
Fatimah hanya menganggukkan kepalanya, setelah mendapatkan anggukan kepala dari istrinya, Rudi langsung membuka pintu mobilnya.
Setelah Rudi menutupnya kembali, Fatimah dengan cepat melajukan mobilnya. Dia tak mau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya antara Rudi dan juga Audy, dia tak mau sakit hati.
Fatimah harus segera bertemu dengan kliennya, di sebuah Caffe. Tempat yang sudah mereka sepakati untuk bertemu.
Dua puluh menit melakukan perjalanan, Fatimah pun sampai di sebuah Caffe sederhana dengan nuansa alam yang indah. Fatimah sebenarnya agak heran dengan permintaan dari kliennya ini, padahal dia merupakan konglomerat muda asal negara A.
Akan tetapi, dia begitu menyukai tempat yang sederhana dengan nuansa alam.
"Selamat pagi, Tuan Albert." Sapa Fatimah.
"Selamat pagi, Nona Fatimah." Albert langsung mengulurkan tangannya, sedangkan Fatimah langsung menautkan kedua tangannya di depan dada.
"Maaf, Tuan." Sesal Fatimah.
Dia bukan tak mau menerima uluran tangan dari Albert, hanya saja dia tak terbiasa bersentuhan dengan lelaki asing.
Albert memindai penampilan Fatimah dari atas sampai bawah, dia pun paham kenapa Fatimah tak bersedia menerima uluran tangannya.
"Tak apa, silahkan duduk." Albert langsung duduk disusul Fatimah.
Mereka duduk tak memakai bangku, mereka duduk beralaskan bantal kecil yang sudah tersedia. Suasana begitu kental khas pedesaan, desain interiornya seperti sengaja dibuat seperti terkesan sedang berada di perkebunan.
Fatimah langsung mengeluarkan laptopnya, dengan cekatan dia langsung menunjukan project kerja sama yang sudah dia siapkan dari malam.
"Ini, Tuan. Anda bisa lihat, kalau setuju akan saya print agar bisa dengan cepat anda tanda tangani." Jelas Fatimah.
Albert langsung mengambil laptop Fatimah lalu mempelajari materi yang sudah Fatimah siapkan, tak lama senyumya pun langsung mengembang.
"Saya setuju," ucapnya kemudian.
"Kalau begitu, anda tunggu sebentar. Saya akan menyiapkan berkas yang perlu anda tanda tangani," ucap Fatimah.
"Silahkan," ucap Albert.
Fatimah memgambil flash disk'nya lalu melangkahkan kakinya keluar dari Caffe tersebut, seharusnya semuanya sudah siap dari semalam. Karena Fatimah digangguin terus oleh Rudi, dia pun jadi lupa akan menyiapkan berkasnya.
Selepas kepergian Fatimah, Albert yang melihat laptop Fatimah yang masih menyala terlihat penasaran. Bukan karena apa, tapi dia penasaran karena melihat wallpaper yang dia lihat di layar laptop Fatimah.
Setahunya Fatimah sudah bersuami, tapi dia merasa heran dengan wallpaper yang ada di layar laptop Fatimah. Hanya dirinya seorang diri, dia terlihat sangat cantik dengan baju yang terlihat sangat pas ditubuhnya.
"Tak apa kan kalau aku melihatnya? Hanya melihat foto-fotonya saja," ucapnya lirih.
Albert langsung melihat-lihat foto-foto Fatimah di sana, senyumnya langsung mengembang saat melihat foto-foto Fatimah dengan fose yang lucu.
Albert juga langsung tersenyum saat melihat banyaknya foto Fatimah yang terlihat begitu dekat dengan keempat saudaranya dan juga kedua orang tuanya.
Bahkan banyak foto fatimah yang sedang bermain dengan ke lima keponakannya yang terlihat lucu-lucu.
"Dia manis sekali, dia terlihat begitu dekat dengan keluarganya. Lalu, kenapa tak ada foto dirinya bersama suaminya?" tanya Albert lirih.
Tak lama Albert segera mengembalikan laptop Fatimah pada tempatnya, dia takut jika Fatimah akan marah karena dia sudah melihat-lihat foto fatimah tanpa izin.
"Maaf membuat anda lama menunggu," sesal Fatimah.
Fatimah langsung duduk dan menyerahkan beberapa berkas yang harus Albert tanda tangani, dengan cepat Albert menerima berkas tersebut dan mebubuhinya dengan tanda tangannya.
"Terima kasih, semoga kerja sama di antara kita bisa berjalan dengan baik," ucap Fatimah.
"Sama-sama, Oiya... saya belum sempat sarapan, maukah anda menemani saya untuk sarapan?" tanya Albert dengan sopan.
Fatimah terlihat menghela napasnya, dia juga belum sarapan. Karena berniat untuk menghindari suaminya, sekarang malah di ajak sarapan oleh kliennya.
"Boleh, kebetulan saya juga belum sarapan." Jawab Fatimah pada akhirnya.
Albert dan Fatimah pun lalu memesan makanan dan sarapan bersama, waktu memang sudah menunjukan pukul sembilan tapi mereka baru sarapan. Baik Fatimah ataupun Albert, mereka terlihat sarapan dengan lahap.
*/*
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, setelah melaksanakan shalat dzuhur. Fatimah memutuskan untuk tidur siang.
Apa lagi yang bisa dia kerjakan, pikirnya. Rumah sudah bersih, perut sudah terisi dan pekerjaan dengan Tuan Albert pun sudah selesai.
"Mending bobo cantik, nanti sore baru pergi ke rumah Ayah Aksa." Fatimah langsung merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimutnya sampai sebatas dada.
Saat hendak memejamkan mata, hawanya terasa sangat panas. Fatimah pun bangun dan langsung memeriksa AC yang ada di dalam kamarnya.
"Masya Allah, Ac'nya rusak." Keluh Fatimah dengan bibir yang sudah mengkrucut.
Fatimah langsung masuk ke dalam kamar ganti, kemudian dia pun mengganti pakaiannya dengan kemeja Rudi dan membuka jendela kamarnya lebar-lebar.
"Kaya gini kan adem," Fatimah pun langsung merebahkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.
Tak perlu waktu lama, dia pun sudah terlelap dalam tidurnya.
*/*
Fatimah yang sedang tertidur, tiba-tiba saja terbangun karena terasa ada yang menggelitiki lehernya, Fatimah langsung berbalik dan melihat Rudi yang sedang menatapnya dengan intens.
"Mas, ngapain di sini?" tanya Fatimah dengan mata yang sudah memicing dengan sempurna.
Rudi langsung terkekeh saat melihat reaksi istrinya, dia langsung mengecup bibir Fatimah beberapa kali.
"Mas, mau bobo sama kamu." Jawab Rudi.
"Mau bobo kok malah bangunin aku?" tanya Fatimah.
"Mas ngga niat Bangunin kamu, cuma nyium wangi kamu aja." Ucap Rudi beralasan.
"Tunggu dulu deh, Mas. Bukannya kamu baru saja menikah sama Audy? Trus, ngapain Mas di sini?" tanya Fatimah bingung.
"Jangan ngomongin Audy, Mas maunya sama kamu," kata Rudi.
"Aku?" tanya Fatimah sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya.
"Hem, Mas mau kamu, Ra. Kamu seksi banget," Rudi mengusap paha Istrinya lalu meremat bamper belakang milik Fatimah yang terlihat padat dan berisi.
Fatimah dengan cepat memperhatikan penampilannya, dia langsung tersadar dengan apa yang dia pakai.
Bahkan kemeja Rudi yang dia pakai sudah tersingkap, hingga perut ratanya saja bisa Rudi lihat dengan jelas.