COVER FROM PINTEREST
"Perjanjian? Perjanjian apa?” tanya Jasmine tak menyangka kalau pernikahan yang sangat ingin dia lakukan seumur hidup sekali ini harus serumit ini.
“Aku sudah membuat semua keinginanku. Jadi, giliranmu untuk membuatnya. Kalau sudah selesai, segera berikan padaku. Kau boleh menulis apapun yang kau mau dalam 5 poin saja dan itu pun tidak boleh bertentangan dengan poin yang sudah aku buat untuk dirimu. Silakan pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah, mari kita sepakati bersama dan tanda tangani. Jika salah satu dari kita melanggar, maka ada hukumannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Perjanjian Pranikah
Endra mengutuk pintu rumah Laura---Rumah yang nantinya akan mereka tempati karena rumah ini Endra yang membelikannya ketika Laura pada akhirnya memiliki buah hati di dalam perutnya.
Laura pun membuka pintu rumahnya begitu dia mendengar suara ketukan pintu selarut ini dan ternyata dugaannya benar, Ayah dari anaknya datang. Dia pun memeluk Endra erat sekali.
“Kamu belum tidur?” tanya Endra masih memeluk Laura. Laura pun melepasnya dan mencium sekilas bibir Endra.
“Kamu bilang mau datang malam ini. Ya aku nungguin kamu. Aku kangen banget sama kamu.” Katanya mengerucutkan bibirnya lucu membuat Endra yang kini bergantian mengecup bibir ibu dari anaknya yang belum dia nikahi itu.
Endra merangkul Laura masuk dan mengunci pintu rumah mereka. Terlihat sudah sepi sekali rumahnya bertanda calon mertuanya memang sudah tidur.
“Kan baru tadi siang ditinggal masa udah kangen sih,” kata Endra mencubit hidung Laura membuat Laura kesakitan.
“Sakit!” Laura memukul perut Endra sehingga Endra langsung mencodongkan tubunya ke belakang menghindari pukulan Laura seraya terkekeh.
“Gimana tadi? Lancar?” tanya Laura pada Endra sementara Endra tersenyum seraya membawa Laura ke kamar mereka.
“Yah, Alhamdulillah. Do’akan saja semoga Jasmine dan Jordan bisa bahagia seperti kita.”
Endra menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan disusul dengan Laura yang kini memeluk Endra.
“Tapi…, apa kamu udah ada pikiran untuk ungkapin hubungan kita?. Kalau nanti Jordan tahu sendiri. Ini yang akan menjadi berat untuk hubungan Jasmine, karena aku yakin banget Jordan akan membenci kamu melalui Jasmine juga.”
Endra pun menatap langit-langit kamarnya sementara Laura membenarkan posisi baringannya hingga tangan Endra dapat dia jadikan bantalan untuk kepalanya. Laura mengelus pelan perutnya seraya ikut menatap langit-langit kamar mereka. Rasanya hangat sekali berada di samping orang yang dia cintai.
“Mungkin ini akan sulit, tapi aku yakin Jasmine pasti bisa melaluinya. Tenang saja, kalaupun rencana kita tak semulus yang kita rencanakan. Tuhan pasti sudah merencanakan jalan yang terbaik untuk kita semua,” ucap Endra sungguh bijak dan itu membuat Laura tersenyum bahagia.
Meski Laura tahu latar belakang kehidupan Endra seperti apa dulu, tapi satu yang Laura sukai. Endra memang dewasa ketika menghadapi masalah dan Laura begitu mencintai pria yang sejak dulu sudah menjadi sahabatnya ini.
“Sayang,” ucap Laura seperti memanja pada Endra.
Endra pun menolehkan kepalanya dan kini merubah posisi baringannya hingga dia bisa memeluk Laura.
“Kenapa?” tanya Endra.
“Baby mau dielus-elus biar bisa bobo,” kata Laura membuat Endra langsung tersenyum dan mendaratkan telapak tangannya di atas perut Laura.
“Ayo baby, bobo. Biar Papa dan Mama juga bisa bobo,” kata Endra sungguh mencintai Laura. Sekarang dia sadar kalau berjauhan dengan Laura bagaikan nafas tak ber-karbondioksida. Dia bernafas tapi seolah mati.
Sebelum mereka benar-benar tidur. Endra mengecup kening, hidung bahkan bibir Laura. Demi Tuhan! Dia sangat mencintainya ibu dari anaknya ini.
[...]
Jasmine menatap langit sore. Daun-daun berjatuhan dari pohon dan mengering di jalanan. Sekali lagi Jasmine menatap jam di dinding menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Dia tak yakin hari ini benar-benar bisa berbicara empat mata dengan calon suaminya, tapi Jordan yang menginginkannya. Jordan bilang, dia ingin bertemu dengan Jasmine karena sebentar lagi mereka akan menikah.
Awalnya Jasmine ragu, tapi dia berusaha untuk memberanikan dirinya dan menguatkan hati, untuk segera menulikan telinganya tentang apa yang akan Jordan katakan nanti. Jasmine punya perasaan yang buruk untuk pertemuan ini.
“Sudah lama?” suara seseorang mengintrupsi Jasmine sehingga Jasmine menolehkan kepalanya dan melihat kedatangan calon suaminya itu berbalut jas kerja. Tampan, tapi… tidak punya hati!
“Ah, ehm, tidak,” jawab Jasmine. Pada kenyataannya dia tak bisa membuang rasa tegangnya setelah bertemu Jordan. Apalagi, Jordan yang biasa dia kenal dengan senyuman tampannya, kini malah memandangnya tegas. Sama seperti ketika Jordan tahu kalau Endra memaksakan janji Jordan untuk segera dia tepati.
“Aku tidak ingin banyak bicara dan kedatanganku ke sini hanya ingin membuat perjanjian denganmu karena seminggu lagi kita akan menikah,” ucap Jordan membuat Jasmine menatapnya lekat.
“Perjanjian? Perjanjian apa?” tanya Jasmine tak menyangka kalau pernikahan yang sangat ingin dia lakukan seumur hidup sekali ini harus serumit ini.
“Aku sudah membuat semua keinginanku. Jadi, giliranmu untuk membuatnya. Kalau sudah selesai, segera berikan padaku. Kau boleh menulis apapun yang kau mau dalam 5 poin saja dan itu pun tidak boleh bertentangan dengan poin yang sudah aku buat untuk dirimu. Silakan pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah, mari kita sepakati bersama dan tanda tangani. Jika salah satu dari kita melanggar, maka ada hukumannya.”
Jasmine kembali menatap Jordan dengan alis berkerut, seolah dia sedang mempertanyakan apakah perjanjian ini benar harus ada? Apa mereka tidak bisa menikah dengan tenang bahkan harus dibatasi oleh perjanjian atau 5 poin sialan itu.
“Ini punyaku dan kau bisa memberikan 5 poin milikmu larangan apa saja setelah nanti kita menikah, see you,” ucap Jordan setelah dia memberikan satu lembar kertas berisi sebuah ketikan dan 5 poin yang katanya sebuah perjanjian sebelum mereka menikah.
Sekali lagi Jasmine menatap kepergian Jordan. Apa dia benar-benar harus menikah dengan pria yang tak bisa menerimanya? Mata Jasmine pun berpindah pada kertas yang tadi dia terima. Dia tatap kertas itu dan membacanya satu persatu.
***Pihak ke 1: Jordan ***
***Pihak ke 2: Jasmine ***
Permintaan Pihak ke 1
• Tidak ada sentuhan apapun
• Tidak ada 1 kamar
• Pihak ke 2 tidak boleh memasuki wilayah pribadi pihak ke 1
• Pihak ke 1 berhak kemana pun tanpa izin
• Pihak ke 2 tak punya hak untuk mengatur atau mencampuri masalah kehidupan pihak ke 1
Jasmine tak mampu lagi berkata-kata. Poin per poin yang Jordan ajukan sungguh membuatnya merasakan sesak di dada. Apakah cintanya pada Jordan tidak akan pernah berhasil meskipun mereka menikah? Dari semua poin yang Jordan minta padanya jelas sekali kalau Jordan bermaksud untuk mengabaikannya. Bagaimana tidak? Di dalam poin itu sungguh menunjukkan bahwa Jordan memang tak pernah menginginkannya untuk hadir di dalam kehidupannya.
Malang sekali. Padahal, orang tua Jordan pun sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri. Jasmine pun sudah mengenal Jordan sangat lama. Perasaan cintanya pada Jordan bukan main-main, tapi Jasmine tahu bahwa perasaan Jordan memang bukan untuknya. Jasmine tahu, dia sangat tahu bahwa Jordan yang saat ini bukanlah Jordan yang dia kenal. Bukan lagi Jordan yang selalu tersenyum padanya, Jordan yang selalu lembut dan mememperlakukannya dengan baik. Jordan yang menganggapnya sebagai seorang adik. Tidak lebih.
[…]
beda banget arti engsel & handle🙏🙏
Kan endra mmg sengaja ngajak Laura utk dioerkenalkan ama Jordan spy dia bisa bebas Dari Laura 🤔
udh lama nunggu nya😭😭