Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Abang Ketemu Gede
"Kalau ada masalah cerita sama aku Ta, kita kan udah deket dari kecil, kenapa harus sungkan."
Kata Adi pada Cita.
Hari sudah mulai sore saat keduanya masih bertahan di lapangan basket.
Cita menghela nafasnya, lalu menatap Adi di sampingnya.
"Aku ingin kos, kerja, dan keluar dari sekolah."
Kata Cita.
Adi mengerutkan kening.
"Kerja apa? Kenapa harus keluar dari sekolah?"
Tanya Adi tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Cita.
"Inilah kenapa aku ngga bisa cerita ke kamu Di, hidup kamu datar, hepi, ngga ada masalah, ngga akan ngerti dengan apa yang aku jalani."
Cita berdiri dari duduknya.
"Sudahlah, aku akan pulang."
Kata Cita sambil menepuk bagian belakang roknya yang kotor.
Adi mengikuti berdiri.
"Aku antar."
Kata Adi.
Cita cepat menggeleng.
"Ngga usah, aku jalan ke depan aja naik metromini."
Kata Cita.
Adi baru akan bicara lagi saat Cita menepuk lengannya.
"Sampein ke Ibu aku pamit."
Ujar Cita pula.
"Ta."
Cita mengangkat tangannya sambil berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Adi menatap Cita yang semakin menjauh, ia bisa saja mengejar, tapi Adi tahu betul Cita tak akan suka jika Adi terus memaksa.
Cita mempercepat langkahnya menuju jalan raya, sambil menunggu metromini, ia duduk di depan warung rokok kecil.
"Ikut duduk Mang."
Kata Cita pada pemilik warung.
"Yah Non."
Sahut si pemilik warung.
Cita menatap jalanan yang ramai hilir mudik kendaraan.
Hingga kemudian sebuah mobil box melambat mendekat ke arah warung, lalu berhenti di depan warung tersebut.
Seorang laki-laki berkacamata hitam melongok dari kaca samping yang dibuka.
"Cita, ngapain di sini?"
Cita memandang ke arah laki-laki supir mobil box yang tampak membuka kacamata hitamnya.
"Bang Damar."
Cita tersenyum lebar.
Damar turun dari mobil boxnya.
"Cita dari rumah temen, tuh di perumahan itu."
Kata Cita menunjuk gerbang perumahan yang tak jauh dari warung rokok.
"Ooh, pantesan. Udah sore ngga minta dianterin."
Kata Damar.
Cita menggeleng.
"Males, nanti mantan pacarnya cemburu lagi."
Kata Cita.
Damar tergelak.
"Mantan doang diurusin."
Kata Damar.
Cita mengulum senyum.
"Ya udah ikut Bang Damar saja, tapi mau ngirim dua tempat lagi, kalau mau cepet Bang Damar antar sampai Pasar Minggu nanti dari sana Cita bisa naik ojol."
Kata Damar.
Cita mengangguk.
"Masuk gih, Abang beli rokok dulu."
Cita mengangguk lagi, lalu bergegas masuk ke dalam mobil box.
Tak lama Damar masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi. Ia membeli satu bungkus rokok mild, dan dua botol air mineral.
"Minum."
Damar memberikan satu botol untuk Cita.
Cita meraihnya lalu meneguknya hingga habis setengah botol.
Cita baru sadar jika ia tadi selepas main basket sama sekali belum minum.
Damar melajukan mobilnya, Cita yang duduk di sampingnya memasang sabuk pengaman.
"Cita ikut Bang Damar ngirim barang sajalah, trus pulang ke rumah Bang Damar, boleh kan?"
Tanya Cita tiba-tiba.
Damar menoleh ke arah Cita dengan tatapan heran.
"Kenapa memangnya Ta?"
Tanya Damar.
Sejak kemarin ia memang sudah merasa jika Cita sedang tidak baik-baik saja.
"Ngga apa, lagi malas pulang saja."
Lirih Cita.
Damar menghela nafas.
Ia tak mau banyak bertanya dulu, jadi ia memutuskan mengiyakan saja.
"Bang Damar ngga keberatan?"
Cita senang bukan main, ia yang tadinya seperti tak memiliki tujuan, sekarang tiba-tiba ia seperti menemukan tujuan untuk pulang dan istirahat.
Ah tiba-tiba tubuhnya merasa begitu lelah sekarang.
Cita menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, lalu dalam sekejap Cita tertidur lelap karena kelelahan. Damar yang melihat Cita begitu jadi merasa prihatin.
Cita yang dulu begitu ceria dan suka becanda, ke mana dia? Batin Damar.
**------------**
Hari hampir Isya ketika akhirnya Damar selesai mengantar semua barang pesanan pelanggan dan saatnya kembali ke pool.
Cita membuka matanya pelahan, ia tidur lelap sekali padahal hanya di atas mobil box yang sempit.
"Sudah bangun? Mau Bang Damar antar pulang dulu ngga?"
Tanya Damar pada Cita yang terlihat mengucek matanya.
Cita mengerjapkan matanya sejenak.
"Ke rumah Bi Imah?"
Tanya Cita.
Damar mengangguk.
"Bang Damar mau ke mana?"
Tanya Cita lagi.
"Aku harus ke pool lagi sebentar Ta, laporan ke pengurus sekalian ngandangin mobil, baru nanti Abang pulang."
Kata Damar.
"Ya udah Cita ikut Bang Damar saja, kalau Bang Damar anterin Cita dulu nanti makan waktu."
"Takutnya kamu lelah dan pengin istirahat."
Ujar Damar.
Cita menggeleng.
"Enggak apa."
Kata Cita.
Sejenak gadis itu menggeliat, lalu meraih botol air mineralnya yang masih tersisa saparuh, setelah itu duduk bersandar lagi seraya menyilangkan kedua tangannya di dada seperti kedinginan.
Damar yang menangkap gerakan Cita akhirnya menepi sejenak, lalu mengambil jaketnya yang ada di sandaran kursi mobilnya.
"Pakai Ta, baru dipakai pagi tadi kok, masih wangi."
Kata Damar.
Cita nyengir karena ketahuan kedinginan.
Cita yang memang sudah menganggap Damar seperti kakak sendiri tanpa malu-malu memakai jaket Damar, lalu kembali bersandar di kursi mobil.
Damar melajukan mobilnya lagi menuju pool tempat ia bekerja.
"Wiih, nganter barang pulangnya bawa cewek, dapet di mana bray?"
Seloroh seorang teman sesama supir pada Damar begitu memasuki pool dan turun disusul Cita.
Damar yang tangan kirinya memegang surat jalan dan akan menuju kantor pengurus begitu mendengar selorohan kurangajar dari temannya itu langsung menghampirinya dan menarik kerahnya.
"Jaga bicaramu! Dia adikku ******!"
Bentak Damar.
Cita yang melihat Damar ternyata bisa begitu sangar saat marah tampak melongo.
Beberapa supir yang melihat keributan Damar dan salah satu supir lagi itu langsung melerai.
"Cuma becanda bray, ngga usah serius."
Kata si supir yang kerahnya semula ditarik Damar dan nyaris Damar pukul.
"Becanda juga pake aturan, kamu pikir semua cewek bisa dipukul rata begitu. Mulut jaga tuh."
Kesal Damar, lalu mendorong teman supirnya itu menjauh.
Damar berbalik ke arah Cita untuk kemudian menggandengnya menuju kantor pengurus.
"Bang Damar laporan sebentar, habis ini kita pulang."
Ujar Damar.
Cita mengangguk.
Damar menyuruh Cita duduk saja di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.
Damar menemui Pak Hendro untuk melaporkan pekerjaannya hari ini, setelah semua selesai barulah Damar mengajak Cita pulang.
"Mampir beli nasi goreng mau ngga?"
Tanya Damar.
"Ngg... Bungkus saja Bang, tapi Cita mau mie rebus saja, begah mau makan nasi."
Kata Cita.
Damar mengangguk.
"Ayolah."
Kata Damar.
Cita mengikuti Damar menuju parkiran, lalu naik ke boncengan begitu Damar sudah siap di atas motor.
"Bang Damar ngga pakai jaket, nanti masuk angin."
Kata Cita.
"Ngga apa, santai saja, udah biasa Bang Damar mah."
Sahut Damar seraya memakai helm lalu melajukan motornya.
**-------**